Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 64 Rencana Rahasia Andrew!



Tiba-tiba Andrew tertawa melihat wajah pucat pasi sang Papah. Seumur hidupnya dia baru melihat sang ayah seakan ketakutan, dan kehilangan kendali terhadap dirinya.


Tidak akan ada yang menyangka dan menduganya jika pria di hadapannya ini seorang Damian Matthews yang terkenal di kalangan  pebisnis di negeri ini. Papanya yang terkenal dingin dan tegas dihadapan koleganya seakan menciut dihadapan sang anak. Seperti seorang yang tertangkap basah!


" Lihatlah, wajahmu,Pah! Sangat aneh sekali! Aku baru melihatnya! Ternyata seorang Damian Matthews bisa juga pucat seperti maling yang tertangkap basah! Hahahaha .." ujar Andrew kembali.


Damian makin mematung di tempatnya. Jika bisa dia ingin lampu ruangan jangan pernah terang dan atau biarkan dia tenggelam ke dasar bumi saat ini.


Puas tertawa, Andrew menatap sang papah yang masih termangu. "Papah kenapa yah?" lirihnya.


" Don't you want to hug me, Pah? Really? Or I have to say First, I'm home! Thank God, I'm finally home!" sambil merentangkan tangannya lebar.


("Apakah anda tidak ingin memelukku, Pah? Benarkah? Atau aku harus bilang terlebih dahulu, Aku pulang….! Syukur pada-NYA akhirnya aku pulang!")


Damian yang semula terdiam, kemudian tersenyum dan menyambut sang anak yang bergerak maju memeluknya itu.


Kemudian mereka berpelukan hangat, sambil menepuk punggung masing-masing. Sambil tertawa dan tersenyum.


Damian harus mengakui dia kangen kepada anaknya itu, jika melihat jika anaknya semakin dewasa…dan…Tampan!


Secuil hatinya terasa dicubit, dia cemburu kepada ketampanan anaknya? 


Tapi, bukankah seharusnya dia bangga,bukan? Karena itu berasal dari  bibitnya?


" Hey! Sadarlah Damian! Kau berpikir yang tidak-tidak!" Damian menggelengkan kepalanya.


" Kenapa,Pah? Papah sakit?" gelengan Damian disalah artikan oleh Andrew!


" Ah, tidak! Papah cuma tidak percaya saja kamu kembali dan sehat, setelah sekian lama…" Damian menatap sang anak haru.


" Setelah, sekian lama Papah membuang ku ke negeri orang, begitu?" sambar Andrew tersenyum kecut.


" Drew! We already talked about this,Ok? Do you still want to discuss this anymore? Are sure?" Damian jengah mendengarkan sindiran Sang anak dia duduk di kursi sofa depan TV.


(" Drew! Kita sudah pernah membicarakannya ,kan? Apakah kamu masih ingin membahasnya sekali lagi? Kamu yakin?")


" Nop,Dad! I know! I'm just a joke,Ok? Why do you always take it so seriously?" menatap wajah tampan sang ayah yang masih sangat tampan di usianya yang meski hampir 50 tahun itu.


(" Tidak. Aku tahu. Aku hanya sekedar bercanda,ok? Kenapa papah selalu menangkapnya serius sih?")


" Hati-hati, sudah tua tambah cepet tua loh! Nanti kabur itu calon istri! Katanya dia masih,muda kan? Hati-hati! Diambil orang baru tau rasa!" seloroh Andrew sambil mengambil cemilan sebuah permen diatas meja TV dan menaruh bokongnya disebelah sang Papah.


" Diambil kamu, maksudnya? Satu yang aku takutkan adalah diambil dirimu! Tapi tidak! Aku percaya pada Anne!"Damian termenung.


" Duh! Bengong lagi! Bengong lagi! Kenapa sih, Pah? Papah ada masalah sama dia? Siapa sih orangnya? Bikin penasaran saja! Akhirnya Papah Ku memutuskan menikah setelah hampir 26 eh 27 tahun menjomblo!" kemudian Andrew tertawa.


" Sembarangan saja! Papah ditinggal mamaku setelah kamu SD hampir SMP yah! Jadi tidak sampai tuh, 26-27 tahun! Itu mah usia kamu!" canda Damian sambil ikut tertawa.


" Apa sih, kamu! Ada yah. Papah kan pernah Video Call kamu loh…" sanggah sang Papah.


" Yah,yah. Pas wisuda kan?Itu pun tidak lebih dari 5 menit!" cemberut Andrew.


" Mahal! Sambungan internasional,Drew! Tapi semua kebutuhan kamu papah penuhi,kan?" kesal sang Papah.


" Iya,sih…Tapi intinya gini, kapan aku bisa bertemu dengan calon ibu sambung aku itu? Aku penasaran saja, dia sudah berhasil menaklukkan 'The Most Wanted Man' in Indonesia!" ujar Andrew semakin penasaran.


Sang Papah meninjunya. " Bisa saja! Malas Ah, nanti kamu rebut lagi! Jadi yah, kapan-kapan saja bagaimana? Atau setelah Papah nikah saja deh! Kamu tinggal datang di hari 'H' nya deh! Bagaimana?" 


" Ih, Papah nggak asik! Memang dia secantik itu apa, sehingga bisa buat aku berpaling? Idih, males banget!" ujar Andrew sambil berdiri kembali.


" Mau kemana kamu?" tanya Damian yang melihat gelagat anaknya beranjak pergi.


" Mau mandi, ganti baju dan tidur! Kenapa? Mau ikut?" sindir sang anak sambil bercanda.


" Males!" ujar sang Papah membuang wajahnya.


" Hahaha…Sudah ah, aku mau tidur! Lelah banget ini habis ketemu client tadi! Yah, barangkali saja, kalau tidur aku bisa kenalan sama 'calon ibu sambung' ya nggak?" Andrew tertawa.


" Hey! Jangan sembarangan mimpikan orang kamu,Drew! Dia punya Papah tau!" ujar Damian ikutan berdiri tanpa sadar.


" Idih, posesif banget! Nggak pantes, tau! Sudah tua! Bau tanah! Sebentar lagi juga lewat! Eh, turun ranjang deh, istri papah sama aku, yah nggak? Hahaha…" ujar Andrew cuek.


Sang Papah terdiam mendengarnya, " Benarkah dia akan meninggal secepat itu? Lantas Andrew bisa kembali bersama Anne? Tidak! Akan kupastikan hal itu tidak akan terjadi,Drew!"


" Woy! Jangan bengong terus! Banyak yang meninggal dipatok ayam loh! Gara-gara bengong! Dahlah! Nggak asik Papah mah, bercanda Pah! Peace ,Ok? Aku keatas dulu,ya Pah! Sudah lengket ini badan! See you tomorrow morning,Pah!" ujar Andrew kembali berlari sebelum dilempar bantal kursi oleh sang Papah karena terlalu kurang ajar.


" Dasar anak kurang ajar! Jangan kabur kamu!" Damian berlari dan melemparkan bantal sofanya seperti dugaan Andrew .


" Haha…Ga kena! Sudah menyerah sajalah, Old Man!" dengan gesit dia meluncur ke atas tangga dan melesat ke kamarnya sebelum sang Papah makin emosi.


" Sial! Dia pake bilang aku tua, pula! Tapi memang benar sih…hehehe..tapi, tua-tua Anne mau, Kok!" Damian tersenyum manis.


Mengingat Anne selalu membuat mood-nya kembali membaik. Dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dia ingin melanjutkan rencananya yang ingin tidur itu sebelum diinterupsi oleh Andrew.


Tanpa disadari olehnya Andrew mengintip dari atas tangga dengan raut wajah bahagia.


" Siapa perempuan itu,yah? Yang sudah membuat Papa Ku kembali tersenyum! Dan hubungan kami semakin membaik! Aku harus mengucapkan terima kasih banyak…siapapun kamu! Anne!" lirihnya dalam hati.


Tapi sedetik dia kembali menatap ke bawah," Sepertinya aku harus cari tahu, apakah dia sehebat yang aku dengar? Dan cantik serta muda? Aneh! Kenapa ada gadis muda menyukai pria matang seperti Papah aku itu! Jangan sampai Papah kecewa! Yah, aku harus cari tahu sendiri sebelum mengenalnya! Yah, harus! Demi Papah! Chayoo…Good plan boy!" Andrew menepuk dirinya sendiri karena kagum akan rencananya itu. 


Padahal yang membuatnya penasaran itu nanti belum tentu sesuai harapannya….


******