
Tidak lama kemudian kelompok lima orang Anjas sampai di Haery Building. Mereka memarkirkan mobil tepat di depan gedung. Suasana tampak sepi di luar gedung. Sepertinya para orang kantoran tidak datang atau diusir oleh Herino dan bawahannya.
Anjas menelpon nomor Tyo. Ingin memastikan keberadaan tepatnya di mana.
"Aku di depan gedung. Kalian di mana?" tanya Anjas saat seseorang mengangkat telepon.
"Hahahaha sungguh berani kau datang ke sini. Kita di roof top. Kau bisa naik tentu saja kau akan bertemu dengan para bawahanku. Selamat bersenang-senang." jawab Herino langsung menutup telepon.
"Mereka disekap di roof top. Dan kemungkinan besar sudah ada banyak bawahannya Herino." ujar Anjas mulai melangkah masuk ke gedung.
"Kalau begitu saat sampai di atas kita harus bersiap dengan segala kemungkinan." sahut Jordan.
Di lantai 1 tidak ada orang sama sekali. Suasana tampak sepi dan sunyi, juga beberapa sudut tampak gelap. Jadi mereka berpikir semua orang yang menunggu ada di roof top semua. Namun saat Anjas menekan tombol lift. Pintu lift tidak terbuka. Menekan lagi masih tidak terbuka juga.
"Kenapa pintu lift tidak bisa terbuka?" tanya Beno saat dia mencoba juga.
"Sepertinya mereka mematikan listrik di seluruh gedung ini." ujar Justin yang menyadari sesuatu.
"Aku pernah berkeliling gedung ini. Pusat pengendali listriknya ada di lantai 2. Kita gunakan tangga." kata Beno langsung menuju tangga.
Mereka pun menaiki tangga. Hingga lantai 2.
Di lain sisi. Roof top Haery Building. Herino sudah siap dengan lebih dari tujuh puluh orang. Bawahannya dari keluarga Ajisaka. Mereka sudah mahir membunuh.
Tidak hanya itu Herino juga sudah menyiapkan orang-orangnya di setiap lantai, yang mencapai lima puluh orang per lantai. Mulai dari lantai 2. Sudah termasuk anggota geng Revon dan Snaky. Mereka sudah dibekali dengan senjata tumpul. Seperti pemukul baseball, pipa besi dan batang kayu.
"Dia sudah sampai. Sepertinya membawa teman berjumlah empat orang. Jadi mereka datang berlima." lapor salah satu anggota geng Revon. Itu adalah Miguel yang mana dia tidak ikut saat geng Revon melawan geng The FALCON kemarin.
"Hadang 4 orang yang lain. Aku hanya butuh si kutu itu, Anjas." perintah Herino.
"Baik bos." Miguel pun langsung pergi.
Kembali ke kelompok Anjas. Mereka yang baru saja sampai di lantai 2. Langsung tegang karena mereka sudah ditunggu oleh lima puluh orang lebih di lantai itu. Mereka adalah gabungan kedua geng, Revon dan Snaky.
"Ini tidak baik. Kita harus melewati mereka agar bisa sampai ke sudut kana lantai 2 ini. Di sana pusat pengendali listriknya." ujar Beno yang sudah memasang kuda-kuda.
"Biar aku yang ke sana. Aku tahu soal kelistrikan." jawab Dion yang sudah siap bertarung juga.
"Kita urus mereka, kau usahakan berlari ke sana." ujar Jordan mulai maju.
Sedangkan Anjas mengikuti dari belakang. Jordan dan Anjas mulai menyerang.
"Serang! Habisi mereka!" seru salah seorang dari lima puluh orang yang menjaga lantai 2.
"Yaaaaa...!" satu persatu dari mereka pun maju.
Anjas dan Jordan melakukan kolaborasi beladiri antara taekwondo dan karate. Beno melihat temannya sudah maju juga ikut maju. Dengan beberapa teknik silat di bisa membuat beberapa orang langsung pingsan. Sementara Justin membantu Dion membuka jalan menuju tempat instalasi listrik.
Karena lantai 2 masih kosong. Pertarungan itu terlihat seperti pengeroyokan. Tapi sebenarnya itu adalah pembantaian massal.
Padahal Jordan baru saja menumbangkan empat orang pria. Sedangkan Beno lima orang. Justin bahkan hanya tiga orang dan sedang menghadapi satu orang yang lumayan lihai.
Pertarungan masih terus berlanjut. Tiga sampai empat orang mengepung Anjas. Mereka menyerang secara bersamaan dengan pipa besi dan batang kayu. Namun yang membuat mereka terkejut. Pipa besi dan batang kayu mereka patah bahkan bengkok karena membentur tubuh Anjas. Kebingungan mereka buyar saat sebuah telapak kaki menampar keras ke wajah mereka.
"Dash! duak! bak! dang!" empat tendangan berputar dilakukan Anjas tanpa jeda dan sangat cepat.
Di antara lima puluh orang itu ada yang hanya diam saja. Sepertinya dia yang mengomando yang lain. Namanya Sube tubuhnya lebih berbentuk dari pada yang lain. Juga hanya dia dan dua temannya yang mengenakan jas hitam di sana.
"Orang itu sangat kuat. Kemungkinan aku bertahan dari pukulannya mungkin hanya lima pukulan saja." gumam Sube di belakang dua temannya.
"Iya kita menghadapi orang yang salah." balas Idon. Teman Sube di sebelah kanan. Tubuh Idon agak berisi atau gemuk.
"Beri tahu bos agar menambah pasukan dari pihak kita." sambung Ciko. Yang berada di sebelah kiri Sube. Tubuh Ciko agak pendek dari Sube dan Idon.
"Kau saja yang hubungi." bantah Idon.
"Kalau begitu kau Sube." Ciko sekarang menyuruh Sube.
"Enak saja. Kau kira aku berani. Yang ada aku dimarahin bos." bantah Sube juga.
"Terus kalian mau mereka lewat begitu saja hah?" Ciko agak geram jika mereka gagal melakukan tugas mereka.
Membiarkan tiga orang tadi saling berdiskusi. Sementara itu Anjas dan Jordan sudah menumbangkan lebih dari setengah orang yang ada di sana. Kini tinggal 11 orang termasuk Sube, Idon dan Ciko.
"Cepat nyalakan listrik Dion." seru Jordan.
Segera Dion berlari menuju sebuah ruangan di sudut lantai 2. Dia pun masuk. Menunggu beberapa menit listrik belum juga hidup. Lalu Dion keluar lagi dari ruangan itu.
"Hiiaaa! DUAK! Brakk.." Anjas baru saja melakukan tendangan melayang. Yang menumbangkan orang terakhir selain Trio Sube itu.
Dion menghampiri Jordan dan mengatakan bahwa tuas yang menjadi inti saklar power sudah dicabut. Sekarang hal itu tidak tahu ada di mana.
Mendengar perkataan Dion Sube tertawa.
"Hahahaha ternyata kalian tidak bodoh. Yang kalian cari ada di sini." seru Sube sambil mengeluarkan satu benda.
Benda itulah yang dicari Dion. Benda itu adalah tuas yang dicabut dari saklar power instalasi listrik gedung. Sekarang ada di tangan Sube.
"Berikan tuas itu." Dion maju berniat menyerang Sube. Tapi dua orang di depan Sube menghalanginya.
Tanpa menghentikan laju langkahnya. Dion langsung melayangkan pukulan pada Idon. Idon sedikit terhuyung. Tapi tidak terjatuh. Melihat temannya dipukul Ciko melakukan tendangan ke arah Dion. Tapi dengan sigap dihindari Dion. Tapi tiba-tiba ada pukulan dari sebelah kiri, itu dari Idon.
Melihat itu Jordan ingin maju. Tapi ditahan Anjas.
"Jika kita nyawa Tyo dan istrinya akan hilang. Lebih baik kita naik tangga saja. Biarkan Dion yang menghadapi mereka.
"Tidak mereka adalah orang-orang dari keluarga Ajisaka mereka sudah terlatih. Aku akan membantu Dion. Kalian pergilah." Justin yang berbicara.
"Kalau sudah mengurus mereka segera hidupkan listrik dan naik ke Roof top." ujar Anjas yang sudah melangkah ke tangga. Diikuti Beno.
"Hati-hati mungkin mereka bersenjata." bisik Jordan pada Justin. Lalu menyusul Anjas.
Tidak menghiraukan ucapan Jordan. Justin langsung maju membantu Dion yang mulai kewalahan melawan dua orang dari keluarga Ajisaka itu.