
Anjas menghubungi Beno untuk datang, bersama Rina juga. Agar mereka bisa mengetahui hal itu.
Anjas sampai di gedungnya lebih dulu. Lalu 10 menit kemudian Beno dan Rina datang. Renovasi gedung masih berjalan di lantai 3 dan 5. Sedangkan di lantai 2 sudah selesai. Setengah jam kemudian Luna dan ketua tim designer decoration datang. Ketua tim itu bernama Regina Kalangi.
"Senang bertemu dengan kalian. Jadi kalian yang berencana membuka kafe. Aku terkesan. Anak muda yang mulai berbisnis adalah keunggulan." sapa Regina sambil menjabat tangan Anjas, Beno dan Rina.
"Terima kasih. Ini juga usul Anjas, kalau tidak kami tidak akan memulai." balas Rina.
Selama sejam lebih pembahasan perencanaan pun berjalan lancar. Semua disusun secara sistematis dan disetujui oleh Anjas dan kawan-kawan. Dekorasi akan dikerjakan mulai besok dan diawasi langsung oleh Beno dan Rina. Yang mana Anjas menunjuk Rina sebagai manager kafe dan Beno sebagai asisten Anjas.
Jadi semua laporan pekerjaan akan dilaporkan oleh Beno. Rina yang akan mengatur kafe. Sementara Anjas sebagai pemilik dan yang memodali kafe.
Setelah pertemuan Anjas langsung pergi. Tujuannya ada dua yaitu rumah sakit dan kantor polisi. Anjas masih memiliki 3 hari untuk menyelesaikan misi menangkap pelaku tabrak lari ibu Dendi.
Sesampainya di rumah sakit. Anjas mendapati Dendi dan ibunya yang sudah sadar. Dendi menyambut Anjas.
"Kak Anjas... Kenapa baru datang? Ibu ingin berterimakasih padamu dari kemarin." ucap Dendi yang ingin bertanya lagi.
"Aku sedikit sibuk. Jadi baru datang sekarang." jawab Anjas.
"Terima kasih nak. Aku akan membalas kebaikan ini." ucap ibu Dendi.
"Sama-sama. Aku juga akan memindahkan kalian ke rumah yang layak. Jika berkenan kalian bisa tinggal di rumah baruku untuk sementara waktu. Dan Dendi aku akan meneruskan sekolahmu." ujar Anjas mantap.
Dendi dan ibunya terkejut. Dendi berpikir Anjas hanya memberinya pekerjaan. Tapi sekarang dia diberi tempat tinggal baru walaupun hanya sebentar.
"Terima kasih nak Anjas." ibu Dendi tersenyum dan meneteskan air mata. Kesialan yang dia alami telah selesai.
"Terima kasih kak. Apa yang kakak berikan kepada kita akan aku balas dengan kerja keras." seru Dendi mantap.
"Kau hanya perlu melanjutkan pendidikan dan membanggakan orang tua. Itu saja bayaran yang aku minta." balas Anjas menepuk pundak Dendi. Tapi ucapan Anjas diartikan lain oleh Dendi. Dia bertekad akan melakukan segalanya untuk Anjas sekarang.
"Juga mulai besok kita akan melanjutkan pelatihan yang tertunda beberapa hari." lanjut Anjas.
"Baik kak." Dendi tambah semangat.
Sementara itu di rumah sakit Pusat Fatmawati Jakarta. Herino terbaring kaku. Dia tidak bisa bergerak sama sekali. Namun masih bisa berbicara dengan baik. Selain dia ada juga beberapa bawahan Herino dengan keadaan yang sama di ruangan yang terpisah.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada anakku dok?" tanya Herman Ajisaka. Ayah Herino.
"Anak anda mengalami kelumpuhan. Kita tidak bisa menemukan secara pasti penyebabnya. Kelumpuhan ini hanya sementara. Tapi kami tidak tahu pasti anak anda akan kembali normal. Bisa jadi berbulan-bulan." jelas sang dokter yang menangani Herino dan kawan-kawan.
"Baiklah dokter. Terima kasih." Herman pun pergi meninggalkan ruangan Herino. Dia bersama tangan kanannya yang bernama Muklis.
"Klis. Cari tahu apa yang terjadi sebelum anakku menjadi seperti ini. Siapa pun yang terlibat dan apa masalahnya." perintah Herman.
"Baik Tuan." Muklis mengakui perintah. Lalu pamit pergi. Sedangkan Herman diantar supir kembali ke kantornya.
"Siapa pun yang sudah mencelakai anakku akan aku berikan dia pelajaran." gumam Herman.
Kembali ke Anjas. Setelah menemui Dendi dan ibunya. Anjas beralih keruangan lain yang ada di rumah sakit itu. Dia mengunjungi Chan Bee. Ada 15 anggota geng The FALCON yang menjaga gadis itu.
"Kau datang rupanya." sela Anjas saat masuk ruang perawatan Chan Bee. Di sana ada Yana.
"Jadi benar dia akan bekerja sama dan melindungi kita?" tanya Chan Bee pada Yana.
"Iya. Aku sudah membuat perjanjian dengan dia." jawab Yana.
"Oke. Sekarang kalian jelaskan. Kenapa Black Mamba menargetkan aku?" tanya Anjas mulai mengorek informasi.
"Yang aku tahu dari informan rahasia organisasi. Kau telah merusak rencana penjualan manusia ke Makao. Jadi Bos orang itu meminta organisasi kami untuk membunuhmu. Kau secara tidak langsung membuat bos mafia terkejam di China marah." jelas Yana.
"Ah jadi ini menyangkut kasus Human Trafficking itu. Aku paham sekarang." Anjas mengangguk mengerti.
"Tapi jika memang mereka ingin melakukan hal itu. Lakukan saja. Aku akan menunggu siapa saja yang datang untuk membunuhku. Aku siap menghadapi mereka." lanjut Anjas menyeringai lebar.
"Kau terlihat seperti pembunuh." tegur Chan Bee saat melihat ekspresi wajah Anjas.
"Memang benar. Tidak bisa dipungkiri. Aku juga sudah membunuh dua orang pria yang datang membunuhku. Sama seperti yang kalian lakukan tempo hari. Tapi keberuntungan berpihak pada kalian berdua. Aku tidak membunuh kalian." balas Anjas dengan senyum santai.
Chan Bee dan Yana hanya terdiam. Mereka tahu siapa saja yang telah terbunuh itu. Mereka melihat di berita. Mereka hanya menelan ludah karena ketakutan. Mental mereka sebagai pembunuh jatuh.
Setelah mendapat informasi. Anjas pergi dari rumah sakit itu dan langsung menuju kantor polisi.
Anjas menemui Jakson agar dia mengaku bahwa dia adalah pelaku tabrak lari. Juga mengakui bahwa Vino juga terlibat dalam beberapa kasus yang sama.
Jakson yang tidak mau mendapat cekikan lagi langsung mengiyakan saja. Dia sekarang peduli pada dirinya sendiri. Hari itu juga polisi pergi menangkap Vino. Yang mana Vino baru saja ingin pergi bersama ayahnya ke bank. Untuk mengurus hutang.
Sementara di kediaman Markus. Fino telah dibawa oleh polisi.
"Bagaimana ini Ayah? Fino harus kau bebaskan." ucap istrinya Melisa. Ibu Fino.
"Tenang saja Bun. Setelah semua hutang aku bayar. Aku akan langsung mengurus kebebasan Fino." jawab Markus.
Lalu segera dia pergi ke bank. Sampai di sana dia bertemu dengan direktur Bank. Lalu ingin melakukan transaksi transfer. Tapi saat dia mengecek lagi saldonya. Markus terdiam. Uang yang dia dapatkan dari hasil menjual cabang hotel hilang dalam semalam.
"Bagaimana pak Markus? Kau jadi membayar hutang itu hari ini? Jika ditunda lagi waktu yang kau miliki hanya tersisa 2 minggu. Aku harap kau bijak dalam hal ini." ujar direktur Bank.
"*Bagaimana ini bisa terjadi? Uangku lenyap! Apa yang harus aku lakukan? Dua Minggu tidak cukup untuk mendatangkan uang itu. Juga aku tidak bisa menuntut Melinda. Akunku ini diretas. Sialan! Siapa yang berani berbuat ini semua. Aku harus membebaskan anakku. Tapi aku tidak bisa membantu untuk saat ini*." Markus sekarang bingung dengan situasi yang berubah.
"Aku mendapatkan sedikit masalah. Jadi tolong menunggu lagi." jawab Markus agar dia bisa diberi waktu.
"Waktumu hanya 2 minggu. Tidak lebih. Jika tidak bisa membayar semua hutang itu. Kami akan menyita semua properti milikmu sebagai jaminannya. Tentunya sesuai besarnya hutangmu." balas si direktur Bank itu.
Markus hanya bisa keluar dari bank dengan lesu. Jika tenggat waktu habis dan dia tidak bisa membayar. Maka semua properti yang dia miliki akan diambil alih oleh bank. Termasuk hotel dan penginapan yang dia miliki. Dengan kata lain dia akan jatuh miskin dalam waktu 2 minggu lagi. Kecuali ada keajaiban.
Kembali ke Anjas sekarang dia sudah berhasil menyelesaikan misi. Langsung mendapat notifikasi sistem.
[Selamat anda telah menyelesaikan misi. Anda mendapatkan 3 Kotak Perunggu dan +30 exp sebagai bonus penyelesaian misi dengan cepat.]
[Selamat anda naik level 4. Beberapa item dalam Shop sistem terbuka.]