
Pulang menghadiri acara wisuda yang melelahkan Vivianne,Bunda dan Damian memutuskan pulang ke apartemen. Dengan pertimbangan Vivianne sangat lelah, makanya mereka tidak mampir kemana lagi. Namun Damian mengundang semuanya untuk mengundang semuanya merayakan kelulusan Vivianne dengan makan malam bersama. Dan disambut semangat tentu saja oleh Mata.
Sedangkan Vivianne hanya memilih diam, meski dia menolaknya tapi Damian berkeras hati melakukannya. Akhirnya dia memilih untuk lebih baik diam.
Damian bahkan sengaja memberikan sebuah dress cantik Vivianne kenalan malam hari saat mereka malam malam. Entah apa maksudnya, ketika dia menanyakannya jawabannya seperti sedikit diplomatis,bahwa ini hari bahagia Vivianne dan Damian ingin Vivianne terlihat sedikit lebih cantik dan berbeda. Itu alasannya. Aneh, benar-benar aneh. Mengingat Vivianne juga memiliki banyak baju-baju cantik lainnya dan mengapa beli yang baru,bukan? Karena selama di Jakarta dan mengenal Damian, Damian selalu membelikan dress-dress cantik untuknya agar bisa menemani Damian ketika ada acara resmi kantor, atau undangan dari para client Damian. Jadi bisa dipastikan pakaiannya lumayan banyak dan menumpuk. Tapi, itulah Damian tidak terbantahkan.
" Bunda,May, apakah semuanya sudah siap?" ujar Vivianne keluar dari kamarnya mengenakan, gaun berwarna biru langit yang begitu pas di badannya dan menyatu dengan warna kulitnya. Meski dengan belahan berbentuk 'V' di bagian depan yang cukup dalam, Vivianne sempat berpikir apakah cukup layak dikenakan karena terlalu rendah.
Baik Bunda dan Maya menatap dengan takjub ke arah Vivianne tanpa terkecuali si kecil Avan.
" Wah, Auntie..looks beautiful tonight! " ujar anak kecil yang menggemaskan itu.
" Looks beautiful tonight,sayang" ujar Vivianne menjelaskan dan dengan gemas sedikit mencubitnya. " Kamu juga, looks handsome! Pake jas seperti ini!"
" Uncle Damian yang kasih Avan, Auntie. Bagaimana, apakah Avan sudah setampan uncle Damian?" ujarnya dengan memperlihatkan dasi kupu-kupunya rambutnya tertata rapi seperti memakai gel dan ditarik kebelakang.
Vivianne tersenyum, " Tentu! Bahkan kamu lebih tampan,Nak!" ujar Vivianne kembali.
" Benar,Bun? Mas Damian yang kasih?" tanya Vivianne penasaran, sang Bunda mengangguk tersenyum.
" Iya, bahkan baju Bunda dan Maya juga" seru sang Bunda masih dengan tersenyum.
" Benar? Bagaimana bisa? Maksud Ane, kok dia bisa tahu ukuran kalian?" ujar Vivianne.
" Dia mengirimkan seseorang untuk mengukur kami ketika siang tadi pas kamu masih kelelahan dan tertidur. Tidak berapa lama, sorenya datanglah setumpuk pakaian untuk Bunda,Maya,dan Avan. Terus baju kamu terpisah itu." Penjelasan Bunda.
Vivianne hanya menggelengkan kepalanya, Damian selalu memang secepat itu. Jika ingin sesuatu dia pasti akan mendapatkannya dengan mudah. Yah, orang kaya mah bebas, bukan?
Tak berapa lama mereka semua berangkat seiring supir suruhan Damian datang. Damian tidak bisa menjemput mereka karena ada hal yang harus dia lakukan katanya di kantor.
Ketika sampai di tempat makan, tempat makan yang membuat Vivianne menganga. Tempat tersebut tidak hanya indah tapi juga sangat mahal, bahkan satu orang bisa menyentuh dua digit untuk makan disana. Belum lagi reservasi yang sangat sulit dilakukan jika dalam waktu dekat. Tapi semua tampak remeh di hadapan Damian.Terkadang semua ini membuat Vivianne minder, gadis desa sederhana seperti dia diperlakukan layaknya seorang princess.
Demikian pula seperti Bunda,Maya sedangkan Avan tentu saja belum mengerti. Kedua orang tersebut bahkan terkaget kaget melihat tempat mewah tersebut. Mereka digiring oleh seorang pelayan untuk menduduki tempat mereka setelah disebutkan reservasi atas nama Damian. Yang membuat Vivianne heran adalah mengapa, tempat itu tampak sepi? Apa karena mahal sehingga kurang diminati? Mungkin ini alasan terbesarnya.
Setelah mereka duduk, tidak beberapa lama hidangan pembuka berdatangan lengkap dengan minuman mereka. Vivianne makin bingung.
" Mbak, maaf tapi saya belum memesan,loh. Kenapa makanannya sudah datang yah?" Vivianne menghilangkan keraguannya.
" Mungkin pesanan orang lain,mbak?" ujar Vivianne kembali, meski dia tidak melihat orang selain selain keluarganya. Tapi bisa saja,bukan?
Sang pelayan tersenyum, " Tidak, Nona. Semua ini atas permintaan Tuan Damian dan tidak mungkin pesanan orang lain karena hari ini, Tuan Damian sengaja mem-booking tempat kami malam ini. Jadi hanya Nona dan Tuan Damian tamu kami. Kamu permisi dulu,Nona? Jika ada yang kurang,silahkan memanggil kami. Silahkan menikmati hidangan kami. Kami permisi."
Ujar sang pelayan.
" Wah…Mbak! Mbak beruntung sekali, Om Damian sengaja mem-booking tempat hanya untuk untuk menyenangkan mbak,loh! Wah, ini mah real sultan! Seperti di film-film Korea itu tuh, Mbak! Wah Maya berharap suatu saat dapat satu saja pria seperti Om Damian! Pasti sangat bahagia! Ya kan, Bun?" ujar Maya yang mulai heboh.
Vivianne hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu, " Mikirnya udah kemana-mana! Pikirkan belajar saja dulu, sekolah saja belum tamat sudah mikir cinta-cintaan kamu ini."
Tiba tiba suara bariton seorang pria terdengar, " Siapa yang sudah memikirkan cinta-cintaan,sayang?"
" Loh, Mas sudah datang? Duduk,Mas." Seru Vivianne.
Damian hanya mengangguk, dan kemudian menyalami Bunda dengan mencium tangannya, menyalami Maya dan mengacak rambut Avan sedikit. Dan memberikan ciuman di pipi Vivianne hangat.
" Mas,Ih! Malu sama Bunda,dan ada Maya sama Avan juga loh..!" cemberut Vivianne.
Damian tamak luar biasa tampan malam itu, sepertinya dia sengaja berdandan luar biasa demi bisa menghadiri makan malam hari itu. Padahal cuma makan malam loh.
Damian mengenakan Jas berwarna hitam, dengan celana senada, dan dengan dalaman bermotif putih tulang dan terdapat sapu tangan di sisi kiri jas nya tersebut. Vivianne mengerutkan keningnya, hanya untuk makan malam sedemikian heboh? Aneh.
" Mas kenapa pakai booking seluruh tempat ini sih, mas? Mahal tau. Sayang kan? Toh kita hanya sekedar makan malam,loh. Seperti ada acara spesial saja!" kesal Vivianne.
Damian kembali tersenyum. Bunda pun mengulum senyum termasuk Maya. Ada apa dengan semua orang hari ini. Vivianne tidak habis pikir.
" Tidak apa-apa hanya sesekali,kan? Ya kan, Bunda?" ujar Damian tersenyum.
" Tapi, kan.." sambar Vivianne.
" Sudah kita makan saja,dulu yah?" kemudian Damian memanggil pelayan dengan tepukan tangannya.
Dan tidak beberapa lama, iring-iringan makanan menghampiri meja mereka dan itu sangat banyak. Mulai dari makanan western maupun lokal tersedia. Vivianne yang sudah terbiasa dengan tingkah Damian selama dia mengenalnya mulai menggelengkan kepalanya. Tapi tidak dengan Bunda dan Maya,serta Avan bahkan berteriak riang. Vivianne sedikit memerah menahan malu tapi Damian seperti tidak keberatan dengan tingkah keluarganya yang mungkin terkesan sedikit 'kampungan' maklumlah di Jogja mereka tidak pernah diperlakukan seperti ini. Bahkan Damian asik bercanda dengan mereka, akhirnya Vivianne dapat bernafas lega, dan menikmati makan malam mereka dengan tenang. Tidak beberapa lama Bunda, Maya izin ke toilet dan demikian pula dengan Avan yang katanya mereka ingin buang air kecil. Setelah mereka ke toilet.
Damian menatap Vivianne dengan penuh kekaguman, " Kamu cantik malam ini! Ternyata gaun kamu memang pas di tubuh kamu itu! Dan kamu terlihat makin bersinar malam ini!" ujarnya lembut sambil mengecup punggung tangan Vivianne.
" Ih, Mas. Gombal! Jadi kemarin-kemarin aku buruk rupa,gitu?" Vivianne pura-pura mengambil.
" Haha…Tentu saja,tidak! Tapi kamu malam ini bertambah berkali-kali lipat cantiknya" ujar Damian kembali menatap Vivianne penuh kekaguman.
"Mas…Sudah ah, menatapnya jangan seperti itu, aku malu!" Vivianne menunduk.
Damian hanya tersenyum kecil ,dan mengeluarkan ponselnya yang berbunyi. " Tunggu sebentar, mas angkat telepon dulu yah? Ini penting!"
Vivianne hanya mengangguk. Dan Damian berlalu menjauh. Tinggallah Vivianne sendirian ditempat itu. " Kemana mereka kok ke toilet lama sekali,sih?"
Baru Vivianne berkata demikian, tiba tiba Lampu mati. Vivianne kaget, " Ha-hallo…ini kenapa mati yah lampunya?"
Namun di ujung sana, ada sorot lampu yang menyoroti Vivianne dan pria diujung sana, Vivianne mencoba menegaskan pandangannya. " Mas Damian?"
Damian diujung sana langkahnya perlahan dan pasti diiringi sorot lampu mendekati Vivianne, sambil menatap Vivianne dengan tatapan penuh cinta. Dan jangan lupakan iringan saxophone dan biola yang entah dari mana, mengiringi sebuah lagu, " Perfect"
Vivianne menganga, ketika di samping Damian ada anak kecil yaitu Avan membawa buket bunga dan memberikan kotak berwarna biru beludru kepada Damian.
" Vivianne Putri, sebagaimana janji aku kepadamu, dan juga seizin kamu sebelumnya. Aku malam ini Damian Matthews memberanikan diri untuk meminang kamu di hadapan keluarga kamu. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Ini tidak mudah buat aku, aku tahu. Karena aku pernah mencintai mantan istriku yang sudah pergi meninggalkan aku untuk selamanya dan itu sudah hampir berpuluh tahun lamanya. Aku kira aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi terhadap seorang wanita. Aku pikir aku akan menjalani sisa hidup aku dengan menduda selamanya, tapi kamu hadir, kamu memberikan warna di dalam hidupku yang membosankan ini. Vivianne Putri, dihari bahagiamu ini,maukah kamu menjalani sisa hidup kamu bersamaku? Pria yang jauh usianya dibandingkan kamu dan yang membosankan ini? Maukah kamu menjadi istriku?" sedetik kemudian Damian sudah bersujud di depan Vivianne sambil membuka kotak beludru tersebut. Muncullah sebuah cincin dengan batu berlian di atasnya yang sangat indah.
Vivianne sudah mulai menangis mencucurkan air mata yang tidak tertahankan. Diujung sana dibelakang Damian Maya dan Bunda serta Avan memandang dengan penuh harap. Vivianne masih terdiam dan tidak menjawab, dan hal ini malah membuat wajah tampan Damian semakin tegang.
" Vi, will you marry me?" ulang Damian.
Vivianne masih terdiam, hingga terdengar suara Maya berteriak di belakang Damia.
" Mbak Terima! Terima!"
Vivianne tersadar dan tersenyum kecil, dengan Damian masih menatapnya penuh harap.
Siapkah dia menerima lamaran pria Yang selama tiga tahun ini menemaninya? Yang membuatnya bangkit? Dari kesedihan dikhianati dan ditinggalkan seseorang yang dia pernah cintai,atau masih dia cintai,mungkin?
*""""