
Setelah menyelesaikan makan siang, Vivianne mengajak mereka untuk sekedar berbelanja mengganti waktu makan siang yang dilakukan diluar seharusnya.
Vivianne sedikit ragu, khawatir mereka masih sangat lelah. Tapi Vivianne butuh pengalihan, pengalihan dari pertanyaan sang Bunda. Mengenai perasaannya terhadap Damian.
Vivianne bukan tidak mau membahasnya, hanya saja dia sendiri tidak tahu harus jawab apa. Vivianne tahu pasti perasaan Damian terhadapnya, Damian sudah menyukainya sejak awal. Sejak ia hanya seorang cleaning service di apartemennya Damian. Sesuatu yang belum ceritakan terhadap sang Bunda. Karena Vivianne ingin Bundanya mencerna secara perlahan informasi dan perjalanan hidupnya di Jakarta. Agar sang Bunda tidak kaget nantinya.
Mungkin dia akan bercerita secara bertahap.
Dan tentu saja hal itu tentu saja masih banyak waktu. Bundanya akan sedikit lama menemaninya di Jakarta, harapannya agar sang Bunda mengenal dan lebih dekat dengan seorang Damian.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Vivianne mengajak mereka ke sebuah Mall yang tidak jauh dari apartemen nya di daerah pakubuwono. Senayan City.
Vivianne tersenyum ketika melihat kebahagian mereka, padahal ini hanya sebuah Mall yang bahkan Vivianne pun enggan kesana jika bukan karena alasan berbelanja kebutuhan bulanannya dan tentu saja jika beruntung, mereka bisa makan malam bersama disana.
Vivianne memesan taxi online dan ketika taxi tersebut telah tiba di bawah tepatnya di lobby apartemennya mereka pun bergegas menaikinya.
Karena ini belum jam waktu pulang kantor, maka mereka tidak terlalu lama sampai ditempat tujuan hanya menempuh jarak kurang lebih lima belas menit hingga dua puluh menit saja.
Setibanya disana mereka menuju supermarket di Mall yang cukup mewah itu Plaza Senayan.
Maya ,Avan dan Bunda sepertinya terkagum-kagum melihat salah satu Mall termewah di Jakarta itu.
Vivianne hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. " Kita mau makan dulu atau belanja dulu nih? Kebetulan kulkas Mbak kosong, biar besok-besok kita bisa masak bersama, bagaimana? Jadi tidak perlu delivery. Mbak bosan kadang makanan delivery." ujar Vivianne.
Tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya. Vivianne lagi-lagi tersenyum sambil menghembuskan nafasnya.
" Bun…May?" tanya Vivianne membuyarkan lamunan mereka.
" Wah, Mall-nya besar sekali yah Mbak? Bagus lagi! Betul kan Bun? Tidak seperti di pasar dekat Rumah Kita! Becek!" ucap Maya.
" Hahaha…kamu bisa saja May. Hmm..masa disamain sama pasar,sih? Tapi di kota di Jogja juga ada loh!" suru Vivianne yang menggendong Avan sambil berjalan.
" Iya, tapi tidak sebesar Iki,loh,Mbak! Iya toh,Bun?" tanya Maya sambil menatap sang Bunda.
Sang Bunda yang juga takjub akan pemandangan di depannya hanya mengangguk.
" Tuh, betul,kan,Mbak. Ini mah aku kalau hilang ra iso balik Iki! Tenan. Lali aku,Mbak!" ujar sang Maya kembali.
" Bunda juga, kok Yo Bunda jadi takut kesasar, ya Nak?" ujar sang Bunda kuatir dan takjub di waktu bersamaan melihat Mall tersebut.
" Ya sudah kalau gitu, jangan jauh-jauh dari aku! Avan mau kemana dulu? Hmm..Mau permainan,mungkin? Atau Ice cream?" tanya Vivianne.
Avan mengerjapkan matanya, "'Dua duanya, boleh, Auntie?
Vivianne tersenyum, " Boleh, bagaimana kalau ke permainan dulu?" ujar Vivianne.
" Yeah!! Permainan!" teriak Avan.
" Ayo,May. Jangan jauh-jauh jika tidak ingin hilang atau kesasar. Katanya kalian, Mall ini besar,bukan?" ujar Vivianne kembali.
Tanpa diperintah buru-buru mereka memegang ujung baju Vivianne baik bunda ataupun Maya. Vivianne hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka.
" Hahaha…kalian lucu ih! Ayo kita ke tempat permainan!" ujar Vivianne sambil menggendong Avan dan berjalan perlahan menuju tempat tujuan pertama mereka.
Setelah sampai di tujuan mereka, Avan sudah sangat tidak sabaran di minta diturunkan. Dia senang sekali mencoba hampir seluruh permainan di sana, dari mobil-mobilan, kereta, bermain bola, kuda-kudaan dan masih banyak lagi. Ditemani Maya yang selalu berada didekatnya mengikuti langkah kaki Avan kemanapun dia pergi. Sedangkan Vivianne mengawasinya sambil duduk disebuah kursi tak jauh dari tempat permainan tersebut bersama sang Bunda.
" Vi,Avan sudah besar, apakah kamu tidak ingin memberitahukannya yang sebenarnya, bahwa kamu Mommynya dan bukan Auntie-nya? Lantas bagaimana dengan Nak Damian apakah dia tahu?" tanya sang Bunda sambil terus menatap kearah Avan.
" Anne hanya takut, Avan belum siap menerimanya, Bun. Anne takut, Avan malah nanti menghindari Anne. Maaf Bun hanya itu yang Anne pikirkan perasaan Avan apakah dia bisa menerima Anne, atau malah membenci Anne?" dengan raut wajah sedih.
" Bunda rasa tidak. Avan bukan anak yang seperti itu! Dia memiliki hati yang lembut,pemaaf,sama seperti kamu tapi tampak tegas diluar."ujar Bunda.
" Anne tahu,Bun. Hanya saja ini mungkin ketakutan Anne saja, dan jika itu terjadi, maka…Anne belum siap menerimanya! Menerima kebencian Avan terhadap Anne." ujar Vivianne.
" Bagaimana dengan Nak Damian? Apakah dia tahu?"
Tania menggelengkan kepalanya, " Anne belum membicarakannya, Anne harus meyakinkan hati Anne dulu,Bun!"
" Baiklah, tapi saran Bunda, jangan lama-lama kasihan Avan!"
" Iya ,Bun. Secepatnya Anne akan pikirkan caranya berbicara dengan Avan."
" Dan juga dengan Nak, Damian! Kamu harus terbuka kepadanya. Kalau ia memang ingin menikahi kamu!" ujar sang Bunda.
" Baiklah, Bunda percaya sama kamu. Oh iya kamu belum jawab loh, pertanyaan Bunda." ucap sang Bunda.
" Pertanyaan yang mana,ya Bun?" Vivianne pura-pura lupa, dia berharap bukan pertanyaan itu yang ingin ditanyakan oleh sang Bunda.
" Mengenai perasaannya terhadap Nak Damian, bagaimana?"
Vivianne sudah menduganya ternyata pertanyaan itu kembali yang dilontarkan oleh sang Bunda.
" Menurut Bunda, bagaimana? Apa pendapat Bunda terhadap Mas Damian?" Vivianne malah bertanya ia ingin mendengar pendapat Bundanya, orang terpenting dalam hidupnya.
" Menurut Bunda, dia baik. Sepertinya sangat mencintai kamu sepenuh hati. Bunda bisa melihat dari matanya.Bunda berharap dia bisa menjaga kamu seterusnya! Meski usia kalian terpaut jauh, tapi itu bukan masalah buat Bunda.Yang penting hatinya baik!" jelas sang Bunda.
Vivianne menganggukkan kepalanya, dia sedikit lega mendengar pendapat sang Bunda.
" Nah permasalahannya kamu sendiri bagaimana? Ingat jangan mempermainkan hati seseorang,Nak!" Bunda memberikan peringatan.
" Kalau…Anne…" ucapan Anne terputus ketika Avan menghampirinya dan memeluknya.
" Auntie, selu. Tapi Avan mau es cream Auntie. Auntie sudah janji,kan?" ungkap Avan.
Vivianne tersenyum, " Iya, Auntie ingat,Kok! Ayo kita ke tempat es cream?"
" Let's Go!" ujar Maya dan Avan.
Vivianne membelikan es cream cone untuk Avan dan Maya karena kuatir hati sudah mau gelap mereka masih harus berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di sana yang cukup mewah. Baru setelah itu mungkin mereka akan makan di food court sambil membawa belanjaan mereka.
Avan berlarian sambil berbalik badan dan bermain kejar-kejaran dengan Maya.
" Avan, jangan berlari,Nak! Nanti kamu jat…" seruan Vivianne terputus.
Dan benar saja Avan menabrak seseorang yang memakai kaca mata hitam dengan hidung mancung, berpakaian rapi sambil memegang ponselnya dan berbicara.
Dia terkejut ketika seorang anak kecil melintas di hadapannya. Dan es krimnya tumpah di bagian depan celananya. Dia menoleh ke bawah seorang anak kecil yang cukup tampan dengan rahang tegas hidung mancung,kulit bersih rambut lurus menatapnya takut-takut.
" Hey, Boy! Hati-hati kalau berjalan,Ok? Are you hurt?" sambil sedikit berjongkok.
Avan menggelengkan kepalanya dan menunjuk sisa es krim yang mengenai pakaian pria itu, " Uncle, I'm sorry."
Pria tersebut tersenyum ramah, " Tidak…"
Tiba-tiba seorang wanita cantik dengan rambut sedikit pendek hanya sebatas bahu menghampirinya dan berujar, " Maafkan anak saya,Tuan. dia tidak sengaja…Maaf…biar saya bersihkan."
Vivianne mencoba membersihkan sisa sisa es cream dan menarik tisu basah dari tas bahunya. Dan membersihkan perlahan celana yang terkena kotoran tersebut.
Pria tersebut membeku, terdiam mengamati paras wanita dihadapannya. " Dia tidak salah, itu Dia. Meski sekarang terlihat lebih trendy dengan pakaian bermereknya dan yang pasti semakin cantik dan dewasa! Tapi sedang apa dia disini? Di Jakarta?" l?batinnya berujar.
" Vivi?" ucapnya sambil terus menatap Vivianne.
Vivianne menghentikan yang dilakukannya dan mendongakkan kepalanya.
" Benar,Kamu Vivianne,Bukan?" ujar nya kembali memastikan.
Seketika Vivianne membeku, terdiam. Dan dengan cepat menggendong Avan. Terus menunduk.
" Maaf, sepertinya Tuan salah,orang! Maaf sekali lagi, saya harus pergi!" ujar Vivianne dengan raut wajah pucat dan panik.
Dengan menggendong Avan menutupi wajahnya di dadanya dia tidak ingin orang tersebut menyadari sesuatu.
Vivianne beranjak dan kemudian meminta Maya untuk bergegas pulang.
" Kita pulang sekarang, kamu tolong bawa Bunda ikuti langkah,Mbak!"ujar Vivianne panik.
" Loh, Mbak..katanya.." ujar Maya bingung.
" Jangan membantah Maya! Cepat!" ujar Vivianne panik dan kembali berjalan dengan langkah terburu-buru.
Sementara seseorang menatapnya dengan raut wajah bingung, " Benarkah, Aku salah? Sepertinya tidak! Itu jelas Vivianne! Kenapa dia menghindar jika memang, Bukan dia? Aneh!"
*****