Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 73 Kemarahan Damian!



Damian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia kali ini memang tidak menggunakan sopir seperti biasanya ketika mengajak Vivianne keluar tadi.


Dia ingin cepat sampai ke tujuannya, karena emosinya mulai tidak terkendali saat ini. Dia tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi,  padahal yang diminta hanyalah melakukan pencarian terhadap seorang wanita saja! Itupun tidak bisa dilakukan!


Akhirnya Damian telah sampai di suatu tempat dengan bangunan dengan pagar tinggi. Dia memberikan kode, dengan memberikan klakson beberapa kali. Tidak beberapa lama pintu pagar pun terbuka.


Dengan segera dia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah kokoh d Ngan pilar-pilar besar. Rumah tersebut berwarna gelap. Damian segera melangkah lebar memasuki ruangan demi ruangan. Dia meraba tembok sebelah kiri maka dengan sangat mengejutkan  lantai dibawahnya bergerak, dan tampaklah sebuah tangga ke arah bawah dari bangunan tersebut.


Damian memasuki ruangan tersebut menuruni tangga perlahan dan menyalakan lampu di lorong tersebut dan dia masuk ke sebelah kiri. Dimana disana terdapat seperti ruangan kerja yang cukup dan disana telah banyak cukup banyak orang ternyata dan Damian duduk disebuah kursi menatap mereka semua dengan kemarahan.


Dengan menatap satu persatu kearah anak buahnya, " Jelaskan! Apa yang terjadi? Kenapa wanita itu bisa kabur? Bukankah ayahnya masih di rumah sakit yang kita sediakan,bukan?" 


" Maaf,Tuan. Kami ceroboh! Saat itu terjadi kehebohan, karena alarm kebakaran berbunyi. Kami diminta meninggalkan ruangan tersebut. Dan ternyata alarm itu sebuah kebohongan tidak terjadi kebakaran apapun di tempat itu,Tuan. Dan ketika kami kembali ke ruang perawatan, dia sudah menghilang bersama pasien! Kami mencoba melihatnya di CCTV dia keluar melalui pintu samping dengan dibantu seseorang! Sayangnya kami tidak bisa melihat jelas plat nomor kendaraan tersebut!" seorang pria besar dan tinggi dengan kepala plontos menjelaskan.


" Lantas, bagaimana bisa dia ada di Jakarta?" tanya Damian kembali.


" Setelah melakukan pencarian berhari-hari, tidak membuahkan hasil kami mengecek jalan darat,laut,dan udara. Dan kami menemukan seseorang seperti dirinya! Ternyata dia pergi ke Jakarta menggunakan pesawat,Tuan! Tapi kami mengetahuinya beberapa hari kemudian. Maafkan kami,Tuan." tutu pria plontos itu kembali.


Damian tiba-tiba menggebrak meja di depannya.


" Bodoh! Kenapa kalian tidak melakukan pengecekkan diseluruh transportasi sejak awal? Dia hanya seorang wanita! Dan kalian semuanya pria! Menangkap seorang wanita saja kalian tidak sanggup! Cih! Percuma aku memiliki banyak anak buah! Jhon, awasi apartemen Andrew! Aku curiga dia akan kembali datang kesana untuk menemui Andrew! Kalau perlu sadap ponsel Andrew! Aku akan kasih tahu nomornya! Jangan sampai wanita itu menemui Andrew!" ujar Damian geram dengan kebodohan anak buah ya itu.


" Baik Tuan." ujar pria botak tadi. Ternyata dia adalah yang dipanggil Jhon.


" Satu lagi, kalian bilang di depan apartemen ada seorang yang menyeretnya ke dalam mobil? Siapa dia? Apakah seorang laki-laki? Awasi pria itu juga!" ujar Damian kembali.


" Baik,Tuan. Saya rasa Tuan mengenal pria tersebut!" ujar Jhon


" Aku? Mengenalnya? Siapa dia?" ujar Damian mengerutkan keningnya.


" Iya,Tuan. Dia juga teman anak Anda Tuan, coba Tuan lihat ini!" Damian menunjukkan sebuah ponsel dimana terdapat sebuah rekaman video.


Damian melihat dengan seksama video tersebut. Dan dia terkejut. " Alex?" 


" Benar Tuan! Alex teman dari anak Anda, Andrew!" seru Jhon.


" Cari tahu dan buntuti Alex! Apa yang dia tahu tentang wanita sialan itu! Aku tidak mau hal bodoh seperti ini terjadi kembali! Dan pecat pria bodoh yang bertugas kemarin! Seharusnya kita bisa meringkusnya atau paling tidak tahu kemana mereka pergi! Aku tidak mau tahu! Aku tidak mau semuanya rusak karena wanita itu! Perayaan pertunangan ku sebentar lagi dan aku akan mempercepatnya! Dan aku tidak ingin kalian merusaknya!" ujar Damian geram.


" Hmm…Tuan, bagaimana kalau, Tuan mengundang anak Tuan dan temannya untuk makan malam, untuk mengorek apa yang mereka ketahui tentang perempuan itu,Tuan?" seru anak buahnya.


" Kalian benar! Coba nanti aku akan bilang Andrew! Semua masalah ini membuat aku pusing! Baik Andrew ataupun Anne tidak boleh tahu mengenai hal ini! Kalian dengar? Seret wanita itu ke hadapan ku jika kalian sudah menemukannya. Ringkus dan bawa ke markas ini! Kalian paham?" ujar Damian kembali.


" Sekarang keluarlah, kalian! Keluar! Kecuali kamu Jhon, ada yang ingin aku bicarakan!" ujar Damian kembali.


Dia memijat keningnya yang mulai pusing, dia pusing memikirkan hal ini. Semuanya harus berjalan sesuai rencananya.


Tidak berapa lama ruangan tersebut yang semula penuh sesak orang kini mulai sepi hanya tinggal dia dan Jhon.


" Ada yang saya bisa bantu,Tuan?" tanya Jhon pria berkepala plontos itu.


" Duduklah Jhon!" Damian bergerak ke arah sofa yang tidak jauh dari ruangan yang berbentuk seperti ruangan kerja itu." Damian duduk dan tidak beberapa lama Jhon mengikutinya dan duduk di hadapannya.


Jhon menunggu Tuannya berbicara. Dengan menarik nafas dalam dan berat Damian berujar. " Apa yang ku minta kamu untuk menyelidiki mengenai sesuatu sudah kamu lakukan? Dan apa hasilnya?" tanya Damian kembali.


" Sudah Tuan, semuanya ada disini!" Jhon menyodorkan sebuah map coklat dan ada sebuah kertas juga disana.


" Aku akan baca nanti! Apakah benar?" ujar Damian dengan sedikit gemetar.


" Maaf, Tuan! I-itu semua benar! Beberapa tahun yang lalu nona Vivianne melahirkan seorang anak laki-laki. Diberi nama…" ujar Jhon kembali.


" AVAN!" ujar Damian dengan sedih.


" Aku tidak bodoh,Jhon! Aku bisa melihat kemiripan mereka! Dia sangat mirip dengan Andrew! Aku sudah melihatnya. Dan Vivianne sangat menyayanginya! Yang aku bingung adalah kenapa dia bisa memanggil Vivianne dengan sebutan Auntie?" tanya Damian kembali dengan menatap anak buahnya itu.


" Dia meninggalkannya kepada Ibu panti disana Tuan, dan diakui sebagai anak dari Ibu Fatma! Sedangkan Nona Vivianne pergi merantau ke Jakarta.Kisah selanjutnya Tuan pasti tahu." ujar Jhon.


" Apa kamu yakin, Jhon? Itu anak Andrew? Meskipun aku tahu ada kemiripan di antara mereka! Bisa saja kan, itu bukan anak Andrew?" tanya Damian semakin gelisah.


" Tidak, Tuan. Nona Vivianne tidak pernah dekat dengan pria selain Tuan Muda Andrew dan Tuan! Nona Vivianne gadis baik-baik Tuan, dia tidak seperti gadis lainnya! Hidupnya juga hanya belajar, dan kuliah ! Hingga…kembali ke panti pun dia tidak pernah pergi kemana-mana,Tuan! Tapi jika Tuan ragu, kita bisa melakukan tes DNA,Tuan!" ujar Jhon sambil menatap ria yang menjadi Bosnya sejak lama itu 


" Yah, aku tahu itu! Hanya saja, entahlah! Semuanya semakin rumit karena ada Avan diantara mereka! Apa yang harus aku lakukan Jhon? Vivianne terus bertanya tentang Andrew! Aku belum siap memperkenalkan mereka berdua! Aku takut!" ujar Damian kembali.


" Sepertinya Tuan sangat mencintai Nona Vivianne. Hingga Tuan melakukan banyak hal agar Nona Vivianne bahagia dan berada disisi Tuan."ujar anak buahnya itu.


" Itu, benar! Aku sudah sejauh ini. Tidak mungkin aku mundur! Akupun tidak rela! Tapi aku tidak tahu dengan Vivianne, dia…entahlah! Aku merasa dia hanya menjaga perasaanku! Tidak benar-benar mencintaiku! Kalau dia mencintaiku, tidak mungkin dia tidak menceritakan tentang Avan,bukan? Tapi kenyataannya dia tidak pernah menyinggungnya sekalipun dihadapanku!"  ujar Damian terlihat sedih.


Dia tahu, meski Vivianne baik tapi dia bisa melihat Dimata Vivianne bukanlah cinta, hanya seperti rasa hormat? Dan dia benci diperlakukan seperti itu.


" Bagaimana kalau Tuan mengeceknya, Tuan?" ujar Jhon kembali.


" Mengeceknya bagaimana maksudmu?" Damian mencondongkan tubuhnya kedepan.


" Maksud saya, biarkan mereka bertemu Tuan! Dari sana tuan bisa lihat sendiri apakah mereka masih saling menyukai ataukah Nona Vivianne masih membencinya!" ujar Jhon.


" Aku sempat berpikiran seperti itu,Jhon, tapi….bagaimana kalau ternyata mereka saling menyukai? Apa yang harus aku lakukan?"ujar Damian makin pusing.


" Menyukai bukan berarti harus kembali bersama,kan Tuan? Terlebih sepertinya Nona Vivianne sangat sakit hati dengan perilaku Tuan Muda Andrew waktu dulu. Paling tidak Tuan tahu tindakan apa yang harus Tuan ambil selanjutnya. Lanjut atau harus melepaskan Nona Vivianne." ujar Jhon kembali.


" Melepaskan Vivianne? Tidak! Aku tidak sanggup kehilangan dia, Jhon! Terlebih setelah dia menerima lamaranku! Cari cara lainnya!" ujar Damian menggelengkan kepalanya.


" Kalau begitu, percepat pernikahan Tuan! Hanya itu caranya,Tuan!" ujar Jhon kembali.


Damian terdiam, kemudian mengangguk. " Kamu benar! Mungkin aku harus mempercepatnya! Aku akan bicarakan ini dengan Vivianne! Thanks Jhon, kamu selalu berada disisi aku sejak awal hingga saat ini. Thanks!" Damain menepuk bahu anak buahnya itu.


" Sama-sama Tuan! Tuan juga telah banyak membantu saya dan keluarga saya! Dan saya sangat berterima kasih karenanya! Kalau bukan karena Tuan, saya pasti sudah menjadi gembel di jalanan Tuan! Bahkan Tuan membantu biaya perawatan ayah saya!" ujar Jhon menahan haru.


" Sudah! Jangan dipikirkan kembali! Bagaimana kabar mereka,sekarang? Apakah mereka sehat? Ajaklah mereka ke Jakarta sekali-sekali, agar mereka senang!" ujar Damian mengingat kedua orang tua anak buahnya itu.


" Sehat Tuan. Iya Tuan. Tapi ayah saya sudah sangat tua Tuan. Dia tidak mau diajak ke Jakarta,Tuan. Pusing karena katanya jakarta padat Tuan! Hehehe…maklumlah orang kampung Tuan. Mereka lebih suka tinggal di kampung, dan berkat Tuan juga rumah kami jauh lebih baik sekarang!" ujar Jhon kembali.


"Oh, begitu. Syukur Alhamdulillah kalau mereka suka! Jhon bisa kamu antarkan aku pulang kerumah,Jhon? Atau suruh orang untuk mengantarkan aku pulang! Aku lelah sekali kalau harus menyetir di malam hari!" Damian berdiri.


" Baik,Tuan! Biar saya saja yang mengantar Tuan pulang, Tuan!" 


" Baiklah…" 


" Hmm…Tuan?" panggil Jhon ragu.


" Apa Jhon? Kamu ingin bilang sesuatu?" tanya Damian yang hendak berjalan ke arah pintu keluar.


" Saya pikir, Tuan pikirkan kembali saran saya untuk mempertemukan mereka! Saya kuatir malah mereka bertemu di luar dan ini pasti tidak akan baik untuk Tuan! Maaf kalau saya lancang,Tuan!" ujar Jhon dengan sedikit sungkan.


Damian menghentikan langkahnya. " Akan aku pikirkan,Jhon…Akan aku pikirkan…Mungkin kamu benar, aku sudah tidak bisa menundanya! Terlebih Andrew di Jakarta sekarang! Kemungkinan mereka bertemu di luaran, sangat besar! Nanti akan aku cari cara mempertemukan mereka! Thanks Jhon! Kamu selalu memikirkan ku!" ujar Damian.


" Itu sudah menjadi tugas saya Tuan!" 


" Yah…thanks!" Damian pun pergi keluar diiringi oleh Jhon dibelakangnya.


*****