Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 7 Vivianne Cemburu



Berbekal saran dari Tania sahabatnya ketika dia curhat tempo hari Vivianne mencoba sekali lagi untuk menemui Andrew dikampus mereka. Bahkan kadang Vivianne sengaja menemui setiap kakak kelas yang ditemuinya untuk menanyakan keberadaan Andrew karena Andrew termasuk pria yang sangat terkenal di kampusnya hingga setiap orang pasti mengenalnya.


Vivianne tak peduli setiap tatapan sinis yang didapatnya dari para penggemar Andrew ketika tahu dia menanyakannya. Seperti saat ini.


" Kamu ngapain cari Andrew? Hah? Bukankah kamu anak baru kampus ini, bukan? Anak kampung yang dapat beasiswa itu? Ada hubungan apa, kamu nanyain Andrew?" ujar Martha salah satu penggemar fanatic dari Andrew. Martha menatapnya dari atas hingga bawah menelisik penampilan Vivianne.


" Maaf,Kak. Cuma ada perlu sedikit. Mau mengembalikan barangnya Kak Andrew yang tertinggal!" terpaksa Vivianne harus berkata seperti itu.


"Barang apa?Kok bisa ada di kamu sih?Coba aku lihat barangnya apa?" ujar Martha menengadahkan tangannya kearah Vivianne.


Vivianne dengan enggan menjawabnya, " Maaf Kak, ini punyanya Kak Andrew, jadi aku harus mengembalikannya sendiri kepadanya! Kakak cukup kasih tahu saja Kak Andrew ada dimana saat ini."ujar Vivianne kemudian menahan kekesalannya.


" Hay! Jangan belagu yah! Aku ini pacarnya, Andrew, tahu! Jadi, kalau mau berurusan dengan Andrew harus melalui aku dulu! Gadis kampung! Sudah cepat! Mana barangnya?" ujar Martha yang disahuti riuh teman-temannya yang kebetulan bersamanya.


" Tapi, kata kak Andrew kemarin, dia tidak punya pacar, Kak! Lantas, kakak ini siapanya yah?" ujar Vivianne kebinggungan. Yah semenjak tinggal di apartemennya Vivianne jadi tahu bahwa Andrew pernah bercerita bahwa dia tidak memiliki pacar, ketika Vivianne iseng bertanya mengapa apartemennya tidak ada foto seorang wanita pun! Padahal maksudnya adalah foto sang ibu, atau mamanya. Eh, Andrew malah bilang dia tidak memiliki pacar! Sehingga tak ada foto seorang wanita pun di apartemennya. Dari sanalah Vivianne tahu bahwa Andrew tak memiliki pacar dan sepertinya enggan membahas mengenai sang mama. Entah kenapa, tapi pria itu memang penuh misteri.


" Maaf, Kak,ya sudah jika kakak tidak tahu dimana kak Andrew biar saya tanya ke yang lain. Makasih, Kak. Permisi."ujar Vivianne sopan sambil menunduk dan membuka jalan dengan sebelah tangan kanannya itu.


" Hey! Tunggu dulu, perempuan aneh! Tidak semudah itu kamu asal pergi,yah! Dasar kurang ajar!" Martha mencoba menjambak rambut Vivianne namun naas Vivianne menghindarinya dan malah menangkap lengannya. Kemudian teman-temannya mencoba mendekat menolongnya tapi kemudian Vivianne malah memberi peringatan dengan memelintirnya dan kemudian menyilangkan salah satu lengannya yang lain dileher Martha.


" Jangan mendekat! Aku sedang terburu-buru ini. Jadi aku tidak punya banyak waktu bermain-main dengan kalian!" dan didorongnya punggung Martha dan ditangkap oleh teman temannya. Kemudian dia berlalu pergi dari sana meninggalkan mereka.


" Auww!!! Sakit! Kok, kalian diam saja,sih? Kejar itu cewek dan kasih pelajaran!" ujar Martha menahan lengan kanannya yang kesakitan.


" Ih, serem ih, Ta! Sorry deh, kamu memang ga tahu apa? denger-denger itu cewek jago taekwondo tahu! Bukan hanya jago tapi sering ikut turnamen! Bisa habis kita sama dia!" ujar salah seorang sahabatnya yang mengetahui mengenai Vivianne karena Vivianne bergabung juga dengan taekwondo di kampusnya. Dari temannya pulalah dia tahu kehebatan Vivianne.


" Hah? Yang benar, kamu? Sial!" ujar Martha dengan kesal.


" Tapi aku penasaran, dia kan biasanya anti cowok, kok tumben sih mencari Andrew?" ujar Martha kebinggungan.


" Mungkin salah satu gebetan Andrew yang diputusin kali, makanya dia ngejar-ngejar Andrew!"ujar sang teman memanasi nya itu.


" Mana mau Andrew dengan tongkrongan kayak gadis kampung gitu?" ujar Martha sewot.


" Eh, tapi dia cantik loh! lihat kulitnya tanpa make up tetap kelihatan sehat dan segar, kan?" ujar temannya satunya lagi.


" Maksud kamu, apa? dengan bilang begitu?"ujar Martha makin menjadi-jadi.


" Eh, nggak sih, maksud aku walaupun dia kelihatan cantik, tetep cantikan kamu,kok!" ujarnya mengkoreksi ucapannya karena ketakutan.


" Udahan,yuk? Kita kembali ke kelas, Hari ini aku statistik,kan? si dosen killer itu bisa nggak mengampuni kita kalau telat! Yuk, kita masuk kelas!"ujar salah seorang temannya yang pertama bernama Lisa itu.


Akhirnya mereka pun ke kelas masing masing.


****


Sementara itu Vivianne yang kebingungan terus mencari keberadaan Andrew, dia bertanya dengan sudah banyak orang tadi. Tapi tak ada satupun yang melihatnya.


Akhirnya dengan langkah gontai, dia menuju kelasnya karena pelajaran akan segera dimulai dan dia tak boleh ketinggalan.


Namun ketika hendak sampai ke kelasnya dia melihat sosok yang dicarinya selama ini.


" Andrew?" dengan hati sedikit riang dia berjalan menghampirinya. Namun ketika semakin dekat dia melihat Andrew yang berdiri sambil bersandar di pintu kelas tiba-tiba didatangi oleh salah seorang temannya Lusi, dan dengan manja bergelayutan di lengan Andrew, dan Andrew sepertinya tak keberatan karenanya.


Vivianne mencoba mengejarnya tapi sayang, sang dosen keburu datang dan dari arah sebrang menatap Vivianne seketika Vivianne terdiam. Dan mau tak mau masuk ke kelasnya mengurungkan niatnya menghampiri Andrew.


Satu hal yang Vivianne binggung, "Apakah Andrew tak melihatnya karena jarak mereka tak jauh sebenarnya masih dalam jangkauan arah pandangannya. Dan tadi mata mereka sempat sekilas bertemu tapi kemudian Andrew seakan cuek terhadapnya? Kenapa? Apa dia masih marah?" dengan tekad bulat dia berpikir akan menemui Andrew diparkiran setelah kelas selesai.


Hal kejadian seperti itu bukan hanya sekali dilihatnya dua hari kemudian dia melihat Andrew didepan pintu gerbang seperti menunggu seseorang bersandar pada pintu mobilnya.


Vivianne yang kesenangan berlari mengejarnya. Namun lagi-lagi seorang gadis menghampiri Andrew dari pintu gerbang dan langsung mencium pipi Andrew. Vivianne terbelalak tak percaya, apakah benar Andrew semurah-an, itu? Dia membalas dengan memeluknya dan mencium pipinya disebelah kanan yang tak terlihat oleh pandangan Vivianne.


Vivianne menelan air liur nya kali ini, bibirnya Kelu dan hanya bisa melonggo melihat pemandangan tadi dan gadis itu berbeda dengan teman sekelasnya dua hari yang lalu.


Hati Vivianne sangat panas, melihat kejadian tadi akhirnya dengan langkah tergesa-gesa dia memasuki kampusnya dan mencari seseorang setelah ditinggalkan oleh mobil Andrew yang pergi bersama wanita kekurangan bahan itu.


Yah, roknya sangat pendek, bagaimana dia bisa belajar atau sekedar menyilangkan kakinya coba? pastilah akan terlihat pahanya! Vivi tak habis pikir dengan Andrew dia pikir setelah mengenalnya, "Andrew sosok yang baik! Tapi ternyata benar kata rumor yang beredar dia tak lebih seorang playboy!"


Dengan hati panas yang Vivianne sendiri tak tahu mengapa, dia mencari Briyan. Dia tahu Briyan adalah sahabat dari Andrew! Seisi kampus juga tahu bahkan tahu kekompakan mereka bertiga yang dikenal dengan A2B (Andrew, Alex,Briyan) itu.


Vivi mendatangi ruangan senat dan benar saja ada Briyan disana sedang berdiskusi dengan seseorang kakak senat.


" Kak Briyan!" Vivianne memanggilnya dengan kencang sambil berlarian masuk keruangan senat.


Briyan menengok dan tersenyum kearah Vivianne.


" Hi, Vi!" ujarnya sangat ramah dan dengan senyuman hangat. Yang jika dilihat sama seorang gadis pasti akan meleleh, sayangnya tidak dengan Vivianne.


" Kak Leo, maaf, aku pinjam Kak Briyan-nya dulu , sebentar aja kak. Boleh yah?" ujarnya memelas.


" Iya boleh, lagian kita sudah kelar kok! Ok Bry, aku tunggu laporannya yah? Bye Bry,Vi!" kakak senat yang dikenal dengan sebutan Leo itu pun keluar ruangan.


" Kamu ada, apa Vi? Tumben cari aku? Yuk, kita duduk dipojokan sana." Briyan akhirnya melangkah menuju arah kanan tempat duduk yang dia maksud.


Setelah mereka duduk bersebelahan, Vivianne menoleh kearah kanannya menghadap Briyan. "Kak, maaf, boleh saya minta tolong?" ujar Vivianne akhirnya.


" Minta tolong? Tumben, anak sepintar kamu minta tolong aku?" ujar Briyan dengan sedikit guyonan.


" Kakak jangan bercanda deh, aku serius ini kak. Cuma kakak yang kutahu bisa bantuin aku! Please?" ujar Vivianne memohon.


" Ok, fine. Kalau aku bisa pasti aku bantuin. Memangnya mau minta tolong apa, sih?" Briyan yang penasaran mulai menengok ke sebelah kiri Vivianne dan kini tatapan mereka bertemu. Dada Briyan deg degkan kembali kali ini. "Sial! Kenapa aku deg-degkan yah, setiap didekat Vivi?"


" Boleh minta tolong pertemukan aku dengan Kak Andrew, Jak? Ada yang ingin aku bicarakan sama dia! Tolong sampaikan ke dia! Tolong yah, kak? Tolong banget! Ini penting!" akhirnya dengan reflek Vivianne mengambil jemari Briyan dan menggenggamnya dan tanpa sadar membawanya ke dadanya dengan penuh harap.


Seketika dada Briyan semakin tak karuan, "Apa iya dia harus menolong Vivi? Melihatnya seperti ini dia tak tega, tapi jika dia menolongnya, sama saja dia memberi jalan Andrew untuk menyakitinya. Dan dia tak siap menerimanya itu. Dia tak ingin melihat Vivi sakit hati nantinya. Bagaimana ini?"


" Kak? Mau yah?" ujar Viviane mengejutkannya.


Dengan lemah akhirnya dia hanya mengangguk saja. Dan wajah Vivianne sumringah setelah mendapatkan persetujuannya itu.


"Ah, Andai kamu tahu Vi..."


Briyan menatapnya dengan sorot mata sedih.


******