
Sesampainya di apartemen. Anjas langsung mengatakan niatnya untuk mengunjungi kampung halaman Maryam untuk menemui orang tua Maryam. Mendengar hal itu Maryam jadi bahagia. Sehingga dia tidak sadar sudah mencium Anjas. Tanpa tahu ada dua orang yang memerhatikan mereka saat itu.
Naila hanya senyum bahagia. Sedangkan Rahmi melongo melihat kemesraan dua sejoli itu. Hingga saat Anjas dan Maryam masuk ke kamar. Mereka berdua hanya mematung di sofa ruang tamu.
"Aku mau ke kamar dulu." kata Rahmi memecah keheningan.
"Aku ikut." susul Naila.
Keesokan harinya di pagi hari pukul setengah lima. Setelah bertempur dengan Maryam di atas ranjang selama lebih dari 6 jam dan tertidur selama 2 jam lebih. Anjas mendapatkan informasi notifikasi tools pelacak yang dia terapkan di sistem komputer bandara internasional Halim Perdana Kusuma. Di mana dua orang yang dia tunggu sudah sampai.
Langsung saja dia pergi ke bandara. Jalanan masih sangat sepi. Hanya butuh 20 menit Anjas sampai di bandara. Setelah memarkirkan mobilnya. Sebelum itu Anjas sudah meretas CCTV di bandara itu seperti yang dilakukan saat di kantor polisi. Dia menemui seorang sopir taksi yang sedang mangkal di depan bandara itu. Dia berniat menyewa taksi selama 6 jam. Dengan harga sewa perjam itu seharga 1 juta rupiah. Dengan alasan untuk memberikan kejutan untuk saudara.
Tentu saja diiyakan oleh sang sopir. Segera sang sopir memberikan kunci dan seragamnya. Tidak lupa Anjas meminta nomor telepon dan nomor rekening sang sopir. Setelah transaksi pembayaran sesuai maka Anjas pun menyamar sebagai sopir taksi.
Sementara itu Yan Fuzui dan Yan Luxian baru saja keluar dari ruangan beacukai. Yang mana Yan Luxian terlalu banyak membawa rokok bermerek terkenal dari Macau. Sehingga mereka sedikit tertahan di sana.
"Seharusnya kau kurangi kebiasaan merokok. Ayah saja sudah lama berhenti merokok." kata Yan Fuzui menasehati Luxian yang menanggapi dengan malas.
Setelah mengantri untuk mendapatkan taksi. Akhirnya mereka berdua bisa mendapatkan taksi juga. Mereka segera masuk ke taksi yang menghampiri mereka. Fuzui yang memang sedikit memahami bahasa Indonesia langsung memberikan alamat yang dituju.
"Tolong pergi ke alamat ini pak." kata Yan Fuzui sembari memberikan kertas kecil pada si sopir taksi. Si sopir hanya mengangguk saja dan mengambil kertas kecil itu.
Yan Luxian melihat ada yang janggal dari si sopir. Si sopir mengganggu sarung tangan kulit berwarna hitam saat menyetir. Tapi kecurigaan itu ditepis oleh Luxian.
Setelah itu taksi itu pun meninggalkan bandara. Namun tidak sesuai alamat yang tertera di kertas yang diberikan Yan Fuzui. Taksi itu terus membawa kedua orang ayah dan anak itu ke tempat yang bisa dibilang gedung terbengkalai. Berhenti di depan gedung itu. Anjas langsung melempar beberapa jarum racun pelumpuh pada Yan Fuzui dan Yan Luxian.
Seketika dua orang itu tersadar bahwa mereka tidak bisa bergerak lagi seperti lumpuh. Tapi masih bisa berbicara.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Fuzui dengan bahasa Indonesia yang masih agak lancar.
Tapi Anjas hanya diam dan keluar dari mobil taksi. Berjalan mengitari mobil dan membuka bagasi dan mengambil rantai besi yang cukup panjang.
"Aku akan memberikan apapun itu asal kau bisa melepaskan kami?" kata Luxian saat Anjas membuka pintu di sisi kanan. Bahasa Indonesia Luxian masih kaku.
Anjas mengeluarkan mereka. Lalu menggendong mereka seperti karung beras. Segera dia melompat. Tapi dia terkejut saat itu. Lompatannya lebih tinggi dari yang sebelumnya. Yang sebelumnya hanya setinggi sepuluh meter. Rasa kaget itu juga disadari oleh Fuzui dan Luxian. Sekarang bisa lebih dari dua puluh meter. Tapi keterkejutan itu tidak lama.
Melompat dua tiga kali. Anjas sampai di atas gedung itu. Lalu Anjas mengikat mereka di sana.
"Apa yang kau lakukan?! Siapa yang menyuruhmu?" tanya Fuzui yang menyadari mereka sedang disandera oleh si sopir.
"Salahkan keluarga Ajisaka. Mereka yang menjadi penyebab utama kenapa kalian aku sandera." jawab Anjas yang berjongkok di depan Fuzui.
"Jadi kau disuruh oleh mereka?" tanya Fuzui lagi. Dia tidak menyangka bahwa keluarga ayahnya yang ingin mencelakai mereka.
"Tidak. Malahan akulah yang melenyapkan mereka semua. Dan sekarang giliran kalian." jawab Anjas tersenyum miring.
"Mereka tidak akan pernah tahu jika kalian tidak diketahui keberadaannya." setelah mengatakan itu Anjas mengeluarkan pedang milik Septian.
Sing! Sing! Dua tebasan cepat dilakukan Anjas. Menebaskan leher kedua orang itu. Namun tidak sampai putus. Darah memancar ke segala arah.
Setelah itu Anjas meninggalkan gedung itu. Setelah menutup mayat kedua orang asing itu. Membawa taksi yang dia sewa tadi kepada sopir sebenarnya dan pergi meninggalkan bandara.
Belum lama Anjas meninggalkan bandara. Suara notifikasi sistem berbunyi.
[Bing! Selamat anda mendapatkan 2 kotak Glory, 2 kotak Platina dan 5 kotak Emas. Hadiah sudah tersimpan di inventori.]
"Akhirnya selesai juga." gumam Anjas tersenyum dan merasa bahwa dia sudah melakukan hal yang harus dilakukan.
Empat hari kemudian. Setelah Anjas menyelesaikan urusan pembukaan kafenya dan mengurus dua orang tersisa dari keluarga Ajisaka. Dia tidak lupa untuk menemui Dendi. Yang sekarang sudah 4 hari ini tidak melakukan pergerakan. Setelah dia berubah arah menuju timur laut.
"Apa yang dia lakukan 4 hari ini di tempat itu? Apa ada yang menjebak dia?" gumam Anjas memikirkan kemungkinan yang terjadi pada murid satu-satunya. Saat ini dia baru saja keluar dari apartemen.
Segera dia mengendarai mobil sport Lamborghini Aventador miliknya. Sedang jam sudah menunjukkan pukul 13.00.
2 jam kemudian.
Kini dia tidak berhenti di titik di mana dia menurunkan Dendi. Tapi dia berada di sebuah jalan yang bernama Jl. Gombong Koneng. Dia harus menelusuri banyak jalan berkelok untuk mencari tempat sepi yang di anjurkan sistem.
Setelah Anjas memasukkan mobil ke dalam cincin giok penyimpanan. Dia melanjutkan perjalanan menuju titik lokasi Dendi berada. Melompat dari pohon ke pohon seperti serial anime bertema ninja. Hanya butuh 20 menit Anjas telah sampai ke titik yang dituju. Tapi dia berhenti dengan jarak 100 meter dari titik tersebut.
"Apakah itu sebuah desa kecil? Tapi kenapa hanya memiliki enam bangunan seperti bangunan sekolah??" pertanyaan itu langsung di jawab oleh notifikasi sistem yang muncul secara tiba-tiba.
\[Selamat anda telah menemukan titik awal ilmu beladiri Silat Legendaris. Jika menyelesaikan satu misi spesial menyembuhkan kanker yang diderita oleh pendiri padepokan Macan Putih. Hadiah 5 kotak Platinum. Misi harus diselesaikan sebelum masa tenggang berakhir. Sisa waktu masa tenggang 2 hari - 4 jam. Misi akan terpicu jika pendiri padepokan Macan Putih mau menerima bantuan anda.\] notifikasi sistem.