
Damian menaruh piringnya menatap kearah pelayan rumahnya itu dengan raut wajah kebingungan.
" Pakai,topi? Jaket panjang? Beneran Andrew tidak menggunakan mobilnya, Bik?" Damian ikut penasaran.
" Benar, Tuan Tuan bisa cek, mobilnya masih ada di garasi,Tuan!" ujar sang Bibi meyakinkan.
Damian termenung, " Kok tumben? Apa sebenarnya yang mereka lakukan?" tapi kemudian Damian menepis pikirannya.
" Mungkin dia hanya bosan, Bik! Ya sudah, tolong bilang Pak Sopir menyiapkan mobil saya ya, Bik! Sementara saya makan dulu." ujar Damian dan mulai menyendok kan sarapannya nasi goreng itu. Yang sempat tertunda karena rasa penasarannya akan tingkah laku anaknya dan temannya itu.
" Baik,Tuan. Kalau begitu saya permisi Tuan." ujar sang pelayan ketika tidak ada hal lagi yang diperintahkan oleh Damian.
" Hmm.."
Damian pun makan dengan tenang, setelah makan dia mencoba merogoh ponselnya dan menghubungi Andrew. Dia harus bicara kepada Andrew secepatnya.
" Assalamualaikum,Drew
Kamu dimana? Kata Bibi kamu tidak pulang semalam,Son? Kenapa?" tanya Damian ketika sambungan telepon tersambung.
Terdengar suara orang seperti baru bangun tidur. Dengan suara berat.
(" Waalaikumsalam,Pah. Di apartemen. Bosen saja sih, Pah. Oh ya, mungkin Andrew masih disini untuk beberapa hari kedepan. Papah tidak perlu cari Andrew! Urus saja urusan papah sendiri,yah?")
Damian terdiam menjauhkan ponselnya dari kupingnya, kemudian menatapnya," Kenapa nada suaranya terdengar seperti kesal? Ah, apa perasaan ku saja ya?"
" Kamu tidak kenapa-kenapa, kan, Son? Are you,Ok?" tanya Damian kuatir, baru saja kemarin mereka berbicara dengan suasana yang damai sekarang kenapa dia merasa Andrew seperti kesal kepadanya?
("Pah! Aku sudah besar, I Am Ok! Kalau papah menghubungi aku cuma ingin membicarakan hal ini, maka lebih baik aku tutup teleponnya. Aku ngantuk!" )
Damian mengerutkan keningnya, nadanya semakin terdengar kasar di kupingnya.
"Eh! Bukan, kapan kira-kira kamu kembali? Ada yang mau papah mau bicarakan,Son!" ujar Damian berdehem mengatur suasana hatinya.
(" Kalau mau bicara,bicara saja,Pah! Memangnya apa sih, yang mau papah bicarakan?")
" Damian menghembuskan nafasnya mendengar tingkah anaknya itu. " Kamu pulang sajalah, dulu,Son. Kita bicara di rumah."
(" Maaf,Pah! Aku sibuk, jadi…kalau papah tidak mau bicarakan sekarang..lebih baik..")
" Ok! Papah ingin mengundangmu makan malam, mungkin di restoran biasa kita makan." ujar Damian sambil terus berjalan mengambil tasnya dan keluar pekarangan rumah. Dia melihat mobil Andrew yang terparkir di parkiran. Ternyata benar, Andrew tidak menggunakannya. " Tapi kenapa?"
(" Untuk apa?")
" Untuk memperkenalkan seseorang! Mungkin kamu sudah mendengarnya, Papah beberapa tahun terakhir ini menjalin hubungan serius dengan seseorang dan papah berencana memperistrinya. Papah sudah melamarnya di hadapan keluarganya kemarin dan dia menerimanya. Jadi papah rasa, kamu harus mengenalnya. Bagaimanapun juga kita akan jadi satu keluarga,bukan? Well, anggaplah ini sebuah perayaan atau syukuran keluarga. Memang tidak besar-besaran sih, tapi Papah ingin kamu juga ikut merayakannya, Son! Apa kamu bisa?" tanya Damian sambil masuk kedalam mobilnya.
Hening. Tidak ada jawaban. Hanya terdengar hembusan nafas seseorang. Seperti berat.
" Son? Drew? Kamu dengar,Son? Kenapa Diam?"tanya Damian kembali.
Tidak terdengar suara apapun. Damian menunggu, namun hening. Damian sampai harus menjauhkan ponselnya dan melihatnya. Masih tersambung. Artinya Andrew masih mendengar ucapannya. Tapi kenapa Diam?
Tiba tiba terdengar suara berat.
(" Sebutkan saja, dimana dan kapan? Aku akan datang!")
" Fine! Papah akan kirimkan alamatnya dan kapannya nanti setelah sampai di kantor. Thanks,Drew!"
Tut!
Damian menatap ponselnya, " Aneh, kenapa diputus? Ah, terserahlah, yang penting dia mau! Pak kita ke kantor sekarang yah?" ujar Damian kepada sopirnya.
" Siap,Tuan!" ujar sang sopir kembali.
Damian duduk kembali dengan tenang, namun dia mengirim sebuah pesan kepada Anne untuk reservasi sebuah Restaurant mewah di Jakarta dan bilang bahwa dia akan mempertemukan dirinya dengan Andrew anaknya.
Tidak berapa lama bukannya balasan yang diterima tapi sebuah telepon. Vivianne menghubunginya langsung.
(" Benarkah, Mas? Jadi aku akan bisa bertemu dengan anak,Mas? Kapan? Jangan-jangan ini yang mas mau bicarakan semalam. Makanya Mas kirim pesan. Tapi Anne sudah tidur,Mas Maaf. Oh,ya aku harus pakai apa,Mas? Kok aku jadi deg-degkan yah?")
Terdengar suara lembut di seberang yang selalu dirindukan Damian.
" Hahaha…Salam dulu kenapa sih,honey, kalau mau telepon itu! Kamu atur saja kapannya, sesuaikan dengan jadwal Mas,ya? Kalau pakaianmu, kamu pakai apapun terlihat cantik, honey!"suara Damian merayu.
(" Assalamualaikum,Mas. Maaf, Anne saking senangnya. Ih, apa sih! Nggak gitu juga kali! Nanti Anne pesankan yah mas? Kalau besok sepertinya jadwal mas kosong deh, setelah jam 3 sore. Bagaimana? Kita bisa pergi langsung dari kantor,Mas!")
Damian terdiam, " Secepat itukah?" dalam hatinya berbisik.
(" Mas…? Kenapa Diam?")
" Ah, tidak! Ya sudah kamu atur saja yah? Mas masih dijalan nih, Mas tutup dulu yah? Bye honey! Assalamualaikum"
(" Waalaikumsalam, hati-hati dijalan,Mas!")
Dan pembicaraan pun terputus.
Damian kembali termenung. " Apakah kamu tetap akan terlihat senang, ketika tahu yang sebenarnya,Vi? Ah, kenapa waktunya harus besok,sih?! Kenapa harus secepat ini"
Damian. Kembali menghembuskan nafas beratnya berkali-kali.
" Kita lihat, apakah yang dibilang Jhon benar? Bahwa aku akan mengetahui kebenarannya? Apakah apa masih ada api asmara diantara keduanya?"
" Semoga saja, tidak! Ya Semoga saja, dugaan Jhon salah kali ini!"
Damian menggenggam ponselnya sangat erat. Dia hampir saja merusaknya.Jika kalau bukan sopirnya berkata sesuatu.
" Kita hampir sampai, Tuan!"
****