Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 79 Kecemburuan Andrew



Vivianne menarik nafas panjang dan menghembuskannya, sebelum akhirnya dia masuk membuka pintu tempat makan tersebut. Dan sedikit memperbaiki riasannya dan bajunya.


Vivianne memasang wajah dengan tersenyum, " Sayang maaf yah, lama. Tadi sedikit mengantri" 


Damian menoleh dan tersenyum dengan hangat, " Tidak masalah sayang, lihatlah makanannya sudah ada. Tapi sayangnya Andrew juga belum kembali. Apa kamu melihatnya di depan tadi?" 


Vivianne sedikit gugup namun dicobanya menetralisir degup jantungnya. " Tidak! Memangnya dia pergi kemana?" 


" Hm…katanya sih, mencari udara segar. Entah kenapa anak nakal itu. Biarlah, bagaimana kalau kita makan saja terlebih dahulu?" ucap Damian sambil memeluk bahu Vivianne yang terbuka menuntunnya untuk duduk dikursi yang tidak jauh dari mereka.


Vivianne menoleh, dan tersenyum. " Lebih baik kita tunggu sebentar,ya Mas? Tidak enak rasanya jika kita makan terlebih dahulu,bukan?" 


Damian menatapnya dengan raut wajah penuh rasa kagum. " Kamu tahu, Anne? Apa yang membuat aku jatuh cinta padamu?" 


Vivianne menggelengkan kepalanya, " Tidak! Mas tidak pernah bilang, yang aku tahu Mas selalu bilang aku cantik, dan pintar. Itu sih, yang sering aku dengar. Memangnya kenapa?" Vivianne sedikit penasaran.


" Itu juga sih, tapi aku sangat menyukaimu dan akhirnya jatuh cinta karena kamu wanita kuat,sabar, dan tadi, baik hati! Aku memang tidak salah pilih kali ini!" ujar Damian menatapnya penuh cinta dan duduk disebelah Vivianne.


Vivianne tersenyum, " Mas paling bisa kalau sedang menggombal! Mas memuji Anne terlalu tinggi! Anne jadi malu, Mas!" 


Dengan sedikit memukul bahu Damian. Damian menangkapnya tiba-tiba, " Tangan lembut ini jangan dipakai untuk melakukan sesuatu hal buruk, ya? Nanti kalau terluka, bagaimana?" 


Damian menaruh telapak tangan Vivianne di pipinya, membuat Vivianne semakin malu dibuatnya bahkan pipinya semakin memerah ketika Damian mulai mencium punggung tangannya.


Vivianne menarik tangannya karena malu, tapi gerakannya itu malah membuat tubuhnya terdorong kedepan ke dada Damian karena Damian menariknya dengan kuat, sehingga dia terhempas ke depan. Kedua mata mereka bertemu, Damian semakin menunduk tangannya beralih memeluk kedua pipi Vivianne dan Damian sudah hendak menciumnya.


" Ehem! Wow! You too fast, Pah! Come on! Get a room!" 


("Ehem! Kamu terlalu cepat,Pah! Ayolah! Cari kamar saja,jika ingin melakukannya!")


Seseorang mendorong pintu dengan sangat keras dan menghempaskannya. Dan berjalan serta duduk dengan kesal dihadapan mereka.


Vivianne menunduk karena ucapan Andrew yang baru saja tiba. Wajahnya semakin memerah seakan seperti anak SMP yang tertangkap karena sedang berciuman. Seakan-akan tindakan mereka dianggap mesum!


" Andrew! Jangan kurang ajar kamu sama papa!" ujar Damian dengan marah. Karena ucapan anaknya yang dirasa kurang sopan itu.


" Just kidding, Pah! So, bisa kita lanjutkan makan malam kita? Aku sudah sangat lapar!" dengan santai Andrew berujar.


" Tunggu, dulu, kenapa dengan bibir kamu nak? Sepertinya terluka?" Damian mendekati anaknya hendak memegang wajahnya untuk melihat lebih dekat. Tapi kepala Andrew menghindarinya.


" Tidak ada apa-apa, Pah! Hanya saja tadi…mencium…" sambil menoleh ke arah Vivianne, Vivianne yang melirik kembali tertunduk dengan raut wajah pucat. Andrew tersenyum sinis melihatnya, paling tidak dia ketakutan saat ini dan itu membuat Andrew senang sekaligus kesal. " Tembok!" ucap Andrew menyambung ucapannya.


" Hah? Mencium tembok? Kamu ini ada-ada saja! Kok bisa?" cecar Damian mulai penasaran.


Andrew kembali melirik Vivianne sambil berujar seakan menyindir, " Yah, bisa saja, Pah! Mungkin saja dia bernyawa bukan?"


Dengan tatapan malas dia menatap sang Papah kali ini, "Ini kapan makannya, nih? Tanya melulu seperti satpam saja, papah ini!"


" Ok! Sorry! Papah hanya penasaran saja, yakin kamu tidak apa-apa,Drew?" sang papah terlihat kuatir, melihatnya Andrew sedikit merasa bersalah sekarang.


" Yap! Tidak masalah, Pah! Beneran ini hanya luka ringan buatku,Pah!" ditatapnya sang Papah dengan meyakinkan 


" Baiklah. Oh,ya. Biarkan Papah memperkenalkan kalian tadi sempat terputus bukan? Anne perkenalkan, Dia putra satu-satunya aku namanya Andrew Matthews seperti yang dia bilang, dia sarjana S2 dari Australia. Andrew perkenalkan ini…" ucap Damian terputus.


" Vivianne, kan? Aku tahu,Pah! Dia sekretaris Papah beberapa tahun terakhir, kan? Kemudian papah melamar dia  jadi calon istri papah, kan?" ujar Andrew menjulurkan tangannya enggan.


" Tolong panggil saya, Anne!"menangkap tangan Andrew sebentar dan melepaskannya tapi, lagi-lagi Andrew menatapnya dan enggan melepaskan genggaman tangannya itu.


" Kamu sepertinya tahu banyak, tentang Vivianne,Nak?" tanya Damian menatapnya tajam.


" TIDAK!" jawab keduanya.


Damian menatap Andrew dan Vivianne bergantian. " Hahaha….Lihatlah, bahkan kalian menjawab hal yang sama berbarengan, luar biasa!


" Kebetulan,Mas! " Vivianne menepuk tangan Damian lembut.


Andrew membuang wajahnya dengan gusar.


" Aku, tahu. Hanya sekedar menggodanya,Anne! So, dari mana kamu tahu?" tanya Damian menanyakannya kembali.


" Aku mencari tahu,Pah! Aku sudah mulai curiga ketika Papah sempat memintaku datang ke Indonesia, tidak mungkin jika tidak ada sesuatu. Dari situ, aku kemudian mencari tahu! Aku hanya penasaran siapa wanita yang sudah bisa membuat papaku bertekuk lutut! Itu saja!" ujarnya menatap Vivianne tajam.


" Uhuk! Uhuk! " Vivianne seketika terbatuk. Damian dan Andrew menyodorkan minuman. Damian menatap Andrew. Andrew dengan enggan menaikan bahunya seakan tidak peduli, kemudian menaruh kembali gelasnya yang semula hendak diberikan ke Vivianne.


" Terima kasih, Mas!" ujar Viviane yang sedikit pucat.


 " Kamu yakin tidak apa-apa?" 


" Yakin, Mas…" 


" Baiklah." 


" Ini mau dilanjutkan tidak ceritanya?" ujar Andrew yang geram melihat tingkah keduanya. Dirinya mulai merasakan panas, tidak hanya di hatinya, tapi di sekujur tubuhnya saat ini.


" Yah, teruskan lah." ujar Damian.


" Ok! Jadi aku mencari tahu, aku kekantor Papah saking penasaran. Ternyata…Dia yang menjadi calon Ibu tiriku! Yang benar saja,Pah!" ujar Andrew yang mulai terbakar cemburu malah memancing emosi Vivianne.


" Kenapa, memangnya? Kamu keberatan?" Damian menoleh ke arah anaknya. Demikian juga dengan Vivianne yang menatapnya penasaran.


" Tentu saja aku keberatan! Lihat saja usia kalian! Ayolah, Pah! Lihatlah dia! Usia kalian terlalu jauh berbeda, mungkin setengahnya usia papah, bukan?Dia bahkan lebih pantas menjadi  adikku atau mungkin pacarku, barangkali? Tapi papa tenang saja,dia bukan tipe aku!" Andrew menatap Vivianne dengan tatapan merendahkan.


" Yah, mana mungkin anak muda seusia dia mau dengan pria matang seperti Papah, kalau bukan karena mengincar hartanya,bukan?" dengan tajam menatap Vivianne yang kebetulan di depannya tidak jauh itu.


" Andrew! Jaga mulut Kamu!" Damian berdiri dari kursinya.


Vivianne yang sejak tadi mengepalkan kedua tangannya, kali ini emosinya mulai tidak terkendali.


Ketika Damian hendak berbicara memarahi Andrew kembali. Vivianne telah berdiri disamping kursi Andrew dan diikuti dengan Andrew yang akhirnya mereka berhadapan.


" Apa kamu bilang?" dengan raut wajah kekecewaan menatap Andrew dengan sorot mata yang tidak bisa Andrew gambarkan.


" Kataku, kamu mengincar harta kekayaan papaku saja! Jelas? Benar, bukan?" ucap Andrew mengulanginya.


PLAK!!!


Vivianne melayangkan tangannya menampar Andrew. Dan berarti ini kedua Kalinya dia menampar Andrew.


" Maaf, Mas. Aku terpaksa melakukannya, tapi dia tidak pantas berkata kurang ajar seperti itu kepadaku. Tolong jelaskan padanya siapa yang mengejar-ngejar aku! Mas atau aku? Maaf aku sudah mengacaukan makan malam ini! Rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan sekarang. Aku lelah! Aku ingin kembali!" ujar Vivianne baru mengalihkan tatapannya ke Damian.


" Sendiri!" tegas Vivianne menatap Damian dan tanpa menoleh mengambil tasnya dan berjalan keluar.


**""*