
"Silahkan anda memilih mobil yang anda inginkan. Saya akan memanggil manajer untuk mengurus surat-surat yang diperlukan." Habil pamit permisi.
Anjas hanya mengangguk. Lalu mulai berkeliling melihat beberapa koleksi mobil di dealer itu. Lalu dia tertarik dengan dua mobil. Kedua mobil itu ada Lamborghini Gallardo berwarna merah dan Lamborghini Aventador yang berwarna putih.
Tapi saat masih memperhatikan kedua mobil itu. Seseorang pemuda datang dan mendorong Anjas ke samping.
"Awas dari situ. Aku ingin melihat mobilnya." gertak si pemuda.
Anjas hanya terdorong mundur dua langkah. Saat diperhatikan lagi. Pemuda itu tidak sendirian. Ada gadis cantik yang mungkin adalah pacar si pemuda dan Seorang pemuda lainnya yang lebih tua di belakang mereka.
Anjas mengenal pemuda yang di belakang. Itu Wira Yudianto yang pernah menjadi bos di proyek tempat kerja Anjas dulu. Baru beberapa minggu lalu dialah yang memecat Anjas tanpa pesangon.
"Hey... Kau Anjas kan? Yang dulu kerja di proyekku. Hahaha... apa yang kau lakukan di sini? Ingin melamar pekerjaan? Tentunya tidak akan diterima. Mereka hanya menerima yang sudah sarjana. Yang hanya lulusan SMA seperti kau mungkin langsung ditolak." sergah Wira yang merendahkan Anjas.
"Jangan mengatakan sesuatu yang kau saja tidak tahu apa-apa." balas Anjas dingin.
Anjas rasanya ingin memukul Wira hingga dia bisa menutup mulutnya yang tidak seperti orang berpendidikan. Tapi dia tahan karena itu akan merusak benda di sekitarnya.
Pemuda yang mendorong Anjas tadi berbalik dan memperhatikan penampilan Anjas dari atas hingga bawah. Lalu tersenyum miring menghina. Meremehkan Anjas yang saat itu memakai pakaian yang terbilang murah.
"Cih... kalau melihat penampilanmu kau pasti orang miskin. Tentunya bukan untuk membeli mobil bekas di sini. Biarpun bekas tapi semua mobil di sini masih jauh uangmu bisa jangkau." si pemuda itu menghina dengan perkataan sarkas.
"Hahahaha... bahkan jika semua mobil di sini baru aku masih bisa membeli beberapa." balas Anjas senyum miring.
"Mana mungkin! Kau saja waktu itu meminta aku untuk tidak memecat kau. Bagaimana bisa kau akan membeli mobil yang mahal! Bahkan kau mungkin tidak bisa membeli motor bekas murah juga!" timpal Wira.
Wira tidak percaya dengan perkataan Anjas. Dia tahu berapa gaji Anjas dulu. Yang hanya menerima 600 ribu setiap minggunya.
"Oke kita lihat apa dia mampu membeli mobil itu." kata si pemuda menunjuk Lamborghini Gallardo merah.
"Hahaha mana mungkin sayang dia orang miskin yang sering menghayal. Jadi tidak usah memedulikan dia. Sebaiknya kau pergi dasar orang miskin tidak tahu diri!" sergah pacar si pemuda.
Sebelum Anjas ingin membalas perkataan mereka. Habil sudah kembali dengan membawa surat kepemilikan mobil dan alat transaksi pembayaran. Juga bersama manajer dealer itu.
"Maaf mas ini sudah saya siapkan untuk pembayaran mobil Mercedes Benz yang mas beli. Tinggal menekan PIN anda maka transaksi selesai." ujar Habil saat dia sampai di samping Anjas.
Tanpa banyak bicara Anjas hanya menekan tombol PIN. Lalu alat transaksi berbunyi yang menandakan bahwa pembayaran berhasil.
Wira, si pemuda dan pacarnya ternganga lebar. Baru saja mereka menghina Anjas.
"Sekarang apa ada mobil sport yang sudah anda pilih?" lanjut Habil.
"Saya ingin membeli dua mobil itu." Anjas menunjuk dua mobil Lamborghini.
"Baiklah. Kalau itu akan diurus oleh manajer saya." Habil sedikit geseran.
"Selamat siang. Saya Martin manajer dealer ini. Jadi anda juga ingin membeli dua mobil itu. Setidaknya satu diantaranya yang berharga paling murah Yaitu Lamborghini Gallardo keluaran 2021 adalah 2,8 miliar. Lalu yang Lamborghini Aventador LP700-4 keluaran 2012 berharga 5,5 miliar. Jika Anda bersedia silahkan melakukan pembayaran." jelas Martin panjang lebar.
Martin tidak memandang orang dari penampilan. Yang penting bisa membayar mobil yang ingin dibeli. Pasti dia akan layani.
Anjas melihat ke Wira sejenak, dan tersenyum miring. Lalu melihat dua sejoli yang menghinanya tadi dengan ekspresi yang sama.
Kemudian dia menghadap ke Martin. Lalu menggesek kartu debitnya. Menekan tombol PIN dan enter. Sesaat kemudian bunyi tanda transaksi berhasil terdengar lagi. Suasana pun tambah hening.
Setelah itu manajer mengajak Anjas. untuk menandatangani surat kepemilikan mobil yang dia beli di kantornya. Meninggalkan tiga orang yang masih menganga lebar. Mereka sudah menyinggung orang super kaya. Melihat orang yang hanya langsung menggesek kartu begitu saja setelah mendengar harga. Tanpa menawar lagi. Hal yang tidak bisa mereka lakukan.
Di kantor manajer. Anjas sudah menyelesaikan semua berkasnya. Menjabat tangan manajer.
"Antar kedua mobil sport ke alamat ini. Lalu untuk Mercedes Benz antar ke alamat ini. Jangan sampai salah." minta Anjas. Soalnya dia masih harus membawa motor.
"Baik tuan muda. Terimakasih kasih. Senang berbisnis dengan anda." Martin memberikan kesan baik agar Anjas akan kembali ke dealer mobil itu lagi.
"Semoga." balas Anjas. "Saya permisi dulu." pamit Anjas. Keluar dari kantor.
Anjas hanya melewati tiga orang tadi. Mereka sedang dilayani Habil.
"Aku ingin membeli mobil ini untuk pacarku. Aku mau diskon 20%." kata si pemuda menunjuk sebuah Ferrari kuning.
"Kau menolak hah! Kau tidak tahu! Aku Jakson Geraldo adalah keponakan dari keluarga Ajisaka. Kau mau kehilangan pekerjaan karena menolak permintaan dari keluarga Ajisaka!" bentak si pemuda sambil memegang kerak kemeja Habil.
Mendengar nama keluarga Ajisaka. Langkah Anjas terhenti. Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur tapi mendengar nama keluarga itu dia menjadi marah.
"Maaf mas aku tidak bisa mengambil keputusan ini." Habil tidak takut sama sekali.
Mendengar keributan Martin si manajer keluar dari kantor. Dia mendapati Habil yang sedang ribut dengan pelanggan. Dia ingin melerai mereka.
"Ada apa ini? Kau kenapa Habil?" tanya Martin.
"Karyawanmu tidak ingin menurunkan harga. Jadi saya marah!." bentak Jakson.
"Apa itu benar Habil?" Martin ingin mendengar dari sisi Habil.
"Mas ini meminta potongan harga 20% pak. Juga mengancam saya bahwa jika berurusan dengan keluarga Ajisaka saya akan kehilangan pekerjaan." jelas Habil.
"Kau! Karyawan tidak kompeten! Aku kecewa dengan sikap karyawan di dealer ini!" seru Jakson menilai kinerja Habil.
"Maaf tuan. Tentu saja jika anda meminta potongan harga seperti itu. Saya juga tidak akan setuju. Bahkan keluarga Ajisaka ingin ikut campur dalam hal ini. Aku tidak takut." balas Martin.
"Jadi kalian ingin menantang keluarga Ajisaka. Baiklah aku akan lihat bagaimana kalian akan hancur dalam semalam!" bentak Jakson mengancam Martin. Lalu dia pergi bersama pacarnya diikuti oleh Wira.
Saat berpapasan dengan Anjas. Jakson menatap tajam ke Anjas. Dia juga tidak senang dengan Anjas. Karena membuat mereka malu.
"Aku akan berurusan denganmu nanti. Camkan itu!" ancam Jakson menunjuk Anjas.
"Kau kira aku takut? Akan aku tunggu." balas Anjas dingin. Tatapan mata tajam Anjas membuat mereka sedikit takut. Tapi mereka langsung pergi begitu saja.
Martin menghampiri Anjas. Dia meminta maaf pada Anjas.
"Maaf tuan. Ini sering terjadi. Pelanggan yang tidak tahu diri itu sering cari masalah dengan kita." ujar Martin.
"Tidak perlu minta maaf. Tapi aku penasaran dengan kalian. Sepertinya kalian punya backing yang kuat juga. Siapa mereka?" Anjas penasaran.
"Kami memiliki kerjasama dengan keluarga Bruwer. Mereka juga keluarga yang menentang keras tindakan dari keluarga Ajisaka." jawab Martin.
"Hehe ternyata keluarga Layla sangat berpengaruh di wilayah selatan." gumam Anjas.