
Bryan melambaikan tangannya ketika Vivianne memutuskan pergi dan kembali kelasnya.
Setelah Vivianne menghilang dari pandangannya Bryan, mencoba merogoh benda pipih dari kantong celananya itu.
Bryan memutuskan akan menemui Andrew secepatnya, "Sepertinya hari ini anak itu tidak masuk kelas, entah mengapa alasannya kali ini.Mungkin mood nya sedang tidak baik." dan Bryan sudah sangat hafal.
Telepon tersambung.
" Dimana, Lo,Drew? Di apartemen bukan?" tanya Bryan kemudian.
(".....")
" Ok, Lo jangan kemana-mana! Gue susul,yah?"ujar Bryan kemudian menutup teleponnya.
" Guys, gue balik dulu yah? Ada urusan,nih! Tolong bilang ke Leo, gue balik duluan yah?" Bryan berpamitan kepada anak senat yang sepertinya sedang membahas baksos yang tidak berapa lama lagi akan mereka lakukan. Itulah sebabnya dia tadi disini untuk membahas bersama Leo sang ketua senat.
" Ok, Bry! Take care! Nanti kita sampaikan ke Leo!"ujar salah seorang temannya itu.
" Thanks, bro!"
Bryan pun pergi meninggalkan ruangan senat setelah sebelumnya melambaikan tangannya tanda berpamitan.
Dengan berjalan santai dia menuju parkiran, kali ini dia memang sendirian di kampus, sedangkan Alex dia tak ada pelajaran, sehingga dia memutuskan tidak ke kampus. Berbeda dengan Andrew yang sepertinya bolos kali ini karena semalam, yang Briyan tahu dia pergi hingga larut malam ke ulang tahun Martha bersama Alex. Bryan tidak bisa ikut dengan alasan dia meeting dengan senat.
Padahal sebenarnya adalah dia sangat malas menghadiri party seperti itu, terutama party nya Martha. Cewek yang sok cantik yang sudah dua tahun ini mengejar-ngejar Andrew. Sikapnya yang sok kecentilan membuatnya gerah. Belum lagi gaya pakaiannya. Bak lagaknya arti Hollywood kalau tak ingin dibilang kekurangan bahan sih. Entah mengapa, Andrew dan Alex betah dengan mereka.
Bryan mengeluarkan motor sportnya dari parkiran kampus. Kali ini dia malas membawa mobil dia hanya membawa motornya saja.
Namun ketika dia hendak melakukan motornya meninggalkan parkiran kampus, seseorang memanggilnya.
" Bry!" Seorang gadis baru saja melambaikan tangannya. "Aih, kenapa harus ketemu orang ini sih?" Bryan makin kesal, karena orang yang baru saja dia benci hadir di hadapannya. Yah, dia Martha.
" Apa?" ketus Bryan.
" Dih! Galak banget,sih? Eh, jangan galak-galak dong! Nanti tambah ganteng,loh. Terus kan aku bingung mau pilih yang mana, Kamu atau Andrew!" ujar Martha dengan centil sambil menyentuh tangan Bryan.
Bryan dengan jengah melepaskannya," Bodo amat! Buruan, Lo mau apa? Kalau nggak gue tinggal,nih!"
" Ih, Bryan, jutek banget!" ujar Martha sok manja.
" Ya udah, ga penting,kan? Gue tinggal yah?" Bryan hendak melakukan motornya dan mulai memasang helmnya.
" Eh, tunggu!" sambil memegang tangan Bryan dan mendapati tatapan tajam dari Bryan ketika membuka helmnya.
" Maaf." Martha merasa tak enak hati dan menariknya kembali. Diantara mereka bertiga Bryan memang terkenal paling jutek, sehingga meskipun dia tampan, tak jarang setiap gadis di kampus ini ketakutan jika berhadapan dengan Bryan.
" Hm, aku mau tanya, Andrew mana yah? Dari semalam, aku cariin di acara pestaku dia nggak ada, lho! Hari ini juga gitu,kamu tahu dia dimana? Terus tadi juga ada cewek bar-bar nyariin dia juga. Dia siapanya Andrew sih?" Martha penasaran.
" Cewek bar-bar?" Tanya Bryan yang kini malah bingung.
" Iya, anak tingkat satu yang sok kecantikan dan jago taekwondo itu! Dia siapanya Andrew sih?" tanya Martha kembali.
" Oh, Vivianne maksud kamu? Dia pacarnya Andrew!" dengan asal Bryan mengucapkannya.
" Hah? Pa-pacar?"ujar Martha seperti tak terima dan kaget.
Bryan tak menjawabnya, dia melajukan motornya dan meninggalkan Martha yang melonggo.
****
Setelah beberapa lama Bryan pun sampai di apartemen tempat Andrew berada. Setelah dia memarkirkan motornya dia pun menaiki lift menuju unit apartemen Bryan.
Bryan memasukkan kata sandi apartemen Andrew, diantara mereka tak ada satupun rahasia termasuk kata sandi masing-masing apartemen mereka.
" Drew! Woy! Dimana Lo?" Bryan berteriak setelah memasuki apartemen Andrew yang memiliki dua kamar itu.
" Ish! Berisik! Gue di kamar! Kepala gue makin pusing denger teriakan lo nih!" Andrew yang masih rebahan di kamarnya sambil memegang kepalanya yang terasa nyeri.
" Wey! Sudah siang! Bangun! Nih gue bawain Lo sarapan! Pasti Lo baru bangun dan belum makan? Cek,cek! Berantakan banget sih, kamar Lo,Drew! Bau, lagi! Jangan bilang ke gue lo minum-minum lagi?" dengan kesal dia menatap temannya ini. Jika ada dia dapat dipastikan Andrew tak akan menyentuh minuman haram itu.
Andrew memang kasihan sebenarnya, dia ditinggalkan oleh ibunya ketika masih kecil, dia kehilangan kasih sayang sang ibu. Sedangkan sang papah malah sibuk bekerja, hampir tak punya waktu untuk anaknya itu.Untunglah sang nenek sangat menyayanginya dan Andrew kecil tumbuh dengan kasih sayang sang nenek. Namun ketika dua-tiga tahun terakhir neneknya meninggal dunia, dan sekali lagi Andrew kehilangan kasih sayang, penganti sang mama. Hingga akhirnya dia memutuskan pindah kuliah ke Jogja agar jauh dari sang papah. Mengikuti jejak para sahabatnya.
Dua tahun terakhir Andrew meski pintar, tapi tak jarang menyukai minum-minuman keras, dan selama ini Bryan dan Alex yang menjaganya agar tidak mendekati minuman haram itu. Tanpa Andrew ketahui, sang papah selalu memantaunya melalui Bryan. Bryan tak tega melihat kegelisahan sang papah yang tak ingin anaknya terjerumus pergaulan bebas.
Andre berjalan ke dapur dan membuatkan teh hangat dengan madu untuk menghilangkan rasa mual Andrew dan kemudian berjalan ke arahnya.
" Lo, kenapa sih? Kan Lo udah janji sama gue nggak akan meminum-minuman haram itu lagi,kan? Lantas, ini apa?" ujar Bryan sambil menyodorkan teh madunya.
" Gue minum dikit kok! Tapi nggak tahu kenapa, gue jadi pusing! Mungkin karena gue udah lama nggak meminumnya,kali yah? Thanks yah bro, minumannya!" Andrew memaksakan diri untuk sekedar berdiri meraih makanan yang dibawakan Bryan.
" Ya, sama-sama. Mendingan Lo, sarapan dulu deh! Biar enakan itu badan ga lemes. Habis itu mandi, gue tunggu di ruang TV, okay?" ujar Bryan melangkah ke ruang tengah meninggalkan Andrew yang masih meminum tehnya dan mulai memakan makanannya.
Tak berapa lama Bryan mendengar langkah kaki dan menoleh, ternyata Andrew telah mandi dan berganti pakaian. Dia tampak segar sekarang.
" Sengaja, gue mau ngomong sama Lllo! Makanya gue nggak ngajak Alex!" ujar Bryan kemudian.
" Ngomong? Sama gue? Ngomong aja kali tumben banget, ngomong pake minta izin segala!" ujar Andrew santai sambil menatap TV besarnya.
Bryan mematikan TV Nya, dan mengarahkan badannya ke arah Andrew.
" Hey! What are you doing?" Andrew mengambil remote dan menyalakan kembali. Tapi dimatikan kembali oleh Bryan. Akhirnya dia pasrah, sepertinya serius kali ini.
" Please, Drew!"
" Ok, fine! Lo mau ngomong apa sih?" Kini Andrew menatap sahabatnya itu.
" Tinggalkan Vivianne!" ujar Bryan tenang.
" Hahaha? Really? You are joking, right? Atau lagi prank - in gue nih!" Andrew tertawa dengan lepas.
Namun seketika dia terdiam melihat sahabatnya yang hanya diam, " You're not joking! Alasannya? Give me one reason!"
"She is too kind for this! Dia menghubungi gue, dan dia minta ketemuan buat lo, dia mau minta maaf! Dia ga ada maksud untuk menyinggung perasaan Lo! Itu yang dia bilang ke gue! So, please, release her,Drew!" Bryan menatapnya dengan berani.
" Never! Bagus, dong! Kalau begitu dia sudah masuk perangkap gue! Kan lo tau gue susah banget dapetin dia! Dengan cara ini gue bisa mendapatkan simpatinya dan bukan gue yang ngejar dia! Tapi dia yang ngejar gue!" dengan santai Andrew menaikan kakinya diatas meja TV dan kembali menyalakannya.
" Drew! Stop it,okay! Gue akan bilang Alex bahwa kita akan membatalkan taruhan kita! Asalkan jangan Vivianne, maka It's fine for me!" ujar Bryan ketika akan mengeluarkan benda pipih nya dan menghubungi Alex. Namun ketika tersambung malah dimatikan oleh Andrew.
" Don't be ridiculous! Gue sudah tetapkan dia target gue! Apa salahnya? Dia cantik, baik, smart, dan lo mesti tau ini bodynya luar biasa!" dengan bercerita tatapan Andrew penuh minat.
Brak!
Bryan melemparkan remote TV ke sembarang arah.
Bryan menatapnya nanar, dia marah Andrew berkata seenaknya mengenai Vivianne karena Vivianne bukanlah seperti gadis kebanyakan yang mereka kenal, dan Bryan tak ingin Andrew merusaknya.
" Lo, kenapa? Gue udah kira! Lo pasti naksir dia! Lo terlalu lemah! Kan, Lo tahu peraturan kita! Bahwa jika kita sudah menentukan seorang gadis sebagai sasarannya, maka tak ada satupun orang yang berhak! Termasuk, lo! Kita, tidak boleh satupun yang menyukainya! Tapi kayaknya, Lo menyukainya! Lo mulai berani menentang gue? Hah?" Andrew juga bangkit dari Sofanya dan menghadap Andrew.
Bryan mengalihkan pandangannya ke arah berbeda.
" Hahaha…Seorang Bryan menyukai gadis kampung! Hah! Kayak nggak ada orang lain saja! Boleh sih, gini deh, setelah dia habis nih sama gue, lo bolehlah! Pungut itu sampah gue! Gimana? Toh, Lo selalu terima sampah gue kan, kayak Lisa!" Andrew mengejeknya.
Andrew tak kuasa menahan amarahnya, seketika tangannya bergetar dan mulai mengepal. Tanpa aba-aba dia memberikan bogem mentah kepada Andrew.
BUG!!
Dua kali Andrew mendapatkan bogeman mentah Bryan. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Dibiarkannya saja. Kemudian dia berdiri karena sempat terhuyung duduk di sofa.
" Wah..wah! Bayi besar! Mulai menunjukkan taringnya! Maju Lo!" Andrew memprovokasinya hingga terjadilah pertempuran diapartemen Andrew.
Cukup lama mereka saling baku hantam hingga kedua tak karuan. Andrew mendapatkan pelipisnya robek dan sudut bibirnya juga. Sedangkan Bryan mendapatkan pipinya memburu dengan bonyok mengerikan di sekujur wajahnya.
Mereka terkulai lemah, ketika mereka hendak melanjutkan perkelahian mereka kembali, Alex muncul dengan wajah kebingungan.
" What the…apa yang kalian lakukan? Apa angin ribut datang kesini? Drew? Bry?" tanyanya melihat mereka yang tak karuan dengan rambut acak-acakan dan luka disana sini.
" Mending lo tanya tuh! Sahabat Lo! Yang sudah gila karena kepincut gadis kampung! Cih! Ga level!" ujar Andrew sambil mengeluarkan darah segar.
Bryan hendak kembali memukul Andrew namun ditahan oleh Alex, "Bry? Maksud Andrew apa?"
Bryan menatap Alex tapi tak menjawabnya.
" Mana berani dia jawab! Sudah gue bilang jangan pake perasaan disini! Eh, dia masih saja lemah! Persis kejadian waktu sama Lisa! Gue juga bilang kalau dia mau, ambil dah bekas gue nanti! Eh, dia ngamuk!"ujar Andrew tak berhenti berkicau.
" Lo, tuh, ye…!" Bryan hendak menerjang kembali tapi ditahan oleh Alex.
" Drew! Bry! We are like brothers! So stop it!" sambil memegang bahu Bryan yang emosi.
" Dia duluan yang mukul gue kok! Yah gue ladeni lah!" ujar Andrew kesal.
" Bry! Lo mending tenangkan diri Lo dulu deh! Lo pergi dari sini! Sementara Lo, Drew, shut up your mouth!" Alex berujar kesal.
Andrew memperagakan menutup mulutnya dengan tangannya sambil tatapan mengejek!
" Chicken!" Andrew mengejek Bryan.
" Drew!!"
" Okay!! Okay!!"
Bryan pun pergi dari apartemen Andrew dengan menonjok pintu dan melukai tangannya.
Brak!!
*****