
Vivi akhirnya kembali dengan menggunakan bus menuju Sleman ke tempat rumah ternyaman nya ke 'Panti Asuhan Cahaya Bunda'. Untuk menemui sang Bunda yang telah merawatnya selama ini. Bunda Fatma.
Meski dia tahu, bahwa Bundanya pasti akan sangat kecewa kepadanya, tapi buatnya ini lebih baik dari pada harus tetap tinggal di kota yang membuatnya sesak.
Dia tidak sanggup lebih lama lagi berada dikota yang hanya meninggalkan kenangan buruk itu. Dia meninggalkan semuanya, kuliahnya, sahabatnya Tania, bahkan mungkin cita-citanya. Karena dia merasa tidak mungkin lagi menyapanya.
" Meski kamu hadirmu tidak pernah kuduga ataupun aku inginkan. Bahkan kamu hadir disaat aku terpuruk oleh papa mu yang kejam itu tapi aku tidak sanggup untuk melenyapkan mu. Aku sudah berbuat dosa, jadi biarlah dosa ini aku tanggung sendiri. Yang sabar yah, Nak. Kita akan segera bertemu bunda." ujar Vivianne mengusap perutnya yang masih rata itu.
" Vi, kamu yakin hanya membawa ini saja? Pakaianmu yang tak seberapa itu? Bagaimana dengan pakaianmu yang ada di kosan, buku-buku mu?" tanya Tania setelah membawakan sebuah tas jinjing yang tidak terlalu besar itu.
" Iya, sisanya biarlah dikirim oleh Ibu Cindy. Aku sudah juga menghubungi dirinya. Agar dia tidak memberitahukan keberadaan ku kepada siapapun." ujar Vivianne kembali meneteskan air matanya.
" Vi! Sudah dong, jangan menangis lagi,yah? Kamu harus kuat! Ingat ada bayi didalam perut kamu sekarang. Hanya kamu yang dua punya,Vi! Aku akan selalu mendoakan yang terbaik buatmu! Dan jangan sekali-kali berpikiran pendek untuk mencelakakannya,Vi! Aku tahu ini tidak mudah buat kamu, tapi percayalah Allah pasti punya rencana dibalik ini semua." Tania mengelus punggung tangan Vivianne menguatkannya.
" Makasih,ya Tan. Kamu baik sekali padaku. Cuma kamu sahabatku satu-satunya disini. Aku merasa seperti memiliki saudara disini,yaitu kamu. Maafkan kalau selama ini aku merepotkan kamu." ujar Vivi kembali sambil menahan haru dan tangis.
" Iya, kamu sudah ku anggap sebagai saudara aku juga,kok,Vi! Jadi jangan sungkan yah? Hubungi aku jika sudah sampai,yah?" ujar Tania sambil memeluknya.
Mereka pun berpelukan Tania tidak kuasa menahan air matanya, dia kembali terisak.
" Tan…" ujar Vivianne.
" Iya, aku tahu. Aku yang bilang jangan menangis tapi aku malah menangis. Aku menangis karena aku akan kehilangan sahabat terbaik aku,Vi! Kamu jaga diri kamu yah? Dan calon keponakan aku ini,salam juga buat bunda." Tania mengelus perut Vivianne.
" Iya, insyaallah,Tan. Nanti ku sampaikan salam mu, yah? Itu pak keneknya sudah bilang mau berangkat busnya. Aku pergi ya Tan? Assalamualaikum" ujar Vivi.
" Waalaikumsalam." jawab Tania.
Dia melepaskan kepergian sahabatnya yang mulai menaiki bus tersebut dengan rasa campur aduk, sedih,iba, dan kehilangan tentunya.
Bus mulai bergerak meninggalkan Terminal dan Tania berlari sambil berujar.
" Vi! Jangan lupakan aku,ya,Vi!
Vivianne hanya mengangguk dari dalam kaca tempat duduknya sambil melambaikan tangannya seakan memahami dan mendengar apa yang Tania ucapkan. " Pasti,Tan! Pasti!"
Itulah terakhir kali Vivianne bertemu dengan sahabatnya tersebut.
Karena perjalanan cukup jauh, Vivianne memilih tidur agar bisa lebih segar nantinya terlebih kehamilannya yang baru berusia 6 Minggu itu membuatnya kepayahan. Dia mulai merasakan mual dan yang pasti dia jadi mudah lelah dan mengantuk seperti saat ini.
Tidak berapa lama Vivianne pun masuk kedalam mimpi.
*****
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam karena macet, Vivi tiba di kampung halamannya. Di Rumah Pantinya.
Vivianne menatap berkeliling, masih sama. Semua masih sama. Tidak ada yang berubah sejak enam bulan yang lalu dia meninggalkan rumah ini.
Vivianne tersenyum dengan getir, " Apakah aku sanggup melangkahkan kaki di rumah ini kembali? Apakah bunda akan marah nantinya? Ya,Tuhan. Kuatkanlah aku! Aku benar-benar tidak sanggup melihat kekecewaan Dimata tuanya." lirih batin Vivianne.
Dia berbalik hendak melangkah pergi, tapi sebuah suara memanggilnya.
" Mbak? Mbak Vivi? Benarkah ini mbak Vivi?" ujar seorang anak berseragam SMA.
Vivianne tercekat, di kembali membalikan badannya ke arah rumah putih tempatnya dia diasuh selama ini.
Dengan tersenyum kecut dia menatap gadis berseragam SMP itu, Maya. Adiknya yang sebentar lagi akan SMA.
" Maya? Apa kabar,Dek?" tanyanya sedikit Kelu.
" Wah, mbak pulang! Benar ini mbak yu ku, toh? Mbak Vivi! Oalah…pangling aku mbak! Mbak makin cantik dan sedikit gemuk,yah?" ujarnya, tapi kemudian dia tersadar di sedang menenteng plastik besar, sepertinya sampah yang hendak dia buang.
" Sek,Yo mbak! Aku tak buang Iki sampah!" dengan berlari riang dia menghampiri tempat sampah yang tak jauh dari depan rumah membuka tong besar tersebut dan membuangnya ke dalam.
" Bun! Bun! Ada mbak Vivi,Bun!" sambil menarik tangan sang kakak.
Vivi hendak menolaknya karena dia merasa ketakutan sekarang, " May,May! Nggak usah May! May…"
" Mbak ngomong opo toh? Ndak usah piye? Mbak Ndak mau masuk ketemu bunda?" Maya kebingungan menatap sang kakak.
Vivianne menelan salivanya, " Ndak ngono maksudne, Maya…Mbak hanya ndak mau bunda keganggu istirahatnya, kalau kamu teriak-teriak seperti itu."
Vivi berusaha untuk sedikit berbohong, Padahal hatinya saat ini sangat ketakutan, di wajahnya mulai terbayang kekecewaan dan amarah sang bunda.
Vivianne hanya mengangguk padahal dia belum makan sejak tadi pagi.
Dari dalam rumah tampaklah tergopoh-gopoh seorang wanita paruh baya karena mendengar teriakan dari luar rumah. Anak asuhnya Maya yang tadi disuruhnya untuk membuang sampah. Berteriak-teriak dari luar rumah.
" Maya, apa yang kamu lakukan berteriak-teriak…seperti… ViVi?" sang bunda yang sore itu memegang sapu terlepas dari genggamannya.
Vivi menatap sendu air matanya mulai turun dengan berlari tanpa peduli bahwa dia saat ini sedang hamil muda, menghampiri Bundanya dan memeluknya.
Bunda memeluknya dengan hangat, " Kamu pulang,Nak? Apa kabarmu? Apakah kamu sedang libur,Nak?" ujar sang bunda sambil mengelus punggungnya.
Tiba-tiba Vivianne luruh ke Lantai. Terduduk bersujud di kaki sang bunda. " Bunda…Ma-maafkan aku,Bunda. A-aku salah! Aku sudah mengecewakan Bunda! A-aku…Hik Hik…" Vivianne memeluk dan mencium kaki sang Bunda dengan bahu naik turun dan deraian air mata.
Sang Bunda menatap keatas, dia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi pasti telah terjadi sesuatu terhadap anak asuhnya itu.
" Berdiri,Vi! Berdiri! Jangan seperti ini. Kita bicara di dalam!" ujarnya tegas.
" Tidak,Bun! Berjanjilah,Bunda akan memaafkan aku! Berjanjilah,Bun!" Vivi menggelengkan kepalanya sambil terus menangis.
" Tegak, dan berdirilah! Bunda tidak pernah mengajarkan kamu untuk selemah ini! Berdiri kataku!" ujar Bunda dengan amarah.
Dengan sisa-sisa air mata, Vivi kembali tegak dan melepaskan rangkulan tangannya di kaki sang Bunda.
" Bunda tunggu kamu di kamar,Bunda! Maya, kamu bawa tas mbakmu ke kamar kamu. Dan jangan biarkan adik-adikmu atau bahkan kamu sendiri yang berani-berani menguping atau masuk ke kamar bunda saat bunda bicara dengan mbakmu! Mengerti?" ujar Bunda tegas.
Maya hanya mengangguk ketakutan, dia baru melihat kemarahan sang bunda seperti ini.
Bunda Fatma berjalan dengan tegas lebih dulu menuju kamarnya. Vivianne yang berdiri termenung berjalan mengikuti langkah kaki sang bunda.
Dibukanya perlahan pintu kamar sang bunda tampaklah bunda sedang berdiri di tepi ranjangnya itu.
Bunda menatapnya mencoba sedikit tersenyum meski sedikit kaku. " Kemari, kita bicara. Ceritakan kenapa kamu kembali? Bunda tadi dapat pesan dari Ibu Cindy kamu memintanya mengirimkan semua baju dan bukumu ke rumah ini, kenapa?"
Vivi tertunduk dan kemudian duduk disebelah sang bunda. Vivianne menarik nafas panjang sebelum berbicara.
" A-aku hamil, Bun! A-aku hamil enam minggu! A-aku tidak akan mungkin melanjutkan kuliah di UGM lagi,Bun. Dengan kehamilan ini!" dengan terbata dan bergetar Vivianne mulai berbicara dan menceritakan semuanya.
Duarr…
Bagaikan petir menyala-nyala di langit cerah. Bunda Fatma terdiam.
Vivi makin ketakutan. Dia lebih takut dengan Bunda yang hanya berdiam diri dibandingkan Bundanya yang berteriak-teriak.
" Bun…" lirihnya suaranya hampir tidak terdengar.
" Tinggalkan Bunda sendirian,Vi! Tinggalkan Bunda!" ujar sang bunda masih dengan posisi dan sorot mata yang sama. Lurus kedepan. Tatapannya kosong.
" Tapi, Bun…Vivi…" ujar Vivi kembali, dia belum sempat mengungkapkan apapun itu.
" Keluar,Vi! Keluar!" Bunda mulai berteriak.
Vivi ketakutan dia bergetar.
" Apa kamu tetap tidak mendengar apa yang kubilang baru saja,Vi? KELUAR!!" sang bunda berteriak dengan hebat.
Vivi mulai menangis kembali, dia mulai berjalan perlahan ke depan pintu.
Tak berapa lama pintu terkunci dari dalam.
Cekrek!
Vivi berteriak di luar pintu, " Bun..Maafkan Vivi,Bun..Maafkan Vivi!! Jangan seperti ini Bun! Bunda boleh marah,maki,bahkan memukul Vivi, tapi jangan diamkan Vivi,Bun!"
Duk!
Duk!
" Bun…BUNDA!!" teriak Vivianne.
***