Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 76 Kita Bertemu Lagi,Vi!



Vivianne mematut dirinya di depan cermin. Akhirnya setelah berkali-kali mencari baju yang sesuai dengan pertemuan malam ini, akhirnya dia memutuskan memilih gaun malam berwarna hitam dengan one off shoulder panjang hingga ke mata kaki. 


Sebelah bahunya terbuka dan sebelahnya tangannya panjang hingga ke ujung pergelangan tangannya. Sehingga dia merasa pakaian ini meskipun terbuka di atasnya tepatnya di salah satu bahu kirinya, namun terlihat masih sangat sopan. 


Karena belahannya cukup tinggi menyerong hingga ke sebelah kanan. Hanya saja karena gaun itu sangat panjang hingga ke kakinya, disebelah kanannya terdapat belahan yang tinggi agar dia dapat melangkah. Belahannya menyentuh hingga kebagian pahanya. Memperlihatkan kaki putihnya yang jenjang.  


Tidak lupa dia mengenakan anting-anting panjang yang indah berwarna silver. Dia sengaja tidak mengenakan kalung karena menurutnya terlalu ramai, karena dia mudah memakai anting yang cukup menyita perhatian.


Vivianne tidak memakai riasan yang terlalu tebal cukup tipis, namun terlihat segar. Rambutnya sengaja kali ini diangkat ke atas menyerupai cepol asal menyisakan helaian di sebelah pipi kirinya beberapa untaian rambut.


" Perfect!" ujarnya melihat penampilannya.


Dia berbalik ketika mendengar suara bel apartemennya berbunyi.


" Sepertinya itu Mas Damian!" serunya sambil mengambil tas menyerupai clutch dan memasang sepatu berhak tinggi berwarna hitam.


Dan melangkah kepintu apartemennya sebelumnya mengintip dilubang pintunya. Terlihat Damian yang luar biasa tampan malam itu. Vivianne tersenyum dan segera membuka pintu apartemennya.


" Assalamualaikum, Mas." Vivianne menyapa sambil mengambil tangan tunangannya itu untuk memberi salam.


Damian terdiam ditempatnya tanpa berkata-kata. Vivianne memang terlihat sangat cantik malam itu. Damian merasa dia tidak rela mempertemukan mereka sekarang.


" Mas? Ini kita jadi mau berangkat tidak ya?" Vivianne mengejutkan lamunan Damian.


"Waalaikumsalam.  Ah, tentu saja jadi. Maaf Mas kaget melihat kamu sangat cantik malam ini! Oh, ya ini ada bunga untuk kamu!" dengan gugup Damian menyerahkan karangan bunga yang disembunyikan di belakang punggungnya itu.


" Ah, Mas. Tidak perlu repot-repot terima kasih, bagus bunganya, Mas. Cantik. Jadi aku cantiknya cuma malam ini nih? Kemarin-kemarin,tidak?" Vivianne menggoda Damian.


" Tentu tidak, maksud Mas kamu selalu cantik tapi malam ini luar biasa! Kok, Mas jadi tidak rela yah kita makan malam? Sama anak Mas! Takutnya dia malah kepincut kamu lagi!" seru Damian.


" Ish! Apaan sih!" Vivianne memukul pelan bahu tunangannya itu.


" Mas nggak mungkinlah, Anne kepincut sama anaknya Mas! Kan kita sudah tunangan,bukan? Lagi pula Anne dandan seperti ini karena ingin menyenangkan Mas,menghormati Mas! Bukannya buat menarik perhatian anaknya, Mas! Anne nggak mau Mas malu karena Anne tidak berdandan pantas di hadapan anak Mas!" ujar Vivianne sambil menutup pintu rumahnya.


" Oh,Ya? Kamu bisa saja! Bikin buat Mas tambah sayang deh!" sambil mencolek dagu tunangannya itu. " Tapi anak Mas ganteng, loh…." 


Vivianne menoleh ke arahnya. " Mas juga ganteng, jadi wajar kan kalau anaknya Mas ganteng! Kan biangnya ganteng! Sudah ah, kita jadi jalan nggak nih? Takutnya terlambat loh, nggak enak nanti anaknya kelamaan menunggu kita!" 


Damian menghembuskan nafas beratnya, " Kamu bisa aja, menyenangkan hati Mas! Tapi kan, Mas sudah tua! Anak Mas…itu…" 


" Sudah! Anne ga peduli! Siapa bilang Mas Tua? Mas masih gagah,kok! Lagi pula siapa yang mau sama anak brondong!" ujar Vivianne sambil merangkul lengan tangan Damian manja.


Damian mencubit hidungnya, " Kamu kalau manja, bikin gemes. Bagaimana kalau kita Dinner berdua saja? Ketemuan Andrew ya kapan-kapan saja? Lagi pula anak Mas nggak berondong, loh…dia lebih tua malah dari kamu! Usianya sudah 26 tahun loh…yah beda 2-3 tahun lah dari kamu! Gimana tuh?" 


Vivianne hanya cemberut, " Ih, apan sih! Nggak enak dong, sama anak Mas! Kan kita sudah janjian! Kata Mas dianya juga sibuk, kan? Jadi susah cari waktunya, nah ini kebetulan dia mau,jadi kapan lagi! Sudah ah, jangan bahas itu lagi. Mau dia lebih tua kek! Atau lebih muda kek! Anne tidak peduli! Anne kan kesini karena Mas, bukannya untuk tebar pesona ke anak, Mas! Ya nggak? Sudah yuk,jalan! Anne mulai lapar nih!" seru Vivianne menarik Damian.


" Semoga kamu tidak berubah pikiran ya, Anne! Semoga!" Damian berujar sangat pelan.


" Mas? Mas ngomong sesuatu?" Vivianne seperti calon suaminya itu berbicara meski lirih.


" Ah, tidak. Yuk, kita jalan." Damian kemudian berjalan ke arah lift yang membawa mereka turun ke mobilnya diparkirkan.


" Sama-sama My princess!" sahut Damian dengan sedikit membungkuk sebelum akhirnya menutup pintu penumpang dan dia memutar kearah kursi pengemudi. 


Sekali lagi Damian memilih untuk tidak menggunakan sopir agar bisa lebih dekat dengan Vivianne.


Vivianne menegang ketika Damian mencondongkan badannya ke depan Vivianne, Vivianne menegakkan tubuhnya waspada. Damian tersenyum, " Seatbeltnya lupa dipasang! Kenapa wajah kamu kaku begitu, sih? Memangnya kamu pikir Mas mau ngapain,coba?"


Vivianne merona, dia malu tadi sempat memikirkan yang tidak-tidak tadi, dia membuang wajahnya ke arah jendela, " Tidak! Tidak memikirkan apapun, kok!" 


" Yakin? Kok pipi kamu merah sih?" ujar Damian yang masih menggodanya.


" Blush on…Ma"ucapan Vivianne terputus.


Cup!


Damian mengecup bibirnya sekilas, " Minta juga nggak apa-apa,kok, Anne! Mas akan kasih dengan senang hati!" 


" Apa, sih. Mas! Siapa yang minta coba! Sudah jalankan mobilnya! Kita sudah telat!" ujar Vivianne mengubah topik pembicaraan mereka.


" Hahah…kamu kalau malu-malu bikin gemes tau!" seru Damian sambil menjalankan mobilnya dan tertawa.


Sementara Vivianne hanya tertunduk malu.


Setelahnya Damian lebih banyak fokus ke jalan, sambil sesekali Damian bercerita tentang anaknya yang berkuliah di Australia dan baru menyelesaikan kuliahnya tidak beberapa lama. Tepatnya menyelesaikan S2-nya disana dengan sangat cepat. Dan merintis usahanya sejak dia kuliah bersama teman temannya hingga kini merambah ke Indonesia juga. 


Tapi Damian tidak menceritakan mengenai kuliah Andrew di jogja. Dan Vivianne juga tidak bertanya dia lebih kepada mendengarkan cerita Damian dan sesekali menganggapnya. Dia tidak ingin terlihat seakan mengorek dan tertarik mengenai cerita tentang anaknya. Dia menghormati perasaan Damian.


Tidak berapa lama mereka sampai di sebuah hotel berbintang dan meminta tempat VVIP yang telah disewa atas permintaan Damian.


Sepanjang jalan menuju ruangan VVIP Damian tidak melepaskan genggaman tangannya dari Vivianne. Mereka bagaikan raja dan ratu semalam. Pakaian yang mereka kenakan juga serasi. Damian memilih mengenakan kemeja berwarna biru dengan luaran hitam dan celana hitam. Lengkap dengan sepatu pantofel nya yang mengkilat yang tentu saja berharga puluhan juta itu. Dengan rambut ditata rapi ke belakang. Tidak terlihat usia mereka yang sebenarnya jauh berbeda itu.


Setelah sampai diantar salah seorang pelayan. Di Pojok sana terlihat seorang pria membelakangi mereka mengenakan pakaian jas berwarna coklat susu dengan celana yang berwarna sama dan sepatu kets putih. Tampak jauh lebih sportif. Dia menatap kearah kaca dimana terlihat pemandangan kota Jakarta dan gedung-gedung bertingkat.


" Hi, Drew! Sudah sampai? Maaf kami terlambat! Oh iya, perkenalkan ini calonnya papah, Namanya…Anne!" ujar Damian berdiri disamping Vivianne, Vivianne pun berdiri di sampingnya.


Andrew berbalik dan berjalan ke arah mereka dengan tatapan tak lepas dari Vivianne yang sedang merapikan pakaiannya itu.


Anne menjulurkan tangannya ketika dia melihat seseorang mendekatinya, dan mendongakkan kepalanya. " Perkenalkan saya…" 


Vivianne membeku di tempatnya menggantung, wajahnya memucat dadanya menjadi sesak. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya. Tangannya pun mulai berkeringat. Bibirnya dan kerongkongannya menjadi kering sekarang.


Vivianne hendak menarik tangannya, tapi malah disambut oleh tangan Andrew.


" Perkenalkan, saya Andrew Matthews!" sambil tersenyum sinis ke arahnya. 


Sambil mencondongkan sedikit wajahnya berbisik.


" Kita ketemu lagi, Vi!" 


*****