
Sementara Vivi berada di kosan Tania, seseorang di seberang sana sedang gelisah. Mondar-mandir di depan kost yang sederhana. Dialah Andrew.
Andrew yang lelah menunggu selama dua jam di depan hotel namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya setelah mengusir Valery dari hadapannya meskipun semula gadis itu menolaknya, melajukan mobilnya ke suatu tempat yaitu ke kosan gadis yang telah menjadi kekasihnya selama hampir enam bulan ini.
" Sial! Kemana dia? Kenapa tidak keluar dari kamar kosannya? Apa dia bersembunyi dariku? Come on,Vi! Keluarlah!" maki Andrew. Dia tidak habis- habisnya merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya!
Tidak seharusnya dia malam itu pergi ke sebuah bar dan club hanya untuk menghilangkan kepenatan dan kegelisahannya akan masalah yang dihadapinya. Dan kemudian berakhir di sebuah hotel bersama Valery. Dia sebenarnya tidak mengingat terlalu jelas apa yang terjadi diantara mereka. Dia cuma ingat, dirinya terbangun di sebelah Valery dengan dirinya tidak mengenakan apapun. Demikian juga dengan Valery.
" Apa benar, dua melakukannya, semalam? Kenapa aku tidak mengingatnya?" dengan gelisah sambil berpikir.
Dan sialnya Vivianne menemukannya yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk menghilangkan pengaruh mabuknya itu dan menyegarkan dirinya dengan mandi.
Andrew terus mondar mandir hingga beberapa anak kos yang melihatnya meliriknya dengan penuh minat dan senyum-senyum sendiri tidak dihiraukannya. Biasanya, selama ini jika ada seseorang yang melihatnya maka dia akan memberikan senyum manisnya. Tapi kali ini tidak. Hingga seorang wanita paruh baya menjelang 40 tahun keluar dari rumah disebelah kosan tersebut.
Dia mengerutkan keningnya, sepertinya Andrew mengenalnya, "Bukankah itu Ibu Cindy? Sang pemilik kos yang pernah dikenalkannya?" pikirnya.
Dengan senyuman merekah dihampirinya wanita yang masih terlihat cantik itu.
" Maaf, dengan Ibu Cindy?" tegurnya ramah.
Ibu Cindy yang mendapat sapaan tersebut melirik kepadanya, " Ya, dengan siapa yah?" jawabnya.
" Maaf,Bu. Saya Andrew, temannya Vivianne, apakah Vivianne ada,Bu?" tanyanya kembali.
" Oh, Iya. Nak Andrew,ya? Yang kemarin dikenalkan itu kan,ya?" tanyanya sedikit ragu.
Andrew tersenyum dan mengangguk.
" Iya,Bu. Itu saya. Apa Vivienne, ada?" ulangnya kembali.
" Entahlah,sejak dari pagi tidak terlihat. Seharusnya siang ini dia ada jadwal mengajari anak saya, tapi…dia tidak ada kabar! Dan kamar kosnya pun gelap sepertinya dia belum kembali." sambil menaikan bahunya dengan sedikit murung.
Andrew menghembuskan nafasnya, " Jika dia tidak disini,lantas dia dimana?" pikirnya kembali.
Hingga suara Ibu Cindy membuyarkan lamunannya, menariknya dari pikirannya mengenai keberadaan Vivianne.
" Apa nak Andrew, tahu dia dimana? Masalahnya saya coba menghubungi ponselnya sepertinya,mati! Ibu kuatir kepadanya, takut dia kenapa-kenapa!" gelisah nya,karena memang Vivianne sudah dianggap seperti anaknya sendiri sejak temannya menitipkannya kepada dirinya dan dia merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.
" Saya juga tidak tahu,Bu. Saya juga sedang mencarinya makanya saya kesini, ponselnya memang sulit dihubungi sejak tadi." ujar Andrew bertambah gelisah.
" Terus, Vivienne dimana ya,Nak? Kok,Ibu jadi makin gelisah,ya?" Ibu Cindy kini gelisah sambil menautkan jemarinya.
"Ibu tenang,dulu,yah? Biar saya akan coba mencarinya! Siapa tahu teman-teman kampus lainnya ada yang mengetahuinya." ujar Andrew mencoba menenangkan padahal hatinya kini bertambah gelisah.
" Iya, tolong Ibu,ya Nak? Vivianne sendirian disini, dan bundanya menitipkannya kepada Ibu untuk menjaganya. Kalau seperti ini, Ibu jadi tidak enak. Ibu harus bilang apa kepada bundanya!" ujar Ibu Cindy kembali, keceplosan.
" Maaf, bundanya? Bukankah Vivianne anak yatim piatu,ya,Bu?" Andrew mengerutkan keningnya.
" Ah, ya, Itu maksudnya…bunda pantinya, Yah Vivianne pernah mengenalkan kami! Via telepon! Yah..yah..itu!" Ibu Cindy sedikit grogi karena mengetahui dirinya keceplosan memberitahukan sebuah informasi yang seharusnya tidak dia berikan. Memang Bunda Fatma mewanti-wanti kepadanya agar dia tidak memberitahukan siapapun mengenai dirinya kepada orang yang mereka baru ketahui, demikian pula dengan Vivianne. Semua dilakukan agar tidak satupun orang tahu bahwa dia berasal dari panti asuhan yang kuatirnya akan membuat Vivianne rendah diri dihadapan teman-temannya. Tapi Andrew mengetahuinya demikian juga dengan kedua temannya. Mengetahuinya, meski mereka tidak tahu Vivianne tinggal di panti asuhan mana. Untuk hal ini Vivianne selalu menutup rapat-rapat sesuai pesan sang bunda. Entah apa maksudnya, Vivianne pun tidak pernah menanyakannya.
" Oh…" hanya itu yang keluar dari mulut Andrew. " Ada dua kembali ke panti asuhannya,ya? Sepertinya tidak mungkin! Karena mereka dalam waktu dekat akan menghadapi ujian!"pikir Andrew.
" Baiklah,Bu. Jika demikian saya lanjut mencarinya ketemuan kampus kami. Boleh saya minta tolong,Bu?" tanya Andrew.
" Tolong kabari saya jika Vivianne kembali. ini nomor ponsel saya! Jam berapapun itu! Bisa,Bu?" Andrew menyerahkan sebuah kertas bertuliskan nomor ponselnya tersebut.
" Baiklah, nanti akan Ibu kabari." Ujarnya sambil mengambil kertas yang disodorkan.
" Terima Kasih,Bu. Kalau begitu saya pamit dulu,ya Bu. Assalamualaikum." Dengan sedikit mengambil jemari Ibu Cindy,Andrew pamit.
Andrew melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kemudi mobilnya, dia masuk dan menunduk di stang mobilnya dan memukulnya.
" Kemana ku harus mencari kamu,Vi? Kenapa kamu tidak ingin mendengarkan penjelasanku?" keluhnya dengan pelan.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Vivi tidak memiliki banyak teman di kampusnya, karena dia termasuk anak baru. Selain itu waktu luangnya di habisnya dengan belajar atau bekerja.
" Apa mungkin dia, disana? Yah, mungkin. Karena mereka cukup dekat! Lihat saja,kau jika benar kamu menyembunyikannya!" Andrew memaki dan kemudian menjalankan mobilnya ke tempat tujuan yang diyakini akan ada keberadaan Vivianne.
Sementara di seberang jalan tanpa diketahui oleh Andrew seseorang dari tadi membuntutinya.Fia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Hallo, saya cuma mau menginformasikan sesuatu. Semua berjalan sesuai rencana! Tunggu kabar selanjutnya! Saya tunggu kabar baiknya mengenai penawarannya yah!" ujarnya. Dan kemudian menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari seberang dan kemudian beranjak pergi kembali mengikuti buruannya.
******
Andrew melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga sampai di sebuah gedung dan memarkirkan mobilnya di pelatarannya.
Dia masuk ke dalam sebuah apartemen cukup bergengsi kurang lebih sama dengan dirinya dan dengan langkah pasti masuk ke dalam lift dan menuju unit yang hendak ditujunya.
Andrew keluar dari lift dengan tergesa-gesa menuju unit 712. Memencet tombolnya dengan gelisah dan kencang. Namun tak ada jawaban. Dia sudah cukup lama tidak kemari,dengan ragu dicobanya dimasukkan sebuah password.
Jleb!
Sukses,terbuka. Ternyata dia belum mengganti password-nya, masih sama. Senyum sinis nya, "Dasar cowok kaku, seperti dia mana mungkin mengubah password secepatnya?" pikirnya, kebiasaannya selalu mudah ditebak!
Dil langkahkan kaki nya menyusuri apartemen itu, sepi! " Dimana Dia? Apa dia tidak ada dirumah?" lirihnya.
Andrew menyusuri ruang tamu,ruang makan,dapur bahkan sebuah kamar tidak ditemukan siapapun. Andrew sudah hendak beranjak, hingga sebuah suara mengagetkannya.
" Andrew? Sedang apa,disini?" tatapnya meski dari belakang punggungnya, dia akan tetap mengenalinya.
Andrew tersenyum sinis, dan berbalik. Dengan sigap, dia melompat dan berlari ke arah asal suara.
Dengan geram di pegangnya kerah orang tersebut.
" Bilang ke gue! Dimana Lo menyembunyikan,Vivianne,Bry! Dimana dia!" teriaknya sambil dengan muka marahnya.
" Vivianne? Menyembunyikannya? Lo ngomong apaan sih, Drew? Bukannya Vivianne biasanya selalu nempel sama lo,ya? Kenapa sekarang cari ke gue! Aneh,Lo! Bukannya lo pacarnya,yah?" ketusnya.
BUGH!
Andrew memukul dengan keras dan rasa sakit yang seharusnya keluar tidak dirasakannya, meski tangannya kini mulai mengeluarkan darah.
****