Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 89 Bertemu Sahabat Lama



Alex membelokkan mobilnya keluar dari jalan toll menuju ke area yang berbeda dari yang ingin ditujunya. Untunglah dia belum sampai ke Villa keluarganya dan benar saja mobil di belakang Alex masih dengan setia mengikutinya.


Kemudian meski ragu, Alex mencari salah satu rumah makan yang berada disana meski dengan susah payah karena memang malam telah sangat larut. Dia memarkirkan mobilnya di kawasan tersebut tepatnya di depan restoran itu.


Alex memasuki restoran tersebut dengan tenang, mencoba tenang tepatnya. Alex memilih tempat yang sedikit menjorok kedalam di paling pojok dekat jendela. Alex mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang. Ketika datang seorang pelayan menghampiri. Alex sedikit lapar sebenarnya tapi dia tidak berminat untuk makan kali ini dia hanya memesan kopi hangat untuk dirinya dan cemilan.


Dan benar saja, tidak beberapa lama dua orang masuk melalui pintu depan, dan mengedarkan pandangannya. Alex curiga orang tersebut adalah orang yang mengikutinya sejak tadi. Alex sedikit kuatir karena suasana restaurant yang tidak terlalu ramai, membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. 'Bagaimana kalau mereka mendatangiku dan menyeret ku ke mobil mereka? Atau membuatku dan kemudian menyekap aku,mungkin?'


Pikiran-pikiran buruk terus menghampiri Alex. Sesekali dia mengumpat dan mengecek ponselnya. ' Kemana itu anak? Awas saja kalau tidak datang!'


Alex cukup lama menanti hingga seseorang datang menghampiri dengan terengah-engah.


" Lex! Lo gila yah, ngajakin gue keluar malam-malam begini! Kalau bukan karena…" seorang pria tampan menghampiri Alex dengan masih terengah-engah.


Alex yang melihat kehadirannya, bukan main senangnya. Tanpa dia sadari dia langsung berdiri dan menghampirinya. Memeluknya dengan erat.


" Syukurlah Lo dateng! Thanks! Lo memang sahabat sejati gue!" sambil terus memeluk seorang pria tersebut dengan haru.


" Hah? Apaan sih, Lo! Jangan peluk peluk kayak gini, Lex! Jijik tau gue! Lepasin nggak! Asal Lo tau yah, gue kesini tuh karena…" ujar pria tersebut mendorongnya. Tapi Alex malah kembali memeluknya tanpa peduli.


Alex mendekatkan bibirnya berbisik di kuping pria tersebut malah terkesan seakan sedang menciumnya, " Gue tau! Tapi gue butuh bantuan Lo kali ini. Orang suruhan Om Damian sedang mengintai gue! Karena Andrew  saat ini sedang bersembunyi. Intinya lo harus bantuin gue,Bry! Gue takut!" 


Pria yang semula hendak kembali mendorong Alex jadi terdiam membeku. Alex kembali berujar pelan sambil memeluknya.


" Lo lihat dua pria disamping Lo, arah jam tiga…" pria yang ternyata Bryan yang masih dipeluk Alex hendak menoleh kearah yang dimaksud tapi kemudian ditahan oleh Alex, " Jangan boleh, Bry! Nanti mereka curiga, sekarang Lo seakan -akan tertawa karena melihat gue, kita seakan-akan batu ketemu setelah sekian lama tapi jangan berlebihan..gue takut mereka curiga!"


Bryan yang dipeluk Alex menghembuskan nafas kasar, " Dengan Lo berbuat seperti ini memeluk gue erat, buat mereka curiga dodol! Lepasin dulu nggak! Yang ada mereka mengira kita sepasang kekasih lagi! Jijik tau gue!"


Alex yang tersadar buru-buru melepaskan pelukannya dan tertawa, membuat pria yang mengikutinya menoleh dengan curiga, " Hahahah…Ah, Lo bisa saja! Bagaimana kabarnya Lo,bro?" dengan cukup keras yang membuat kedua pria berbadan kekar itu terus mengikuti pandangannya ke arah Alex.


Bryan mengerutkan keningnya bingung, namun sorot mata Alex memberinya kode agar mengikuti permainannya.


Sambil mengetatkan rahangnya Alex berkata, " Please Bry! Kali ini aja berpura-pura Lo baru ketemu gue setelah sekian lama!"


Bryan kembali menarik nafasnya, " Bukannya kita memang baru ketemu setelah sekian lama yah? Jadi ngapain juga kita harus pura-pura sih, Lex?" 


Alex menggaruk kepalanya, " Iya juga yah? Kenapa gue jadi oon begini,yah?" 


Bryan justru malah tersenyum tipis melihat sahabatnya yang tampak lucu, " Kalau itu sih gue nggak heran, bukannya dari dulu yah? Hahaha…" 


Bryan yang semula enggan tertawa malah tertawa karena melihat kebodohan sahabatnya, sambil menepuk bahunya. Alex menghembuskan nafas perlahan lega, paling tidak Bryan tertawa yang seakan menyempurnakan sandiwaranya. Meskipun untuk alasan lain,sih.


Bryan menarik kursi di hadapan Alex, dan menoleh kearah yang dibilang oleh Alex. Dan benar saja dua orang tersebut masih memantau mereka, ketika Bryan menoleh mereka seolah membuang wajahnya. Bryan menipunya seakan sedang memanggil pelayan untuk memesan makanan, padahal yang sebenarnya adalah dia penasaran akan kebenaran yang dibilang Alex.


" Mas! " panggil Bryan kepada salah seorang pelayan yang melintasinya.


" Ada yang bisa saya bantu, Mas? Mau pesan apa?" tanya sang pelayan ramah.


" Hmm…Americano satu dan cemilannya samakan saja dengan yang teman saya pesan yah?" seru Bryan.


" Baik. Apa ada yang lainnya?" tawarnya kembali.


" Baik, mohon ditunggu." balas sang pelayan sambil mencatat kemudian menunduk memberi hormat dan berlalu.


Setelah sang pelayan benar-benar pergi, Bryan mengarahkan pandangannya ke sahabatnya itu.


" Relax, Lex! Kalau Lo gugup kayak begini, mereka akan curiga. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Lo diikuti oleh orang suruhannya Om Damian? Lo buat apa kali ini? Atau tepatnya gue harus bilang, apa yang diperbuat Andrew kali ini? Gue tahu Lo pasti disuruh dia,kan? Melakukan sesuatu?" ujar Bryan santai, sambil mengambil sebatang rokok dan mulai menghidupkannya.


Sekian lama tidak bertemu, Alex cukup terkejut dengan kebiasaan Bryan dihadapannya kali ini. 


" Lo sejak kapan, mulai merokok,Bry? Dulu, seingat gue, Lo nggak pernah merokok, bukan? Bahkan Lo anti! Ada apa dengan Lo? Kenapa Lo berubah?" tanya Alex bingung.


Bryan menarik ujung bibirnya ke atas meski hanya sedikit. " People change,Lex! Tapi, kayaknya cuma Lo yang ga berubah banyak,yah? Buktinya Lo masih bersama Andrew kemanapun dia pergi!" 


Bryan masih tidak suka atas kejadian dimasa lalu terkait Andrew, meski dia sudah memaafkannya. Tapi tidak mudah membuatnya lupa akan kejadian itu.


Alex menatap Bryan dengan sedih, dia tidak menyangka Bryan yang dulu pendiam, lebih banyak mengalah kini berubah. Berubah menjadi, ' Dingin?' apakah luka itu belum pulih sampai detik ini?


" Gue sedih melihat kalian seperti ini,Bry! Jujur, gue kangen kebersamaan kita. Apakah Lo masih nggak bisa memaafkan Andrew,Bry? Andrew yang sekarang sudah lebih banyak jauh berubah! Dia sudah menyadari kesalahannya, dia nggak pernah ugal-ugalan dan manja kayak dulu lagi. Bahkan dia mulai sukses merintis usahanya sendiri di bidang IT sejak kita di Melbourne! Apa Lo nggak mau beri dia kesempatan,Bry?" Alex menatapnya penuh harap.


" Bukan gue yang memulainya,Lex! Dia yang meminta gue menjauh! Lo tau itu! Buktinya dia tidak pernah menyesali perbuatannya,bukan? Terhadap Vivi, gue, bahkan kata maaf pun tidak pernah keluar dari mulutnya! So, apa yang gue harapan dari dia? Sudahlah! Biarkan seperti ini saja! Males gue bahas masa lalu! Kalau Lo menghubungi gue kesini hanya untuk membahas ini…lebih baik gue…" Bryan menarik kursinya ke belakang dan mulai berdiri.


" Lo salah! Andrew saat ini sedang bersama Vivianne karena dia menyesali semuanya,Bry! Dia ingin Vivianne memaafkannya dan bahkan ingin Vivianne kembali kepadanya…tapi..keadaan semakin rumit, karena Vivianne saat ini adalah tunangan Om Damian." Seru Alex perlahan.


" What?! What are you talking about? Vivianne tunangan Om Damian?" Bryan berdiri sambil berteriak, rokok yang dipegangnya kini malah terpelanting tanpa sadar.


Alex hanya bisa meringis pelan melihat reaksi Bryan.


" Kecilkan suara lo, Bry! Lihat mereka menatap ke arah kita dengan curiga! Lo mau, kita ditangkap mereka,Hah?" Alex berbicara tertahan sambil menoleh ke arah orang suruhan Om Damian yang masih mengintai mereka bahkan sempat menoleh dengan curiga.


" Kalau ini cuma akal-akalan Lo,Lex buat gue penasaran, maka Lo berhasil! Tapi ingat! Gue ga akan memaafkan kesalahan Lo ini kalau ternyata Lo cuma mempermainkan gue!" Bryan kembali duduk dengan gelisah.


" Sekarang cerita yang sebenar-benarnya! Apa benar yang Lo bilang,tadi?" ucap Bryan kembali.


Alex hendak berbicara ketika pelayan membawakan pesanan Bryan.


 " Lebih baik Lo minum dulu, dan habiskan cemilan Lo, dan kita pergi dari sini! Tapi, kalau bisa…bagaimana caranya agar mereka kehilangan jejak kita! Karena cerita ini tidak singkat,Bry! Dan gue mulai ga nyaman disini!" ujar Alex melihat sekitarnya dengan takut-takut karena beberapa orang telah meninggalkan restaurant ini dan suasana semakin terasa mencekam.


Bryan yang paham menyeruput minumannya perlahan untunglah dan memanggil pelayan untuk melakukan pembayaran.


" Ya sudah, kita pergi dari sini! Lo tinggalkan mobil Lo! Lo ikut gue! Nanti biar gue suruh orang suruhan gue ambil mobil Lo!" Bryan bergegas pergi keluar diikuti oleh Alex di belakangnya menuju ke pintu depan dan mengarah ke parkiran di depan restaurant.


Di depan parkiran, Alex ternganga melihat pemandangan di depannya.


" Kita naik ini Bry?" 


Bryan hanya tersenyum kecil, " Kenapa, jangan bilang lo takut?" 


" Hah?"


******