Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 52 Vivianne Kabur Dari Rumah Sakit



POV Damian


Damian melirik kearah Vivianne yang sepertinya mulai kembali tidur. Sepertinya pengaruh obat bius yang diberikan oleh Dokter setelah Vivianne makan, mulai bereaksi.


Damian tersenyum, menyingkirkan Tablet nya dan berjalan perlahan ke arah Vivianne dan mulai menaikan selimut Vivianne hingga ke lehernya.


" Tidurlah, dengan nyenyak. Aku akan menjagamu disini!" ujar Damian lembut.


Kemudian Damian kembali ke sofa di ruangan tersebut. 


Damian sangat senang bertemu kembali dengan Vivianne. Dia tidak mungkin lupa setahun lalu kurang lebih mereka pernah bertemu di Jogja tanpa sengaja dan pertemuan pertama itu sudah membuatnya menaruh perhatian terhadap Vivianne, bahkan menyukainya. Namun dia sadar Vivianne adalah kekasih anaknya. Dia mulai menghilangkan perasaannya dan pikirannya selama ini mengenai Vivianne.Tapi dia tidak benar-benar bisa melupakannya. Mereka tidak pernah bertemu setelah itu, bahkan kabarnya pun tidak diketahui oleh Damian.


Oleh karenanya ketika dia kehilangan dompet tanpa sengaja karena kecerobohannya waktu itu yang mengeluarkan dompet di sembarang tempat. Padahal waktu itu dia hanya ingin memberikan uang untuk sang sopir atau ajudannya untuk membelikan sesuatu di pasar tradisional tersebut. Karena hanya nasi pecel yang enak dengan bumbu kacang yang medok hanya ada di pasar tradisional itu dan rasanya pas di lidahnya.


Mungkin kalian heran dengan kesukaan seorang kaya raya seperti Damian suka nasi pecel, yang berisi sayuran, tahu tempe bacem, lengkap dengan mie dan jangan lupakan gorengan disiram sambal kacang sudah cukup membuat air liur Damian menetes. Dan herannya dia menemukan itu hanya di pasar tradisional yang cukup modern sih, tapi mengendarai Mercy seri terbaru tentulah cukup menarik perhatian. 


Dan kebiasaannya ini dimulai ketika sang ajudan pernah makan di depannya dengan lahap pecel tersebut dan Damian mencicipinya, hingga kini dia menyukainya. Bahkan tidak jarang meminta sang ajudan membelikannya untuknya. 


Hingga kejadian naas itu terjadi. Seseorang merampas dompetnya ketika dia membuka sedikit kaca dan mengeluarkan dompetnya, seseorang merampasnya. Dan sang supir sekaligus ajudannya, Agus mengejar pencuri tersebut dan berakhir bertemu Vivianne yang terluka karena menolong merampas kembali dompetnya.


Damian sempat terkejut bertemu Vivianne tentu saja dan senang karena dia bisa menemukan seseorang yang bisa menggetarkan hatinya setelah bertahun tahun bahkan berpuluh tahun di tinggal istrinya yang berpulang ke alam baka. 


Tapi satu hal yang membuatnya bertanya adalah, " Sedang apa dia di Jakarta? Bukankah dia di Yogya,yah? Apa karena hubungannya berakhir dengan Andrew?" 


Yah, Damian tahu dari sahabat anaknya Andrew memutuskan hubungannya dengan Vivianne tepat sebelum tak beberapa lama Andrew dikirimnya keluar negeri bersama para sahabatnya untuk menimba ilmu di Luar Negri. Dan bukan tanpa alasan karena dia melihat nilai-nilai anaknya turun setelah perpisahan dengan Vivianne.


Tapi apapun alasannya Damian senang bisa bertemu Vivianne kembali. Dan sisanya kalian pasti tahu betapa dia bagaikan orang kesetanan ketika mengetahui Vivianne terluka dan membawanya kerumah sakit. Seperti yang diceritakan ajudannya berteriak-teriak di depan rumah sakit. 


Dan sisanya? Kalian pasti tahu cerita selanjutnya.


Damian masih tersenyum dan kemudian tenggelam lagi ke dalam pekerjaannya. Dia rela melewatkan meeting dengan client nya demi menolong Vivianne dan merawatnya.


POV Damian End.


Damian yang masih asik bekerja  membalas email yang masuk merasa terganggu dengan deringan dari ponselnya tersebut. Dia mengambilnya dan mengerutkan keningnya melihat siapa yang menghubunginya.


Damian berjalan keluar perlahan agar pembicaraannya tidak mengganggu waktu istirahat Vivianne.


" Ya, Hallo. Katakan ada apa, kenapa kamu masih menghubungiku? Bukankah aku sudah bilang, batalkan semua jadwal saya untuk hari ini. Saya ada urusan penting! Apa kamu tidak mengerti yang saya bilang? Hmm?" ujar Damian dengan tegas dan kesal kepada Sekretarisnya di kantor yang menghubunginya. Padahal dia sudah bilang sebelumnya bahwa dia tidak ingin diganggu untuk hari ini.


(" Maaf,Pak! Saya mengerti tapi ini mengenai Mr.Stevan yang menghubungi kita beberapa menit lalu ingin bertemu dengan Bapak! Beliau hanya punya waktu hari ini,Pak! Makanya saya terpaksa menghubungi,Bapak! Maaf sekali lagi, Pak!" ) ujar suara di seberang sana.


Damian terkejut, " Mr Stevan dari England,maksud kamu?Dari Metro Construction?" 


("Benar,Pak! Jadi bagaimana,pak? Beliau mengajak bapak bertemu pukul 07.00 malam ini,pak!")


Damian melirik ke arah jam rolex di sebelah tangannya sekarang baru pukul 17.00 sore sepertinya masih ada waktu, " Well,ok. Kamu share lokasinya, dan tolong bilang kepadanya saya menerima ajakannya dan saya akan datang kesana"


Damian tidak mungkin melewatkan kesempatan bertemu dengan Mr.Stevan yang sudah sangat dinantikannya dan dia sudah lama menunggu jadwal Mr Stevan kosong, tapi tidak pernah berhasil. Dan kini orangnya sendiri yang datang ke Jakarta, tentulah ini kesempatan emas. Untuk membuat proposal kerjasamanya dapat disetujui oleh perusahaan Mr.Stevan.


Damian memasukkan ponselnya ke kantong celananya, dan kembali masuk kedalam dan membangunkan Agus sang supir sekaligus ajudannya itu. Dia sudah berbaikan dengan Agus dan memperkenankan Agus bersama dengan dirinya menunggui Vivianne.


" Ah, kenapa Bos?" dengan sedikit menguap.


" Saya ada keperluan sebentar nanti malam saya kembali, tapi tolong kamu jaga Nona Anne,ya? Kamu tidak usah mengantar, saya akan mengendarai mobil sendiri saja kali ini. Ingat, jaga Nona Vivianne! Kabari saya kalau ada sesuatu."ujar Damian sambil memperingatkan supir dan ajudannya itu.


" Siap,Bos! Bos tenang saja, Nona Anne Aman ditangan saya!" ujar Agus sambil menepuk dadanya meyakinkan majikannya itu.


" Yah, semoga saja. Entah kenapa kok saya tidak yakin,ya?" ujar Damian mengerutkan keningnya.


" Tidak yakin bagaimana,Bos?" ujar Agus bingung.


" Yah tidak yakin,karena kamu yang menjaganya! Hahaha…" Damian tertawa, namun dihentikannya karena ingat Vivianne masih tertidur.


" Ya ilah, Bos! Kirain apa! Tenang,Bos! Saya akan jaga, permata hati Bos dengan sekuat tenaga." ujar Agus.


Damian terbatuk, " Maksud kamu permata hati saya apa? Saya tidak…"


" Heheh…iya..iya…tidak ada hubungannya dengan Bos kan? Sudah lebih baik Bos pergi saja, nanti terlambat!" ujar Agus kembali.


" Disini yang atasannya siapa? Aku atau Dia sih? Kenapa aku merasa diusir,ya?" sindir Damian kesal.


" Ya, Bos lah..Gitu saja sensi!" ujar Agus.


" Terserah lah. Jagain Vivianne, ingat itu!" ucap Damian.


Setelah berkata demikian, Damian pergi keluar ruangan tapi sebelum pergi dia kearah Vivianne dan membelai rambutnya dan entah keinginan dari mana mengecup keningnya.


" Ehem…!" terdengar suara Agus ber deham.


Damian yang kaget atas reaksinya dia pun gugup dan membenahi jasnya menutupi kegugupannya dan melangkah tanpa menoleh kembali ke arah Agus dan membuka pintu kamar rawat inap itu dan menghempaskannya cukup keras.


BRAK!!


" Hahaha…Malu tuh!" ledek Agus sambil nyengir sendiri. " Tidur lagi…Ah…!" tak berapa lama pun Pak Agus mulai masuk kedalam mimpi.


Vivianne menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat setelah dia mendapatkan kecupan dari Damian. 


Kenyataannya adalah dia sengaja pura-pura tidur agar tidak berinteraksi terlalu lama dengan Damian. Dan dia menunggu hingga Bapak Agus benar-benar terlelap baru dia membuka matanya.


Dia menghapusnya dengan kasar, " Ih, itu orang kenapa sih! Mesum banget deh! Aku harus keluar dari sini! Aku tidak ingin dia berbuat macam-macam lebih jauh dari ini. Dan satu lagi, aku tidak mungkin membebaninya dengan biaya yang sangat besar! Nanti kalau dia menagihnya, dari mana aku dapat uang membayarnya? Yah, ini lebih baik! Suatu saat aku akan membayarnya, walau dia bilang tidak perlu, tapi aku tidak ingin berhutang Budi kepada orang lain. Tidak! Aku tidak mau!"


Dengan membulatkan tekadnya dia melepaskan jarum infus di tangannya. Dan dia meringis sebentar. Darah sedikit keluar dari tangannya ketika melepaskannya ditekannya agar tidak keluar lebih banyak.


Dia mengambil jas seperti Coat panjang yang ditinggalkan Damian sepertinya dikenakannya hingga menutupi hampir hingga betisnya, dan menarik topi di sebelah Pak Agus dan mengenakannya. 


" Maaf ,Pak Agus dan Pak Damian. Saya pinjam jas dan topinya. Saya akan kembalikan nanti. Dan terima kasih untuk bantuannya. Kalau bisa…Maafkan saya!"


Dan Vivianne pun keluar dari rumah sakit tersebut dengan mengendap-endap tanpa diketahui siapapun.


*****