CHEL

CHEL
Bab 24



Meninggalkan rumah Layla Anjas berniat pergi kembali ke toko Pak Umar. Hari sudah mau sore menjelang malam. Suasana Magrib lah. Sudah lima jam lebih Anjas menyelesaikan misi sebelum enam jam.


"Nanti lah buka hadiahnya." pikir Anjas.


Dengan kecepatan normal Anjas melanjutkan perjalanan. Dia harus konsentrasi di jalan.


Mengingat janjinya untuk membawa martabak untuk Dendi dan Maryam. Anjas berhenti sejenak di tempat biasa dia membeli martabak. Di Martabak Sinar Bulan.


"Bang martabak manis dua bungkus. Coklat kacang dan coklat keju." pesan Anjas pada penjual martabak.


"Siap mas." jawab si penjual. Dia sudah mengaduk-aduk adonan martabak. Lalu mulai membuat martabak pesanan Anjas.


Sambil menunggu. Anjas memeriksa status sistem miliknya. Tapi sebelum itu notifikasi sistem terdengar lagi secara berturut-turut.


[Bing! Selamat anda mendapatkan 2.000 poin sistem dan +400 exp. Karena sudah menyelamatkan seratus anak dari penculikan Human Trafficking.]


[Bing! Selamat anda telah naik Level 3.]


Langsung saja, "Buka status." benak Anjas.


[Nama \=> Anjas Rahadi ]


[Kesehatan \=> 62% (Sehat)]


[Level \=> 3/100 (335/450 - exp)]


[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super,]


[Kekuatan \=> 125]


[Kecepatan \=> 90]


[Ketahanan \=> 125]


[Kecerdasan \=> 115]


[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan Petarung, Cincin Tak Kasat Mata,]


[Mental \=> 96% (Sehat)]


[Saldo rekening \=> Rp.1.201.723.064.000]


[Poin Sistem \=> 12.730]


[Status Hubungan \=> Mulai membuka hati]


[Inventori \=> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.]


[Tiket lotre \=> 3 Tiket Lotre ]


[Misi \=> - Misi: Selesai ]


[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal.]


"Ah ternyata aku cukup lelah." pikir Anjas saat melihat kesehatannya menurun. "Habis menjemput Maryam mungkin aku akan langsung pulang." lanjut pikir Anjas.


Lima menit menunggu. Akhirnya pesanan Anjas selesai dibuat. Anjas langsung membayarnya dan melanjutkan perjalanan ke toko.


Sesampainya di Toko Anjas mengajak Maryam istirahat minum teh dan makan martabak manis. Anjas membeli dua rasa karena tidak tahu rasa apa yang Maryam suka. Setelah itu dia tahu karena Maryam mengambil yang coklat kacang.



"Sambil menunggu aku membuka kafe. Kau kerja di sini dulu. Mumpung ini adalah toko yang buka 24 jam." kata Anjas memulai percakapan.



"Aku ingin meminta sesuatu pada kak Anjas." potong Dendi. Tapi masih ragu melanjutkan.



"Apa itu Den? Katakan saja. Kakak akan usahakan. Tapi yang wajar dan jelas saja." respon Anjas.



"Aku... aku ingin... eh.. Aku ingin belajar beladiri. Tolong jadikan aku murid kakak!" Dendi terlihat yakin mengatakan itu.



"Oh oke... tidak masalah. Aku akan mengajarimu Karate nanti. Tapi ada syaratnya..." Anjas menggantungkan perkataannya.



"Apa syaratnya kak? Semoga aku sanggup." Dendi tidak sabar.



"Dari mana kau tahu aku tahu beladiri?" tanya Anjas menyelidik.




"Tidak masalah. Tapi lain kali jangan nekat seperti itu. Besok kau bawa gerobak dorong yang sering kau bawa untuk memulung. Itu akan berguna nanti untuk latihan." langsung Anjas memberikan tugas pertama.



"Siap kak!" Dendi memberi sikap hormat.



Maryam hanya memerhatikan. Lama-lama Anjas kalau diperhatikan makin tampan saja. Itu menurut pemikiran Maryam.



Sedang asik bercakap. Pak Umar datang dengan membawa pisang goreng. Yah kebiasaan pak Umar adalah membawa cemilan ke toko. Ada atau tidaknya Anjas.



Anjas pun memperkenalkan Maryam. Pak Umar menanyakan beberapa hal dan meminta melihat KTP Maryam. Menjawab semua pertanyaan dengan jujur tentunya.



"Oke. Aku akan pekerjakan kau. Kasih nomor telepon dan nomor rekening bank mu biar aku bisa langsung mengirimi gaji mu." pak Umar meminta hal yang diperlukan.



Maryam juga menyerahkan laporan keuangan yang sudah dibuat saat dia yang menjadi kasir. Pak Umar memeriksa dengan teliti. Tidak mendapatkan kesalahan dia pun percaya.



Setelah semua hal sudah selesai Anjas pun mengantar Maryam ke apartemen. Sesampainya di apartemen karena sudah merasa lelah Anjas langsung masuk ke kamar. Mandi dan tidur. Dia lupa mengabarkan kepada orang tuanya.


Sementara itu Beno yang dilupakan oleh Anjas. Sedang minum kopi di sebuah warung kopi dekat rumahnya.


"Ben tumben ke sini. Biasanya langsung pulang. Emang dari mana?" tanya si penjaga warung kopi. Pak Supono adalah pemilik warung kopi itu.


"Ah saya sebenarnya tadi ingin bertemu dengan temanku. Kita sedang berencana buka kafe pak." jawab Beno.


"Wah hebat! Kau dapat modal dari mana?" Pak Supono penasaran.


"Modalnya dari temanku itu. Rencananya tadi aku ingin mengabarkan bahwa aku sudah mendapatkan tempat yang bagus untuk kafe nanti. Eh tapi dia tidak datang pak. Terus tidak kasih kabar lagi." jawab Beno agak kesal. Dia sudah menelepon dan mengirim pesan WA pada Anjas tapi tidak dibalas.


"Mungkin dia ada urusan mendesak. Nanti dia kasih kabar." Pak Supono mencoba tidak memancing amarah Beno.


"Yah mungkin. Nanti aku coba hubungi besok deh." Beno menyeruput kopinya lagi hingga habis. Karena memang sudah mulai dingin.


"Oke deh pak. Ini buat kopinya." Beno memberikan uang sepuluh ribuan. Lalu Beno pulang ke rumah.


"Iya Ben makasih." mengambil uang itu.


Sebenarnya Anjas sempat membaca pesan WA dari Beno. Jadi dia membalas pesan WA itu. Tapi belum dibaca oleh Beno.



Anjas pun tidur. Lupa mengunci pintu kamar. Karena saking lelahnya.


Di kamar sebelah Maryam sedang menerima telepon dari ibunya di kampung. Dia menerima berita yang tidak menyenangkan.


"Apa Bu? Bagaimana bisa rumah kita bisa kebakaran?" Maryam cemas dengan keadaan keluarganya di kampung sekarang.


"Itu karena kompor gas meledak nak." jawab ibunya di seberang telepon.


"Terus bagaimana keadaan kalian sekarang? Baik-baik saja kan?" tanya Maryam lagi memastikan.


"Kami aman nak. Paling hanya luka kecil. Tapi semuanya habis terbakar nak. Hu huh huhu..." ibunya mulai terisak.


"Oke kalau begitu aku akan usahakan untuk pulang. Tapi aku belum tahu bisa pulang kapan. Aku baru saja dapat pekerjaan yang layak di sini Bu." Maryam bingung.


"Tidak apa-apa nak. Sekarang kami sedang tinggal di kontrakan Pak Saleh jadi butuh uang untuk membayar biaya sewa. Kamu punya uang nak? Kami sungguh sangat memerlukannya sekarang." ujar maksud ibunya menelpon Maryam.


"Aku belum punya uang di ATM. Tapi aku usahakan besok meminjam ke bos. Lalu akan aku kirim ke rekening ibu." jawab Maryam.


Setelah menutup telepon Maryam bermaksud untuk meminjam uang pada Anjas. Tapi dia ragu untuk mengetuk pintu kamar Anjas. Sudah banyak Anjas membantunya.


Tapi karena dia memiliki hal yang mendesak maka dia memaksakan diri. Dia mengetuk pintu kamar Anjas. Dua kali mengetuk tapi tidak ada tanggapan dari dalam.


Mencoba memutar handle pintu. Ternyata tidak dikunci. Pintu terbuka. Maryam pun masuk.


"Permisi An...jas..." Maryam tertegun. Karena melihat Anjas yang tidur hanya menggunakan celana pendek. Selain itu dia tidak memakai apa-apa lagi.


"Gluk..." Maryam menelan ludah. Masih tertegun.