Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 6 Andrew Menghilang?



Vivianne menarik napas dan menghembuskannya, dadanya terasa sesak saat ini. Yang dipikirannya saat ini adalah mengapa sejak saat itu, saat dimana Andrew mengantarkannya pulang ke kost-an nya, Andrew jadi susah dihubungi dan ditemui. Vivianne merasa Andrew menghindarinya, entah apa salahnya kali ini.


"Apakah Andrew marah terhadapnya? karena ucapannya yang ingin membalas kebaikan Andrew? Apakah dia sudah menyinggung perasaan pria itu? Apakah kata-kataku salah kemarin? Tapi dimana letak kesalahannya?"


Vivianne terus memikirkannya, bahkan hingga hampir seminggu ini dia praktis tak bisa menemui Andrew bahkan sekedar menanyakannya ada apa, sebenarnya dengan dirinya? Itu pun tak bisa dia lakukan Andrew seakan lenyap menghilang ditelan bumi! Dan Vivianne yang dibuat binggung malah makin memikirkannya. Seperti halnya kali ini dia termenung di dapur restauran menghabiskan jam istirahatnya setelah menyantap bekalnya.


Vivianne ingin menjelaskan sebenarnya sejak pagi hari itu ketika Andrew mengantarkannya pulang ke kost-an nya yang terletak didaerah Depok tak jauh dari kampus UGM. Ingatannya menjadi melayang ke beberapa waktu lalu ketika Andrew mengantarnya pulang.


" Apa kamu mau minum dulu, mungkin Drew?" tanya Vivianne menawarkan minuman begitu mereka sampai didepan Kost-an nya.


" No, thanks. Tadi sudah minum. Kalau begitu aku balik, yah?" ujar Andrew dingin tanpa menoleh kearahnya.


"Tapi, apa kita masih bisa bertemu kembali kan, Drew?" ujar Vivianne keceplosan. Andrew menatapnya mencoba mencerna ucapan Vivianne sepertinya. Vivianne yang ditatap seketika gugup, buru-buru dia berujar.


" Ma-maksud aku, untuk mengembalikan kaos eh, sweater kamu ini. Yah, itu maksud aku!" ujar Vivianne sambil menunjukkan bajunya.


" Oh, tidak perlu! Aku punya banyak di rumah!" ujar Andrew tetap dengan dingin. Sesungguhnya ada hal yang Vivianne tak ketahui, dan rasanya dia ingin tertawa dan mencubit wajah polos menggemaskan Vivianne, tapi semua itu ditahannya demi sebuah misi! Dan dia harus berhasil kali ini.


" Ya sudah, aku kembali yah? Jika tidak ada hal lain yang ingin kamu bicarakan." Andrew berjalan kearah mobilnya dan ketika ingin membuka pintu kemudi, suara lembut Vivianne menahannya.


" Drew, tunggu!"ujar Vivianne dengan gugup dan sedikit linglung sepertinya.


Andrew yang mendengarnya tersenyum, namun senyumnya menghilang ketika dia berbalik dan merubahnya menjadi kaku kembali.


" Ya?" ujar Andrew.


" Hm..Sekali lagi terima kasih,yah? Maaf sudah merepotkan kamu. Hati-hati dijalan!" ujar Vivianne dengan pelan.


" Hmm." hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Andrew dan dia kembali membuka pintu mobilnya dengan sedikit kesal dibantingnya pintu mobilnya itu.


" Kenapa juga aku berharap banyak dari cewek kampungan yang kaku itu,coba! Apa susahnya sih, nahan gue? Tanya kek, kenapa gue dingin! Dasar, cewek arrogant!" kesalnya dalam hati. sambil kemudian menyalakan mesin mobilnya itu dan berlalu dari pandangan Vivianne tanpa pamit kembali.


Sementara disana Vivianne hanya menatap sayu, dia bukannya tidak tahu bahwa Andrew kesal dan amarah kepadanya terbukti dari hempasan pintu mobilnya yang keras dan terdengar oleh Vivianne. Hanya saja, anggaplah Vivianne memang lugu dan sekaku itu! Dia tak terbiasa berhadapan dengan seorang pria, apalagi sekedar membujuk dengan manja dan bertanya ada apa dengan malu-malu seperti yang biasa gadis lain lakukan. Seumur hidupnya, dia tak pernah melakukannya! Berdekatan dengan seorang pria saja dia belum pernah! Dan ini pengalaman pertama buatnya, jadi wajar jika dia tak tahu harus bersikap seperti apa! Tapi rupanya Andrew malah salah paham menanggapi sikapnya itu.


"Puff!" Vivianne kembali menarik napas panjang dan membuang napasnya dengan berat, dadanya sesak menginggat kejadian itu. Sejak saat itu Andrew tidak bisa dia temui dimanapun, diperpustakaan, lapangan basket, diparkiran, bahkan dikantin pun tidak!


Vivianne sepertinya butuh banyak udara segar dan oksigen saat ini.


" Wey! Door!" ujar seseorang gadis mengangetkan Vivianne.


" Astagfirullah, Tan! Kamu bikin kaget aku saja deh! Kalau aku jantungan gimana?" ujar Vivianne sambil mengelus dadanya itu.


" Ya tinggal dibawa kerumah sakit lah, palingan juga kamu pahit pahitnya meninggal,sih! Lagian, ngapain sih, melamun aja? Mengakahkan ayam tetangga , yang mau kawin, tau!"ujar Tania yang merupakan teman satu pekerjaan part time sama halnya dengan Vivianne.


" Hahaha....kamu tuh, yah! Bener-bener lugu yah? Lagian mana ada, ayam mau kawin melamun dulu? Yang aku tahu sih, langsung ngejar atau terjang,tuh!"ujar Tania tanpa bisa menahan tawanya.


" Tapi, tadi kamu bilang.." Vivianne makin kebingungan, "Kenapa jadi dia yang salah? bukankah itu tadi yang dibilang sama Tania bukan?" lirih batinnya.


" Aish! Susah,yah? Ngomong sama orang lugu kayak kamu! Becanda,Vi! It's only a joke,you know? Sudah, nggak usah dibahas! lagian aku perhatiin kamu benggong narik napas buang napas, begitu terus-terusan. Kenapa sih? Ada yang mengganggumu? Mendingan cerita deh, sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu kamu,ya nggak?" tanya Tania mulai mengambil kursi dan menariknya agar lebih dekat dengan Vivianne.


Vivianne menatap Tania, dia adalah satu-satunya teman Vivianne yang tebaik saat ini mereka saling terbuka dan saling bantu mengenai apapun, tapi apakah dia pantas bercerita kali ini?


Akhirnya dengan sedikit keberanian, dia menceritakan mengapa dia sempat tidak masuk hampir seminggu itu kepada Tania. Tania mendengarkannya dengan seksama.


" Jadi, menurut kamu,Tan. Dia apa namanya kalau bukan menghindari aku?" tanya Vivianne setelah menuntaskan ceritanya itu.


" Kalau menurut aku, ada dua faktor sih, Vi! Satu, dia memang tulus membantu kamu dan tersinggung dengan kata-kata kamu! Aku aja sebagai cewek akan tersinggung loh, kalau kamu ngomong seperti itu! Seakan akan aku minta bayaran gitu, karena nolongin kamu!" ujar Tania.


" Iyakah? Tapi maksud aku, beneran nggak gitu loh, Tan! Aku hanya merasa berhutang Budi saja, dan aku tak ingin berhutang Budi sama orang lain! Hanya itu!Bunda selalu berpesan, sekecil apapun pertolongan seseorang terhadap kita, maka, kita wajib sebisa kita membalasnya! Itu pesan Bunda!"ujar Vivianne berdalih.


" Iya, aku juga tahu kamu orangnya begitu, tapi untuk orang yang nggak kenal kamu, mereka akan berpikiran kamu angkuh, loh! Percaya deh, sama aku!" ujar Tania sambil menepuk bahu temannya itu.


"Terus aku mesti bagaimana dong?" untuk seorang yang sangat pintar karena penerima beasiswa, untuk urusan beginian tiba-tiba otaknya terasa buntu.


" Ya ampun, Vi. Kamu tuh, yah! Anak sepintar kamu masa nggak tahu bagaimana? Yah minta maaflah! Temui dia, minta maaf bilang bukan itu maksud kamu!" ujar Tania sambil menggelengkan kepalanya.


" Seandainya bisa sesimpel itu,Tan! Sekarang aja, dia susah aku temui, Tan!" Vivianne menghembuskan napasnya dan tertunduk.


" Yah, kamu berusahalah! Tanya kek, sama teman dekatnya, teman sekelasnya, atau siapa kek! yang bisa kasih informasi mengenai keberadaan dia!" ujar Tania sambil menggenggam jemari Vivianne.


" Astagfirullah! Kenapa aku sampai nggak kepikiran itu yah? Yah, aku tahu ada anak salah satu senat sepertinya selalu pergi bersama dia deh! Yah aku bisa tanya sama dia! Thanks ya Tan! Aku jadi bisa menemukan solusi karena curhat sama kamu!" Vivianne balas menggenggam tangan Tania.


" Iyalah, Tania gitu loh! Semangat yah Vi! Aku doain kamu bisa menemui dia,yah? Eh, ini nggak gratis yah!" ujar Tania sambil menyilangkan lengannya didadanya.


" Uh! Dasar cewek matre! Iya nanti aku beliin bakso pak kumis yah? Cukup dong?" ujar Vivianne sambil menarik alisnya keatas.


" Hehehe...tau saja kesukaan aku! sip lah! Kadang memang gitu Vi, kita suka nggak bisa berpikiran jernih jika mengalami kesulitan! Padahal bisa saja solusinya didepan mata! Makanya itulah gunanya kita curhat sama teman yang terpercaya! Kayak aku!" ujar Tania dengan sombong.


" Aduh, mulai lagi deh! Sombongnya! Oh iya Tan, ngomong-ngomong alasan atau faktor kedua yang kamu bilang apa, yah?" ujar Vivianne penasaran.


" Oh, itu. Hm, alasan keduanya adalah..Dia memang nggak naksir kamu!"ujar Tania santai.


" Hah? Apa?"


*****