CHEL

CHEL
Bab 100



Si cepak yang tidak ingin kalah pun memaksa bangun. Sekali lagi dia mengumpulkan energi alam ke genggaman tangan. Dengan gerakan cepat seperti angin kencang si cepak maju menyerang.


"Hiaaaa! Bum!" serangan si cepak kena telak di wajah Anjas.


Tapi dia terkejut, Anjas sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Juga ekspresi wajah Anjas tidak terlihat kesakitan. Bahkan tersenyum miring.


"Pukulan apa itu tadi? Seperti pancaran air. Apa hanya itu kemampuanmu?" tanya Anjas yang adalah mengejek.


"Sialan. Kau seorang master." si cepak mengumpat dan langsung balik kanan berusaha lari. Menghampiri temannya.


Tidak ingin membiarkan si cepak kabur. Anjas melempar jarum terakhir yang dia dapatkan dari sistem. Jarum yang diberikan racun pelumpuh.


"Syuut! Ugh... Brukk!" sekali lempar langsung kena di punggung si cepak. Dalam hitungan detik dia langsung ambruk.


Agar tidak berlama-lama. Anjas menyeret si cepak menuju ke mobil milik Liana.


"Apa yang ingin kau lakukan?" si cepak terlihat ketakutan. Walaupun tidak bisa bergerak. Dia masih bisa berbicara.


"Aku hanya ingin bertanya pada orang yang kau buntuti." jawab Anjas berbohong.


"Tok tok tok." Anjas mengetuk kaca mobil BMW milik Liana.


Menurunkan kaca. "Ada apa? Kenapa kau membawa mereka ke sini?" tanya Liana canggung.


"Bruk!" tapi sebelum Anjas menjawab terdengar suara benda jatuh. Saat mereka menoleh. Ternyata itu adalah tubuh rekan si cepak yaitu si pria bertato. Dia telah dikalahkan oleh Dendi.


Anjas melirik Dendi sebagai tanda tanya.


"Dia sedikit merepotkan Guru." jawab Dendi yang mengerti lirikan mata Anjas.


Kembali menatap Liana.


"Oke. Aku langsung ke intinya. Mereka berdua sudah mengikuti kalian entah sejak kapan. Tapi yang jelas targetnya salah satu dari kalian berempat. Apa ada yang kalian tanyakan sebelum aku membawa mereka ke polisi?" jelas Anjas tegas.


"Siapa yang menyuruh mereka?" Cindy yang duduk di sebelah Liana langsung bertanya.


Anjas menarik kerah baju si cepak dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan muncul begitu saja Belati Baja Neraka. Lalu menanyakan kembali pertanyaan Cindy.


"Kau dengar? Siapa yang menyuruhmu untuk membuntuti mereka? Jika kau tidak menjawab jujur akan aku potong satu telingamu." tanya Anjas sekaligus mengancam.


Melihat belati di tangan Anjas. Si cepak tanpa pikir lagi menjawab cepat pertanyaan itu.


"Yang menyuruh kami adalah Pangeran Dwiyono dari Keluarga Dwiyono." si cepak menjawab cepat. Karena belati terasa di telinganya.


"Pangeran? Tega sekali dia melakukan itu. Apa tujuannya?" lagi Cindy bertanya.


Anjas melirik si cepak.


"Dia ingin kami menculik Berliana Zen. Untuk mengancam keluarga Zen. Agar bisa mendapatkan proyek pembangunan gedung baru yang sedang keluarga Zen lakukan." jawab si cepak lagi.


"Apakah sudah cukup?" tanya Anjas ke Liana.


"Terima kasih. Aku berhutang nyawa padamu. Kalau kamu tidak keberatan aku ingin meminta nomor teleponmu. Juga jika kau butuh bantuan keluarga Zen bisa membantu." jawab Liana. Dia semakin tertarik dengan Anjas.


"Ini nomor teleponku. Atau kamu bisa pergi menemui aku di kafe itu." ujar Anjas sambil menyerahkan kartu nama yang sempat dibuat oleh sistem beberapa saat lalu.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Urus mereka dengan baik." setelah mengambil kartu nama Anjas. Liana dan gengnya pun pergi meninggalkan parkiran restoran.


Setelah kepergian Liana. Anjas mengambil dua buah botol kecil yang berisi racun sianida. Lalu meminumkan ke dua orang yang asing itu. Tanpa menunggu lama keduanya tewas. Dendi hanya terdiam melihat Anjas membunuh dua orang asing itu. Saat Dendi melihat sekitar dia tidak melihat satu pun CCTV di parkiran restoran itu. Jadi tidak ada yang tau kalau ada pembunuhan di tempat itu.


[Selamat anda telah melenyapkan 2 aura dosa. Anda mendapatkan +600 Exp.]


Mengabaikan notifikasi sistem Anjas membuka masker mereka dan menscan wajah mereka. Untuk mencari tahu identitas mereka.


[Nama: Baron Bummer.


Usia: 34 tahun.


Pekerjaan: Penculik, Pemerkosa, Perampok.


Negara Asal: Denmark.


Keahlian: Mata-mata, Ahli Beladiri Tenaga


Dalam tingkat Pemula.


Keterangan: Sudah banyak korban jiwa karena mereka. Aura dosa yang tinggi. Sering disewa oleh para pejabat negara untuk pekerjaan kotor.] keterangan identitas si pria rambut cepak.


[Nama: Kinji Sasaki.


Usia: 30 tahun.


Pekerjaan: Penculik dan perampok.


Negara asal: Jepang.


Keahlian: Merakit bom, Karate sabuk Biru.


Keterangan: Sudah banyak korban jiwa karena mereka. Aura dosa yang tinggi. Sering disewa oleh para pejabat negara untuk pekerjaan kotor. Psikologi terganggu.] keterangan identitas si pria bertato.


"Mereka berdua adalah warga negara asing. Tapi sangat lancar bahasa Indonesia. Tapi dari keterangan para pejabat negara sering menggunakan jasa kotor mereka. Hah sungguh rumit negara ini." benak Anjas.




Sesampainya di rumah. Anjas langsung disambut oleh adiknya Anin.



"Kakak ke mana saja sih? Kok baru pulang?" tanya Anin.



"Maaf yah. Kakak ada urusan penting di luar kota. Juga tidak sempat beri tahu kalian. Mana ayah dan ibu?" jawab Anjas berjalan masuk ke rumah.



"Ayah dan ibu sedang keluar. Katanya ada acara reuni. Jadi mereka pergi bersama. Kan mereka satu sekolah dulu." jawab Anin.



Anin melirik Dendi lalu bertanya. "Kamu Dendi yah?".



"Iya." Dendi menjawab singkat.



"Guru aku ingin bertemu ibu." ujar Dendi berpaling ke Anjas.



"Ibumu ada di rumah sebelah. Mari aku antar." Anin yang menjawab. Menarik tangan Dendi.



Setelah ditinggal oleh Anin dan Dendi. Anjas masuk kamar dan membuka hpnya dan melihat isi file yang sudah didapat oleh sistem.



"Ternyata mereka adalah orang-orang dari keluarga Wijaya. Jadi mereka sudah tau siapa yang membuat si bajingan Kevin patah tulang kaki. Menarik sekali. Jadi mereka ingin mencari masalah. Walaupun tidak ada misi khusus untuk mereka aku tetap akan melawan mereka." gumam Anjas tersenyum miring.



"Hmm aku bisa memanfaatkan teknologi untuk membuat mereka miskin. Yang pertama si Arthur ini." berkata seperti itu Anjas mengeluarkan laptopnya yang sering dia simpan di cincin giok penyimpanan.



Segera terhubung dengan internet. Melakukan hacking untuk mencari informasi tentang keluarga Wijaya.



Setelah setengah jam Anjas berkutat dengan laptop. Akhirnya Anjas mendapatkan semua informasi tentang keluarga Wijaya.



Arthur memiliki perusahaan kecil yang adalah anak perusahaan dari Grup Wijaya. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman barang. Semua data pengiriman barang via online. Jadi Anjas membuat semua tujuan pengiriman barang menjadi kacau dan tidak terkendali. Membuat pengiriman barang terhambat dan banyak barang yang akan datang ke orang yang salah.



"Oke kita mulai melakukan serangan ke Arthur. Perusahaan atas nama Arthur Wijaya akan bangkrut besok pagi." ujar Anjas sambil menekan tombol enter.



Setelah itu Anjas ke kamar mandi untuk bersihkan tubuh. Dia sudah gerah saat melakukan hacking tadi.



Selesai mandi dan berganti pakaian. Anjas menelpon Beno.



"Halo. Ben kamu di mana sekarang?" sapa Anjas santai.



"Halo, Anjas. Akhirnya kau telpon. Sekarang kau bisa datang ke kafe ada yang ingin bertemu denganmu." jawab Beno senang.



"Siapa? Apakah ada yang membuat masalah lagi?" tanya Anjas curiga.



"Bukan, bukan. Dia teman lama kita. Deni datang ingin menemui mu. Segera datang ke kafe dia sudah menunggu dari dua hari lalu. Sekarang saat kau telpon dia juga datang." jawab Beno agar Anjas tenang.



"Baiklah aku ke sana." Anjas pun keluar rumah dan pergi menuju kafe.