
Andrew membopong Vivianne sambil berteriak di depan rumah sakit itu. Dia bagaikan kesetanan saat ini.
" Suster! Dokter! Tolong…tolong! Dia pingsan!" teriaknya membuat sesuai lobby rumah sakit menoleh.
Ketika beberapa orang suster dan Dokter berlari membawa brankar dorong ke arah Andrew yang baik wajah serta penampilannya berantakan bahkan dia sudah tidak mengenakan jasnya, kaosnya terlihat kotor dan bernoda darah.
Andrew menaruh Vivianne sambil terus berlari mengiringi brankar dengan tidak melepaskan genggaman tangannya di jemari Vivianne. Wajahnya pucat pasi dan menatap wajah Vivianne yang terdapat beberapa luka di bagian kening yang juga mengeluarkan darah. Serta di bagian pipinya yang juga terluka. Belum lagi beberapa luka memar di tangan serta kakinya dan lututnya yang baru ketahui Andrew yang robek.
Namun semua tidak mengubah kecantikan alami yang Vivianne miliki.
" Masnya, maaf silahkan menunggu di depan. Biarkan kami menangani pasien!" ujar salah seorang suster kepada Andrew.
Andrew mengangguk dengan diam. Dia terduduk. Disalah satu kursi tunggu yang berada di depan ruangan IGD yang membawa Vivianne untuk ditangani.
Andrew menutup wajahnya dengan gusar. ' Kenapa semua ini harus terjadi, Tuhan? Please jangan biarkan hal buruk menimpanya! Aku lebih baik melihatnya bersama orang lain daripada tidak pernah bisa melihatnya sama sekali! Tolong dia Ya Allah!' doanya dalam hatinya.
Andrew kemudian berdiri, dan dia mulai mondar-mandir di depan ruangan itu. Tanpa menghiraukan penampilannya yang mulai berantakan, bajunya,wajahnya bahkan rambutnya juga berantakan.
Beberapa orang yang melaluinya melihatnya dengan raut wajah kesedihan. Dan berbisik dengan rasa iri. "Lihatlah, pria tampan itu sangat sayang sekali kepada istrinya, dia bahkan membopong istrinya sendiri loh…Mau ih, punya suami yang sayang seperti itu!" seru beberapa suster yang melintasinya. Meski mendengarnya Andrew tidak memperdulikan ucapan mereka. Fokusnya tertuju kepada ruangan yang membawa Vivianne kedalam.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya keluarlah seorang pria berpakaian dokter.
Andrew buru-buru menghampirinya, " Bagaimana keadaannya, Dok? Apakah dia baik-baik saja?"
" Ah, ya! Apakah anda suami pasien?" tanya sang dokter menatapnya.
Andrew tanpa sadar mengangguk meski awalnya ragu, " Saya keluarganya,Dok!"
" Istri anda telah melalui masa kritisnya, tapi kita tetap harus menunggunya siuman. Untuk melakukan pemeriksaan keseluruhannya lebih lanjut, untunglah lukanya tidak terlalu serius. Hanya saja di bagian kaki terutama di tempurungnya terluka yang sepertinya membuat pasien akan kesulitan untuk berjalan secara normal dan ada bagian kakinya terpaksa harus kami gips karena ada yang bergeser! Kemungkinan beberapa waktu kedepan pasien harus berjalan menggunakan tongkat. Selebihnya pasien sehat. Anda tidak perlu kuatir." ujar sang dokter ramah.
Andrew menarik nafasnya lega kemudian dia teringat sesuatu, " Maaf,Dok! Apakah kaki pasien bisa pulih kembali?"
" Tentu bisa, Pak! Tapi tetap harus menunggu beberapa lama dan tetap harus berhati-hati, kedepannya sampai benar-benar pulih seperti sedia kala!" seru sang Dokter kembali.
" Beberapa lama,Dok?" tanya Andrew kembali, sorot matanya menatap dengan kesedihan.
" Saya belum bisa pastikan,Pak. Bisa 3-6 bulan. Atau bahkan lebih, kami akan terus memantaunya. Dan melakukan terapi secara perlahan akan lebih baik dan mempercepat proses penyembuhannya. Kamu akan menyarankan tetapi yang terbaik dirumah ini, jika bapak menginginkannya." dengan menjelaskan kembali.
" Tiga-sampai enam bulan yah?" Andrew berkata pada dirinya sendiri.
Sang dokter memegang bahunya, " Anda tidak perlu kuatir kami akan memberikan penanganan yang terbaik untuk pasien!"
Andrew mendongakkan wajahnya, " Terima kasih, Dok! Lakukan yang terbaik untuk Vivi,Dok! Jika perlu harus didatangkan dari luar negeri untuk mempercepat proses penyembuhannya, maka lakukan! Saya siap menanggung biayanya berapa pun juga!"
Sang Dokter tersenyum, " Baiklah! Sementara ini pasien akan dibawa ke ruang perawatan hingga menunggu pasien sadar kembali. Kalau begitu, saya permisi dulu,Pak! Ada pasien lainnya yang harus saya tangani."
" Terima kasih banyak, Dok!" seru Andrew.
" Sama-sama!"
Dokter pun berlalu dari hadapan Andrew. Tidak beberapa lama Vivianne keluar dengan beberapa suster dan membawanya ke ruang perawatan VIP yang dipesan oleh Andrew. Andrew mengikutinya dengan tetap menggenggam tangan lemah Vivianne yang tampak tak sadarkan diri itu. Kepalanya di perban dan luka di wajahnya juga sudah ditangani dengan baik.
*****
Dan disinilah Andrew dan Vivianne di sebuah ruang perawatan. Ruangan tersebut cukup luas ada sofa besar dan televisi dan kamar mandi sendiri didalamnya bahkan ada juga kulkas mini di dalamnya.
Andrew yang terjaga semalaman, akhirnya mulai tertidur menjelang dini hari dia sepanjang malam menggenggam lembut tangan Vivianne yang memang diinfus itu.
Andrew terbangun sambil mengucek matanya, dan kemudian dia menatap wajah pucat Vivianne, dan tersenyum. Wajah Vivianne meski masih pucat namun sedikit lebih baik.
Andrew bangkit dan sedikit menjauh, dari ranjang Vivianne ke arah sofa dekat pintu masuk. Dahinya mengernyit, " Alex?"
Dia baru teringat semalam seharusnya dia ketempat apartemen Alex, tapi malah memutuskan membuntuti Vivianne, dan berakhir dengan Vivianne yang keluar dari mobilnya itu dan terluka.
" Ya, Lex? Ada apa?" serunya dengan pelan karena khawatir mengganggu waktu istirahat Vivianne.
(" Yo! My Man! Where are you? Gue tungguin semalam tau! Tapi telepon gue nggak Lo jawab satupun!") seru suara emosi di seberang.
" Sorry,Lex! Gue ga jadi ke tempat Lo! Dan tolong beberapa Minggu kedepan tolong handel pekerjaan disini,ya? Tetap kabari gue kalau ada apapun,itu!" ujar Andrew sambil mencoba duduk disofa rumah sakit itu.
(" Hah? What? Memangnya Lo mau kemana? Balik ke Aussie? Yang bener aja,Lo! Pekerjaan kita banyak disini,tau! Atau Lo jangan-jangan liburan, yah? Come on,Drew! Gue tahu Lo sedih ketika tahu Vivi bertunangan sama papa Lo, tapi jangan begini jugalah! Jangan sampai mengganggu pekerjaan juga! Andrew yang gue kenal selama ini, selalu bertanggung jawab sama pekerjaannya!")
Alex mulai berbicara tidak henti pada sambungan telepon Andrew.
Andrew menghembuskan nafasnya mendengar ucapan Alex.
" Nggak ada hubungannya dengan itu, Lex! Kan gue bilang, Lo tetep bisa hubungin gue kok kalau ada apa! Ada yang harus gue lakuin selama beberapa hari atau beberapa minggu kedepan." seru Andrew sambil mengetuk-ketuk hatinya diatas meja yang tepat didepan sofanya.
("Lha, memangnya apa yang harus Lo kerjain sampai melupakan pekerjaan,Hah?")
Terdengar suara sarat emosi didalam ucapan Alex.
" Gue harus merawat Vivi! Dia di rumah sakit,sekarang!" seru Andrew akhirnya.
Dia tahu Alex akan selalu bertanya jika tidak mendapatkan jawaban apapun darinya.
(" What? Where? I mean, How?")
Suara panik Alex terdengar, Andrew bisa membayangkan pasti Alex mondar-mandir saat ini di apartemennya.
" Ha..haus.." terdengar suara lirih seseorang.
Andrew menoleh ketika mendengar suara lemah Vivianne. Dia berdiri hendak menutup ponselnya.
(" Jangan tutup,Drew! Kasih penjelasan ke gue, paling nggak kasih tau Lo dimana? Gue akan susul Lo! Dan bagaimana kalau bokap Lo tau, bagaimana? Gue harus ngomong apa sama dia?")
" Nanti gue share alamatnya! Tapi gue minta satu hal sama Lo! Tutup mulut ember Lo, itu! Jadi Lo nggak perlu jelaskan apapun sama bokap gue! Rahasiakan semuanya! Sudah yah, Vivi bangun sepertinya! Bye,Lex!"
(" Drew! Sial!")
Terdengar suara kesal Alex sebelum Andrew benar-benar menutup ponselnya dan memasukkannya ke kantong celananya.
Andrew berjalan mendekati Vivianne yang sepertinya hendak bangkit bersandar dari ranjangnya.
" Stop! Jangan banyak bergerak! Kaki kamu belum sembuh benar! Biar aku ambilkan! Kamu harus bukan?" seru Andrew bergegas mengambil air dan menuang cairan tersebut kedalam gelas dan memberikan sedotan dan menaruhnya di samping meja kecil di tempat tidur Vivianne.
Andrew bergerak mendekati Vivianne dan kemudian menaruh tangannya di balik punggung Vivianne, wajahnya sangat dekat dengan Vivianne bahkan hembusan nafasnya mengenai wajah Vivianne.
" A-apa yang mau kamu lakukan?"tanya Vivianne terkejut.
Andrew hanya tersenyum dengan lembut.
*****