Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 36 Sebuah Kebenaran Yang Menyakitkan



Vivianne menggelengkan kepalanya, menatap kearah Bryan sambil terus membekap mulutnya.


" Bukan begini kejadian sebenarnya,Kak! Dia yang menerjang aku duluan, aku hanya mencoba menghindarinya! Dia memakai aku, menghina aku, dia minta aku meninggalkan Andrew, karena dia tunangannya Andrew! Beneran Kak! Aku berani bersumpah bukan seperti ini! Ta-tania saksinya! Bener,kan Tan? Ya Allah kok mereka tega sekali memfitnah aku!" ujar Vivianne panik. Tidak karuan.


" Iya, Kak! Ini pasti perbuatan nenek lampir itu,Vi! Pantas saja aku sudah curiga kenapa dia mau menghampiri kita dan minta berbicara berdua saja denganmu! Ternyata ini rencana busuknya! Si*l! Kalau tahu begini aku tidak melepaskan dia tadi!" emosi Tania.


Bryan bingung, " Nenek lampir? Siapa? Tunangan? Valery?" tanyanya.


Vivianne mengangguk, " Benar,Kak! Itu yang dia bilang padaku,pada kami berdua."


Bryan mengerutkan keningnya, " Tidak mungkin! Dia hanya teman kecil kami! Dan, Andrew…." 


" Vivianne!" Seseorang tiba-tiba memanggil sambil berlari.


" Andrew?" Vivianne menatapnya dengan perasaan tidak karuan,kangen dan ada rasa benci mengingat pengkhianatan nya.


Vivianne hendak tersenyum, tapi senyumnya hilang ketika melihat seorang gadis yang menemuinya tadi pagi. Valery, berlari sambil mencoba bergelayut manja di lengan Andrew. Vivianne menjadi muak dan marah.


" Hey! Dasar wanita ibl*s! Tidak cukup apa yang kamu terima pagi tadi,heh? Jadi sekarang kamu mencoba memfitnahku?Heh?" Vivianne menghampiri mereka dan Valery makin bersembunyi dibalik punggung Andrew.


" Tuh! Kamu lihat sendiri,kan Drew! Bukan aku yang mulai,tapi Dia! Lihat saja tingkahnya!" ujar Valery sambil ketakutan.


" Apa? Bukannya kamu yang…" Vivianne hendak menjawabnya, namun dihentikan oleh teriakan seseorang.


" CUKUP!"teriak Andrew.


Vivianne menatap Andrew dengan raut tidak percaya.


" Vi! Cukup! Cukup stop sampai disini! Aku tahu aku salah,Vi! Tapi aku tidak menyangka bahwa kamu ternyata bisa sekejam ini dengan sesama perempuan,pula! Aku pikir kamu lembut,penuh kasih sayang, ternyata kamu tidak lebih dari perempuan kampung yang bar-bar! Semula aku berpikir kita bisa bicara baik-baik dan aku mau minta maaf dengan kamu dan melupakan…" ujar Andrew ragu, tapi matanya melirik ke arah  Alex dan Bryan. Bryan menggelengkan kepalanya, tapi tidak dengan Alex dia jauh lebih lempeng.


" Tunggu ..tunggu,dulu! Biar aku jelaskan, kejadiannya tidak seperti yang ada di dalam video itu.Perempuan ini, datang kepadaku memperkenalkan dirinya sebagai Valery dan mengaku tunangan kamu! Dia minta aku menjauh darimu! Dan yang dia jatuh itu, manipulatif! Dia yang mau menerjang ke arahku dan aku menghindar! Jadilah dia seperti ini! Kemudian dia juga hendak memberiku pelajaran dari belakang, aku hanya membela diri aku! Bukan aku yang mulai,tapi Dia! Tania yang lihat! Benar,kan Tan?" tanya Vivianne.


" Hahaha …Vivi…Vivi.." Andrew tertawa.


Vivianne bengong menatap Andrew, " Ke-kenapa kamu tertawa? Kamu pikir aku bohong?" 


"Jelas-jelas buktinya ada, apa namanya kalau bukan bohong? Kamu mau menarik simpati aku,Vi? Cukup! Aku juga lelah mencari kamu mencoba menjelaskan sesuatu,tapi apa? Kamu malah menghindar! Menghilang! Setidaknya aku jauh lebih jujur dari kamu,Vi!" ujar Andrew mulai emosi.


" Terserah jika kamu tidak percaya! Aku kecewa sama kamu,Drew! Kamu tidak mengenal aku kalau begitu! Aku menghindar? Yah, aku memang menghindar! Karena tidak ada lagi yang perlu kamu jelaskan! Apalagi yang perlu kamu jelaskan? Heh? Menjelaskan apa, jika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu satu kamar dengan gadis si*kan ini dengan pakaian dan diri kamu baru selesai mandi,Heh? Kamu mau menjelaskan apalagi? Kamu mau bilang kamu jujur, jujur kalau kamu sudah tidur dengan perempuan murahan ini! Perempuan yang kekurangan bahan ini!" Vivi emosi.


Andrew menghampiri Vivianne dan menaikan sebelah tangannya di udara namun tangan itu tetap tertahan.


" Kenapa berhenti? Kamu mau menamparku demi membela wanita itu kan? Tampar!Tampar! Ternyata kamu tidak lebih dari lelaki penghianat dan pecundang yang hanya berani pada seorang perempuan!" ketus Vivianne sambil teriak.


" VIVI!!" teriak Andrew sambil mengepalkan jarinya yang tadi di udara.


" APA? AKU TIDAK TULI!" teriak Vivianne kembali.


Andrew menggelengkan kepalanya, dia kaget ternyata Vivi yang lembut yang dia kenal, tutur kata halus memberikan ketenangan sudah tidak ada. " Kamu berubah,Vi! Kamu bukan Vivi yang kukenal! Vivi yang lembut dengan tutur kata yang buat aku selalu nyaman."


Mata Andrew menatap Vivi dengan mata memerah, melihat gadis dihadapannya seperti tidak dikenalnya.


Vivianne menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, " Bukan aku yang berubah,Drew! Tapi, Kamu! Kamu yang berubah! Kamu bohongin aku dengan bilang tidak memiliki tunangan, kenyataannya, Dia! Dia tunangan kamu,kan? Terus kamu selingkuh! Mengkhianati aku di belakangku! Berapa banyak kebohongan lagi yang aku tidak tahu,Drew? Berapa banyak? Hah? Sampai kapan kamu akan terus menyakiti aku? Apa salah aku sama kamu,Drew!" ujar Vivianne mencoba menahan sesak di dadanya dan air matanya mulai luruh.


"Sudahlah! Lebih baik kita akhiri semuanya! Dan semoga kamu bahagia dengan tunanganmu itu! Aku undur diri!" Vivianne menangkupkan kedua jarinya di depan dadanya seakan meminta maaf.


" Ayo, kita balik Tan! Tidak ada lagi yang harus kita tunggu disini!" ujar Vivianne mengajak Tania. Dan Tania mengikutinya.


Bryan menatap Andrew dengan merasa sedih dan kecewa.


" Apa?Lo juga mau memungutnya? Ambil,gih! Sana! Dasar tukang pungut!" Andrew malah mengejeknya.


" Lo keterlaluan,Drew!" ujar Bryan.


" Vivi,tunggu! Tunggu,Vi!" Bryan mengejarnya dan mereka jalan bertiga.


" Drew! Lo mau kemana? Lihatlah, dia dengan mudahnya mendapatkan pengganti lo,Drew! Lo mau bilang dia gadis baik-baik? Lihat! Buka mata lo,Drew! Dia tidak lebih wanita kampung yang hobi menjerat pria kaya seperti kamu!" Valery menghasut Andrew.


Andrew terdiam di tempatnya dan kemudian melirik Valery. " Arghh! Si*l! Diam lo Valery! Lo nggak usah ikut campur! Urusan kita belum selesai! Gue belum meminta penjelasan Lo, ngapain Lo menemui Vivianne? Terus apa tadi dia bilang,tunangan? Lo ngaku-ngaku gue tunangan Lo,Heh? Lo sudah gila,apa?" marah Andrew.


Valery memucat, tapi kemudian dia menenangkan dirinya, " Yah, gue memang gila! Karena gue sayang dan cinta sama Lo,Drew! Lo tau itu! Gue udah suka sama elo dari kecil! Dari kita sama-sama di Taman Kanak-kanak malah! Gue pikir itu hanya cinta monyet! Tapi kenyataannya cinta itu makin subur dihati gue! Bahkan setelah gue pergi ke Melbourne hati gue nggak berubah! Gue makin cinta sama Lo,Drew! Uncle Damian juga setuju akan hubungan ini,kan? Terus kenapa Lo nggak coba membuka hati Lo,Drew! Apalagi kita…kita..sudah…"tutur Valery menahan isaknya.


" Diam,Lo! Itu nggak berarti apapun! Bukan gue yang mau! Lo tau gue mabuk, waktu itu…tapi Lo nggak menghindar! Lo malah memanfaatkan keadaan! Lo sengaja memperkosa gue! Lo memang gadis murahan,Val!" ujar Andrew mencibir.


Plak!


Valery menamparnya, Andrew kaget. " Lo…berani menampar..gue?" 


" Kenapa nggak? Karena Lo sudah keterlaluan! Gue pergi dulu! Biar Lo bisa berpikir! Tapi saran gue, kalau memang seperti Alex bilang, dia hanya cewek mainan Lo, sudah waktunya Lo mengakhirinya, Drew!"Valery beranjak dari sana dimana sudah banyak mahasiswa yang mengerubungi mereka melihat tontonan gratis itu.


Alex menghampiri Andrew, " Dia benar, Drew! Kalau nggak akui perasaan Lo! Dan serahkan kunci motor Lo dan mobil Lo, sekarang ke gue! Kita akhiri taruhan ini!" ujar Alex menepukkan bahu temannya itu.


Alex pun hendak meninggalkannya. Andrew yang kecewa,sakit hati terlebih melihat di kejauhan Bryan menawarkan Vivianne untuk naik ke mobilnya. Hari ini Bryan membawa mobil,tidak seperti biasanya mengendarai sepeda motornya.


" Tunggu! Pertunjukan belum berakhir,Lex! Gue nggak akan kalah! Bukan Andrew nama gue kalau gue kalah!" sesumbar Andrew.


Kemudian dia berlari ke tengah lapangan bermain kampusnya. Dia meminta dan meminjam dikeluarkannya alat pengeras suara dan kemudian berteriak. 


" Hallo Selamat Siang Teman-Teman, bagaimana pertunjukan tadi? Seru,kan? Tapi ada yang lebih seru lagi disana bintangnya. Vivianne dan Bryan! Vivianne dan Bryan bisa kesini?" ujarnya dengan senyuman yang membuat setiap orang curiga.


Vivianne menoleh ke arah Bryan, " Apalagi, ini? Kak?"


" Sudah, kita cuek-kan saja, lebih baik kita balik!" ujar Bryan dan mereka mencoba mengabaikannya.


" Wah, sepertinya kalian takut,yah? Ck..ck..!" ejek Andrew.


Vivianne yang geram, kemudian berbalik, dan dia berjalan kearah Andrew. " Vi! Tunggu,Vi!" 


" Wah…ternyata yang perempuan lebih berani yah? Baguslah, karena dia sudah sampai disini, ada yang perlu dia dan kalian tahu yang sebenarnya!" ujar Andrew menarik nafas dan mengeluarkannya.


" Cepat! Katakan!Jangan bertele-tele,Drew!" Vivianne yang kesal hanya menyebut Andrew dengan sebutan namanya saja. Andrew yang mendengarnya makin sakit hati.


" Wah,wah…dia sudah tidak sabaran dan tidak berpura-pura lagi sepertinya! Baiklah, sesuai keinginan tuan putri…kampung! Asal lo tahu yah,bahwa selama ini Lo hanyalah…perempuan taruhan! Yap! Gue dan teman gue bertaruh kali ini, bahwa gue bisa menaklukkan makhluk cewek cuek,pintar, di kampus ini. Yaitu elo!" Andrew menghentikan ucapannya sejenak, dia ingin melihat reaksi Vivianne.


Terlihat disana Vivianne mematung wajahnya memucat pasti, dengan mulut menutup mulutnya,dan Andrew senang melihatnya.


" Dan fantastis juga sih, taruhannya yaitu mobil ferrari dan motor Ducati gue,luar..biasa! Padahal Lo cuma gadis kampung! Tapi ternyata sepadan sih, Lo cukup sulit didapatkan, tapi begitu didapatkan…Lo ngikutin gue kemana aja..Hehehe…ga mau jauh! Hahaha…enak yah, service gue!" ucap Andrew melanjutkan kembali.


Vivianne makin memerah dan mengeluarkan air mata dengan diam, dia menggelengkan kepalanya. " Tega, kamu Drew! Tega!"lirih Vivianne berujar.


" Kenapa? Mau nangis? Menyesal? Hehehe ..dan Lo perlu tahu! Gue menang! Gue berhasil mendapatkan elo! Satu lagi yang penting Lo harus tau…" Andrew menatap kearah Vivianne yang menatapnya dengan penuh luka dan air mata yang terus mengalir.


Andrew sejenak ragu, namun melihat Bryan dan Tania menghampiri Vivianne bahkan Bryan memeluknya, hatinya makin terbakar cemburu dan marah.


Dengan menarik nafas panjang dia melanjutkannya kembali dengan kilatan mata tajamnya yang seakan hendak memangsa lawannya itu.


" GUE NGGAK PERNAH CINTA SAMA LO,VIVIANNE! GADIS KAMPUNG!" 


Vivianne yang mendengarnya, dengan perlahan air mata di pipinya yang terus keluar, menahan sesak di dadanya..hatinya sesak! "Ya Allah! Ini kah, kenyataannya? Kejujuran yang dia bilang tadi? Benarkah? La-lalu apa arti kebersamaan mereka?"


Para mahasiswa yang mengelilingi lapangan itu mulai berbisik-bisik dan menatap sedih kearah Vivianne dan ada yang menatap senang atau mencibir kearah Vivianne dan masih banyak lagi.


Hingga akhirnya Vivianne pandang mata Vivianne mengabur…dan..


BRUGH!


"VIVI!"


***