Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 67 Ternyata Wanita Itu Vivianne?



Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang memanggil seseorang yang sepertinya Avan.


"Avan! Nak, dimana kamu?" ujar lembut seorang perempuan di belakang punggung Alex.


" Drew, kok gue kayak kenal itu suara ya? Lo lihat yah siapa orangnya kameranya gue balik yah?" dengan cepat Alex merubah posisi kameranya di ponsel.


Sementara Alex menjauh dengan berbicara, " Gimana Drew! Auntie-nya Avan? Lo kenal nggak?" 


Diam Suara di seberang sana. " Drew! Lo sudah lihat kan, Auntie-nya Avan, cantik nggak?" 


Tak ada sahutan dari suara disebrang sana. Dengan penasaran dia menarik teleponnya kemudian menatap wajah Andrew yang terlihat memucat. " Wajah Lo kenapa? Memangnya siapa sih, itu Auntie-nya Avan?" 


Tanpa aba-aba Alex berbalik. 


" Lex! Jangan!" ujar Andrew tapi terlambat, Alex sudah melihatnya.


Alex saat ini hanya bisa melongo dan terdiam di tempatnya itu. Dia melihat interaksi antara anak kecil yang sedang berbicara dengan seorang wanita cantik yang berpakaian dalam balutan pakaian kerja sambil sedikit berjongkok. 


" Vivianne?" ujar Alex sedikit keras.


Dan wanita di seberang sana yang sedang berbicara mendongak ketika saat yang bersamaan Avan menunjuk ke arahnya. Alex berbalik, dan bersembunyi sebelum Vivianne melihatnya. 


Dengan mengintip dibalik tembok, mendengar Andrew berbicara. " Lex! Balik Lex! Buruan! Cepat!" 


Tapi ketika dia hendak beranjak pergi, dia mendengar seseorang bersuara berat yang dikenalnya.


"Honey! Sudah ketemu Avan-nya? Jadi kita makan siang? Sepertinya Bunda dan Maya sudah menunggu di Mall! Yuk, kita berangkat?" dan dengan anggukan sang wanita berdiri hendak menggendong Avan tapi kalah cepat oleh pria tersebut dia menggendongnya dan kemudian dengan santai memeluk pinggang perempuan itu dengan tangan satunya lagi.


Alex yang penasaran mengintip dan melihat wajah pria itu sebelum berbalik, sedangkan Andrew yang masih terhubung dengannya menyaksikan yang sama bahkan sejak Alex bersembunyi karena Alex tetap mengarahkan kameranya ke arah didepan sana.


Dengan terkejut keduanya tak sengaja berbarengan berujar.


" Om Damian?"


" Papah?" 


"  Drew…Hmm…itu gue nggak salah lihat kan? Om Damian dan Vivianne mereka bersama?" dengan takut-takut dia berujar.


" Lex! Kita balik! SEKARANG!" ujar suara di seberang sana dengan wajah yang terlihat tegang.


" Ok! Lo tenangkan diri Lo,dulu,ya?" ujar Alex sambil berlari ke arah cafe tepat di seberang lobby ini tempat dia meninggalkan Andrew tadi.


" Lo gak perlu banyak bacot! Sekarang atau gue tinggal!" ujar Andrew yang masih terhubung Video Call dengannya.


Dengan secepat kilat Alex berlari kencang ke arah Cafe tersebut sebelum Andrew berbuat yang tidak-tidak.


" Ya,Allah! Kenapa jadi begini sih? Kenapa juga harus Vivianne sih? Dimana mereka saling kenal yah?"


Begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Alex yang berlari semakin dekat dengan Cafe tersebut.


Alex sampai dan mendobrak pintu Cafe membuat orang yang ada disana terkejut dan menoleh, tapi Alex tidak peduli.


Dia menormalkan debar jantungnya dan berjalan ke arah Andrew. Andrew masih terdiam di tempatnya matanya memanas menatap jauh kedepan seakan tatapannya bisa menembus ke arah sana.


Alex hendak duduk disampingnya tapi kemudian Andrew malah berdiri. Wajahnya masih terlihat shock dan tegang. " Dia kenapa? Kenapa kaget seperti ini? Bukankah diantara mereka sudah tidak ada apa-apa bukan? Kenapa sekarang malah kaget? Apa dia kecewa? Tapi, kenapa harus kecewa? Apa benar yang dulu dibilang Bryan? Kalau dia sangat mencintai Vivianne? Kalau cinta kenapa dia meninggalkannya? Kenapa dilanjutkan taruhannya? Kenapa? Apa karena aku yang mendorongnya? Tapi kan aku tidak berbuat apa-apa kan? Kalau cinta kenapa menjauh? Kenapa dia menyiksa diri dia sendiri? Pantas saja, dia selalu menolak Valery, dan cewek lainnya! Apa karena Vivianne? Ah, kok aku merasa jadi bersalah, sekarang ya?" 


" Drew? Are you Okay?" tanya Alex hati-hati sambil menatap wajah temannya yang tegang.


" Kita kembali Lex! Aku mau pulang! Ke apartemen, atau hotel! Terserah! Asal jangan ke rumah!"  ujar Andrew kembali.


Alex terkejut mendengarnya, " Tapi Lex, Lo nggak mau memastikan gitu? Bisa saja kan mereka hanya rekan kerja,gitu? Kan Lo tau Papa Lo gantengnya kebangetan. Meski usianya sudah tua tapi tetap terlihat seperti usia 30 an loh! Jadi wajar kan, kalau banyak wanita yang tertarik…termasuk..Vivi.." ucapannya terputus ketika melihat raut wajah Andrew yang menoleh dengan sorot mata tajam. Dan rahang yang mengerat.


" Gue nggak mau membahasnya! Lo mau antar gue atau biar gue pulang sendiri?" ujar Andrew sambil melangkah setelah mengucapkannya.


" Hey! Ok! Gue anterin!" ujar Alex mengejar Andrew yang berjalan cepat ke arah mobil mereka yang terparkir di depan Cafe.


" Ribet dah,nih urusannya kalau orang sedang patah hati! Amsyong banget sih, gue!" ujar Alex pelan.


" Gue denger ya Lex! Lo mau ngegosip kayak ibu-ibu komplek atau gue tinggal sekalian biar Lo jalan kaki?" ujar Andrew tanpa menoleh.


" Iya! Ok! Tapi biar gue yang nyetir! Nanti kita berdua nabrak, koit! Gue nggak mau! Gue belum nikah!" ujar Alex ketika mereka sampai di mobil Alex langsung ke arah bagian sopir.


Andrew menyembulkan kepalanya dari kursi penumpang. " Lo mau nyetir, atau diam disitu aja? Buruan!" 


" Iya..iya.." ujar Alex akhirnya masuk kedalam mobilnya. " Duh, gini amat ya kali kalau jatuh cinta terus patah hati! Dih, gue jadi takut nih jatuh cinta! Entar jadi bego kayak Andrew dan Bryan lagi! Dih, ogah banget!" sambil bahunya bergidik jijik membayangkan yang ada dipikirannya itu.


" Lo kenapa? Kebelet pipis?" tanya Andrew yang melihatnya.


" Ah, nggak! Yuk ah! Kita tancap!" ujar Alex mulai menghidupkan mobilnya.


Alex memacu mobil mereka dengan kecepatan tinggi karena Andrew meminta mereka meninggalkan Cafe itu secepatnya dan menuju ke apartemennya yang di bilangan selatan. Tapi karena saat itu kondisi makan siang, sehingga mereka terjebak macet. Alex kesal dan memukul stir mobilnya. " Itu sebabnya dia benci pulang ke Indonesia tepatnya Jakarta! Selalu macet! Jam office hour!.


Setelah terbebas dari macet, Alex sesekali melihat ke arah Andrew yang menutup matanya. " Apa dia tertidur?" 


Namun terdengar suara dari orang sebelahnya yang tanpa membuka mata itu. " Tatap kedepan Lex! Jangan sampai mobil ini oleng dan menabrak! Lo sendiri yang rugi!" ujar Andrew tanpa membuka matanya.


" E-eh? Kok dia tahu yah?" ujar Alex dalam hati.


" Sejak kapan Lo jadi cenayang,Drew? Kok Lo tau gue perhatiin Lo? Padahal Lo merem." Ujar Alex penasaran.


Andrew perlahan membuka matanya dan memperbaiki duduknya, " Gue ga perlu jadi cenayang untuk tahu kelakuan Lo! Gue terlalu hafal!" dia menghembuskan nafasnya.


" Ok! Sorry! Mungkin cuma gue yang kadang ga paham sama kelakuan Lo, terutama hati Lo!" ujar Alex pelan.


" Berhentikan mobilnya!" ujar Andrew menggelegar.


" Hah? Kenapa?" ujar Alex bingung.


" Gue bilang berhenti, ya berhenti!" Kemudian menarik tuas mobil Alex dan membanting  setirnya di pinggir jalan sebelah kiri. Terpaksa Alex menginjak remnya.


Ciiiiiitttttt!


Dan mobil berhenti secara mendadak.


" Drew! Lo gila yah? Lo mau bikin kita mati berdua disini? Lo kenapa sih? Kenapa Lo masih terpengaruh sama Vivianne,Hah? hampir 4 tahun Drew! Wake up, Man!" ujar Alex masih dengan dada naik turun karena saking kagetnya. Dia hampir saja menyentuh pembatas jalan dan diteriaki klakson dari mobil dibelakang mereka.


Andrew membuka seat belt nya. Dan keluar dari mobil.


Dan kemudian Andrew berteriak di pinggir jalan seperti orang gila.


" ARGH!! SIAL!! WHY, Vi? WHY??" 


Kemudian meninju pembatas jalan dengan tangannya berkali-kali. Tangannya mengeluarkan darah menetes di pinggir jalan. Tapi Andrew tidak peduli.


Alex yang melihat sahabatnya itu merasa kasihan. Dia tidak menyangka ternyata Andrew memiliki perasaan yang mendalam terhadap Vivianne. Dia pikir Vivianne hanya sebuah permainan buat Andrew dan hanya masa lalu.


Alex ikut keluar dari dari mobilnya dengan susah payah melalui pintu penumpang di sebelahnya karena posisinya terlalu sempit untuk keluar.


Dia terdiam, melihat Andrew yang sudah terduduk dengan tangan sebelah kanannya berdarah-darah. Alex menghapus air matanya. " I'm sorry Drew! Kalau saja dulu kita tidak taruhan, kalau saja dulu gue menghentikan Lo untuk meneruskannya…mungkin Lo sudah bersama sama orang yang Lo sayang! Ternyata Lo sangat cinta sama Vivianne! I'm sorry…" 


Dia berjalan kearah Andrew dan memeluknya kemudian memapahnya agar berdiri.


" Why..Lex! Kenapa harus Vivi? Kenapa rasanya sakit sekali,Lex? Empat tahun gue mencoba melupakan dia, tapi gue nggak sanggup bahkan meski gue harus pindah ke belahan benua lain untuk melupakannya, tetep gue nggak sanggup! Why, Lex? Kenapa harus Papah gue? Sakit..gue melihatnya!" ujar Andrew meraung di pelukan sahabatnya itu. Dan mulai menangis.


" Sabar,Drew! Sabar! Lo jangan seperti ini gue-gue kuatir kalau Lo seperti ini! Kita balik yuk? Lo harus tenangkan diri Lo!" ujar Alex menenangkan sahabatnya sambil menepuk punggungnya.


Tapi Andrew terus menangis dan meraung bahkan mereka mulai jadi tontonan orang kali ini, setiap mobil yang melintas pasti melihat mereka.


Setelah sekian lama menangis, Andrew mulai tenang. " Kita pulang Drew? Ke apartemen kan?" tanya Alex dengan sedih dan memapah temannya itu.


Alex masuk duluan kemudian baru Andrew yang terlihat masih sedih melangkah ke kursi penumpang dengan lemah.


" Ke-apartemen Lo, gue atau ke hotel, Drew?" tanya Alex pelan.


" Kerumah! Gue harus menghadapinya! Gue harus tanya papah yang sebenarnya!" ujar Andrew menatap nyalang.


" NGGAK!" ujar Alex lantang. Dia tidak peduli jika Andrew marah kali ini, tapi dia setuju dengan pemikiran Andrew awal tadi, kemana saja asal jangan ke rumah Om Damian.


Andrew menoleh, " What? Why?" 


*****