Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 72 Siapa Yang Menghubunginya?



Damian masih terus larut dalam pikirannya sendiri. Dia bahkan tidak mendengarkan ketika Vivianne memanggilnya beberapa kali, dia seperti berada didunia berbeda saat ini. Tak tersentuh.


Hingga akhirnya Vivianne menarik nafas panjang dan menghembuskan secara kasar melihat tunangannya malah asik melamun. " Ada apa sebenarnya dengan Mas Damian? Kenapa dia melamun? Apakah ada masalah? Dia seperti memikirkan sesuatu yang sangat berat! Dan dia tidak pernah seperti ini sebelumnya!" pikir Vivianne.


" Mas! Mas!" kali ini Vivianne mengguncang bahu tunangannya itu.


" Eh? Kenapa? Duh kamu kenceng banget, loh teriaknya,Honey! Budek nanti kuping aku loh!" ujar Damian mengelus kupingnya.


Vivianne melengos. Membuang wajahnya kesal, " Aku tuh udah manggil kamu ketiga kali yah…Dari lembut, sampai akhirnya tinggi! Karena kamu tidak mendengarnya! Jadi, salah siapa,coba?" 


" Maaf, maaf! Memang iya ya?" tanya Damian sok polos.


" Aish! Aku tuh, sampai capek tau! Memangnya apa sih yang Mas pikirkan? Apa, karena ucapan aku yah? Maaf kalau membuat Mas tidak nyaman dengan permintaan aku. Aku hanya mencoba untuk lebih dekat dengan keluarga Mas saja,kok! Tapi kalau itu Mas rasa belum pantas…aku.." Vivianne menunduk.


Damian merasa bersalah sekarang, mungkin dia terlalu cemas. Justru malah membuat Vivianne salah paham akan sikapnya barusan. " Tidak! Aku tidak boleh begini, justru ini bagus. Andrew dan Vivianne jadi tahu batasannya. Jadi aku juga tahu apakah masih ada rasa diantara mereka?"batinnya berujar.


Damian tersenyum dan meraih jemari Vivianne, " Bukan begitu..kamu salah paham,Honey! Mas sedang berpikir mencari waktu yang pas agar kalian kapan bisa bertemu. Masalahnya Andrew juga memiliki kegiatannya sendiri. Dia di Jakarta juga memiliki banyak kegiatan. Sepertinya dia sibuk dengan bisnisnya sendiri. Coba Mas tanyakan dulu ya, ke dia? Tidak masalah kan?" 


Vivianne mendongakkan wajahnya, " Benarkah? Baiklah. Anne ikut Mas saja kalau begitu." 


Vivianne tersenyum bahagia, dan kemudian mengecup pipi Damian dengan cepat. " Terima kasih, Mas! You're the best!" 


Damian cukup terkejut, dia membelai pipinya. Ini pertama kali Vivianne berinisiatif menciumnya meski hanya di pipi. Dan dia bahagia, ini suatu hal yang bagus,bukan?


" Mas? Mas kenapa? Oh, ma-maaf, aku lancang yah?" Vivianne mulai malu. Dirinya juga tidak menyangka dia bisa seberani itu.


" Sst! Diamlah! Mas cuma kaget dan bahagia, ini pertama kalinya kamu mencium Mas tanpa diminta. Dan itu membuat Mas sangat bahagia…tapi.." ucapan Damian terputus.


Vivianne gelisah dia menatap manik Damian, " Tapi kenapa,Mas?" 


Damian hampir mau tertawa tapi dia tahan. " Tapi…kenapa cuma di pipi sih? Kenapa tidak dibibir!" 


Dan benar saja raut wajah Vivianne berubah menjadi kemerahan, menahan malu dan kesal. Reflek dia melayangkan tangannya memukul lengan Damian. " Mas,ih! Ngelunjak! Malu tahu!"


" Hahaha…Kok ngelunjak,sih,Honey? Bener dong…seharusnya.." ucapan Damian terputus ponselnya berbunyi.


" Tunggu sebentar! Mas angkat telepon dulu, sepertinya penting!" Damian langsung berubah raut wajahnya ketika melihat siapa yang menelponnya di layar ponselnya.


Damian sedikit menjauh. Kemudian di pojokan dekat tiang Mall besar tersebut dia menerima panggilan tersebut. " Katakan, bagaimana? Apa kalian berhasil menemukannya?" 


(" Maaf,Tuan. Kami nyaris menemukannya tapi…")


" Ngomong yang jelas, tapi kenapa?" hardik Damian kesal.


(" Tapi tiba-tiba seorang pemuka menyeretnya ke dalam mobil,Tuan! Jadi kami tidak berhasil meringkusnya!")


" Terus apakah kalian tidak mengikuti mobil tersebut? Mereka kemana gitu?" Damian mulai berkacak pinggang sekarang.


(" Tidak, Tuan. Kata tuan kan meringkusnya saja, tidak mengikutinya,bukan?" )


" Bodoh! Yah, kalian ikutilah! Bagaimana kalian bisa meringkusnya jika tidak mengikutinya juga? Hah?" Damian stress menghadapi anak buahnya yang satu ini.


Damian kesal dia menghembuskan nafasnya, " Kembali ke markas! Aku tunggu laporannya langsung, dan bilang sama Joni untuk datang!" 


(" Baik,Tuan. Maaf, Tuan.  Sekali lagi kami minta maaf. Joni diminta datang untuk apa ya, Tuan? Bukankah dia sedang ditugaskan mencari jejak bapak perempuan itu bukan, Tuan? Lantas kenapa disuruh datang juga ya,Tuan? Apa diminta laporannya,ya Tuan?")


Damian bertambah kesal, karena mereka malah menanyakan keputusannya dia.


" Kenapa kamu yang jadi cerewet sih? Sudah suruh saja dia datang! Mau aku suruh apa, kek! Itu urusan saya! Paham?!" 


(" I-iya..Paham Tuan. Hanya sedikit aneh saja,Tuan. Hehehe…")


Sekali lagi Damian mengeram, " Kamu mau tahu kenapa dia aku minta datang? Hah?" 


(" I-iya Tuan, kalau Tuan tidak keberatan,sih…agar kamu enak menyampaikannya ke duanya Tuan!")


Damian makin emosi sekarang, benar-benar anak buahnya itu ikut campur!


" Fine! Jadi Joni  aku suruh datang untuk memecat mu! Puas?!" Damian kesal kesabarannya setipis tissue sekarang.


Tut!


Damian memutuskannya setelah menerimanya. " Dasar! Anak buah bodoh! Mengejar seorang perempuan saja mereka tidak sanggup! Sial! Bagaimana ini?" batinnya berujar.


Damian berpikir sedikit termenung, " Sepertinya tidak ada cara lain, aku harus mempertemukan mereka secepatnya! Sebelum perempuan sundal itu mengungkapkan semuanya! Semua rencanaku hancur karena wanita tidak tahu diri itu!" 


Damian mengepalkan tangannya. Dengan tatapan nyalang ke arah kedepan. Tapi dia kaget, dia tidak menemukan Vivianne yang duduk di seberangnya itu. " Loh, kemana Vivianne? Bukankah aku meninggalkannya di sana tadi? Kenapa sekarang tidak ada?" 


Wajah Damian mulai panik dia hendak berlari, ketika saudara lembut menyapanya dari belakang. " Mas? Mas mau kemana?" 


Damian menoleh kebelakang disana Vivianne menenteng Avon yang memegang es krim di tangan satunya lagi.


Damian spontan memeluk Vivianne, " Jangan menghilang dari pandanganku,Anne! Please jangan! Aku bisa gila jika tidak menemukan kamu!" 


Vivianne yang dipeluk sedikit kaget. Dia memang sengaja tadi mengajak Avon membeli es cream. Dia melihat Damian sangat serius, itu sebabnya dia tidak berpamitan dulu, toh dia pikir hanya beli ames cream pasti tidak akan lama,bukan? Tapi dia tidak menyangka reaksi Damian yang seperti ketakutan kehilangan dirinya ini. 


" Maafkan Anne,Mas. Anne tidak pamit, tadi Avan merengek minta dibelikan es cream, jadi…" Vivianne mencoba menjelaskannya.


Damian yang sadar akan tindakannya yang berlebihan menarik pelukannya. " Jangan meminta maaf, Honey. Maaf kalau buat kamu takut. Tapi Mas lebih takut kamu kenapa-kenapa. Please lain kali bilang yah?" ujar Damian lembut.


" Baik,Mas.Hmm..Kalau begitu, apakah kita bisa pulang sekarang,Mas? Avon sepertinya mulai mengantuk, kelelahan mungkin?" ujar Vivianne lembut dan benar saja Avon mulai sering menguap sekarang.


" Boleh, dong…yuk? Tapi Mas tidak bisa mengantar sampai pintu apartemen hanya sampai bawah, tidak mengapa kan? Mas ada sedikit keperluan!" ujar Damian sambil melirik jam mahalnya itu.


Vivianne tersenyum, " Tidak masalah,Mas…" 


Damian sedikit kaku di tempatnya, senyum Vivianne menyejukkannya, dan dia tidak ingin kehilangan senyuman itu…Tidak sekarang, tidak juga nanti! Selamanya!


*****