
Tania berteriak karena terkejut, dia melihat Vivianne yang mulai luruh ke tanah. Tania memeluknya sambil memegang kepala Vivianne di pangkuannya. Tania menangis kejar sambil mencoba menyadarkan Vivianne dengan menepuk-nepuk pipinya namun sepertinya Vivianne enggan untuk terbangun.
Dan orang-orang mulai mengerubungi Vivianne dan menatap ke arah mereka dengan tatapan sedih dan kasihan.
" Vi,bangun! Bangun,Vi! Ya Allah, Vivi.." Tania sambil menangis terus berusaha menyadarkannya.
" Vi! Apa kalian lihat-lihat? Tolong bantu aku, tolong…panggilkan ambulance! Tolong…Ya Allah, Vivi!" Tania terus menangisi Vivianne yang berada di pangkuannya sekarang. Digunakannya pangkuannya untuk menopang kepala Vivi dan ketika disentuhnya, dia kaget. Darah. Kepalanya berdarah.
" Darah? Vivi! Tolong…tolong!" Tania tak peduli ketika suaranya hampir serak.
Tiba-tiba dari kerumunan orang muncullah Bryan, " Permisi! Permisi Tolong Kasih Jalan!"
Bryan yang semula berada di sisi Vivianne, mencoba ketengah lapangan untuk menghentikan Andrew. Namun terlambat. Andrew tidak dapat dihentikan.
Bryan terkejut ketika menoleh kebelakang, dimana dia melihat banyak orang berkerumun. Perasaannya mulai tidak enak. Bryan pun menghampiri kerumunan tersebut. Ternyata benar dugaan Bryan, Vivianne pingsan.
" Kak! Tolong Vivi,Kak! Di-dia…terluka!" ujar Tania bergetar sambil memohon kepada Bryan. Karena saat ini Bryan satu-satunya harapan dia untuk bisa membantu Vivianne.
" Kita harus cepat membawa Vivi ke rumah sakit! Ikut aku!" dengan sigap Bryan membopong Vivianne ala bridal style sedikit berlari dan mencoba memecahkan kerumunan orang. Tapi orang-orang yang mengerumuninya terlalu banyak.
" Tolong, jika kalian tidak bisa membantu, setidaknya kasih kami jalan!" dengan geram Bryan berkata.
Perlahan-lahan kerumunan orang mulai terbuka memberi jalan Bryan dan Tania yang mengekor dibelakangnya. " Terima Kasih!" tutur Bryan kembali.
Bryan mulai sedikit berlari ke arah mobinya yang ada di parkiran kampus. Dengan susah payah dia mengambil kunci/key lock yang ada di kantong celananya tapi rasanya sangat susah, hingga akhirnya.
" Kamu! Tolong ambilkan kunci di kantong celanaku." ujar Bryan kepada Tania.
Tania melongo, mendengarkan perintah Bryan.
" Apalagi yang kamu tunggu? Buruan! Kamu tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Vivianne bukan?" ujar Bryan sambil mendekatkan tubuhnya seakan memberitahukan kantong sebelah mana yang harus dituju untuk mengambil kuncinya.
Tania terdiam sambil menelan salivanya. " Ta-tapi…Kak," jawabnya dengan rona wajah yang memerah.
" Apanya yang, tapi-tapi…kita tidak punya banyak waktu! Jadi tolong ambilkan!" tegasnya dengan mulai tak sabar melihat tingkah Tania.
Dengan sedikit gugup Tania memasukkan tangannya ke kantong celana sebelah kiri dengan posisi dia yang harus menempel ke tubuh Bryan. Aroma maskulin tapi manis Bryan keluar dan menyentuh penciuman Tania, Tania menutup matanya, mengabaikan godaan tersebut. Sehingga tanpa sengaja dia menyenggol sesuatu. Sesuatu yang tidak seharusnya.
" Hey! Perhatikan tanganmu, sedikit sebelah kiri dan bukannya sebelah kanan!" Bryan sedikit mendesis ketika kepemilikannya tersentuh.
"Ma-maaf! Aku tidak sengaja." Tania mendongak menatap mata jernih dan kehijauan Bryan dengan rasa tidak karuan.
" Sudahlah! Tidak penting buruan! Tanganku mulai sedikit pegal ini!" ketus Bryan menghilangkan sedikit kekakuan diantara mereka.
" I-iya, ini juga sedang dicari." tutur Tania kesal karena ternyata pria di sampingnya ini sangat dingin. Dia pikir Bryan lembut, ternyata hanya lembut jika berkata kepada Vivianne saja.
Tania kembali fokus pada pencarian di kantong yang cukup dalam itu, hingga akhirnya dia menemukan sesuatu buru-buru dia tarik tangannya. Dengan gembira dia berujar, " Ketemu!"
" Aku tahu, tidak perlu kau ungkapkan juga aku tahu itu kunciku. Kan, aku yang beritahu! Buruan pencet tombol di sana untuk membuka kuncinya! Jangan diam saja!" ketus Bryan.
Tania cemberut, " Iya,iya.Ini juga mau dilakukan, sabar kenapa."
Tut! Tut!
Tak beberapa lama terdengar suara tanda key lock telah dibuka. Tania buru-buru membuka pintu belakang agar Bryan mudah meletakkan Vivianne.
" Thanks, apakah kamu mau ikut atau hanya diam saja disana?" ujar Bryan.
" E-eh i-iya." Tania yang sempat terdiam dia kemudian memutari sebelah kanan di kursi belakang.
" Mau,ikut dibelakang agar bisa memegang Vivianne. Memangnya dimana lagi?"Tania mulai kesal.
" Didepan! Aku bukan supir mu! Lagi pula di belakang kau malah akan mengganggu pasokan udaranya!" Bryan berkata ketus dan masuk kedalam mobil di bagian pengemudi.
" Cih! Pasokan udara katanya? Memangnya nafasku bau,apa? Dasar pria dingin! Menyesal aku memujinya tadi! Kupikir dia pria yang lembut!"ujar Tania kesal.
Tiba-tiba Bryan membuka kaca mobilnya. " Kau mau ikut atau mau terus memaki disana?"
Tania mematung, dan menahan malu. Buru-buru dia memutar kembali dan duduk di sisi penumpang di sebelah Bryan.
" Pakai sabuk pengamannya! Aku tidak mau ditangkap polisi karena kebodohan kamu!" Bryan mulai menjalankan mobilnya tanpa menoleh sedikitpun kearah Tania.
Tania pun memakai seatbelt dengan segera karena enggan berdebat dengan Bryan.
Bryan menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup cepat sambil sesekali melihat posisi Vivianne dibelakang dan kearah depan. Sepanjang perjalanan itu tak ada satupun yang berbicara, Tania yang ketakutan berpegangan kuat di sisi pintu mobil.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam empat puluh lima menit ditempuh hanya dengan dua puluh menit oleh Bryan. Ketika sampai di depan rumah sakit dia keluar sambil berteriak demikian pula dengan Tania. Tania yang sigap membuka pintu mobil bagian belakang dan Bryan kembali membopong Vivianne yang masih tidak sadarkan diri.
" Tolong! Tolong! Ada yang terluka disini!" teriak panik Bryan sambil membopong Vivianne. Bajunya mulai kotor karena darah dari luka Vivianne.
Tak berapa lama Dokter dan para suster mendorong brankar dengan tergesa gesa. Dan membawa Vivianne keruangan IGD.
Ketika hendak masuk baik Bryan dan Tania ditahan salah satu suster. " Mohon maaf, biarkan kami bekerja. Silahkan kalian menunggu disini saja."
Akhirnya dengan pasrah mereka menunggu diruang tunggu di depan IGD tersebut. Dan sepanjang menunggu mereka tak saling tegur sapa atau sekedar menguatkan satu sama lain. Mereka tenggelam dalam lamunan dan pikiran mereka masing-masing. Yang jelas, wajah mereka penuh kekuatiran.
Tak berapa lama mereka menunggu, akhirnya Vivianne dibawa keluar. Mereka menegakkan badan mereka.
" Bagaimana, Dok! Kondisi Vivianne?" tanya Bryan.
" Biarkan pasien beristirahat terlebih dahulu, lukanya tidak terlalu parah.Tapi kami akan tetap memantaunya dan kita akan mengetahuinya setelah pasien siuman nantinya. Mohon maaf kami akan membawa pasien ke kamar perawatan, bisakah kalian menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu?" ujar salah seorang Dokter.
" Baik,Dok! Biar saya yang menyelesaikannya." ujar Bryan. Dengan segera dia berlari ke arah bagian administrasi dan melakukan pembayaran beserta depositnya.
" Dok, apa teman saya akan baik-baik saja,Dok? Apa lukanya tidak berbahaya,Dok?" tanya Tania ragu setelah Bryan pergi.
" Tidak berbahaya, tapi kita akan melakukan pengecekkan mendalam dibagian kepalanya, semoga hasilnya segera keluar, semoga tidak berbahaya kita akan tahu segera setelah pasien siuman nanti. Saat ini pasien diberikan obat, bius. Kamu terpaksa melakukannya, semoga hal ini tidak mempengaruhi kandungan pasien kedepannya. Bersyukurlah kepada Tuhan, karena kondisi janinnya baik-baik saja." ujar Dokter kemudian.
" A-apa,Dok? Janin? Vivi hamil?" Tania terkejut mendengarnya.
" Yah, apakah suaminya tidak tahu mengenai hal ini?" tanya Dokter yang mengira Bryan suaminya Vivianne.
" Oh, Di-dia bukan suaminya,Dok!" jawab Tania cepat.
Dengan menarik napas Tania kembali berujar, " Dok, bisa minta tolong rahasiakan mengenai kehamilan Vivianne kepada siapapun termasuk pria tadi,Dok?"
" Hmm…Baiklah, apakah pria tadi benar bukan suaminya? Lantas dimana suaminya? Kenapa tidak ikut bersama pasien?" tanya sang Dokter.
" Di-dia keluar kota,Dok! Dan ini biarkan menjadi surprise untuk Dia!" Tania terpaksa berbohong karena dia yakin Vivianne tidak tahu mengenai hal ini . Dan pastinya dia tidak mau orang lain tahu mengenai ini. " Yah, ini yang terbaik!" pikirnya.
" Siapa yang keluar kota? Dan Surprise apa yang dimaksud?" Seseorang muncul di hadapan mereka dan menatap keduanya.
" Ah…i-itu…" Tania gugup menghadapi pertanyaan yang diajukan dia belum siap ketika Bryan muncul dihadapannya.
****