Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 28 Semoga Kamu Akan Terus Bisa Tertawa,Vi!



" Dor! Wey! Hayoo…Kenapa bengong?" Vivianne mengejutkan sahabatnya Tania.


" Astagfirullah,Vi! Kamu bikin aku kaget saja! Loh, kok? Kamu disini sih? Bukannya lagi di resto yah?" Tania sambil celingak-celinguk kekiri dan kekanan. " Apa Vivi,melihatnya?, Semoga saja tidak! Hatinya pasti akan hancur!" pikir Tania.


Dan ternyata orang yang melihat semuanya adalah Tania! Sahabat Vivianne di tempat dia bekerja di hotel bintang lima tersebut. Tania yang kebagian membersihkan lantai dua dari hotel tersebut tak sengaja berpapasan dengan Andrew dan sedang dibawa Valery menuju salah satu kamar di hotel tersebut. Tania sempat dikenalkan oleh Vivianne ketika Andrew mengantarkannya pergi bekerja beberapa kali. Dan tentu saja dikenalkan juga oleh Alex yang memang menjadi supir Vivianne dan Andrew ketika Andrew masih sakit kakinya.


Tania gelisah, dia tak mungkin salah mengenali Andrew karena memang jarak mereka yang tidak terlalu jauh, dan lagi Tania sudah beberapa kali melihatnya ketika mengantar dan menjemput Vivianne.


" Oh, itu…Aku disuruh chef cari kamu, untuk diminta bantuin dia di resto kalau kamu sudah selesai dengan pekerjaan disini,sih. Kamu kenapa sih? Kok seperti mencari sesuatu atau seseorang? Dari tadi celingak-celinguk saja,kerjanya?" Vivi pun ikut melakukan hal yang sama karena penasaran dengan temannya itu. Apa yang sebenarnya dicarinya.


" Oh, tidak. Aku cuma sedang meregangkan otot leher saja, jadinya terkesan melihat kekiri dan kekanan. Pegel banget ini. Sudah,yuk? Kita turun dan bantu-bantu di resto! Katanya aku dicari chef kan? Yuk?" Tania langsung menyeret Vivianne agar menjauh dari sana secepatnya. Dia tidak ingin Vivianne melihat pemandangan yang akan membuat hatinya sakit. "Bisa saja,bukan? Wanita yang bersama Andrew itu menampakkan wajahnya? Atau bahkan malah mereka berdua?"batin Tania.


" Iya,iya. Tapi nggak geret aku seperti ini juga,kali,Tan! Seperti hewan peliharaan saja!" ujar Vivianne sambil bercanda.


" Hehehe….maaf,Vi. Tapi aku kuatir chef marah nanti nanti hilang deh, kesempatan kita untuk belajar dari beliau,kan? Rugi tau!" ujar Tania kembali.


" Iya, iya. Tapi nggak mesti narik-narik aku kayak tadi,kan?" ujar Vivi cemberut.


" Iya…kan aku sudah minta maaf,Vi. Jadi nggak nih kita turun?" ujar Tania kembali.


" Jadi,dong! Yuk!" ajak Vivianne.


Dengan menarik nafas lega akhirnya Tania mengikuti langkah kaki Vivianne menuju Restaurant. 


Biasanya mereka bantu bersih-bersih disana, dan upahnya biasanya mereka diajari oleh chef beberapa trik memasak dan lainnya.


Tugas mereka sebenarnya lebih banyak membersihkan toilet hotel ataupun kamar hotel namun jika dirasa tugas mereka telah selesai mereka maka akan diperbantukan di restaurant yang ada di hotel tersebut. Semula mereka hanya sebuah keisengan saja daripada mereka tak melakukan apapun setelah membersihkan toilet selesai, kadang ada beberapa jam, nah disinilah mereka membantu-bantu Restaurant. Hingga chef senang dengan mereka dan tak jarang mengajari mereka membuat satu atau dua masakan. 


Dan tak jarang mereka juga menerima tips. Baik dari pengunjung restoran ataupun dari chef sendiri atau mereka diperbolehkan membawa beberapa makanan yang tersisa. Kan, lumayan,bukan? Terlebih untuk Vivi yang merupakan anak perantauan. Tips ataupun makanan dapat menambah pemasukan ataupun menghemat biaya untuk makan yang dikeluarkannya. Oleh karenanya meski lelah, dia tidak mengeluh.


Akhirnya mereka turun ke bawah dimana Restaurant hotel berada. Setelah bantu bantu mereka disana. Tania dan Vivienne sekedar meregangkan badan dan diri mereka dii depan restoran sebelum mereka berganti pakaian dan pulang.


Tania melirik Vivianne yang sedang duduk bersandar.


" Vi, lelah yah?" tanyanya Tania sekedar membuka percakapan.


" Iya,banget! Mana sekarang mau ujian pula! Jadi aku harus ekstra membagi waktu antara bekerja dan belajar!" ujar Vivianne.


" Kenapa, kamu harus kerja sih, Vi? Bukankah, cowok kamu si Andrew anak orang kaya,yah?" tanya Tania hati-hati.


Vivianne mulai membuka mata yang semula terpejam dan menegakkan dirinya.


" Iya,benar. Terus, hubungannya sama aku,apa?" ujar Vivianne bingung arah pembicaraan Tania.


" Yah, biasanya, kan…Kalau punya cowok tajir seperti Andrew, kamu bisa tinggal minta tuh, dibayarin kost, makan,jajan dan lain-lainlah! Jadi kamu tidak perlu kerepotan bekerja seperti ini. Lelah,tau!" tanya Tania.


" Oh, baguslah! Jadi tidak ada hutang budi sama dia jika terjadi sesuatu,ya?"gumam Tania lirih namun masih terdengar oleh Vivianne.


" Maksudnya,Tan?" tanya Vivianne mengerutkan dahinya karena ucapan Tania yang dianggapnya sedikit aneh.


" Oh, ya tidak! Maksud aku, yah…namanya orang pacaran kan bisa putus,kan ya? Benar tidak? Jadi kamu mungkin bisa pergi begitu saja…gitu sih…hehehe…misalnya…misalnya…loh!" ujar Tania yang harus memutar otaknya agar Vivianne tidak curiga.


" Oh,itu! Iya,sih. Tapi aku tidak memikirkan sejauh itu,sih..Aku cuma berharap kita bisa sama-sama sampai menikah! Terlebih.."ujar Vivianne gamang.


" Terlebih apa,Vi?" tanya Tania kembali dengan perasaan deg-degkan. Menduga-duga apa yang hendak Vivi sampaikan.


" Ah, nggak penting! Terlebih aku sayang dan cinta sama dia,Tan! Hehehe…lagian tumben banget kamu nanyain mengenai hubunganku dengan Andrew? Kenapa,sih?" tanya Vivianne mulai curiga, sangat jarang Tania menanyakan mengenai hal seperti ini. Kecuali dirinya yang bercerita terlebih dahulu. Tania bukanlah tipe orang yang ingin tahu semua urusan orang lain.


" Oh, nggak sih! Killing the time saja! Sebelum kita pulang. Hehehe….Kenapa,nggak boleh?" tanya Tania sambil menghalau kegelisahannya dengan sedikit bercanda.


" Boleh-boleh saja, sih. Cuma sedikit aneh,saja. Tumben kamu bertanya,biasanya juga aku yang lebih banyak cerita kan?"ujar Vivianne kembali.


" Yah, aku ingin tahu saja,sih. Oh ya,hati ini kamu tidak diantar Andrew dan temannya yah? Aku sepertinya tidak melihat kamu tadi diantar mereka masalahnya!" tanya Tania.


" Uh! Kamu mengingatkan aku saja dengan kekesalan aku,saja!" ujar Vivianne kembali.


"Kesal kenapa?" 


" Iya,aku tuh, kesal sama Andrew! Dia janji mau antarkan aku kesini. Tapi aku tunggu-tunggu tidak ada kabar! Malah, ponselnya tidak aktif setelah aku coba hubungi berkali-kali! Akhirnya aku jalan sendiri deh! Dan terlambat! Kan kamu tahu! Aku sempat diomelin pak Bos,tadi! Kamu sedang ngeledek atau bertanya sih?" kesal Vivianne kembali mengingat kejadian malam tadi ketika dia akan berangkat bekerja. Andrew memang berjanji mengantarnya namun setelah ditunggu satu jam, Andrew tidak muncul batang hidungnya. Vivianne mencoba menghubunginya sampai lelah tapi tetap tidak ada jawaban. Hingga memutuskan berangkat sendiri tanpa menunggu Andrew.


Deg!


Dada Tania berdetak lebih kencang! "Berarti benar yang dia lihat itu adalah Andrew! Tapi mengapa dia masuk hotel dengan gadis lain? Apakah Vivi tahu,siapa gadis itu? Terlebih keduanya terlihat mabuk dan Andrew berantakan! Dan..dan gadis itu juga berpakaian sangat ****! Dan untuk apa mereka disini jika tidak ingin…"


" Wey! Kok melamun lagi, sih? Kamu kenapa sih sejak tadi melamun terus? Kamu lagi ada masalah,ya Tan? Coba cerita sama aku!" tanya Tania.


" Astagfirullah,Vi! Ngagetin aja deh! Hmm…iya ada sedikit sih…tapi nggak penting kok! Eh, tiba-tiba aku mules nih! Aku kebelakang dulu yah? Sebelum kita pulang! Nanti kalau aku mulesnya di jalanan, kan, bahaya! Ya nggak?" ujar Tania mengalihkan pembicaraan dan buru-buru beranjak dengan sedikit berlari.


" Gih,sana! Nanti keburu keluar disini,lagi! Bau tau! Bikin polisi udara saja! Hahaha…" ujar Tania tertawa.


" Huh! Nggak ada yah! Memangnya aku anak kecil apa? Buang hajat sembarangan!"cemberut Tania sambil beranjak pergi menuju toilet.


" Hahaha…" Vivianne makin tertawa senang.


Tania yang sudah hampir sampai di toilet berbalik menatap sedih kearah Vivianne, " Semoga kamu akan terus bisa tertawa seperti ini,Vi! Walau apapun yang akan terjadi! Ya Allah, tolong Vivianne! Dia anak baik!"


Sebelum akhirnya masuk dan menghilang di dalam toilet.


*****