
Bryan menatap sahabatnya, " Kenapa, Lo takut?" tanya Bryan keheranan.
" Nggak Lah! Siapa yang takut? Gue nggak nyangka aja Lo bawa motor! Kayaknya sudah lama juga kita tidak naik motor,deh. Dan lebih nggak nyangka Lo bawa motor malam-malam seperti ini." Alex menatapnya balik dengan keheranan.
" Biar cepat sampai aja, gue nggak tahu ada apa sama Lo. Tapi gue yakin, sesuatu pasti terjadi, makanya Lo hubungin gue untuk minta tolong. Makanya satu-satunya cara agar cepat sampai,yah naik motor! Udah pake nih! Lo nggak mau kan semalam disini? Kita mesti kabur dari kejaran suruhan Om Damian." sambil menyerahkan penutup kepala itu kepada Alex mendorongnya di dadanya.
Alex terdiam, sedetik kemudian memeluk Bryan, " Thanks,Bry! Lo buat gue jadi terharu! Ternyata lo memang benar-benar sahabat gue!"
Bryan mendorong dan melepaskan pelukan Alex, " Udah! Jijik tau gue dipeluk sama cowok! Sana, menjauh! Pake helm Lo, kalau kita mau pergi dari sini."
" Ya ampun, Bry! Dikit ajah..ayolah! Tapi, kita kemana nih?" tanya Alex kembali sambil memasang helmnya.
" Lo ikut aja, yang penting jangan ke apartemen Lo! Gue yakin mereka akan kesana! Gue punya tempat baru! Lo ikut gue!" ujar Bryan sambil menatap sekeliling sambil menyalakan motornya.
Ketika Bryan mulai keluar dari restoran orang-orang yang mengikuti Alex mulai mengikuti mereka.
Dan terjadilah kejar-kejaran di antara mereka. Tapi, Bryan beruntung dia memutuskan sesuatu yang tepat kali ini
Untung saja Bryan membawa motornya. Sehingga Bryan dapat melewati kalan-jalan sempit untuk mengecoh orang yang mengikuti Alex.
Bryan mengendarai motornya cukup lihai, membuat Alex tersenyum, ternyata Bryan masih memiliki skill mengendarai motor. Hal ini membuat Alex teringat masa-masa mereka masih muda dulu, dimana mereka sering sekali ikutan balapan liar bertiga tepatnya. Andrew,Alex,Bryan. Mengingat Andrew membuat ada sedikit kesedihan dihati Alex, karena sahabatnya satu itu masih belum berbaikan dengan Bryan setelah sekian lama. Sudah hampir 4 tahun tapi hubungan mereka seperti jalan ditempat.
Kesalahpahaman dan keegoisan mereka membuat keduanya enggan untuk memulai meminta maaf. Hal ini membuat Alex ingin memperbaikinya. " Aku harus membuat mereka berbaikan kembali! Harus!" pikir Alex sambil berpegangan erat pada motor Bryan.
Saat mereka terus menghindari kejaran dari orang suruhannya Damian di kegelapan malam, nun jauh disana seorang pria juga sedang gelisah.
Andrew mondar-mandir sambil terus sesekali menatap ponselnya. Dia gelisah menunggu kabar dari sahabatnya Alex yang belum kunjung datang juga. " Apakah dia berhasil menghindari dari intaian orangnya papah? Sial! Kenapa belum juga ada kabar,sih?"
Tanpa Andrew sadari seseorang wanita dengan kursi rodanya menghampirinya yang tidak menyadarinya dan tetap fokus menatap ponselnya dan sesekali mondar-mandir di depan ruang tengah.
" Kak! Drew!" Vivianne yang terjaga karena haus dan tidak menemukan air di kamarnya membuatnya keluar dari kamar dan terkejut ketika melihat Andrew ternyata masih belum tidur.
Vivianne mencoba melihat jam yang di ponselnya, tapi entah kenapa dia tidak menemukan ponselnya saat terjaga. Entah dimana ponselnya, dia pun tidak ingat.
Akhirnya dia menyerah dan keluar kamar untuk mengambil air minum. Dia tidak ingin membangunkan Andrew dan merepotkannya, dia tidak ingin bergantung dan terlarut dalam perasaannya.
Berdekatan dengan Andrew bukanlah sesuatu yang mudah untuk Vivianne, dia tidak ingin Andrew tahu bahwa kehadirannya masih mempengaruhi. Dia pun sudah memantapkan diri bahwa dia akan secepatnya kembali ke apartemennya ketika sudah sedikit lebih baik. Dia yang telah bertahun-tahun menutup pintu hatinya tidak ingin tergoyahkan kembali dan larut dalam pelukan Andrew. Meskipun Andrew memberikan sinyal ingin kembali dan memperbaiki semuanya. Hatinya masih terluka. Dan tidak mudah melupakannya.
Vivianne kembali menarik nafas panjang, dan menghembuskannya.
" Kak!" dengan sedikit berteriak dia mencoba meraih perhatian Andrew.
Andrew tersentak, terkejut. Dia gelagapan dan menyembunyikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam kantor celananya.
" Ah, ya? Ada apa? Loh, kenapa kamu bangun? Ini masih malam! Ayo, aku antarkan kembali kedalam kamar kamu." Andre mencoba ke belakang kursi roda Vivianne dan mendorongnya.
Vivianne menggelengkan kepalanya, " Aku haus Kak! Makanya aku keluar untuk mengambil air! Justru aku yang seharusnya bertanya kepada Kakak! Kenapa masih belum tidur? Seperti gelisah! Jam berapa ini…" Vivianne menatap kearah jam dinding yang ada di ruangan tersebut. Waktu menunjukkan setengah tiga dini hari? " Apa yang dia lakukan di jam segini?"
" Ah, tidak ada apa-apa, hanya memikirkan sedikit pekerjaan,Vi! Aku antar ke kamar yah? Nanti airnya biar aku yang akan bawakan." bohong Andrew sambil beralih ke arah belakang kursi roda Vivianne.
" Tidak apa-apa hanya sedikit masalah,kok. Sudah diatasi. Aku disini saja, jika di apartemen, siapa yang akan merawat kamu? Kaki kamu masih sakit dan sulit digerakkan bukan?" Andrew berujar sambil perlahan mendorong kursi roda Vivianne.
" Iya, sih..tapi tidak masalah, aku bisa menyuruh seseorang merawat ku,Kak. Lagi pula aku juga harus menghubungi Mas Damian, dia pasti kuatir denganku saat ini. Karena tidak ada kabar apapun dariku sejak kecelakaan terjadi. Aku coba untuk menghubunginya, tapi entah kenapa ponselku tidak terlihat. Apa kakak, melihatnya?" Vivianne menangkupkan kedua telapak tangannya yang kedinginan.
Alex yang mendorong kursi roda Vivianne berhenti, raut wajahnya menegang. Dia tidak suka Vivianne memanggil sang papah dengan sebutan yang intim itu.
Rahangnya mengeras dengan raut wajah yang sukar ditebak.
" Kak? Kenapa berhenti?" tanya Vivianne mencoba menoleh kebelakang.
Andrew yang ditatap Vivianne membuang wajahnya. " Dia kenapa?" batin Vivianne.
" Aku tidak tahu dimana ponselmu. Mungkin tertinggal di Rumah Sakit barangkali atau terlempar saat kecelakaan." sedikit ketus nada suara Andrew.
Vivianne kembali menatap kedepan, " Bisa jadi sih, aduh bagaimana ini? Apa boleh aku meminjam ponselmu,Kak? Atau mungkin menggunakan telepon di Villa ini?"
Andrew kembali terdiam, menahan emosi di dalam hatinya. Dia tidak menyangka hubungan Vivianne dengan sang papah ternyata begitu dekat. "Tapi apa yang dia harapkan? Bukankah mereka sudah bertunangan,bukan? Jadi apa yang kamu harapkan,Drew? Kamu terlambat!" kata hati Andrew. Dia menggelengkan kepalanya, " Tidak! Selama mereka belum menikah, aku masih punya kesempatan" tekadnya dalam hati.
Andrew tidak menyadari bahwa saat ini dia sedang ditatap oleh Vivianne yang bingung melihatnya.
" Kak?" kembali panggil Vivianne membuyarkan lamunan Andrew.
" Yah? Apa?" Andrew mencoba menahan emosinya dan berbicara selembut mungkin.
Vivianne menghembuskan nafas kasarnya, " Aku bilang, boleh tidak meminjam ponsel atau telepon Villa ini?"
Andrew membuka pintu kamar Vivianne, dan tanpa diduga-duga menggendong Vivianne ala bridal style, Vivianne yang kaget berteriak ketika dirinya melayang di udara. Otomatis karena takut terjatuh dia melingkarkan lengannya di leher Andrew.
" Kak! A-aku bisa sendiri!" dengan raut wajah memerah menahan malu.
" Tidak! Kaki kamu masih sakit! Jangan terlalu banyak bergerak jika tidak ingin terjatuh!" serunya tanpa menatap Vivianne dan menaruh Vivianne dengan lembut di tempat tidur.
Vivianne yang salah tingkah hanya bisa menunduk. Sedangkan Andrew tidak kalah grogi, dia membuang wajahnya ke samping.
Andrew buru-buru ke arah pintu kamar untuk mengambil air minum yang diminta Vivianne.
Tapi langkahnya tertahan ketika sedang memegang gagang pintu kamar, mendengar suara halus Vivianne.
" Kak! Mengenai ponsel…" seru Vivianne lirih.
Alex menggenggam gagang pintu kamar dengan kuat sehingga jari jemarinya mengeras dan memutih karena emosi.
" Kita bicarakan lagi nanti! Sekarang sudah malam, tidurlah! Aku akan bawakan kamu air minum nanti!" kemudian terus melaju dan menutup pintu kamar Vivianne cukup keras tanpa menoleh.
Vivianne tersentak kaget, " Dia kenapa? Apakah masalah kantornya sedikit sulit? Ah, mungkin karena itu! Lebih baik secepatnya aku pergi dari sini, agar tidak mengganggunya! Mungkin besok aku akan coba menghubungi Mas Damian!"
****