
Vivianne tersenyum, menghampiri sang Bunda yang berdiri di belakangnya tadi. Vivianne menggandeng lengan sang Bunda.
" Astagfirullah, Anne kira siapa. Ternyata Bunda. Duduk Bun. Makanannya baru saja dipesan, mungkin sebentar lagi akan tiba! Bunda mau teh, barangkali?" tawar Vivianne.
" Boleh, jika kamu tidak lelah." ujar sang Bunda lembut dan kemudian duduk di kursi makan yang sudah dipersilahkan oleh Vivianne dengan menariknya.
" Tentu tidak,Bunda. Bunda kayak siapa saja. Sebentar yah, Bun." ujar Vivianne kemudian.
Vivianne ke arah dapur yang berseberangan dengan meja makan. Dapur tersebut tidak ada sekat antara meja makan dengan dapur. Meski terkesan minimalis dapur tersebut namun perlengkapan beserta perabotannya cukup lengkap dan tertata dengan rapi.
Dapur Vivianne memanjang dimana di samping sebelah kanan terdapat kompor tanam yang menyatu dengan meja berbentuk marmer itu dan di sebelah kiri kompor terdapat kulkas dua pintu yang cukup besar sedangkan di sebelah kanan terdapat mesin cuci yang mengarah ke pintu balkon tempat .
Dan di depan kompor menghadap meja makan terdapat meja dimana terdapat wastafel tempat cuci piring. Dan dibawahnya terdapat rak penyimpanan peralatan dapur dan semua tertata rapi.
Vivianne membuatkan teh untuk dirinya sendiri dan sang Bunda.
" Silahkan diminum, Bunda." disodorkannya teh kedepan tempat Bundanya duduk.
Vivianne menyesap sedikit tehnya yang masih panas, kemudian menaruhnya kembali dihadapannya.Setiap gerak-geriknya selalu diawasi sang Bunda. Vivianne merasa tidak nyaman, dan kemudian berdiri.
" Bunda mau sesuatu sebagai teman teh, mungkin? Anne masih punya biskuit sepertinya,Bunda pasti suka." Vivianne hendak beranjak tapi terdengar suara sang Bunda.
" Duduklah! Bunda mau dengar semuanya! Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Mas-mu Damian. Kalau Bunda tidak salah lihat, tidak mungkin dia teman sekampus kamu. Karena usianya sepertinya cukup matang. Cukup matang untuk bisa menjadi ayahmu,mungkin? Apa dia sudah pernah menikah,sebelumnya?" tanya sang Bunda.
Vivianne menarik nafas, tampaknya dia sudah tidak bisa menahan agar Bunda untuk tidak membicarakannya. Vivianne kembali duduk di kursinya di hadapan sang Bunda. Dia bagaikan disidang saat ini. Keringat mulai bermunculan, Vivianne berpikir " Mungkin seperti inilah yang dirasakan seseorang jika duduk di kursi pesakitan di sebuah pengadilan!" dia menduganya.
" Vi…" tanya sang Bunda.
" Baik,Bunda. Anne akan cerita. Hmm…mungkin ini akan sedikit lebih panjang dari yang Bunda kita." ujar Vivianne.
" Bunda punya banyak waktu untuk mendengarkan. Ceritakan!" ujar sang Bunda sedikit memaksa.
" Jika Bunda lelah, Bunda bisa istirahat terlebih dahulu dan kita bisa melanjutkannya mungkin, nanti malam?" tawar Vivianne dia tidak ingin menghalangi waktu istirahat sang Bunda.
" Bunda tidak mungkin bisa tidur setelah mengetahui hal ini, dan sudah menyegarkan diri tadi. Bunda juga sempat beristirahat di pesawat dan di mobil, jadi Bunda rasa istirahat Bunda sudah lebih dari cukup.Jika benar itu yang kamu kuatirkan." ujar sang Bunda dengan penegasan dan sedikit menyelidik.
" Maksud Anne tidak seperti itu,Bun..Maksudnya…" ujar Vivianne.
" Sudahlah! Bunda tahu maksud kamu. Tapi Bunda tahu kondisi Bunda bagaimana, dan kamu cukup bercerita. Oh,ya. Kamu belum menjawab pertanyaan Bunda,bukan?"tanya sang Bunda kembali.
" Baiklah jika maunya Bunda Demikian. Jadi Bunda tahu bukan, aku sempat terpuruk ketika melahirkan Avan di Sleman hingga Avan berusia 3 bulan akhirnya Bunda memaksa Vivianne untuk melanjutkan pendidikan Vivianne dikota besar, akhirnya Vivianne memberanikan diri untuk ke Jakarta." ujar Vivianne mengenang masa dimana dia akhirnya ke Jakarta.
" Bunda tahu itu, karena Bunda hanya melihat kamu sibuk merenung, atau menangis. Bunda tidak tega. Bunda tahu Avan masih terlalu kecil tapi kamu tidak akan bahagia meski disebelah Avan, dan seorang Ibu yang tidak bahagia maka akan mempengaruhi psikis anaknya. Kalian berdua tidak akan pernah bahagia. Dan mungkin saja akan saling menyakiti tanpa kamu sadari. Itu alasan Bunda walau dengan berat hati memintamu pergi, melanjutkan pendidikanmu dan mencari peruntunganmu di kota besar.Tapi Bunda tidak pernah berpikir kenapa kamu memilih Jakarta?" ujar sang Bunda.
Vivianne mengangguk menyetujui pemikiran sang Bunda.
Seandainya dia tidak membulatkan tekad untuk pergi meski dia harus memilih jauh dari Avan. Menurut Bundanya Avan akan lebih aman dan lebih baik dirawat olehnya agar Vivianne bisa fokus dengan pendidikan dan masa depannya.
" Setelah Vivianne pergi dari Rumah Panti kita…waktu itu dengan menggunakan Bus…Anne…" Vivianne menatap ke atas mencoba mengingat kejadian 3-4 tahun silam.
Flashback On
Dengan membawa pakaian seadanya, dan dompet serta uang yang diberikan sang Bunda, Vivianne memutuskan memilih pergi ke Jakarta dengan menggunakan Bus.
Vivianne menangis dan terus menangis sepanjang perjalanan karena harus meninggalkan buah hatinya. Karena kelelahan Vivianne tertidur dengan memeluk tas jinjingnya.
Matahari bersinar cerah, seiring Vivianne yang terlelap terbangun. Setelah menempuh perjalanan dari Sleman ke Jakarta yang hampir ditempuh delapan jam perjalanan.
Disebelahnya kursinya tampak kosong, mungkin orang tersebut telah turun di kota tujuannya. Vivi tidak tahu harus kemana, dia pun tidak memiliki teman atau saudara di sini. Tapi dia yakin bahwa Allah akan selalu bersamanya. Mengiringi langkah dan akan selalu menolongnya. Perutnya mulai merasakan keroncongan. Layaknya sebuah band sedang konser. Sejak semalam ia memang belum makan apapun. Itu sebabnya pagi menjelang siang ini tentu saja ia sangat kelaparan.
Vivianne beranjak mendekati warung-warung sederhana yang ada tidak jauh dari terminal itu.
" Bu, nasinya satu dengan lauknya, telor ceplok dan tempe orek serta kuah sayur,ya Bu?" pintanya.
" Ini aja mbak? Apakah ada tambahan lainnya?Minumnya apa Mbak?" tanya sang penjual warung itu.
" Iya, Bu cukup itu saja dan minumnya teh hangat." jawabnya kembali.
" Tehnya manis atau tawar,Mbak?" tanya sang ibu warung kembali.
" Memang bedanya apa,Bu?" tanya Vivianne penasaran.
" Kalau teh manis hangat Rp 3.000 tapi kalau tawar Rp 1.000 kalau air biasa gratis." ujar sang penjaga warung.
Vivianne berpikir sejenak, " Kalau begitu air biasa saja,Bu. Gratis kan,Bu?"
" Iya gratis, itu airnya diceret sana ada gelasnya juga. Ambil saja sendiri,yah? Ini makanannya!" ucap sang penjaga warung kembali.
" Vivianne tegak dan mengambil makanan yang disodorkan di atas etalase. Dan dia beranjak hendak mengambil minum air tawarnya dan menaruh tas jinjing dan selempangnya disebelahnya dan beranak kearah minuman yang dibilang oleh si Ibu tadi.
Namun ketika berbalik dia kaget mendapati tasnya telah terbuka dan seseorang berlari keluar dengan membawa sebuah dompet yang dikenali.
" Pencuri! Pencuri!" Vivianne menaruh makanan dan gelasnya hendak mengejar sang pencuri. Namun seseorang dua orang ikutan berdiri dan menahan langkahnya.
" Ada apa,Mbak? Kenapa?" ujarnya dengan sangat peduli.
" I-itu…ada pencuri dompet saya,Mas! Minggir saya mau mengejarnya.." ujar Vivianne.
" Oh, Copet? Maling, Mbak? Ya, sudah mbaknya disini saja biar kita bantuin!" ujar salah seorang pria di hadapannya dengan kaos dan celana panjang seperti anak kuliahan.
" Tapi…" Vivianne terputus.
" Mbak selesaikan saja dulu makannya, biar kita yang mengejarnya. Kasihan kalau sedang makan ditinggal."ujar pria satunya memakai kemeja berwarna biru dengan celana bahan seperti karyawan.
" Makasih, kalau begitu.Mas!" sambil mengangguk hormat.
" Sama-sama Mbak! Woy! Jangan kabur kau copet!" ujar pemuda berkaos putih itu.
" Tolongin…Ada copet!"
" Iya ada jambret! Maling ke arah sana!"
Vivianne kembali mengambil makanannya dan memakannya dengan cepat.Ia mulai merasakan tidak tenang dan merasa kasihan jika kedua orang tadi terluka karena menolongnya.
" Mbak, Kenapa?" ujar sang penjaga warung yang melihat mendekat karena sebelumnya sempat ke belakang sebentar.
" Itu mbak, dompet saya dicuri! Tapi syukurlah, kedua orang tadi bantuin saya mengejar mereka. Saya mau bantu ikut mengejar mereka,Bu!"ujar Vivianne gelisah.
" Astagfirullah, Mbak! Yang mana yang kedua tadi?" tanyanya.
" Iya Bu, mereka yang mau bantuin saya tadi. Kasihan,Bu kalau tidak saya bantu mengejarnya." ujar Vivianne menatap kearah luar tapi orang yang dia maksud sudah mulai menghilang dari pandangan.
" Ya, Allah,Mbak! Dua orang tadi mah, saya perhatikan gerak geriknya sudah mencurigakan ketika mbaknya masuk tidak lama mereka masuk. Saya mau bilang tapi bingung saya pikir mbaknya kenal, karena setahu saya…dua orang tadi itu..hmm..biasanya suka nyopet Mbak! Bisa jadi yang mencopet dompet mbak itu temannya,Mbak!" dengan kasihan menatap Vivianne.
" Hah? Ya Allah…" Vivianne terduduk lemas.
" Ternyata begini,toh..kota Jakarta!" lirihnya.
****