
Vivianne menatap Damian, menutup mulutnya. Menatap ke semua orang yang ada disana, Maya, Anaknya Avan dan Bunda. Bunda tersenyum lembut sambil mengangguk.
Vivianne menyadari satu hal semua orang yang disayanginya ada disini, menatap penuh harap dan bahagia. Sanggupkah aku mengecewakan mereka? Tidak! Dia tidak sanggup.
Vivianne mencoba menutup matanya, dia mencoba mengingat segala hal yang pernah dilakukan Damian untuknya. Damian pernah menolongnya membawanya kerumah sakit ketika dia tertusuk, meskipun itu merupakan bagian dari balas budinya mungkin terhadap Vivianne karena menyelamatkan dompet pria itu. Tapi Vivianne tetap tidak sepadan dengan apa yang diperbuatnya dan perhatian yang diterimanya. Damian mencarinya, bagai kesetanan. Dia bahkan membuat iklan dan berita dimana-mana, ini diketahui setelah melihat wajahnya di sebuah berita. Dia sampai harus bersembunyi karena dipikirnya Damian menagih biaya rumah sakit, karena dia pergi begitu saja tanpa bilang. Padahal kenyataannya tidak, Damian mengkhawatirkan kondisinya. Paling tidak ini yang diceritakan asisten pria yang tampak dingin di luar itu.
Kemudian setelah kabur dia kembali ke emperan toko hingga bertemu dengan Mbak penjaga warung yang baik hati yang memberinya tumpangan di kamar kostnya,dan bahkan memberikan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di sebuah apartemen, apartemen yang kemudian Vivianne tahu itu kepunyaan Damian. Tidak hanya Vivianne yang terkejut, tapi Damian juga. Apartemen itu jarang dikunjungi dan kepala pembersih yang mempekerjakannya juga tidak memberitahukan siapa nama pemiliknya. Hingga Vivianne menemukan kenyataan itu sendiri.
Damian yang hari itu merasa lelah karena harus bekerja tanpa seorang sekretaris saat itu sekretarisnya menikah dan mengundurkan diri, sehingga tiap hari Damian harus terpaksa lembur. Tapi tidak hari itu, dia terlalu lelah untuk sekedar lembur atau pulang ke rumahnya, akhirnya dia dia memutuskan kembali pulang ke apartemen karena lebih dekat dengan kantornya.
Diapartemen itulah mereka bertemu kembali hingga Damian. Vivianne masih mengingatnya ketika itu dia sendirian di apartemen yang hampir tiap hari kosong, tugasnya membersihkannya.
Sore itu ketika dia asik bersih-bersih sambil mendengarkan sebuah lagu demi membuang rasa bosannya.
" Cekrek!" suara pintu terbuka.
Vivianne yang sedang asik mendengarkan sebuah lagu di headsetnya tidak mendengar sama sekali jika saat ini sang pemilik apartemen sudah kembali lebih cepat dari dugaannya.
Vivianne terus bekerja sambil bergoyang-goyang. Sedangkan Damian hanya bisa melongo melihatnya, dan tersenyum simpul. Baru kali ini dia bisa tersenyum rasa lelahnya sedikit menghilang.
Hingga akhirnya Vivianne menari dengan berputar,
" Baby,I don't care if you got her in your heart,
All I care is you wake in my arms..
One last time I need to be the one who takes you home…
One more time
I promise after that, I'll let you go .." teriakan. Mengiringi sebuah lagu dari Ariana Grande ' One Last Time'.
Dan tersadar ketika dia menghadap kaca ketika dia berbalik tadi, " Whuaa….Siapa Kamu?"
Damian tertawa, " Seharusnya saya yang bertanya siapa kamu bukan? Hmm…tapi sayangnya bukan kamu yang membawa pulang ke rumah tapi malah saya yang mendapati kamu dirumah, saya bukan? Dan sayang juga yah, kalau saya dilepaskan begitu saja..bukan?" sindir Damian mendengarkan lagu yang didendangkan Vivianne.
Vivianne berbalik ke arah pria yang sedang menyilangkan kedua tangannya itu. " E-eh?" lirih Vivianne sambil menunduk.
" Siapa kamu? Apakah kamu pekerja baru yang dibilang Pak Lie?" tanya Damian dengan Vivianne yang masih menunduk.
" I-iya, Tuan." tuturnya grogi dan malu diwaktu yang bersamaan.
" Tatap mata saya ketika kamu berbicara!" ketus Damian kesal karena seperti direndahkan karena Vivianne terus menunduk.
Dengan perlahan Vivianne mendongakkan pandangannya dari kaki pria tersebut dengan pantofel mahalnya dan kemudian kaki jenjangnya pria itu kemudian badannya yang sepertinya atletis, dan semakin mendongak ke arah wajah pria yang cukup tinggi itu yang membuat Vivianne sedikit berusaha menatapnya.
" Loh, Anne?!"
Keduanya saling terkejut, itulah pertemuan tidak terduga mereka setelah beberapa bulan hampir dua bulan tidak bertemu. Setelah Damian mencoba mencarinya tapi dia malah datang sendiri ke rumahnya.
Mereka menertawakan nasib mereka yang selalu bertemu tanpa sengaja itu. Hingga akhirnya mereka berbicara secara santai, Damian pun menanyakan kenapa Vivianne pergi waktu itu dan tertawa ketika mendengarkan bahwa sedemikian takutnya Vivianne ditagih, biaya rumah sakitnya.
Hingga akhirnya Vivianne bercerita dia memang butuh pekerjaan untuk menopang hidupnya, karena dia tidak melanjutkan kuliahnya, meski dia mampu. Tapi dengan kondisi saat ini dia memilih bekerja.
Hingga akhirnya Damian menawarkan beasiswa untuk dirinya melanjutkan kuliah. Dengan catatan bekerja di perusahaan sebagai asistennya atau sekretarisnya, karena dia memang sedang mencari seorang sekretaris. Dan Vivianne menyetujuinya. Tahun pertama bekerja dan kuliah, Damian sudah memperlihatkan kekagumannya terhadap Vivianne. Hingga akhirnya mengejarnya menurutnya waktu itu Vivianne itu pintar dan cantik.
Dan tidak hanya itu Vivianne juga bisa selalu membuat Damian tenang, apapun kondisinya. Hingga akhirnya Vivianne menyerah dan mencoba menjalani hubungan mereka lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Akhirnya mereka memutuskan menjadi sepasang kekasih. Karena kegigihan Damian mendekatinya, dan Vivianne merasa hutang budi padanya saat itu.
Vivianne tapi tidak merasa menyesal pada akhirnya. Keputusan menerima Damian adalah keputusan terbaik saat itu. Di sisi Damian dia merasa nyaman, meski belum ada rasa cinta saat itu. Tapi Damian selalu ada disisinya membuat dia merasa perempuan yang sangat beruntung.
Dan sekarang setelah mereka saling mengenal selama tiga tahun, dan menjalin hubungan serius dua tahun, ternyata tidak cukup untuk Damian. Damian sepertinya menginginkan Vivianne ada di kehidupannya. " Sanggupkah aku melangkah meski aku tidak yakin akan rasa cinta itu?"
Vivianne membuka matanya dan yang terlihat adalah senyuman teduh dan kebahagiaan sang Bunda. Dan anaknya Avan yang bahagia. Damian sepertinya telah merebut hati mereka, dengan pribadinya yang rendah hati.
Maka setelah mengingat semuanya, perlakuan Damian kepadanya, keluarganya, akhirnya Vivianne memutuskan…
" Yes,I Will marry you!" ujar Vivianne dengan senyum.
Damian terdiam, dia tidak bisa berkata-kata.
" Mas tidak mau menyematkan cincin itu? Sebelum aku berubah pikiran,loh.." canda Vivianne.
Damian tersadar, " Ah, i-iya. Jangan dong…" buru-buru dia menyematkan cincin di jemari Vivianne.
Dan semua yang ada disana tertawa dan tersenyum melihat kegugupan Damian yang wajahnya mulai memucat karena berpikir Vivianne menolaknya.
" YES!" teriaknya.
Kemudian Damian memeluknya dan membopongnya memutar, saking bahagianya. Sementara Vivianne memukul dadanya.
" Mas! Malu! Turunin nggak! Ada Bunda ,ada Maya dan Avan juga, duh mana diliatin pelayan restaurant, Mas. Turunin nggak!"ujar Vivianne menahan malu.
" Sebentar saja,Anne! Sebentar saja…"ujar Damian tidak peduli, akhirnya Vivianne menjadi pasrah memberontak pun tiada guna.
"Yah, sebentar saja, biarkan aku merasakan kebahagiaan ini, walau hanya sebentar, sebelum….."bisikan hati Damian.
*****