CHEL

CHEL
Bab 18



Anjas mengingat bahwa Shop sistem telah terbuka.


"Buka status."


[Nama \=> Anjas Rahadi ]


[Kesehatan \=> 70% (Sehat)]


[Level \=> 2/100 (185/250 - exp)]


[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super,]


[Kekuatan \=> 125]


[Kecepatan \=> 90]


[Ketahanan \=> 125]


[Kecerdasan \=> 115]


[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan Petarung,]


[Mental \=> 100% (Sehat)]


[Saldo rekening \=> Rp.1.201.723.064.000]


[Poin Sistem \=> 10.850]


[Status Hubungan \=> Mulai membuka hati]


[Inventori \=> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.]


[Tiket lotre \=> 2 Tiket Lotre ]


[Misi \=> - Misi: Selesai ]


[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal.]


"Aku ingin membuka Shop sistem." perintah Anjas dalam benak.


Kali ini muncul layar transparan yang tampilannya seperti layar komputer zaman sekarang. Ada 8 tampilan menu di Shop sistem. Pilihannya antara lain: Senjata; Teknik Beladiri; Kemampuan Umum Super; Pakaian dan Jirah Pelindung; Alat dan Teknologi Canggih; Ramuan, Pil dan Racun; Tubuh Petarung; Pet shop.


"Buka menu senjata." lanjut Anjas.


Banyak pilihan senjata dalam menu senjata. Mulai dari senjata tajam dan senjata api. Tapi hanya beberapa saja yang berwarna terang. Lainnya memiliki warna buram belum terbuka karena ketentuan level.


Anjas tertarik dengan belati berwarna merah. Saat melihat harganya Anjas makin tertarik. Lalu dia memilih belati itu. Muncul keterangan tentang belati itu.


[- Nama Item: Belati Bara Neraka.


- Fungsi: Bisa memberikan serangan besi panas. Seseorang akan merasa terbakar pada luka serangan selama satu menit.


- Ketahanan: 1500x Serangan. (Jika ketahanan habis senjata dinyatakan rusak.)


HARGA: 120 Poin Sistem.


{BELI} {TIDAK}]


"Tentu saja belilah." segera Anjas menyentuh tulisan Beli pada layar transparan tersebut.


[Selamat anda telah membeli 'Belati Bara Neraka ' sudah disimpan di dalam inventori.]


Anjas tersenyum bahagia. Kali ini dia mendapatkan senjata yang mudah dia gunakan. Mungkin nanti dia akan mendapatkan kemampuan belati dari sistem.


"Ting... Ting.." notifikasi Hp nya berbunyi.


Anjas meraih HP nya di atas meja dekat tempat tidur. Melihat ada pesan WA dari Beno.


"Terimakasih kawan. Obat yang kau berikan padaku dan ibuku sungguh luar biasa. Ibuku sudah tidak terlihat pucat sekarang. Juga aku beberapa bagian tulang di tubuhku terbentuk menjadi lebih baik. Tinggi ku juga naik 10 cm." pesan Beno.


"Oh iya kawan. Aku sudah memasukkan kau ke grup WA kelas kita yang baru. Coba kau cek." lanjut pesan Beno.


Lalu Anjas memeriksa grup WA tersebut. Memang benar dia baru saja masuk dalam grup chat itu. Nama grup 'Grup Alumni kelas XII IPA D' yang tertulis.


Beberapa pesan pun sudah masuk. Ada nama-nama orang yang Anjas kenal.


"Wah ada Si miskin nih. Baru bergabung lagi." Kevin Wijaya.


"Hay Jenius! Kok baru gabung sih?" Jihan Sahara Giandra.


"Aku kira siapa. Ternyata ada orang kumuh yang bergabung." Fino Arlando.


"Jaga perkataan kalian kalau tidak kalian akan aku blokir." Vina Agustina. Admin.


"Oke. oke." Kevin Wijaya.


"Hahaha jadi ketua kelas membela Anjas yah..." Fino Arlando.


"Ah Anjas kau kah itu?" Melani Cellino.


"Lihat ada yang kangen sama Anjas ternyata." Beno Samianto.


Anjas mengingat semua orang dalam grup chat. Termasuk Vina, Melani, Jihan dan Kevin. Apalagi si Fino Arlando yang sering membuli Anjas.


Anjas masih memerhatikan isi grup chat WA. Di sana juga dibahas tentang rencana untuk pertemuan Reuni kelas mereka.


"Jadi kapan kita reunian nya ketua?" Jihan Sahara Giandra.


"Awal bulan Januari nanti. Setelah perayaannya tahun baru. Tanggal 6 kalian punya waktu??" Vina Agustina. Admin.


"Tentu aku bisa. Kan masih libur itu." Jihan Sahara Giandra.


"Aku kosong kok." Melani Cellino.


"Aku akan usahakan deh." Kevin Wijaya.


"Kalo aku dan Anjas. Pasti punya waktu lah." Beno Samianto.


"Oke. Kalau begitu aku akan tentukan tempatnya. Bagaimana kalau di Hotel Aryaduta Jakarta. Biar aku yang bayar semuanya. Jangan khawatir." Fino Arlando.


"Setuju aku." Brama Juandi.


"Oke setuju." Vina Agustina. Admin.


"Setuju juga." Melani Cellino.


"Oke lah mumpung dibayar orang." Jihan Sahara Giandra.


Juga disusul beberapa orang yang menyatakan setuju tentang waktu dan tempat reuni dibuat. Setelah pesan terakhir Anjas menulis pesan juga.


"Aku setuju dan akan datang. Jangan khawatir." Anjas Rahadi.


Setelah menulis pesan dia menaruh HP nya ke tempat tadi. Merasa tubuhnya masih gerah dan berkeringat. Anjas pun mandi. Setelah mandi dan mengganti pakaian. Anjas langsung tidur.



Keesokan harinya.



"Ting.. tong.. Ting.. tong..." bunyi dering panggilan telepon membangunkan Anjas.



Meraih HP nya, mengangkat panggilan. Dengan masih dalam keadaan mengantuk.



"Halo? Iya. Ada apa?" sahut Anjas.



"Nak. Kamu dimana? Ayah akan pulang ke rumah hari ini. Kamu bisa datang menjemput kami nak?" kata Ibunya dari seberang telepon.



"Ah iya Bu. Eh kok sudah mau pulang? kan masih harus dirawat seminggu...?" tanya Anjas heran. Dia langsung bangun saat tahu itu ibunya.



"Ayahmu memaksa pulang. Tapi dokter sudah memberi izin. Ayah bisa pulang dan dirawat di rumah. Kemari lah nak jemput kami." balas ibunya.



"Ya sudah tunggu aku di sana Bu." sahut Anjas lalu menutup telepon.



Segera dia mandi dan berganti pakaian. Kali ini dia menggunakan Kemeja warna krem dan jeans coklat muda.



Dia keluar kamar dan mendapati Maryam yang berada di dapur. Maryam yang terbiasa bangun pagi sedang membuat sarapan.



"Ah selamat pagi tuan Anjas." sapa Maryam saat berbalik badan. Melihat Anjas yang sudah berada di belakangnya.



"Kau buat apa?" tanya Anjas. Dia duduk di meja makan.



"Aku masak nasi goreng dan telur ceplok. Biar cepat dimakan tuan." jawab Maryam.



"Tidak usah pakai kata Tuan. Cukup Anjas saja." hardik Anjas.



Dia merasa resah dengan panggilan Tuan. Tidak terbiasa dengan hal tersebut.



"Baiklah." sahut Maryam.



Tidak lama nasi goreng dan telur ceplok terhidang di meja. Mereka berdua makan bersama. Sesekali Anjas memerhatikan Maryam.



Maryam sekarang sudah mengenakan pakaian yang baru dia beli. Dari uang yang diberikan Anjas. Maryam hanya membeli pakaian yang pas dengan ukuran tubuhnya. Juga beberapa pakaian dalam. Harganya tidak terbilang mahal tapi bergaya. Tidak seperti baju yang dikenakan Anjas sekarang.



"Dalam sebulan kedepannya saya berencana untuk membuka kafe. Kau tidak perlu cari kerja di tempat lain. Aku akan merekrut kau saja. Karena aku percaya sama kau." ucap Anjas di sela sarapan mereka.



"Terimakasih kasih Anjas. Padahal saya sudah banyak merepotkan kamu. Aku janji akan melakukan yang terbaik untuk kafe mu nanti." Maryam merasa senang. Dia masih diberi bantuan sekali lagi dari Anjas.



Padahal dia sudah mengirimkan lamaran pada beberapa perusahaan lewat online tadi. Tinggal menunggu jika ada panggilan. Jadi jika dia tidak mendapat panggilan wawancara dalam satu bulan dia masih bisa kerja di kafe Anjas.



"Sama-sama." balas Anjas dingin.



Setelah sarapan dia mengatakan akan ke rumah sakit untuk menjemput orang tuanya. Lalu akan pulang ke rumah. Jadi beberapa hari dia tidak akan ke apartemen.