
POV Andrew
Hari ini aku mendapat telepon dari Alex, sahabatku. Padahal saat itu aku sedang meeting dengan beberapa kolega yang mengajakku untuk bergabung bersama dalam sebuah proyek IT. Dan ditengah meeting itu Alex mengganggu dengan teleponnya, aku mencoba mengabaikannya. Tapi sebuah pesan dari Alex sangat mengganggu pikiranku.
" Datang, atau kau akan menyesal! Seseorang yang kau cari dari masa lalu saat ini ada dihadapanku tadi!"
"Maksudnya apa? Seseorang dari masa laluku yang sedang kucari hanyalah satu, Vivianne. Seseorang yang telah ku torehkan luka di hatinya!" aku menghembuskan sesak yang ada di dadaku setiap kali aku mengingat satu nama itu. Masih terbayang apa yang telah aku lakukan kepadanya. Dan aku menyesal. Yah, aku menyesal karena sebuah pertaruhan itu, aku kehilangan Vivianne dan Bryan! Salah seorang sahabat kecilku. Dia pergi meninggalkanku beserta sebuah motor yang ku yakini sebagai hadiah dari taruhan kami. Dengan sebuah surat di dalamnya.
" Selamat atas kebodohanmu! Kebodohanmu yang akan menghancurkan hatimu secara perlahan-lahan. Kau akan hancur! Dan maaf aku tidak mau lagi masuk ke dalam kehancuran itu! Cukup Vivianne jangan ada Vivianne-Vivianne lainnya. Jangan cari aku, Aku pergi!"
Betapa menyesakkan bukan?. Sejak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Namun yang kudengar terakhir kali di melanjutkan studinya di London, sedangkan aku? Aku dan Alex dipaksa oleh orang tua kami melanjutkan ke Melbourne,Australia.
Seiring berjalannya waktu aku mulai menerima dengan ikhlas apa yang telah kulakukan terhadap Vivianne, meski penyesalan dan rasa itu selalu ada di dasar hatiku paling dalam. Aku mencintai Vivianne, dan itu kusadari ketika aku sudah kehilangannya.
Tahun pertama aku terpuruk, Alex saksi semuanya. Karena dia yang hanya ada di sisiku. Aku tenggelam dalam mabuk-mabukan setiap hari. Hingga aku jatuh sakit, disaat itulah aku yang seperti hampir meninggal dunia tersadar. Jika aku sudah tidak ada di dunia ini, bagaimana aku bisa meminta maaf kepada Vivianne dan mengakui semuanya?
Kemudian aku bangkit, aku belajar lebih giat dari orang biasanya. Aku hanya ingin menampilkan diriku yang terbaik didepan Vivianne nantinya. Aku ingin dia bangga. Tapi aku tidak yakin akankah ada maaf di hatinya untuk diriku? Aku tidak yakin. Tapi paling tidak, aku sudah berusaha.
Tidak jarang Alex mengajakku kembali ke Jogja agar aku bisa menemuinya, tapi aku selalu menolaknya. Aku belum siap. Belum saatnya. Aku harus lulus dengan nilai terbaik dan harus sukses. Aku lulus dan mendapatkan nilai terbaik, Daddy memintaku kembali tapi aku menolaknya. Aku ingin berjuang disini, memulai usaha ku disini. Dengan pertolongan seorang teman dan Alex tentunya, kami membangun sebuah perusahaan disini. Dan cukup berhasil. Tapi itu belum cukup buatku, aku belum bisa menandingi Daddy. Aku harus bisa. Aku sudah tidak bergantung lagi sama Daddy setelah aku menyelesaikan kuliahku. Aku bekerja bagaikan kesurupan, hingga satu tahun terakhir perusahaan yang aku bangun bersama teman-temanku mulai berkembang dan merambah lainnya tidak hanya di bidang IT. Hanya dengan bekerja aku bisa melupakan kesedihan hatiku, karena selalu menginggatnya.
Hingga satu tahun terakhir aku selalu dihantui rasa bersalah makin besar, aku mulai merasakan mimpi-mimpi aneh. Terkadang aku melihat Vivianne yang menangis, dengan perutnya yang buncit? Apakah dia hamil? Aku tidak tahu. Karena kemudian bayangannya memudar seiring aku bangun dari tidur.
Tidak hanya itu, aku juga bermimpi ada seorang anak kecil menatapku dengan kebencian dengan Vivianne yang menggendongnya. Siapa dia? Apa maksudnya semua ini? Aku tidak tahu, akhirnya ku putuskan kembali terlebih dahulu ke Jakarta, sedangkan Bisnisku disana dikelola oleh temanku, aku akan mengembangkan Bisnis di Indonesia.
Entahlah, untuk apa. Mungkin dengan begini memudahkan aku untuk bisa mengunjungi Vivianne di Jogja,mungkin. Karena Paling tidak Jakarta lebih dekat dari pada dari Melbourne.
Dan disinilah aku, kembali ke habitatku, Jakarta. Setelah menerima pesan meresahkan, aku tidak bisa hanya berdiam diri dan mengabaikannya. Akhirnya dengan menyesal aku menyelesaikan meeting kami lebih cepat dan menyusul sahabat sayangnya laknat itu.
Aku menaiki sebuah taxi, karena aku baru kembali tentu saja aku belum membeli mobil untuk kendaraan ku.
Dan aku bertemu dengannya. Seseorang yang kukira Vivianne. Ternyata bukan.
Aku sedang menerima telepon di tanganku sambil berjalan.
" Please tell me, ini penting Lex! Kalau tidak, maka habis Li sama gue! Dan jangan bilang Lo bawa wanita sialan itu! Gue males bertemu dengannya!" kurang lebih itu yang kubilang ke Alex di sambungan teleponku. Dan wanita yang ku maksud? Valery. Yang dia yang telah ikut campur dalam menghancurkan hubunganku dengan Vivianne.
" Iya, baru saja, sudah Lo kasih tahu dimana? Gue sudah di lobby ini!" ujarku kembali.
(" Gue ,di cafe ABC tempat kita biasa makan kalau kesini! Buruan gue tungguin!")
" Ok!"
Tut!
Aku memutuskan sambungan telepon kami. Tapi ketika aku menoleh, aku melihat seseorang yang hendak masuk ke sebuah taxi dengan menggendong seorang anak kecil hampir terjatuh. Reflek aku menolongnya karena posisiku paling dekat dan aku berada diatas tangga atau undakan pelataran lobby . Aku memeluknya dari belakang agar dia tidak terjatuh. Tubuh itu gemetar ketika menoleh ke arahku, " Kenapa? Apa aku sedemikian menakutkan? Seharusnya tidak! Karena rata-rata perempuan akan terpana ketika melihat wajahku! Tapi dia seperti…Ketakutan?"
" Anda tidak apa-apa,Nyonya?" tanyaku membuyarkan lamunan kami berdua, karena dia sepertinya juga melamun, entah karena apa. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup masker, aku hanya melihat matanya yang kosong dan kemudian gelisah. Hanya itu.
Dia mengucapkan tidak ada apa-apa dan sambil menggendong anak kecil itu yang wajahnya sedikit menyembul, " Kenapa aku merasa familiar dengan wajahnya,ya? Dia..seperti…"
Aku terdiam sejenak, linglung.
" Kenapa dia tidak menoleh ke arahku? Sombong sekali! Tapi mengapa aku bergetar,ya? Tunggu dulu, suaranya….Vivi?" ujarku yang seperti mengenali Suara tersebut.
" Hahah…bicara apa aku ini? Tidak mungkin itu Dia! Tidak! Lagi pula sedang apa dia disini? Di Jakarta ini? Ah, bicara apa aku ini. Aku mulai ngaco! Mungkin karena kelelahan! Yah, pasti karena itu! Ah, sudahlah! Hanya kebetulan mungkin! Tapi mengapa aku masih mengingatnya? Mengapa hatiku terasa berdebar? Mungkinkah..dia…" sambil menatap ke arah taxi yang sudah bergerak menjauh meninggalkan Mall tersebut.
Andrew memegang dadanya, " Kenapa aku masih berdebar bahkan setelah dia pergi? Siapa dia sebenarnya? Dan anak itu…" batin pria itu berpikir mengenai seorang anak yang digendong oleh wanita muda tadi, meski tertutup bahunya Andrew sempat melihatnya dari belakang, dia..mirip….Aku? Dalam Versi kecil!"
Hingga sebuah tepukan di bahunya membuyarkan lamunanku dan aku menoleh, "Wey! Bro! Drew! Bengong aja! Ngeliatin apaan, sih? Cewek cantik? Mana? Mana?" ujar Alex.
" Eh, gue lupa mau kasih tahu sesuatu, tadi gue ketemu Vivianne, Drew! Gila,Man! Dia cantik bener! Tapi kayaknya dia sudah menikah dan punya anak deh!" ujar Alex sambil berjalan.
Aku berhenti berhenti melangkah, dan terdiam mematung. Dan tubuhku seketika bergetar.
" Vivi? Jadi benar dia Vivianne ku? Lantas siapa anak itu? Benarkah Vivianne sudah menikah?"
*****