Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 51 Perhatian Kecil Damian



Vivianne terus melamun memikirkan mengenai sebuah nama, sebuah nama yang memiliki nama belakang sama.  sepertinya familiar, terasa tidak asing di pendengarannya.


Andrew Mathews. 


Sebuah nama yang ingin  ia lenyapkan dan ingin dihilangkan dari dalam pikirannya. Nama yang yang pernah menorehkan luka setahun lalu. Nama yang membuatnya sakit hati, hampir depresi dan bahkan pernah berpikir mengakhiri hidupnya. Dengan menyeretnya ditangannya, bahkan luka itu pun masih berbekas. Baik fisik dan hatinya.


Nama yang dengan kurang ajarnya menaruh benihnya di dalam rahimnya. Bayi yang sekarang terpaksa dia tinggalkan meski sakit karena harus berjuang mencari kebahagiaan buat mereka. Demi masa depan mereka.


" Apakah mereka memiliki hubungan? Atau hanya sebuah kebetulan? Ah, tidak mungkin! Mungkin hanya sebuah kebetulan, tapi bagaimana jika tidak?" Vivianne terus melamun tanpa sadar mengabaikan pertanyaan pria tampan di hadapannya.


"Hallo…Nona? Nona? Apakah Nona mendengarkan saya?" Damian berdiri di samping Vivianne dengan mengibaskan tangannya didepan wajah Vivianne. Membuat Vivianne terkejut dan kembali kepada kesadarannya.


" Hah? Eh, Ya? Maaf, Anda bilang apa,yah?" ujar Vivianne gugup sekaligus kaget.


Damian menghembuskan nafasnya, " Saya cuma bertanya apakah Nona baik-baik saja? Apa saya perlu memanggilkan Dokter untuk memeriksa, Nona?" 


" Oh, tidak perlu. Yah, saya baik-baik saja. Dan tolong jangan panggil saya dengan sebutan Nona, cukup dengan Anne saja. Nama saya Anne," seru Vivianne kembali dia juga berusaha mengatur raut wajahnya untuk sewajar mungkin. Dan menghilangkan pikiran-pikiran yang ada di kepalanya saat ini.


" Well,Ok, Anne. Kalau begitu panggil saya dengan Damian saja juga ya,bagaimana?" permohonan Damian.


" Maaf, saya tidak bisa melakukannya. Usia Anda terlihat lebih dewasa dibandingkan saya, akan tidak sopan jika saya memanggil Anda dengan sebutan nama saja." ujar Vivianne menolaknya.


Damian menaikan bahunya. " Tua maksud kamu? Hahaha…Well paling tidak jangan panggil saya dengan Anda apalagi Bapak! Terasa sangat kaku sekali. Dan saya merasa saya sangat tua! Apa memang saya setua itu,ya?" Damian seakan mencari sesuatu.


" Anda…Hmm..maksud saya, kamu mencari apa?" tanya Vivianne kebingungan. Dan ikutan mencari dengan pandangannya.


" Cermin. Saya harus cek, apa benar saya setua itu? Apa perlu saya botox atau oplas, mungkin?" tanya Damian santai sambil mendekatkan wajahnya ke Vivianne. " Disini atau disini barangkali?" sambil menunjuk ke arah matanya dan lingkar senyumnya di dekat mulutnya.


" Hah? Ka-kamu tampan dan tidak terlihat tua,kok!" ujar Vivianne melongo dan kemudian menutup mulutnya yang keceplosan memuji Damian.


" Hahaha….Benarkah, Non… maksudnya Anne? Saya tampan?" tawa Damian membahana di seluruh ruangan itu.


Vivianne malu, mukanya mulai memerah dia mengalihkan pandangannya ke samping. 


Melihat Anne yang terlihat malu Damian menghentikan tawanya dan mulai berdehem. " Saya mau mengucapkan terima kasih kepada kamu, karena gara-gara ingin menyelamatkan dompet saya, kamu sampai terluka seperti ini. Saya sangat menghargainya, walaupun tidak ada hal berharga di dalamnya kecuali..sebuah kalung dengan bandul cincin. Hanya itu yang berharga buat saya. Dan ajudan saya Agus mengetahuinya makanya dia mengejarnya. Sayangnya Agus gagal, dan untung ada kamu.Terima Kasih." ujar Damian menatap Vivianne dengan tulus.


Vivianne mengalihkan pandangannya dan menatap Damian, " Sama-sama, sepertinya benda itu berharga untuk Anda."


Damian kali ini pasrah karena dipanggil dengan sebutan Anda kembali, paling tidak ini lebih baik dari pada Bapak!


" Yah, kenangan terakhir almarhumah istri saya. Cincin perkawinan kami," raut sedih tergambar di wajahnya ketika menyebutkan atau bercerita mengenai istrinya.


" Maaf, saya tidak ada maksud mengorek masa lalu, Anda. Maaf." Vivianne merasa tidak enak hati seakan ikut campur dalam hal masalah pribadi pria di depannya itu.


" Tidak masalah itu sudah lama berlalu. Kalaupun hilang saya juga telah mengikhlaskannya. Oh, ya kamu tinggal dimana?Apakah ada keluarga kamu di Jakarta ini? Saya bisa memberitahukan keberadaan kamu kepada mereka, jika kamu berkenan memberitahukan alamat kamu kepada saya. Karena menurut Dokter, kamu masih harus dirawat di Rumah Sakit ini untuk beberapa hari kedepan." Damian menjelaskan dengan gamblang.


" Terima Kasih. Tidak perlu. Karena saya…saya tidak punya keluarga disini." Vivianne tertunduk. 


Kemudian ia teringat sesuatu, " Mengenai biaya…"


" Kamu tidak perlu memikirkannya, biar saya yang tanggung karena kamu sudah menolong saya. Terus kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Damian.


Vivianne mengerutkan keningnya dengan curiga.


" Terima Kasih, tapi sekali lagi tidak perlu." Vivianne menggelengkan kepalanya.


" Kalau saya memaksa?" tanya Damian.


" Maaf, saya tidak suka dipaksa!"  Vivianne dengan tegas.


" Hahaha…Bercanda! Baiklah, setidaknya saya sudah berusaha. Oh ya tadi ajudan saya membelikan makanan lembut untuk kamu, kamu mau memakannya?" tawar Damian.


" Hmm…" angguk Vivianne. Dia memang merasa mulai lapar.


" Baiklah, saya suapin,ya?" sambil mengambil makanan yang ditaruh diatas meja. Mengambilnya dan berjalan perlahan ke arah Vivianne. 


Gerakan dan pembawaannya sangat tenang, ia terlihat sangat bijaksana, dengan aura yang sangat kuat atau dominan dan membuat mata yang melihatnya pasti terkagum-kagum termasuk Vivianne saat ini.


" Kenapa?" tanya Damian.


" Ah, Tidak. Saya rasa, saya bisa makan sendiri. Anda tidak perlu menyuapi saya." tolak halus Vivianne.


" Kamu Yakin? Karena saya rasa meski sebelah tangan kamu diinfus, saya rasa tangan sebelah kamu juga pastilah masih lemah." Damian mencoba memberi pengertian.


" Tidak. Saya rasa saya cukup kuat. Saya yakin saya bisa makan sendiri!" tolak Vivianne berkeras.


" Ok!" Damian mundur dan menyerahkan makanan bubur tersebut kehadapan Vivianne dengan menaruh meja troli makanan di dekat dada Vivianne agar bisa cukup dekat menyentuhnya.


" Jika kamu butuh bantuan saya, saya akan berada di sofa itu!" tunjuk Damian.


" Terima Kasih!" ujar Vivianne.


Damian hanya mengangguk dan kembali duduk di sofa di ruangan yang cukup luas itu, sepertinya ruangan VVIP.


Damian duduk sambil membuka Tab nya, sepertinya dia kan bekerja. 


Vivianne sebenarnya risih, di tungguin pria terlebih dia orang yang tidak dikenal oleh Vivianne. Tapi melihat Damian yang sepertinya cuek dan malah asik bekerja sambil memakai kacamata bacanya, Vivianne akhirnya pasrah dan makan dengan tenang.


Vivianne menyelesaikan makanannya. Damian menoleh dan tersenyum, " Sudah?" 


" Sudah,Tuan. Enak sekali buburnya, terima kasih sekali lagi untuk makanannya," ujar Vivianne yang kekenyangan.


Damian menyingkirkan meja tersebut. Tapi bukannya menyingkir Damian malah kembali mendekatkan diri dan mengambil sesuatu dari meja nakas dan membersihkan sudut bibir Vivianne dengan seksama.


Vivianne tidak dapat berkata-kata karena tidak menduganya.


" Kamu kalau habis makan, dibersihkan dulu, ini berantakan. Seperti anak kecil saja."kemudian membuang tisu bekas tersebut. " Nah, sudah!" 


Vivianne dengan susah payah menelan salivanya dan membuang wajahnya ke samping. 


" Oh My God! Kenapa dia bisa dia sesantai itu sih?"


*****"