
Vivianne masih memeluk anak kecil berusia 3 tahun 2 bulan itu dengan erat, air matanya terus menetes tanpa dibendung lagi. Dan mencium seluruh wajah anak itu dengan membabi buta. Selama ini dia bertahan setiap harinya dengan menahan kerinduan kepada buah hatinya itu. AVAN PUTRA A.
Hatinya kini sakit teramat sakit. "Bagaimana, tidak? Seorang anak yang terlahir dari rahimnya harus memanggilnya dengan sebutan Auntie atau Tante." perih hatinya membayangkan hal ini. Tapi ini sudah menjadi keputusannya. Dan atas persetujuan Bundanya.
Vivianne sengaja menyembunyikan keberadaannya dari orang lain bahkan dari dunia. AVAN yang terlalu mirip dengan Andrew membuatnya memutuskan menyembunyikannya. Tak ada yang tahu kalau Avan adalah putra kandungnya yang dilahirkannya 3 tahun silam.
Dia kuatir, Andrew mengetahui keberadaannya dan mengambil buah hatinya itu. Dia tidak akan sanggup jika hal itu terjadi. Avan adalah orang yang terpenting dalam hidupnya selain sang Bunda. Avan yang membuatnya bertahan di ibu kota ini dengan kekejaman kehidupan yang dialami hingga ia sampai pada titik ini.
Avan lah semangatnya agar dapat menyelesaikan kuliahnya dengan secepatnya. Dia rela bekerja apapun demi bisa mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahnya dan mengirimkan sedikit uang hasil kerjanya untuk sang bunda yang merawat buah hatinya di Sleman. Bahkan dia tidak jarang harus berpuasa dengan alasan menghemat, dan mengirimkan uangnya untuk sang bunda. Sang Bunda tidak pernah memintanya, tapi sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab paling tidak ini yang bisa dilakukannya, meski hal ini tidak bisa menggantikan ketidak adaan ya disisi sang anak.
" Vi…" Bunda yang menyadari bahwa Vivi mulai larut dalam kesedihan, mengingatkannya.
" Ah, iya Bunda. Kalian pasti semua lapar bukan? Bagaimana kalau sebelum pulang ke apartemen kita makan dulu? Mau, ya? Mumpung kalian disini, kita makan ke tempat yang enak,yah?" ujarnya sambil menghapus air matanya.
" Avan bagaimana? Mau ke tempat permainan juga?" ujarnya.
" Mau Auntie, tapi Auntie tidak apa-apa kan? Kenapa Auntie nangis? Apa Avan buat salah,sama Auntie?" ujar pria kecil polos itu.
" Ah, tidak, sayang…kamu pria tampan yang baik, jadi bagaimana bisa kamu nakal? Auntie tadi…kelaparan,yah..kelaparan. Jadi Auntie nangis deh, nahan sakit. Makanya kita makan sekarang,yuk?" ungkapnya sedikit berbohong.
"Oh…kirain Auntie kenapa? Apa bunyi dung…dung juga Auntie diperutnya?" tanya bocah pinta itu.
" Hah? Dung…dung..dung?" Vivianne kebingungan.
" Iya,Avan kalau lapar perutnya bunyi dung..dung..dung.. seperti tukang es cream yang lewat didepan rumah, iya kan Bunda?" dia menoleh ke arah Bunda Fatma.
" Itu,loh,Nak. Es potong yang dulu kamu suka beli waktu kecil." jelas sang Bunda.
Vivianne mengangguk, hatinya sedih. Selama ini dia tidak pernah bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya. Bahkan anaknya hanya memakan es cream yang seharga hanya Rp 1.000 saja. Dia tidak akan membiarkannya lagi, paling tidak saat ada dirinya disini. Dia menatap sedih sang buah hatinya.
" Apa Avan, suka es cream?" tanyanya lembut.
" Suka, sekali Auntie. Tapi, kata Bunda, Avan tidak boleh banyak-banyak makan es cream. Nanti sakit! Kalau sakit, nanti Avan bikin Bunda sedih. Avan tidak mau buat bunda sedih,Auntie."ceritanya dengan polos.
Vivi terkejut dia baru menemukan fakta mengenai hal ini. Dia menoleh kepada sang Bunda.
Bunda hanya tersenyum lembut, " Tidak parah, kok,Vi. Dia hanya demam, cuma itu pertama kalinya Avan demam, saat itu Bunda memang sempat panik, karena Avan masih kecil, dan Bunda tidak ingin ganggu kamu yang sedang ujian, besoknya dia sembuh kok!" ujar sang Bunda menjelaskan.
Vivi mengangguk, " Tapi Bun, apapun yang terjadi pada Avan, seharusnya Bunda kasih tahu aku,Bun. Aku pasti akan memprioritaskan Avan. Aku sudah jauh, tapi aku tidak tahu jika Avan sakit, aku merasa tidak berguna,Bun. Aku seperti.." ujar Vivianne tercekat.
Sang bunda, menghampirinya dan membelai lengannya. " Justru karena Bunda tahu kamu akan memprioritaskan Avan, Bunda yakin kamu akan segera pulang tidak peduli dengan ujianmu, jika Avan jatuh sakit. Dan Bunda tidak mau itu. Bunda tidak ingin kamu gagal untuk yang kedua kali,Vi! Mengertilah..! Bunda tahu kamu sedang berjuang demi kehidupanmu dan Avan,bukan? Makanya sebisa mungkin Bunda tidak ingin mengganggumu. Toh, Avan sakitnya tidak parah. Mungkin karena dia makan es cream itu kebanyakan saja,itu saja! Sudah, jangan dibahas lagi,yah?"
Vivi menghembuskan nafasnya berat. " Tapi, Bun, Anne mau selanjutnya apapun itu mengenai Avan, Bunda harus kasih tahu Anne,yah?"
" Iya,iya. maafkan Bunda,yah?"ujar sang Bunda tidak ingin berdebat mereka baru saja bertemu dan tidak ingin mengacaukan kebahagiaan hanya karena hal ini.
" Iya, Auntie, Auntie jangan marahin Bunda. Avan tidak apa-apa, kok! Avan tidak nangis loh, waktu sakit! Kata Bunda Avan kan cowok, jadi tidak boleh cengeng apalagi nangis,ya kan Bunda?" ujar menoleh kearah Ibu Fatma.
" Iya, Nak." senyumnya lembut.
" Tuh, Kan,benar! Jadi Auntie jangan sedih lagi,yah? Avan kuat kok! Kata Bunda, kalau Avan sakit,Auntie ikutan sedih! Sampe nangis jadi Avan tidak mau buat Bunda dan Auntie sedih!" ujar sambil menghapus sisa air mata Vivianne dengan tangan kecilnya.
Vivianne terharu, dia percaya bahwa Bunda Fatma akan terus mengajarkan sesuatu hal yang baik demi Avan, sesuatu yang Vivianne tidak bisa berikan di sepanjang 3-4 Tahun ini. Mengingat ini hatinya kembali terluka, tapi dia harus lakukan ini demi masa depan mereka.
Vivianne membawanya dalam gendongannya sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher bocah kecil itu.
" Cup..cup…Auntie! Auntie jangan nangis, terus. Nanti matanya melotot Lo, seperti kodok! Auntie jadi tidak cantik lagi,deh." ujarnya.
Vivianne yang mendengarnya tertawa kecil. " Heheh…kamu bisa saja. Memang kalau nangis matanya jadi melotot,yah?" ujar Vivianne.
" Iya, tuh,Mbak Maya. Waktu itu menangis karena turun cuma jadi juara dua, eh nangis deh! Keluar keluar kamar matanya melotot seperti kodok! Serem,ih!" kata bocah berumur tiga tahunan itu.
" Hahah…Bener, May? Kamu nangis? Kok bisa turun sih, nanti bagaimana bisa dapet beasiswa kamu!Makanya jangan kebanyakan main! Apalagi mulai pacar-pacaran! Ingat, jangan ikuti jejak Mbak Yu mu ini. Sudah cukup mbak saja yang mengecewakan Bunda, jangan kamu juga!" ujarnya menatap Maya.
" Iya,Kak! Itu pas di semester awal kok,Kak! Raport bayangan. Sekarang mah, sudah tidak lagi. Cuma sekali saja,kok itu. Selanjutnya tidak lagi. Iya Maya akan ingat terus pesan, Kakak! Ih, bocah ini! Buka rahasia mbaknya saja! Bikin mbak malu,tau!"memberikan peringatan dengan mendelik.
" Duh, pawangnya marah,lagi!" Maya memberengut kesal.
" Week! Rasain!" Avan meledeknya.
" Hush! Kamu tidak boleh kurang ajar seperti itu sama mbak Maya,Ok? Minta maaf sama Mbak Maya!" ujar Vivianne.
" Iya Auntie. Maafkan Avan Auntie,Mbak Maya." dengan tertunduk meminta maaf.
Maya yang cemberut membuang muka hanya berujar, " Iya,jangan diulangi yah?"
" Hmm..Auntie. Perut Avan mulai bunyi dung..dung..ini..seperti konser!" Avan sambil memegang perut besarnya.
" Hahah…Aduh, maaf yah, Auntie lupa. Kamu lapar,Nak? Ayo..kita ke parkiran.. mobil sudah menunggu di sana!Ayo Bun! Bawaannya berat tidak? Biar Anne bantu bawa yah?" ujar Vivianne kembali.
" Kamu kan sedang gendong, Avan,Vi! Bagaimana coba membawa pula bawaan kami,sudah biar saja ini Bunda dan Maya yang bawa. Tidak berat,kok! Sesuai kata kamu, Bunda tidak perlu bawa barang banyak,kan? Oh,ya Itu sudah, turunkan saja, Avan nya. Biar dia jalan sendiri,Vi! Dia sudah besar,Kok! Dia bisa jalan sendiri,Vi! Nanti kamu capek,lagi gendongnya!" ujar sang Bunda.
" Tidak kok,Bun.Biar saja, Anne kangen, mau gendong Avan,Bun." ujar Vivianne.
" Ya sudah, terserah kamu. Kamu memang suka keras kepala terkadang dari dulu!" Bunda hanya melengos.
" Hehehe…tapi Bunda sayang,kan?" cengir nya menggoda sang Bunda.
" Iya,itu. Untung saja,sayang,Vi!" ujar sang Bunda.
" Hahah..Bunda..Bunda..bisa saja! Nah itu supirnya sudah datang,Bun."Vivianne menunjuk seorang pria sedikit tua tergopoh-gopoh menghampirinya dan memberi hormat.
" Ada yang bisa saya bantu, Mbak Anne?" ujarnya sambil memberi hormat.
" Tolong bantu bawaan Bunda dan adik saya dimasukan ke bagasi,ya Pak! Terima Kasih." ujar Vivianne sopan.
"Baik,Mbak!" supir itu pun mengambil alih bawaan Bunda dan Maya dan kemudian berjalan didepan mereka.
Bunda mendekat dan berbisik, " Itu siapa, Nak? Kok seperti kenal dan hormat sama kamu?"
" Supir kantor ,Bun. Atasan Anne yang suruh bawa karena tahu Anne mau jemput bunda di Bandara.Nanti Bunda juga akan Anne kenalkan sama dia,Bun! Tapi tidak hari ini, Orangnya sangat sibuk! Setahu Vivi sih, ada meeting dengan client hari ini!" ujar Vivianne.
" Oh…Atasan kamu baik sekali yah, Nak. Syukur Alhamdulillah kamu bertemu dengan orang baik di sini,Nak! Bunda turut senang. Siapa Namanya?" ujar sang Bunda sedikit kepo.
Vivianne tersenyum" Iya,Bun.Sangat baik,Bun. Bahkan dia yang sudah menolong Anne selama ini. Namanya…"
" ANNE!" tiba-tiba seorang pria tampan dan gagah dengan perawakan cukup tinggi sekitar 185 cm dengan tubuh yang ideal, dengan tatanan rambut rapi namun terkesan chick karena dibiarkannya poninya sedikit menjuntai di wajahnya yang tampan. Meski terlihat dewasa namun tubuhnya yang ideal dan wajahnya tidak memperlihatkan hal itu. Pria itu masih terlihat sangat segar dan gagah di usianya yang sudah sangat matang, kisaran empat puluh tujuh tahun.
" Aku tidak terlambat kan, Dear?" ujarnya sambil tidak lupa merangkul pinggang Vivianne dan mengecup pipinya sekilas.
" Tidak,Kok,Mas..ini baru mau naik mobil, Pak Jaka baru masukkan ambil barang mau masukkan bagasi tadi. Mas,Kok disini?" ujar Vivianne sambil membelai ringan pipi sebelah kanan pria tersebut.
" Tadi meeting nya dipercepat, Dear" ujarnya dengan tersenyum hangat.
" Oh..Oh iya, Bunda…ini kenalkan..Ata.." ujar Vivianne terhenti.
" Assalamualaikum, Bunda. Perkenalkan, saya Damian Matthews atasannya Anne sekaligus…Tunangannya Anne!" Damian mengambil jemari bunda Fatma dan memberikan salam dengan sopan. Dan tersenyum yang membuat setiap wanita pasti meleleh.
Vivianne menggigit bibir bawahnya, " Duh, Mas Damian ini, selalu tidak sabaran. Kan aku juga belum menerimanya,loh..Bunda pasti kaget!"
" Hah? Tu-tunangan??" Bunda menatap Vivi dan Damian.
" Nak??"
" Nanti Anne jelaskan, Bun.." ujar Vivianne pasrah.
*****