
Meski kakinya barulah sembuh Andrew memaksakan dirinya menuju ke suatu tempat yang seharusnya tidak dia datangi.
Andrew melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia lebih menyukai mengendarai motor sebenarnya, namun karena kondisinya yang baru saja sembuh akibat kecelakaan dokter melarangnya hingga benar benar sembuh total jika ingin mengendarai motor kesayangannya itu.
Perkataan Alex dan Bryan sukses membuatnya selalu teringat di hati dan pikirannya saat ini. Dia bimbang apa yang harus dilakukannya. Andrew tidak bisa menyangkal bahwa dia mulai menyukai Vivianne dan terbiasa akan kehadirannya disisinya. Tapi disisi lain dia tidak bisa mengabaikan begitu saja kesepakatan dirinya dengan para sahabatnya.
Bukan masalah hanya mobil dan motor yang menjadi ajang taruhannya, namun dia tak terbiasa kalah! Cukuplah dia kalah karena keadaan yang mengharuskannya kehilangan kasih sayang orang yang berharga didalam hidupnya. Mamanya, kemudian menyusul neneknya dan hubungannya dengan sang papah yang tidak bisa dibilang harmonis. Dia sudah banyak mengalah akan hal itu! Tidak dengan ego dan harga dirinya terutama di hadapan para sahabatnya!
Dia bagaikan makan buah simalakama sekarang jika mengakui hatinya maka dia akan kalah di hadapan sahabatnya dan kehilangan properti kesayangannya. Meskipun dia yakin sang papah bisa memberikannya kembali tapi tidak dengan harga dirinya dan egonya. Tapi jika dia tidak mengakuinya dan melaksanakan taruhannya dengan memutuskan Vivianne maka bisa dipastikan hatinya yang terluka dan sangat sakit.
" Argh! Bikin pusing saja! Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengalah kali ini? Kehilangan Vivianne sangat berat, aku tidak sanggup! Tapi…" Andrew meminum kembali minuman memabukkan yang tidak pernah disentuhnya kembali sejak mengenal Vivianne.
" Tambah!" ujarnya kembali kepada Bartender dan dia sedang berada disalah satu Klub yang sangat ternama di kota itu.
" Anda yakin, Anak Muda? Anda sepertinya sudah terlalu banyak minum!" ujar sang bartender tersebut.
" Sudah berikan saja! Aku akan membayarnya! Kau pikir aku tidak sanggup apa, membayarnya? Heh?Aku membutuhkannya hati ini!" ujar Andrew kesal sambil membanting gelasnya diatas meja panjang dihadapan bartender.
" Tidak! Tapi saya tidak jamin anda akan bisa pulang dengan selamat dari sini jika anda memaksa!" ujar bartender kembali.
" Banyak bacot! Sudah berikan saja! Aku pastikan, aku bisa berdiri di kakiku sendiri!" ujarnya sambil mencoba berdiri namun seperti dugaan sang bartender Andrew sempoyongan dan terhuyung ke belakang hingga tak sengaja menabrak seseorang.
" Auw!! Hey! Matamu buta yah! Kalau sudah mabuk, jangan disini! Cepat pulang sana!" ujar seseorang dengan kesal dan berdiri kembali serta merapikan tasnya yang berserakan di lantai.
Andrew berbalik dan mengacungkan jari telunjuknya.
" Aku tidak mabuk! Kau yang mabuk! Kau yang pergi! Hush! Hush!" usirnya sambil melambaikan tangannya.
Tiba-tiba wanita itu menatap dan terdiam.
" Andrew? Benarkan ini kamu Andrew?" ujarnya kegirangan.
Andrew menatap wanita dihadapannya. " Hahah…lihatlah bahkan disini pun aku ngetop! Kalau mengapa aku harus sedih, jika harus kehilangannya? Dia hanya cewek kampung!" ujar Andrew mulai meracau.
" Hey! Siapa yang kau bilang cewek kampung? Heh? Aku? Gadis trendy seperti aku ini kamu bilang cewek kampung? Matamu rabun yah? Apa kamu tak mengingatku,Drew?" ujar perempuan cantik dengan pakaian yang cukup sexy itu. Dia mengenakan gaun dengan tali tipis dan hanya tidak lebih panjang dari lututnya itu.
Andrew mulai menarik badannya menatap lekat perempuan yang dihadapannya itu. Samar-samar dia seperti pernah melihatnya tapi dimana? Dia terlalu mabuk untuk mengingatnya.
" Tidak! Aku tidak kenal kau! Pergi kau dari hadapanku! Jangan ganggu aku!" kemudian Andrew berbalik kembali dan kehadapan bartender dan duduk kembali.
" Cepat! Berikan aku minuman! Kau mau tempatmu ini kubuat tutup,heh?" ujarnya mengancam. Sebagian orang disana mengenal Andrew bahkan pemilik klub itu juga mengenalnya. Terutama nama besar sang papah Damian Matthews. Siapa yang tidak mengenal Matthews Construction? Perusahaannya merambah hingga ke pelosok negeri ini. Bahkan dia terpilih sebagai salah satu pebisnis berpengaruh di negeri ini. Kepopulerannya terkenal hingga ke klub tersebut. Sehingga membuat orang segan bahkan takut dengannya. Yang diketahui sebagai anak satu-satunya orang berpengaruh itu.
Namun tangan Andrew ditarik oleh perempuan cantik itu yang ternyata sudah duduk di sebelahnya. " Drew! Stop! Kamu sudah terlalu banyak minum! Benar katanya!"
" Aku melarangnya karena sudah terlalu banyak minum! Kamu tahu itu! Terlebih kamu sendirian! Dimana yang lainnya? Alex dan Bryan? Mengapa mereka tidak menemanimu?" Ujar perempuan cantik yang ternyata mengenal para sahabat Andrew.
" Hey! Kamu mengenal mereka? Siapa kau sebenarnya? Kenapa? Kamu mau ikutan menasehatinya juga?" ujar Andrew yang sudah mulai mabuk itu.
"Aku? Menasehati? Buat apa? Aku tahu kamu terlalu keras kepala! Sudah kubilang aku mengenalmu! Aku Valery! Masa kamu lupa? Kita sudah sahabatan dari kecil bersama Bryan juga! Bahkan kita satu sekolahan dari SD,SMP hingga Kelas 2 SMA! Setelah tamat SMA aku pergi ke Melbourne melanjutkan studi disana! Sedangkan kalian disini! Apa kau sudah mengingatnya? Apa yang terjadi padamu,Drew? Kenapa kamu banyak minum seperti ini?"perempuan yang bernama Valery itu menatap sedih kearah Andrew.
Andrew terdiam dan menoleh, " Val? Kamu Valery? Sedang apa kamu disini?"
"Kau sudah mengingatku?Aku sedang liburan! Aku malas kerumah jadi aku ke sini,deh! Menenangkan diri! Sedangkan kamu? Sedang apa kesini? Mabuk-mabukan pula!" ujar Valery.
" Tidak ada! Aku hanya iseng! Bagaimana kabarmu,Val? Kamu jahat sekali tidak pernah memberi kami kabar! Kamu hilang bagaikan ditelan bumi!"ujar Andrew yang mulai dengan kesadarannya yang sedikit itu mengenali Valery.
" Buat apa? Kamu hanya membuatku sakit!" dengan senyuman sinis.
Andrew tertunduk, " Maaf!"
" Sudahlah! Itu hanya masa lalu! Bagaimana kabarmu sekarang? Andrew yang ku kenal tidak akan pernah mabuk kecuali mempunyai masalah berat! Apa ini menyangkut seorang gadis?" tanyanya kembali.
Andrew terdiam tidak menjawab apapun.
" Berarti benar! Wah kau membuatku tambah sakit hati! Ternyata kamu sudah memiliki seorang gadis rupanya! Aku sepertinya kalah cepat lagi! Hahaha.." dengan tersenyum miris.
" Kalau kau memang ingin mabuk, ayo…aku temani! Apa enaknya mabuk sendirian?" akhirnya dia memanggil bartender untuk memberikannya sebotol minuman untuk dirinya dan Andrew.
Mereka mabuk-mabukan hingga dini hari. Bahkan Andrew lupa akan janjinya mengantarkan Vivianne berangkat kerja malam itu.
Karena terlalu mabuk, Valery yang tidak tahu harus membawa Andrew kemana karena sudah sangat terlalu mabuk. Akhirnya mereka menginap di salah satu hotel yang tidak terlalu jauh dari klub tersebut.
Valery terbiasa diluar negeri dimana minuman yang diminumnya tidak bisa membuatnya terlalu mabuk karena kebiasaannya. Sehingga tingkat kesadarannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Andrew.
Dengan sedikit menyangga tubuh Andrew dia membawanya ke sebuah hotel untuk sekedar beristirahat. Dia tidak sanggup jika harus menyetir dengan kondisi dia mabuk. Sehingga dia menitipkan mobilnya di parkiran klub tersebut dan pergi membawa Andrew dengan menggunakan taxi.
Setelah tiba di sebuah hotel dan cek in, serta menerima kunci, Valery membawanya ke kamar yang disewanya.
Mereka pun masuk bersama, tanpa mereka sadari sebuah tatapan memandang dan mengikuti gerak gerik mereka sejak tadi.
" Bukankah itu, Andrew? Lantas, siapa perempuan yang membawanya? Mengapa mereka ada disini?"
*****