
"Halo. Her.. kau di mana nak? ayah perlu bantuan kau di perusahaan kita. Sekarang cepat kau ke kantor ayah! Perusahaan sedang keos!" sergah Herman sedikit membentak.
"Maaf ayah tapi aku sedang mengurus tikus kecil yang berani melawanku. Tolong bantu aku ayah." minta Herino.
"Dasar anak bajingan! Aku suruh kau datang sekarang! Juga urus sendiri tikus tidak penting yang kau maksud itu. Jika kau tidak datang siang ini akan aku coret kau dari kartu keluarga!" bentak Herman sudah emosi tinggi. Menutup telepon.
Herino terpaku diam. Karena dia tidak menyangka ayahnya akan menolak permintaannya. Ini baru pertama kali dia tidak didukung keluarganya sendiri.
"Habislah sudah." gumam Herino yang ketakutan.
Ditambah dia melihat setengah dari bawahannya sudah tumbang. Juga Anjas masih meladeni mereka.
Kali ini Anjas tidak menahan diri lagi. Dia bukan hanya memukul dengan tinju dan menendang lawan satu persatu. Tapi dia memberi sikutan, mencekik, mencengkram dan membanting lawannya. Juga tidak tertinggal tendangan lututnya ke wajah orang yang kurang beruntung.
"Duak..buk..Dash...bang...gebuk..! buk! gubrak!" "Ahhhggg Uuuhhk haaagg..!" suara pukulan dan jeritan kesakitan saling beralunan.
Berbeda dengan Anjas. Empat temannya sudah merasakan kelelahan setelah menumbangkan beberapa orang. Mereka kewalahan melawan begitu banyak orang sejak tadi. Pada akhirnya mereka saling membantu tidak mudah diserang balik.
Ke sisi Herino. Dia berpikir dengan keras. Memikirkan cara untuk kabur. Melihat beberapa kemungkinan. Akhirnya dia meraih istri Tyo. Lalu menggiringnya ke tepi roof top gedung.
Herino meraih pisau lipat dari saku jasnya. Menodong ke leher Jein. Tyo melihat itu menjerit ketakutan.
"Jangan kau sakiti istriku! Dasar bajingan gila!" Jerit Tyo.
"Hehehehe maaf Tyo tapi harus ada harga yang harus dibayar." ujar Herino masih memegang Jein. Herino naik ke tembok pembatas dan menaikkan Jein juga di sana.
"Hei kalian semua hentikan!" teriak Herino. Menghentikan pertarungan sengit itu.
"Apa dia sudah gila?" gumam Jordan. Tidak menyangka Herino melakukan cara licik.
"CHEL keluarkan Lima jarum beracun di tanganku sekarang." benak Anjas.
Tidak ada yang memerhatikan jika ada jarum yang lumayan panjang sudah ada di tangan Anjas. Mereka terlalu fokus pada Herino.
"Jika kalian masih melawan akan aku lempar dia ke bawah!" kini Herino mengancam Anjas dan kelompoknya.
"Jangan kotori gedung milikku. Dengan perbuatan hina!" seru Anjas menatap Herino dengan tatapan tajam dan dingin.
"Kau kira aku peduli hah!" bentak Herino.
"Anjas... tolong istriku!" minta Tyo yang berusaha melepaskan diri.
"Siung!" suara benda tipis yang dilempar.
"Sudah aku bilang tidak ada yang bisa mengalahkan... eeuukk!" Herino yang hendak mengatakan sesuatu terhenti secara paksa.
"Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.." ujar Anjas setelah melempar kelima jarum dari tangannya.
"Apa yang terjadi bos?" tanya salah satu bawahan Herino yang sudah mendekati tubuhnya.
"Tubuhku.... tidak.... bisa.... bergerak..." Herino susah untuk berbicara. Lima jarum beracun pelumpuh tertancap bersama di lima titik tubuhnya.
Mendapatkan kesempatan Jein melepaskan diri dari cengkraman tangan Herino karena mengendur. Dia berlari ke Anjas.
Ada anak buah Herino yang hendak menahan Jein tapi tidak jadi setelah melihat tatapan Anjas. Bawahan Herino tersisa dua puluhan orang. Tapi itu tidak masalah buat Anjas.
Beno melepaskan tali ikatan pada Tyo. Sehingga Tyo bisa langsung menghampiri Jein dan memeluknya.
Masih mematung. Herino meminta tolong kepada bawahannya. Dia merasa semua otot dan tulangnya akan copot. Juga dia lemas dan sebentar lagi akan terjatuh.
"Jangan diam saja. Bantu aku!" jerit Herino.
"Segera tinggalkan tempat ini!" perintah Herino langsung dilakukan. Dengan sisi pasukan, mereka membawa Herino. Seperti membawa mayat.
Jordan yang hendak menghadang ditahan oleh Anjas. Anjas menggeleng cepat.
"Sialan." gumam geram Jordan.
Akhirnya semua orang yang ada di roof mulai bangkit dari pingsan dan segera kabur karena tidak mau melawan lagi.
Tindakan Anjas yang membiarkan mereka pergi bukan karena dia takut. Tapi dia baru saja mendapatkan notifikasi bahaya dari sistem.
[Bahaya! Terdeteksi seseorang dengan niat membunuh. Jarak 800 meter sebelah selatan dari lokasi anda!]
"Apakah itu pembunuh bayaran yang mengincar aku? " tanya Anjas di benaknya.
[Kemungkinan besar iya.] jawab sistem.
"Ben. Kau urus semua kekacauan ini dulu jika perlu dana kau telepon saja atau lewat pesan WA. Aku. harus pergi karena punya urusan genting." Anjas hendak melangkah ke lift. Tapi berbalik lagi mengatakan sesuatu pada Beno.
"Juga akan ada orang dari plaza Mebel Fatmawati yang akan datang. Jika mereka bertanya tentang aku jawab saja aku harus mengurus sesuatu." setelah mengatakan itu Anjas pergi meninggalkan mereka berenam di sana.
Di roof top gedung lain. Yana yang melihat targetnya pergi. Segera pergi mengejar.
"Target meninggalkan gedung. Kita kejar dia." Yana berlari ke arah tangga lalu turun dengan cepat. Diikuti oleh Chan Bee.
Walaupun mereka wanita kecepatan mereka sangat baik. Juga memiliki kemampuan parkour. Jadi mereka menuruni tangga dengan lincah.
Dalam lima menit mereka sudah sampai di lantai dasar. Dari roof top gedung berlantai 7.
Di luar gedung mereka melihat mobil Anjas baru saja melewati jalan di depan mereka. Dengan motor sport Yana dan Chan Bee mengejar Anjas.
Di sisi Anjas. Dia memacu mobilnya ke kecepatan tinggi. Dia menuju Utara. Berniat pergi ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.
Sistem masih memberi tahu Anjas bahwa dia sedang dikejar oleh orang yang mengincarnya. Berjumlah dua orang dengan menggunakan motor sport berwarna hitam.
Melihat spion mobil. Anjas mengkonfirmasi informasi sistem. Rencana Anjas ingin menggiring mereka ke tempat sepi dan tanpa adanya CCTV. Agar dia bisa dengan leluasa bergerak dan membunuh pembunuh bayaran tersebut.
"Lawan kali ini adalah wanita. Sayangnya aku tidak memandang gender. Siapa pun yang berniat mencelakai aku dia akan mendapat kematian." gumam Anjas tersenyum seperti penjahat menahan rasa geli.
Dua puluh menit kemudian. Walaupun jalanan padat tidak membuat Anjas memelankan mobilnya.
Hingga memasuki area pelabuhan Tanjung Priok. Anjas masih masuk lagi melewati banyaknya box kontainer berukuran besar. Entah berisi apa.
Dua motor yang mengikuti sudah menghilang saat memasuki area pelabuhan. Tapi Anjas yang sudah menandai dua motor sport itu. Tidak merasa cemas atau khawatir. Dia bisa melihat posisi mereka dari map transparan yang di munculkan sistem.
Dua titik merah adalah posisi dua motor pembunuh bayaran. Satu titik putih adalah posisi mobil Anjas. Mereka hendak mengepung mobil Anjas di antara kontainer yang berjejer terlalu dekat.
Anjas membiarkan hal itu. Sehingga sekarang dia menghentikan mobilnya. Di depannya berjarak 5-6 meter sudah terparkir satu motor sport hitam. Saat melihat kaca spion ada satu motor sport hitam lain di belakang mobilnya dengan jarak 4 meter.
Anjas belum turun dari mobil. Dia segera mengeluarkan dua belati dan jarum beracun pelumpuh dari inventori. Lalu menyimpannya ke beberapa bagian pakaiannya sendiri.