Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 16 Pertemuan Yang Tak Sengaja!



Andrew merasa menyesal karena emosi, dia tanpa sengaja membuat ponsel Alex hancur berantakan. Alex terlihat sangat sedih. Andrew menarik napas panjang dan menghembuskannya.


Ditatapnya temannya yang hampir menangis itu, "Sorry, Lex. Nggak sengaja gue tadi, beneran, deh!"


" Lo nggak tau saja sih, Drew! Ini hape kesayangan gue! Ini kado tau, dari nyokap-bokap gue! Baru juga dikirim 6 bulan lalu! Hadiah ulang tahun gue. Dia sudah menemani gue melalui suka-duka, tau nggak,lo? Masa harus hancur? Lo tega bener!" sambil terisak-isak kali ini. Dan menatap ponselnya yang hancur di tangannya kali ini.


"Ya sudah, jangan pake menangis, kenapa? Nanti gue ganti! Lo boleh pilih deh, ponsel apapun! Jijik gue lihat lo nangis,tau!" ujar Andrew sambil menatapnya dengan perasaan sedikit bersalah dan jijik di waktu bersamaan.


" YES! Apel digigit Pro Max 14, yah! Bilang kek, dari tadi! Bikin gue capek aja, nangis kayak gini,tau!" Alex tiba-tiba kegirangan dan menghapus bulir air mata yang mulai turun di pipinya. Dan memunculkan wajah bahagianya.


Andrew melotot dan emosi karena merasa dipermainkan sekarang," Suek,lo! Lo sengaja malak gue, yah?" Andrew melempar bantalnya kearah Alex. Alex menghindarinya. Sehingga hanya mengenai ruangan hampa dan terjatuh dilantai tepat dibelakang Alex.


" Hahaha…Sorry, bro! Kapan lagi coba, bisa malak lo, kayak begini? Ibarat kata nih, pucuk dicinta Andrew pun tiba! Gue sudah mulai berpikir tadinya mau ganti ini hape sama yang terbaru. Eh, nggak taunya Lo datang! Alhamdulillah deh, ga ter-kuras tabungan gue! Terima kasih banyak, loh, bro!" ujar Alex kembali.


Andrew makin kesal mendengarnya, " Jadi lo tadi, bohongin gue? Pake bilang menemani lo suka-duka,heh?"


Alex nyengir sambil mengangguk, " Hehehe, kalau nggak gitu, mana dapet hape terbaru?"


Andrew membuang wajahnya dengan kesal.


" Hahaha…muka Lo kenapa? Lihatlah! Lo beneran lucu, tau! Udah kayak anak perawan yang lagi ngambek saja!" ejek Alex.


Andrew menatapnya kembali dengan emosi namun bukannya takut membuat Alex makin tertawa keras.


" Hahaha…." 


" Kecilkan suara,Lo! Nanti Vivi, bangun! Kasihan..." belum selesai Andrew menuntaskan kalimatnya, dia merasakan pergerakan Vivianne. Vivianne mulai mencoba menegakkan tubuhnya sambil mengucek matanya perlahan. Dan reflek Andrew memberi kode ke Andrew untuk diam.


Vivi sedikit menguap sambil menatap kaget ternyata Andrew telah sadar.


" Morning! Maaf yah,pasti lo terbangun karena mendengar suara jelek Alex! Sudah, kamu tidur lagi saja, ini masih terlalu pagi! Lo pasti lelah!" ujar Andrew tak enak hati dan menatap kesal kearah Alex. Sementara Alex hanya mencibirnya melihat tingkah lembut Andrew.


Vivianne menggelengkan kepalanya dan malah bertanya, "Kakak sudah sadar? Apakah kakak baik-baik saja?" Vivianne menatap kuatir sambil menggigit bibirnya karena melihat keadaan tubuh Andrew dengan nyeri. Andrew harus terpaksa menggunakan gips kali ini.


" Alhamdulillah, sehat! Seperti yang kamu lihat! Aku nggak kenapa-kenapa! Yah, paling cuma kaki saja yang terpaksa harus di gips! Dan beberapa hari kedepan terpaksa harus pakai kursi roda atau kruk. Biasalah," ujar Andrew santai.


Vivianne malah menatapnya dengan tatapan sedih dan matanya mulai berkaca-kaca. Melihat hal ini membuat hati Andrew menghangat. "Sebegitu kuatirnya dia, terhadapku?Baru kali ini ada orang lain yang sangat perhatian terhadapku selain kedua temanku! Padahal kami baru kenal!Why?" 


" Hmm, Lex! Bisa tolong beliin gue sarapan sama buat Vivi sekalian, nggak?" Andrew berujar tanpa menatap Alex. Pandangannya tak lepas dari wajah Vivianne yang juga menatapnya kali ini.


" Kenapa harus gue, sih? Lagian kan, sebentar lagi Lo juga dapet tuh, sarapan dari rumah sakit! Malas tau gue, masih subuh nih, masa harus jalan ke depan!" Alex malah mulai duduk di sofa di ruangan tersebut yang terbilang mewah karena Alex meminta ruangan khusus VVIP, dia tahu Andrew pasti tak terbiasa berada diruangan yang berbarengan dengan orang asing, dan yang pastinya papanya akan marah jika tahu sang anak diberikan hanya ruangan biasa saja.Tidak masalah meski harganya selangit yang penting nyaman buat Andrew bagi papahnya.


Andre menoleh dengan mata yang berapi-api ke arah Alex. Alex yang semula duduk santai melihatnya langsung berdiri.


" OK! OK! But, don't look at me with that face! Iya, gue jalan, sekarang!" Alex pun beranjak dari sofa dan berjalan keluar kamar tersebut di eratkan jaketnya karena pasti saat ini diluar sana dingin, saat ini baru menunjukkan pukul 04.15 pagi! " Heran gue! Sama itu anak! Pasti ada maunya! Nggak tau apa, ini Rumah Sakit? Dia yang enak, gue yang apes! Nasib Lo, Lex! Sudah jomblo, disuruh-suruh pula!" makinya dalam hati.


Sementara Andrew menatap Vivianne kembali setelah melihat Alex pergi meninggalkan ruangan tersebut.


" Lo, kenapa? Kan udah gue bilang, gue nggak kenapa-kenapa!" Alex hanya menepuk lengan Vivianne dengan lembut.


Vivianne menatap Andrew dengan perasaan hancur sambil menatap tubuh Andrew dari kepala hingga ujung kaki, meski wajahnya tidak terlalu banyak luka hanya lecet-lecet saja tapi lengan dan kakinya terutama kakinya cukup parah! Untung saja hanya sebelah kakinya yang terpaksa di gips yaitu di sebelah kanan.


Andrew mencoba tersenyum sambil merentangkan tangan yang tidak diinfus, untuk meyakinkan bahwa kondisinya jauh lebih baik sekarang.


Tanpa terduga Vivianne malah menabrakkan dirinya ke dada Andrew sambil memeluknya dan mulai terisak. " Kakak! Buat aku takut,tau nggak? A-aku pikir, Aku nggak akan ketemu kakak lagi! A-aku pikir, kakak nggak akan selamat! Tolong jangan lakukan seperti ini lagi! Aku sakit,tau nggak sih! Melihat kakak kemarin berlumuran darah dan tak sadarkan diri!  A-aku…..aku…" Vivianne bahkan mulai menangis dan air matanya membasahi pakaian Andrew saat ini.


Andrew yang mendengarnya menjadi makin bersalah, dia tak tahu Vivianne ternyata sangat kuatir dan setulus ini. Dia mencoba menenangkan dengan tangan kanannya mengelus perlahan rambut dan punggung Vivianne. Memberikan kehangatan dan ketenangan yang dibutuhkan gadis itu.


" Sudah, sudah. Kan buktinya aku tidak kenapa-kenapa, kan? Aku baik-baik saja! Lagian kenapa kamu jadi yang kuatir, sih? Kenapa coba? Kan kamu nggak peduli sama aku? Benar, kan? Hem?" ujar Andrew. Entah kenapa dia mulai ber aku dan kamu dengan Vivianne padahal tadi masih Lo dan gue.


Vivianne mendongak dan wajah mereka sangat dekat saat ini mata mereka bertemu, " Siapa bilang?" ujar Vivianne sambil menegakkan tubuhnya kembali. " Maaf! Apa kakak sakit?" sambil menatap tubuh Andrew yang tak sadar di tabrak dan peluk tadi.


Andrew menggelengkan kepalanya, sambil tertawa kecil, " Jangan menghindar dari pertanyaan aku! Kenapa kamu sedih? Terus, maksudnya 'Siapa Bilang', apa?" 


Vivianne gelagapan kini ditatap dengan tajam oleh Andrew diapun mengalihkan pandangannya dengan menunduk. " Maksud kakak apa sih? Aku tidak paham!" 


" Vi,Vi.Come on! Kamu cukup pintar, sangat malah!Jadi kamu pasti tahu maksud pertanyaan aku tadi. So, kenapa kamu bela-belain ngejar aku sampai ngancam Alex, kemudian kamu juga jagain aku dari semalaman sampai pagi ini, hm?" Andrew menatap Vivianne dan mengangkat dagunya agar mereka bisa saling menatap.


Vivianne hendak membuang wajahnya karena malu tapi kemudian dialihkan kembali oleh Andrew dan agar tetap menatapnya.


" Tidak ada alasan apa-apa ,sih.Karena kakak sudah baik sama aku! A-aku berhutang budi sama kakak, bahkan aku belum sempat membalasnya! Karena kakak susah sekali ditemui! Jadi jalan satu-satunya hanyalah dengan ini! Dengan meminta bantuan kakak Alex!" ujar Vivianne berbohong, dia tak mau Andrew mengetahui perasaannya. Bahwa saat ini dia sudah menaruh hati kepada Andrew, dan dia baru menyadarinya ketika Andrew terluka. Dia merasa sesaat jantungnya berhenti berdetak melihat Andrew terluka.


Andrew mengangguk sedikit kecewa, kemudian melepaskan genggaman di dagu dan wajah Vivianne sambil kembali merebahkan dirinya dan kemudian mencoba berbaring dan membuang matanya kemudian memejamkan mata sambil berujar. " Baiklah, jika demikian. Terserah padamu. Mungkin aku yang terlalu banyak berharap. Bisa kamu tutup pintunya ketika pergi? Aku mau beristirahat, seperti kamu bilang, aku masih sakit!" Andrew menekankan kata sakit didalamnya.


" Kak, tapi…" ujar Vivi yang kini mulai kebingungan. Dia menyesal sekarang. Menyesali bahwa dia tidak bisa berkata jujur kepada Andrew dan hal ini membuat Andrew kecewa.


Vivianne hanya bisa mematung. Menatap Andrew. 


Akhirnya dia mencoba berjalan perlahan ke arah pintu, namun di pertengahan jalan dia mencoba berbalik, namun tak ada pergerakan dari tubuh Andrew. Akhirnya dengan menghembuskan nafas dan menahan tangisan Vivianne keluar dari kamar rawat inap tersebut.


Vivianne berlari sambil menghempaskan pintu cukup keras.


BRAK!


Andrew membuka matanya dan menatap langit langit kamar Rumah Sakit tersebut. " Sepertinya dia memang tidak menyukaiku! Ah, seandainya kamu tahu Vi! Aku tadi sangat senang karena kamu kuatir terhadapku dan bukan hanya kuatir terhadap Bryan! Bahkan kamu rela meninggalkan Bryan yang juga sakit demi menemaniku! Kali ini mungkin kamu beruntung, Bry! Kamu selalu mendapatkan kebahagiaan dibandingkan dengan diriku! Keluarga yang lengkap dan hangat,pintar,tampan dan sekarang Vivianne! Kamu benar, Bry! Vivianne terlalu berharga! Dia berbeda! Mungkin aku harus sudah menyerah! Tapi entah kenapa hati ini jadi sakit? Sangat sakit!" gumamnya. Dan kembali mencoba memejamkan matanya.


***


Sementara itu Vivianne yang sedih, dia berlari-an ke arah keluar rumah sakit. "Dia sakit! Ternyata membohongi Andrew sesakit ini!" Tapi tak ada yang bisa dilakukannya, nasi sudah menjadi bubur.


Vivianne bukanlah gadis yang suka berbohong atau sulit sebenarnya, hanya saja di usianya yang sudah 19 tahun tidak pernah memiliki pengalaman berinteraksi sedekat ini dengan seorang pria. Waktunya habis digunakan untuk belajar dan belajar. Vivianne tak tahu harus bagaimana mengungkapkan perasaannya tanpa harus merasa malu. 


Untuk gadis sesederhana Vivi dia harus menahannya, karena kehidupan keras mengajarkannya untuk menahan keinginan jika keinginan itu sulit bahkan terlalu jauh untuk digapai. Seperti perasaannya terhadap Andrew. Dia sadar, Andrew dan dirinya berbeda. Sangat berbeda dari sisi apapun!


Vivianne terus berlari tanpa memperdulikan apapun bahkan air matanya terus mengalir tanpa permisi mulai mengaburkan pandangannya, tapi dia tidak peduli.


Tanpa sengaja, dia menabrak seorang pria berbadan kokoh dengan raut wajah tampan mirip orang bule dengan kacamata hitam yang bertengger di matanya dan jas yang disampirkan di lengannya. 


Vivianne mendongak, dan saat hendak menjauh kakinya terpeleset sehingga membuatnya sedikit oleng kebelakang, dengan sigap pria yang Vivianne taksir cukup dewasa namun masih terlihat segar dan tampan itu, menangkapnya.


" Hey! Hati-hati! Nona!"ujarnya dengan suara sedikit berat.


Vivianne menutup matanya dan berteriak tapi dia tak merasakan apa-apa.


" Loh, kok! Aku tidak merasakan apapun, yah? Apa aku sudah di surga saat ini? Tapi kok …" Vivianne hanya menatap tangan dan sekelilingnya dan merasakan empuk di punggungnya.


" Tentu belum, nona! Tapi mungkin saya yang akan ke surga duluan jika nona tidak segera bangun dari tubuh saya!" Seseorang dibelakang Vivianne berujar.


Ternyata Pria tersebut berusaha menangkap tubuh Vivianne namun terlambat, jadi dia mencoba membalik dan menjatuhkan dirinya di bawah Vivianne.


Vivianne bangkit dan melihat ke belakang pria itu menatapnya dan kacamatanya terlepas dia sangat tampan ternyata. Meski usianya pasti diatas Vivianne jauh namun tidak terlihat. 


" Loh, tuan? Ma-maaf! Saya tidak tahu!" Vivianne buru-buru bangkit.


Seorang pria lainnya berlari, " Tuan? Tuan tidak kenapa-kenapa kan? Maaf tadi saya ke toilet dan meninggalkan Tuan sebentar!" ujarnya sambil memberikan tangannya menolong atasannya itu.


" Kamu! Kamu kenapa tidak berhati-hati, sih?Kamu tahu siapa Tuan ini? Hah?" tiba-tiba pria yang baru muncul memaki Vivianne. 


Vivianne yang dimaki hanya menunduk,"Maaf!" ujarnya pelan.


" Maaf,maaf! Kamu tahu tidak…kalau .." ucapan pria tersebut terputus.


" Richard, I'm Ok! This is not her fault!" ujar pria yang menolong Vivianne.


" Saya minta maaf,Tuan. Saya tak sengaja." Vivianne menunduk dan kemudian menatap mata pria yang menolongnya. 


Sejenak pria tersebut tertegun, menatap kaku Vivianne, " Shanice?" lirihnya.


" Hah? Maaf Tuan?" Vivianne yang mendengar sesuatu malah dibuat bingung.


" Oh, tidak kenapa-kenapa! Saya pikir..kamu…tidak penting!" ujarnya.


" Sekali lagi saya minta maaf,Tuan. Dan terima kasih. Saya permisi!" ujar Vivianne buru-buru hendak meninggalkan pria tersebut.


" Hey! Tunggu! Nama kamu …" ujarnya memanggil namun Vivi hanya menoleh dan tersenyum sambil mengangguk tanpa menjawab dan berlari kembali.


 "Kenapa wajahnya mirip Shanice? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi senyum itu..kenapa aku jadi bergetar?" ujarnya dalam hati kembali.


" Tuan? Tuan? Mari kita ke kamar Tuan Muda!" ujar seseorang di sebelahnya pria tambun berkaca mata itu.


" Oh, iya, mari. Saya hampir lupa! Maaf!" ujarnya kembali mengambil jasnya. Dan kembali memakai kacamatanya. 


Pria tersebut berjalan dengan gagahnya menuju ruangan tempat anaknya dirawat namun terhenti, ketika dia mendengar dari kejauhan seseorang memanggilnya.


" Om! Om Damian!" Seseorang menenteng bungkusan berlari ke arahnya. Dan pria berkacamata tersebut tersenyum.


" Hi!" jawabnya ramah.


****