CHEL

CHEL
Bab 28



"Tidak perlu basa basi. Cepat katakan apa keperluan kalian datang ke sini?" tanggapan dingin dari Anjas.


"Baik langsung saja. Aku mendapat informasi dari dari beberapa mata-mata yang aku sebar di kota ini. Dua geng lain yang menguasai wilayah timur dan selatan berencana ingin menyerang The FALCON." Jordan mulai menjelaskan.


"Terus.. apa sangkut pautnya dengan kalian?" Anjas menjadi tertarik.


"Tentu saja aku ingin membantu kalian. Dengan jumlah seluruh anggota The FALCON tidak akan mampu melawan dua geng sekaligus. Apalagi anggota kalian paling ditotal hanya sekitar 50 orang jika ditambah kau. Sedangkan mereka akan berjumlah 100, orang lebih malah. Mungkin juga mereka menambahkan orang dengan menyewa beberapa preman." jelas Jordan mendengus.


Memang benar jumlah seluruh anggota The FALCON hanya 53 orang yang hadir sekarang di markas. Itu juga sudah ditambahkan Justin dan Anjas. Anggota geng dari Metal Sins yang datang hanya sekitar belasan. Ditambah dengan Jordan, Dion, dan Hengky baru genap 20 orang.


"Tidak masalah jika kalian ingin membantu. Tapi alasan kalian yang sebenarnya untuk melakukan aliansi ini?" Anjas masih belum percaya seratus persen perkataan Jordan.


Karena sistem sedang memindai kebohongan telah bekerja. Mendapati perkataan Jordan yang belum mengatakan semuanya. Anjas masih penasaran dengan tujuan lain dari Jordan.


"Hah... sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini. Tapi aku sebaiknya aku katakan." Jordan menarik nafas sebentar.


Lalu melanjutkan. "Sebenarnya aku ingin membalas dendam. Kedua geng di wilayah timur dan selatan itu dikendalikan oleh sebuah keluarga mafia. Keluarga Ajisaka. Anak bungsu keparat mereka telah memperkosa kakak kandungku. Orang itu tidak mau bertanggung jawab dan membuat kakakku menjadi gila. Sekarang dia dirawat di rumah sakit jiwa!" Jordan mengepal tangannya menahan emosi. Dion memegang bahu Jordan untuk menenangkan Jordan.


Melihat hal yang dikatakan oleh Jordan adalah sebuah kejujuran yang dipindai oleh sistem. Maka Anjas menyetujui untuk beraliansi.


"Baiklah. Aku percaya padamu. Aku bisa merasakan hal itu. Aku juga memiliki adik perempuan. Jika itu terjadi pada dirinya aku sendiri yang akan menghabisi nyawa orang itu." Anjas berdiri dan mengulurkan tangannya.


Jordan pun menggapai tangan Anjas dan saling menjabat. Lalu suasana menjadi hiruk-pikuk semua anggota geng The FALCON dan Metal Sins saling merangkul. Mereka sekarang memiliki teman dari geng lain.


"Baiklah sekarang lanjutkan apa saja yang kau tahu dari mereka." lanjut Anjas menginginkan penjelasan.


"Baiklah. Geng Revon diketuai oleh Marvin dan Geng Snaky diketuai oleh Tanjung." sambil meletakkan dua foto yang berbeda di atas meja. Di foto masing-masing sudah ditulis namanya.


Di foto pertama, seorang pria yang mungkin berusia 27 tahun. Berambut hitam dan menggunakan jaket kulit berwarna hijau lumut dan sedang menaiki motor sport berwarna hijau. Itu adalah Marvin.


Lalu di foto kedua, pria berusia tidak jauh dari yang pertama. Itu Tanjung, 28 tahun dia hanya menggunakan celana jeans pendek. Yang menjadi ciri khas adalah pria itu memiliki tato tengkorak di dada bidangnya. Juga berambut sedikit panjang seleher.


Melihat kedua foto itu. Anjas meminta sistem memindai dan menyimpan kedua wajah orang dalam foto.


"Lalu ini Herino Ajisaka. Dia yang mengendalikan kedua geng ini. Dia memiliki bisnis klub malam di selatan kota. Yang dijaga dan dikelola oleh Tanjung. Sedangkan Marvin mengurus orang yang berhutang pada Herino." lanjut Jordan. Dia juga meletakkan foto lagi.


Di foto itu ada seorang pria masih muda. Mungkin masih seusia Tanjung, 28 tahun juga. Tapi dia menggunakan jas berwarna gray dan sedang duduk di sofa mewah.


"Dia adalah sasaranku." sambung Jordan dengan tatapan tajam ke foto.


"Oke. Aku tahu mereka. Sekarang apa rencanamu?" tanya Anjas.


"Tidak lama lagi kau akan mendapat surat tantangan dari mereka berdua. Tapi itu hanyalah jebakan untuk menjatuhkanmu." jawab Jordan sambil menunjuk dua foto sebelumnya.


"Kau harus menghubungi aku jika sudah menantangmu. Supaya kita bisa datang ke tempat mereka dengan pasukan kita. Ini juga biar si Herino keluar dari sarangnya." lanjut Jordan lagi.


"Terimakasih atas sarannya. Aku akan ingat." kata Anjas sambil mengambil ketiga foto yang ada di meja.


"Hahahaha aku suka gayamu bro." Jordan menanggapi Anjas yang mulai santai.


"Oh iya aku juga ingin kasih tahu. Justin dan Julia adalah saudara sepupuku dari pihak ibu. Jadi kita tidak musuhan. Hanya sedikit berbeda pendapat saja." ujar Jordan melirik Justin. Tapi Justin hanya tersenyum miring.


Setelah itu mereka saling memberi informasi tentang diri sendiri. Anjas memperkenalkan diri sebagai calon pengusaha. Anjas meminta bantuan agar kafenya bisa mendapatkan izin usaha dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Jordan menyanggupi permintaan itu. Karena dia juga sedang membuka usaha toko baju dengan nama brand sendiri.


Mereka berbincang sebentar hingga tidak terasa sudah hampir jam 2 siang. Lalu Anjas izin pamit pulang. Karena dia masih memiliki urusan. Dia harus pulang ke rumah. Lalu Anjas menaiki motor dan pergi dari markas.


Di sisi lain. Ren si pembunuh bayaran. Sudah sampai di depan toko pak Umar. Dia melihat lagi HP nya yang di sana tertera data dari Anjas.



Yakin dengan alamat yang tertera sama dengan tempat itu. Ren pun masuk untuk mencari sasarannya.



Tapi dia hanya mendapati beberapa orang yang berbelanja dan kasir yang seharusnya adalah laki-laki. Tapi sekarang yang dia lihat adalah perempuan. Segera dia bertanya pada kasir tersebut.



"Aku ingin bertanya. Apa kau kenal dengan orang yang ada di foto ini?" Ren bertanya dengan bahasa Indonesia yang masih kaku pada kasir yang adalah Maryam. Yang tentunya kenal dengan orang dalam foto. Itu Anjas.



Maryam hanya mengangguk dengan ragu. Merasa takut dengan wajah garang orang yang bertanya padanya.



"Di mana dia sekarang?" tanya Ren lagi. Dia berpikir bahwa seharusnya Anjas bekerja sekarang. Tapi dia salah perhitungan.



Maryam menggeleng kepala.


"Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Mungkin sedang di rumahnya." Maryam asal jawab saja. Juga karena dia tidak tahu juga di mana Anjas.



"Baiklah. Aku akan ke rumahnya." setelah berkata demikian Ren pun pergi meninggalkan toko.



Merasa bahwa Anjas dalam bahaya. Maryam langsung menelpon Anjas. Tapi tidak dijawab. Berkali-kali dia mencoba. Tapi masih tidak diangkat oleh Anjas.



"*Aku merasa firasat buruk yang akan menimpa mas Anjas*." benak Maryam yang mulai khawatir akan keselamatan Anjas.



Lalu dia hanya mengirimkan pesan WA. Mengatakan bahwa dia dicari oleh orang yang bertampang sangat mengerikan. Yang sepertinya adalah orang asing.


Sementara Anjas masih di jalan. Dia tidak bisa mengangkat telepon. Karena dia fokus di jalan yang lumayan lancar. Dia tidak tahu siapa yang menelepon tapi dia tahu ada telpon masuk. Tapi dia hiraukan dulu.


Sesampainya di rumah Anjas langsung masuk. Dia melihat ibunya sedang memasak di dapur dan ayahnya sedang duduk di kursi roda. Ayahnya masih belum bisa bergerak terlalu banyak. Juga harus memerlukan istirahat lebih. Jadi dia hanya duduk sambil nonton TV baru. Ya TV dan kulkas yang dibeli Anjas sudah sampai dari kemarin. Itu membuat ayah dan ibunya senang.


Setelah memberi salam. Anjas masuk ke kamar. Dia ingin ganti pakaian. Dia sudah mandi toko tadi. Tapi dia tidak ganti pakaian. Sekarang dia sudah memakai baju berwarna putih dan kemeja biru. Juga celana jeans hitam sebagai bawahan.


Dia berniat pergi menjemput Anin. Soalnya dia dikirim pesan WA dari Anin untuk menjemputnya.