Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 21 Bryan Mengakui Perasaannya?



" Hey! Ngapain,lo?" ujar seorang pria yang menepuk bahu Alex.


Alex terlonjak kaget, karena sedang memikirkan sesuatu setelah menerima telepon dari Damian, papahnya Andrew.


" Sial! Lo bikin kaget gue aja, Bry! Gue pikir siapa!" ujar Alex sambil mengelus dadanya.


" Lha, memang Lo pikir siapa? Andrew? Dimana dia? Bagaimana kabarnya? Maaf yah, gue belum sempat menjenguk Andrew, masalahnya nyokap dan bokap tiba-tiba datang, dan gue dikurung di apartemen mereka hampir sebulan lebih disini! Gue juga nggak bisa ngabarin kalian! Hape gue disita mereka! Semua kegiatan gue dipantau papah dan mama, mereka juga mengantarku pulang dan pergi ke kampus! Ini baru gue bisa bernapas lega setelah mereka kembali ke Jakarta karena papah ada pekerjaan penting harus keluar negeri dan ga bisa diwakilkan dan mama juga harus ikut jadi…" ucapan Bryan terputus ketika melihat dari kejauhan Andrew dan Vivianne saling berpelukan. Tepatnya Andrew yang memeluk mesra pinggang Vivianne, sedangkan Vivianne sibuk memapah Andrew.


Bryan menatap kebingungan ke arah Alex, kemudian balik lagi ke Andrew.


" Jangan bilang kalau mereka…" ujar Bryan dengan wajah terkejutnya.


" Yap! Sudah sebulan!" bisik Alex pelan.


Wajah Bryan memucat tampak jelas kekecewaan di wajahnya. Bryan sudah berharap hari ini dia bisa bertemu dengan Vivianne karena ada sedikit rasa kangen dihatinya, tapi kenyataan pahit harus diterimanya ketika dia melihat orang yang selama ini dirindukannya malah sedang asik bermesraan dan telah menjalin kasih dengan sahabatnya sendiri. 


Hati Bryan hancur, tapi dia tahu ini resiko yang harus diterimanya. Dia tidak akan pernah bisa bersaing dengan Andrew jika sudah menyangkut seorang wanita. Meskipun baik wajah, kekayaan dia juga memilikinya, bahkan dia lebih beruntung dari sisi keluarga yang lengkap dan kepintaran. Namun semua tak bisa menyaingi pesona seorang Andrew. Dia berpikir kali ini akan berbeda, karena Vivianne bukanlah seperti gadis kebanyakan. Dia tidak silau oleh harta ataupun ketampanan dan kepopuleran. Tapi dugaannya kembali salah.


" Hi, Vi! Drew! Bagaimana kabar Lo?" Bryan berujar sekuat tenaga menahan rasa kecewa dan sakit hatinya dengan menampakkan wajah baik-baik saja.


" Hi,Bry! Yah, beginilah! Tapi gue bersyukur, Alhamdulillah! Untung saja ada Vivi, dia bagaikan perawat pribadi gue! Makanya gue cepet sembuhnya, ya tidak, sayang?" Andrew sedikit mencolek hidung Vivianne dan dia puas melihat wajah pucat Bryan karena tindakannya itu.


" Kak! Ih! Malu! Di lihatin banyak orang,ini dikampus kak!" Vivianne merasa jengah dan tidak enak hati dengan Bryan yang menatapnya dengan sedih.


" Malu sama siapa, sih? Alex? Diakan sudah terbiasa melihat kita sayang? Bryan? Apa kamu keberatan,Bryan?" ujar Andrew menatap ke Bryan.


" Ten-tentu saja tidak! Hi Vi! Kamu apa kabar?" Bryan berusaha mengalihkan perhatian dengan bertanya kepada Vivianne.


" Aku ba.." belum Vivi menyelesaikan ucapannya telah disambar kembali oleh Andrew.


" Dia baik! Bagaimana tidak baik, jika memiliki kekasih seperti aku,coba? Bukankah begitu,sayang?" Andrew kembali merangkul pinggang Vivianne dengan erat.


" Kak!" Vivianne mulai memerah wajahnya saking kesalnya.


" Kenapa, sayang?" Andrew malah semakin menjadi jadi diapun mengecup pipi Vivianne dengan tak terduga.


Tentu saja, hal ini membuat Vivi bertambah malu dan Bryan membuang wajahnya ke samping dengan terluka.


" Kenapa kamu jadi malu-malu sih, kalau di luar? Kalau di apartemen, kenapa berbeda? Oh, atau karena hanya ada aku sama kamu saja,yah?" ujar Andrew makin memanasi Bryan.


Bryan terdiam sambil mengepalkan tangannya, " Jadi mereka sudah sampai sejauh itu? Mereka tinggal bersama?" pikir Bryan.


" Hmm…kalau begitu selamat yah, buat kalian! Oh,yah aku ada kelas, aku pergi duluan yah? Bye Lex,Vi, dan Drew! Sekali lagi selamat buat kalian!" dengan manis Bryan mengucapkannya walau semua terasa menyesakkan di dadanya. Dia terlambat! Sangat terlambat.


" Bye! Belajar yang giat Bry!" sahut Andrew dan Bryan menoleh hanya tersenyum kecut.


Vivianne melepaskan rangkulan Andrew, Andrew hampir saja terjatuh jika tidak buru-buru Alex tangkap.


" Vi! What are you doing?" tanyanya sedikit emosi kepada Vivianne.


" Aku yang seharusnya bertanya! Kamu kenapa, dengan Kak Bryan? Sikap kamu kekanak-kanakan tahu tidak?" ujar Vivianne penuh emosi.


" Sikapku, yang mana? Itu agar dia tahu! Dan tidak berharap banyak sama kamu! Tahu? Karena kamu cuma milik aku! Milik aku!" ujar Andrew yang juga kembali emosi.


" But he is your friend! How could you do this to him! Kalau bukan karena dia, kita tidak akan sampai sejauh ini! Bukannya terima kasih, tapi kamu malah…Ah, sudahlah! Aku tidak bisa kembali ke apartemen, sekarang! Kak Alex! Tolong bawa dia kembali ke apartemen!" ujar Vivianne sebelum beranjak hendak pergi.


" Vi! Vi! Kamu mau kemana? Kenapa aku harus kembali hanya bersama Alex? Hey!" Andrew berusaha mengejarnya namun terjatuh dan kembali ditolong oleh Alex.


" Lepasin,gue! Kaki sialan! Kecelakaan Sialan! Bryan brengsek!" Andrew mulai memaki tidak karuan.


Alex hanya melihatnya dengan tatapan sedih.


" Lo, kenapa? Mau memakai gue juga? Bahwa sikap gue kekanak-kanakan? Heh?" tatap Andrew kearah Alex.


Alex hanya menggelengkan kepalanya, " Nop! But Yes, I agree with Vivi, You're a jerk,man!" 


Andrew menatap kesal, " Cih! Gue nggak peduli! Yang penting gue puas melihat wajah si cupu Bryan! Siapa suruh, dia naksir Vivi!" ujarnya kembali.


" Hey! Lo tahu, sikap Lo mulai aneh, Drew! Lo seperti pacar beneran yang cemburu mainannya mau diambil orang,tau nggak lo? Lo tau, Bryan itu siapa? Sahabat kecil Lo! Kalau lo lupa!" Ujar Alex juga kesal.


Andrew terdiam. Dia juga tidak mengerti dia sangat cemburu melihat tatapan Bryan terhadap Vivianne. Dan kenapa juga dia harus cemburu? Toh, Vivianne bukankah pacar mainannya dia saja? Seharusnya dia tidak se-cemburu itu terhadap Bryan! Bagaimanapun juga Bryan sahabatnya dari kecil. Mereka melalui suka duka bersama. Dibandingkan Vivi dia telah lebih dulu mengenal Bryan.


" Ya, sudah! Tolongin gue! Gue minta maaf!" ujar Andrew sedikit menyesal.


" Diam,Lo! Lo mau nolongin gue atau tidak? Banyak sekali omongan Lo!" ketus Andrew.


" Sebagai sahabat tentu gue tolongin! Meskipun Lo sudah bertingkah brengsek!" Alex menunduk dan memapah Andrew kembali ke mobil.


" Kita kembali ke apartemen, atau Lo tetep mau nunggu si Vivi?" ujar Alex ketika mereka sudah didalam mobil.


" Lo nggak denger, Vivi hilang apa,tadi? Dia nggak mau ditungguin! Balik ke apartemen!" ujar Andrew kesal karena teringat ucapan Vivianne.


" Tumben patuh sama seorang cewek! Biasanya juga nggak!" sindir Alex.


Andrew hanya terdiam, dia malas membahasnya. Dia tidak mau Alex makin curiga tentang perasaannya. Walau sebenarnya dia penasaran dan ingin menunggu Vivianne. Tapi dia akan memberikan ruang kali ini buat Vivianne dan Bryan. "Yah, hanya kali ini saja! Tidak ada lain kali,Bry! Sorry tapi Vivianne milik gue! Lo harus sadar itu!" ujarnya dalam hati.


Dan mobil pun melaju perlahan dari parkiran kampus mereka menuju ke apartemen Andrew. Dengan membawa kekesalan dan rasa cemburu di hati Andrew.


****


Sementara itu Vivianne yang pergi meninggalkan Andrew dia kembali mencari dan mengejar Bryan, dia tidak yakin bahwa Bryan memiliki kuliah hari ini. Karena biasanya kelas Andrew dan Bryan memiliki jadwal yang sama. Dan hari ini Andrew tidak ada kelas. Jadi bisa ditarik kesimpulan demikian pula dengan Bryan.


Vivianne mencari kesana kemari termasuk ke perpustakaan dan senat namun Bryan tidak ada disana. Vivianne hampir putus asa, tiba-tiba dia teringat tempat yang belum dikunjungi.


" Basket Hall!" 


Vivianne pun berlari menuju ruangan basket, dia tahu Andrew dan Bryan,serta Alex memiliki hobi yang sama selain motor, yaitu bermain basket! Dan dugaannya kali ini benar. Disebrang sana dia melihat Bryan memainkan bolanya sambil termenung dan dia sepertinya habis bermain sendirian. Keringat mengucur di dahi dan terlihat di bajunya yang basah.


" Kak, Bryan!" teriak Vivianne sambil berlari dan turun kelapangan basket.


Bryan menoleh dan kaget melihat Vivianne kearahnya dia pun menghampiri Vivianne.


Akhirnya Vivianne terengah-engah sambil sedikit menunduk memegang lututnya yang gemetaran karena lelah berlari.


" Loh, kamu ngapain kesini,Vi? Minum dulu,nih! Aku belum buka kok! Kita duduk dulu yuk?" Bryan menawarkan minuman dinginnya yang belum dia sentuh dan memapah Vivi untuk duduk dikursi disebelah kanan lapangan.


" Terima kasih,Kak!" Vivi menenggak minuman Bryan hampir setengahnya,karena dia memang lelah mencari keberadaan Bryan sejak tadi.


" Aku mencari kakak lah!"


" Loh, kenapa mencari aku? Terus Andrew dan Alex mana?" Bryan berusaha mencari keberadaan kedua sahabatnya itu.


" Mereka sudah aku suruh pergi duluan!" ujar Vivianne masih terengah-engah.


" Terus kalau mereka pergi duluan kamu ngapain disini? Nanti kamu pulangnya bagaimana? Ya, sudah biar aku antar yuk? Ke apartemen Andrew, kan?" ujar Bryan terdengar biasa-biasa saja meski sebenarnya sangat sakit.


Vivi menunduk malu, " Tidak perlu,Kak! Aku bisa pulang sendiri,kok! Hmm…aku cuma mau minta maaf,Kak! Sama kakak! Atas perlakuan Kak Andrew,tadi! Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu kepada kakak! Kakak,kan sahabatnya! Aku pun kecewa atas perlakuan Kak Andrew! Maaf,yah,Kak! Mengenai aku tinggal…"


" Sudah,Vi! Aku tidak masalah! Andrew benar! Aku yang harus sadar diri, aku harus membatasi diri aku agar tidak terlalu dekat dengan dirimu, bukan hanya karena Andrew tapi ini buat kesehatan jantung aku juga! Heheh…Mengenai kamu yang tinggal di apartemen Andrew,itu urusan kamu Vi! Aku tidak berhak mencampurinya! Cuma pesanku, berhati-hatilah dan jaga diri kamu dengan baik!" Bryan menepuk jari Vivianne dengan lembut.


" Terima Kasih, Kak! Aku akan ingat pesan kakak! Mengenai kesehatan jantung apa,yah maksudnya?" tanya Vivianne bingung.


" Kamu beneran tidak tahu,Vi? Atau pura-pura tidak tahu?" tanya Bryan penasaran.


" Maksud kakak? Yah, beneran tidak tahulah! Masa aku berbohong? Untuk apa?" tanya Vivianne.


" Bener juga yah? Tapi maksud aku kamu memang sepolos ini,yah?" tanya Bryan kembali.


" Ih, apa sih,Kak! Sebel ih! Jadi mau kasih tahu tidak?" tanya Vivianne kembali.


" Hahah…aku cuma penasaran saja, Vi! Masa kamu bisa tidak tahu kalau aku juga suka sama kamu!" ujar Bryan kemudian.


Vivianne menatapnya dengan melongo, " Ada dia bilang?tadi? Su-suka sama aku?" 


" Kenapa, kaget?" tanya Bryan kembali.


Vivianne hanya mengangguk.


" Wajar, sih! Toh, aku juga tidak pernah bilang sama kamu kan? Aku juga baru menyadarinya, tadinya…tapi ternyata aku kalah cepat sepertinya! Dan hati tidak bisa dipaksa,kan?" ujarnya dengan miris.


"Yah, hati memang tidak bisa dipaksa kemana akan berlabuh!" Itu yang Vivianne ketahui saat ini.


******