Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 25 Ketahuan Alex! Dan Peringatan Alex!



Andrew dan Vivianne terkejut, secara reflek Vivianne mendorong Andrew. Andrew yang tak Siap terhuyung ke belakang, dengan buru-buru menolong Andrew dengan menariknya, namun Vivianne yang tak kuasa menahan beratnya malah terjatuh dengan posisi Andrew diatasnya.


Vivi makin merunduk mungkin jika suasana terang terlihat semburat merah di pipinya. Dan tanpa sengaja Alex, menyentuh saklar.


Andrew berteriak, " Jangan!!" 


Tapi terlambat, Alex telah keburu menyalakannya. Andrew menepuk keningnya dan wajahnya.


" Lho, ternyata…" ketika dia mengedarkan pandangannya meski jarak mereka cukup jauh, namun Alex bisa melihat posisi mereka yang sedikit mengundang itu. " Tidak mati,toh lampunya!" ujarnya sambil nyengir ketika melihat keduanya.


" Wow! Man! Cepat juga Lo, yah?" ujar Alex dengan nyengir.


" Kak Alex, ini tidak seperti yang terlihat kok! Tadi-tadi Kak Andrew mau jatuh, jadinya aku menolongnya..eh, malah..aku…." ujar Vivianne mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini.


" Nggak kenapa-kenapa juga kali,Vi! Hehehe…aku mah, terserah kalian saja, lagi pula kalian sudah pada dewasa,kan? Nggak perlu aku kasih tahu kan? Dan nggak perlu laporan juga kali ke aku!" ujar Alex sambil berjalan menggaruk lehernya yang tidak gatal.


" Bukan begitu,Kak! Aku tidak mau kakak salah paham, ini beneran tidak seperti yang kakak pikirkan!" ujar Vivianne kembali.


Sedangkan Andrew hanya menggelengkan kepalanya dengan lelah, "Percuma menjelaskan sesuatu ke Alex jika dia sudah melihat sesuatu,Vi!" lirih Andrew ke Vivianne.


" Tapi,Kak! Nanti dia jadi salah paham! Aku nggak mau!" ujar Vivianne lemah.


" Salah paham? Nggak, kok! Aku nggak salah paham,cuma, sepertinya kalian sepertinya nyaman sekali yah di bawah sana, padahal sedang ada tamu nih!" ujar Alex sambil mengerlingkan matanya.


Vivianne dan Andrew saling menatap, mereka baru tersadar posisi mereka. Terutama Vivianne, " Kak! Bangun, ih! Berat, tahu! Malu juga tuh, sama Kak Alex!"kesal Vivianne.


" Ih, orang kamunya juga diem saja sih, dari tadi! Sudah tahu kaki kakak sakit! Pakai didorong, tadi!" cemberut Andrew bak anak manja.


" Dih, jijik gue liat tingkah laku Lo,Drew! Sini gue bantuin! Hobi kok, jatuh ditempat yang empuk,sih?" sindir Alex sambil mengulurkan tangannya. Entah sejak kapan dia sudah ada dihadapan Andrew.


" Diem,gak Lo! Entar gue sobek nih, mulut lo,sekalian! Biar makin lebar!" kesal Andrew.


" Idih, bolehnya ngancem! Nanti wajah gue nggak ganteng lagi, dong? Nanti mirip Joker, bagaimana?" dengan raut wajah cemberut.


" Bodo,amat. Memang gue pikirin! Lagian sejak kapan lo,ganteng? Nggak salah,tuh? Ngimpi aja, dibanyakin! Buruan bantuin,gue!"kesal Andrew karena suasana yang romantis yang sedang dibuatnya terganggu karena kehadiran Alex.


" Yee, ntar nggak gue bantuin nih! Ngesot aja lo,situ di lantai!" Alex ikut-ikutan kesal.


" Oh, Lo mulai berani yah, sama gue? Yakin,lo? Mau ngelawan gue?" tantang Andrew dengan wajah iblisnya.


" Eh, nggak,gitu Drew! Ah, susah nih urusan gue kalau Andrew ngambek! Alamat black card hidup gue melayang!" lirih Alex namun sayup-sayup didengar oleh Andrew.


" Apa kata, lo? Gue apa kata lo tadi?" dengan mengerutkan keningnya.


" Nggak,Drew! Sensi banget lagi PMS yah? Gue cuma bilang elo yang ganteng!" ujar Alex dengan ngeles. Sambil buru-buru menolong Andrew.


" Memang dari dulu! Baru sadar, heh?" dengan santai Andrew menjawab dan menyambut uluran tangan Alex dan mencoba berdiri.


Akhirnya setelah drama yang tidak berfaedah itu mereka kini sama-sama duduk disebuah kursi di sofa. 


Alex melihat di sekelilingnya,dimana banyak bunga berserakan dan dengan lilin yang masih menyala di beberapa tempat karena sebagian tadi sudah sempat diambil oleh Vivianne dibenahinya.


" Apartemen Lo kok, jadi kotor begini sih, Drew! Kok Lo jorok banget,sih? Bukannya Vivianne sudah bantuin yah, beres-beres disini? Dan ada si mbak yang masih datang tiap pagi,kan? Terus itu kotoran dari mana? Kan Lo nggak punya pohon bunga,Drew!" Alex yang tak mengerti, masalahnya dia tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Karena katakanlah dia belum pernah jatuh cinta sebelumnya.


Vivianne yang mendengarnya hanya bisa menahan senyum geli, dan Andrew yang melihatnya menjadi melotot kesal.


" Kamu jangan ikut-ikutan bikin kesel kayak dia ,yah,sayang! Ini juga gara-gara kamu tau! Aku sampe seperti ini, biar kamu maafin aku!"ujar Andrew kesal.


" Iya,iya. Lagian salah siapa,coba?" ujar Vivianne malah membalikkan ucapan Andrew.


" Nggak, tuh! Aku kan nggak cemburu buta kayak,kamu! Week!" ledek Vivianne sambil mencibirkan bibirnya.


" Kamu! Awas yah!" dengan gemas Andrew hendak berdiri.


" Stop! Stop! Kalian ngomong apaan sih? Gue nggak paham deh!" ujar Alex tiba-tiba.


" DIAM!!" ujar keduanya melotot ke arah Alex.


" Ok!!Ok!! Fine! Cuma gue mau bilang, sih! Ini sudah mau malem! Sudah jam 21:00 Vivi bukannya kerja yah? Makanya gue kesini!" ujar Alex.


" Astagfirullah! Bagaimana nih, udah telat dong mau berangkat, yuk, Kak Alex! Kita Jalan!" ujar Vivianne jadi melupakan sesuatu karena kejutan Andrew dan kedatangan Alex.


" Hmm, Vi? Bisa tidak kamu cuti dulu sehari ini? Minta izin gitu, sehari..saja..mau,yah?" mohon Andrew. Dia ingin merasakan ulang tahunnya kali ini berbeda, ditemani oleh Vivianne.


Vivianne berpikir, " Bisa sih, tapi.." dia menatap kearah Alex.


Andrew pun menatap kearah Alex. Alex yang ditatap keduanya malah bingung.


" Wow! Kenapa nih? Kok gue merasa sedang disidang dan seakan-akan kalian sedang mau mengusir,gue yah? Padahal gue kesini maksud gue baik,loh! Gue mau ngerayain ultah temen gue ini! Siapa tahu gue ditraktir,ya nggak? Sekalian ngingetin Vivi dan anterin ke tempat kerjaannya!" ujar Alex dengan santai.


" Betul sekali! Anda diusir,Pak! Gih, sana lo pergi! Besok-besok deh Lo kalau mau minta traktiran! Hari ini gue ada rencana!" ujar Andrew sambil mendorong Alex kearah pintu meski dengan kakinya yang sakit dibantu kruk-nya.


Alex melihat kiri kanan, " Ooo..Jangan bilang kalian lagi kencan! Jadi ini candle light dinner? Untuk perayaan ultah,lo?" ujar Alex.


" Yap! Dan elo merusaknya! Makanya buruan gih, pergi, sana! Gue mau berduaan saja sama Vivi malam ini!" usir Andrew.


" Yaah, Drew! Nggak bisa apa candle light dinner nya besok-besok? Biasanya lo, juga gitu kok! Sama cewek yang lain!" Alex yang kesal keceplosan.


Untung saja, Vivianne sedang membereskan sisa-sisa bunga bertebaran di apartemen itu sehingga tidak terkesan kotor. Jadi praktis Vivianne tidak mendengarnya.


Buru-buru Andrew membekap mulutnya Alex, " Jangan ngomong begituan kalau ada Vivi! Lo mau mati,ya?" dengan amarah menatap sahabatnya itu.


" Hmm…" Alex ingin berbicara tapi mulutnya yang tertutup sehingga tidak bisa dilakukan.


Akhirnya dengan malas Andrew membukanya bekapan tangannya sambil memperingatkan, " Awas! Jangan ngomong macem-macem!"


Alex pun mengangguk setuju. " Iya, sorry deh, gue kelepasan! Tapi yakin Lo, nggak ada perasaan apa-apa sama Vivianne? Kok makin kesini gue lihatin, Lo kayak ya beda deh! Kayak orang yang sedang kasmaran gitu! Ingat,Drew! Taruhan kita! Jangan pakai hati!"


Andrew terdiam sejenak namun ditutupinya. " Bawel Lo! Sudah Lo percaya saja sama gue!" sambil membuang mukanya.


" Iya, gue hanya mengingatkan saja, jangan sampai kejeblos beneran! Susah bangunnya! Gue sih, nggak masalah sih,tapi ingat siapa, lo! Siapa Vivi! Bokap lo pasti nggak akan setuju! Yah, siap-siap aja sih, kalau lo mau kalah! Motor baru Lo yang baru mau dikirim Sam mobil Lo,buat gue sama Bryan!" cengir Alex.


Andrew terdiam beberapa saat, " Nggak akan! Sudah sana Lo pergi!"


" Siap! Selamat indehoi lah! Jangan lupa sama kita-kita kalau lagi seneng!" ujar Alex dan kemudian keluar ke apartemen Andrew.


BAM!


Alex kaget, ketika mendengar Andrew menutup pintu apartemennya dengan keras.  " Idih! Itu Anak deket sama Vivi makin emosian sih? Jangan-jangan dia suka beneran lagi? Ah, bodo amat! Bagus kalau suka! Gue yang untung..Hahaha!" dengan santai keluar dari apartemen Andrew.


Alex yang hendak turun kebawah seketika seperti melihat bayangan seseorang di dalam lift ketika terbuka dan kemudian buru buru hendak menutup liftnya kembali.


" Hah? Siapa itu? Seperti….Bryan? Tapi kenapa dia nggak jadi keluar? Hey! Bry! Tunggu!" kejar Alex namun pintu lift telah tertutup Alex memilih membiarkannya.


" Bryan kenapa? Kenapa tidak jadi keluar? Seperti menghindar? Ah, bodo amat! Kepalaku jadi pusing memikirkan mereka!"


Dan Alex pun pulang kembali ke apartemennya dengan kegagalan minta traktiran Andrew.