
"Aku akan mengatakan iya jika aku sudah melihat isi rekaman itu. Jika hasilnya bisa menjadi bukti kau akan aku bantu." tawar Anjas.
"Baiklah. Kalau begitu ikut aku ke kost." Rahmi sudah beranjak dari tempatnya.
Segera diikuti oleh Anjas. Rahmi yang hendak menghentikan taksi. Ditarik oleh Anjas ke arah mobilnya. Rahmi yang terkejut karena ternyata Anjas memiliki mobil yang paling disukai oleh anak muda itu.
Meluncur dengan kecepatan tinggi. Mobil Anjas tanpa henti memacu kecepatan di jalan raya.
Tidak sampai 25 menit mereka sudah sampai. Kost yang ditempati oleh Rahmi berada di sebuah gang yang lumayan sempit. Terpaksa Anjas memarkirkan mobilnya di depan gang dan jalan masuk ke dalam gang.
Sampai di kost Anjas hanya dipersilahkan masuk hingga ruang tamu saja. Sedangkan Rahmi pergi ke kamarnya.
Tidak lama kemudian Rahmi keluar dari kamar dengan laptop di tangannya. Dia menghampiri Anjas dan meletakkan laptop di meja.
"Aku sudah menyalin data video ke laptop. Ini video yang belum diedit." ujar Rahmi sambil memutar video.
Benar saja. Dalam video itu terekam bahwa sebuah mobil bermerek BMW warna putih polos. Telah menabrak orang yang ada di trotoar. BMW itu melaju dan menerobos lampu lalu lintas.
BMW itu juga sempat berhenti di belakang Rahmi yang sedang merekam. Lalu orang yang keluar dari mobil itu juga sempat terekam. Itu ada Jakson Geraldo, yang pernah bertemu dengan Anjas di dealer mobil sport.
"Haha tertangkap juga dia." ujar Anjas yang merasa familiar dengan orang yang ada dalam video tersebut.
"Kau kenal dia?" tanya Rahmi.
"Tentu saja. Dia salah satu musuhku." jawab Anjas masih menatap tajam ke laptop.
"Berarti kita memiliki musuh yang sama. Aku memiliki dendam dengan ayah dari orang itu. Ayahnya telah menjebak ayahku ke bisnis gelap. Tapi ayahku dijadikan kambing hitam hingga sekarang ayahku dalam penjara." terang Rahmi dengan tatapan kosong.
"Aku akan mengambil video ini. Jika terus berada di kamu akan bahaya." segera Anjas memindahkan video itu ke memori HP nya. Setelah itu menghapus video yang ada di laptop itu.
"Baiklah aku pergi dulu. Aku akan menghubungi kau nanti. Aku akan pastikan orang itu dan ayahnya mendapatkan ganjaran yang lebih berat dari apa yang kau rasakan." ucap Anjas pamit.
Rahmi mengantar Anjas ke mobilnya. Saat ingin memasuki mobil. Anjas memberikan sebuah pil pada Rahmi.
"Ambil ini. Cepat kau minum." kata Anjas tanpa menjelaskan.
"Tunggu. Apa ini? Ini bukan obat perangsang kan?" tanya Rahmi curiga.
"Tentu saja bukan. Itu akan berguna jika kau dalam bahaya. Aku masih membutuhkan saksi nanti. Jadi aku khawatir akan ada yang mengincar kau." jelas Anjas meyakinkan Rahmi.
"Baiklah. Aku percaya." segera Rahmi menelan pil itu yang memiliki rasa seperti obat biasa. Tapi sebenarnya itu adalah pil kehidupan. Yang fungsinya bisa membangkitkan seseorang dari kematian.
"Oke. Kalau begitu aku pergi." Anjas masuk ke mobil dan pergi.
Anjas kembali ke markas geng The FALCON. Saat dia sampai keluarganya sudah kembali dari belanja di mall.
Banyak yang mereka beli. Mulai dari pakaian untuk ibu dan ayahnya, sepatu sekolah Anin, dan beberapa bahan makanan. Memeng sih di markas itu ada dapur juga tapi jarang dipakai. Karena seringnya Julia atau Justin beli makanan dari online.
Anjas heran, kenapa mereka membeli bahan makanan yang bisa memberikan makan banyak orang. Seperti mau hajatan.
"Banyak sekali yang kalian beli. Memangnya mau pesta?" tanya Anjas saat membantu keluarganya merapikan barang belanjaan.
"Kamu lupa yah. Besok kan ulang tahun Anin. Jadi ibu mau buat pesta makan-makan di sini besok sore." jawab ibunya tersenyum dan melirik Anin.
"Oh... Kok aku lupa yah? Hmm gak sempet beli kado lagi." kata Anjas pura-pura lupa. Saat dia melirik Anin. Adik kesayangannya itu sedang memandangnya tajam.
Lalu Anin pergi masuk keruangan istirahat yang dia pakai tadi. Sepertinya dia merajuk. Anjas tahu tabiat Anin kalau lagi merajuk. Anin tidak bisa dibujuk sekarang. Mungkin besok pagi baru Anjas bisa membujuknya.
"Aku akan membujuknya besok." ujar Anjas.
"Ting tong Ting tong Ting tong...." telepon Anjas berbunyi.
Anjas menerima telepon itu. Telepon dari Maryam.
"Halo sayang. Apa kabar kamu di sana?" tanya Anjas kabar Maryam. Karena dia tidak bisa membantu secara langsung.
"Halo mas. Iya, aku baik kok di sini. Besok sidang ayahku akan dilaksanakan. Doakan ayahku yah mas." jawab Maryam.
"Tidak ada mas. Ayahku kemungkinan akan dibebaskan karena tidak ada bukti. Juga tuduhan yang mengatakan ayahku pelakunya juga tidak jelas dari siapa. Makanya besok sidang terakhir putusan pengadilan." jawab Maryam biar Anjas. Bisa fokus dengan bisnis kafenya.
"Baiklah. Kalau sudah selesai urusanku. Aku segera kembali ke Jakarta. Karena..." kata Maryam terhenti.
"Karena apa?" Anjas penasaran.
"Karena aku kangen kamu mash." ucap Maryam dengan suara genit.
"Hehehe aku juga kangen kamu sayang." balas Anjas mesra juga.
Mereka berbincang sebentar. Lalu mengakhiri sambungan telepon.
Baru saja telepon dari Maryam terputus. Masuk lagi telepon dari orang Plaza Mebel.
"Halo selamat malam. Dengan pak Anjas?" tanya orang di seberang telepon.
"Iya benar saya Anjas. Ini dengan siapa?" balas Anjas.
"Oh pak Anjas maaf mengganggu. Saya Luna dari Plaza Mebel. Saya hanya ingin memberi tahu kalau besok saya dan designer decoration kami akan datang datang. Apakah pak Anjas akan ada di sana?" balas Luna.
"Ah sepertinya aku akan ke sana jam setelah makan siang. Kita bertemu jam 2 siang saja. Aku juga akan datang dengan rekan bisnis saya." jawab Anjas membuat janji.
"Baiklah pak Anjas. Sampai jumpa besok." pamit Luna.
"Iya Bu Luna. Sampai jumpa." balas Anjas.
Setelah itu Anjas masuk keruangan istirahat ketua geng. Dia tidak langsung tidur tapi membuka dan menyalakan laptop. Dia segera menghubungkan ke internet. Langsung berseluncur di dunia maya. Dia mencari apa hubungannya Jakson Geraldo dengan keluarga Ajisaka.
Tidak lama Anjas langsung menemukan bahwa Keluarga Geraldo dan keluarga Ajisaka terikat pernikahan. Anak terakhir alias si nomor 2 dari Fedrian Ajisaka. Si anak nomor 2 itu adalah perempuan bernama Rinjani Ajisaka. Menikah dengan Jerry Geraldo. Anak mereka Jakson Geraldo.
"Hmmm ternyata target empuk." gumam Anjas.
Sedangkan hubungan Jakson dengan Herino adalah sepupu. Herino yang lebih tua dari Jakson.
"Baiklah besok aku akan membuat kalian tidak bisa berkutik lagi." setelah mengatakan itu Anjas mematikan laptop dan berjalan menuju kamar mandi.
Sementara itu seorang wanita cantik kira-kira usianya 23 tahun baru saja menaiki taksi dari bandara. Dia menuju ke sebuah hotel di Jakarta timur.
"Mbak orang Indonesia yah?" tanya si sopir taksi.
"Iyah pak. Saya baru pulang dari China. Saya jadi TKW di sana." jawab wanita itu.
Itu adalah Yana Karmila. Alias Yana Si Cantik Beracun dari organisasi pembunuh bayaran Black Mamba. Dia selama sepuluh tahun menjadi anggota organisasi itu. Tapi baru lima kali dia ditugaskan ke luar negara China termasuk saat ini. Dia ditugaskan di kampung halamannya sendiri yaitu di Indonesia.
Saat sampai di hotel. Yana telah ditunggu seseorang di kamarnya. Itu adalah rekannya satu organisasi yang bernama Chan Bian. Yang biasa dipanggil Chan Bee si Ratu Lebah. Keturunan China dan Thailand. Dengan rambut pendek seperti pria.
"Aku kira kau tidak ikut." ujar Yana langsung memeluk Bee.
"Hehe aku akan terus selalu bersama kekasihku." balas Bee dan memeluk Yana.