Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 58 Vivianne dan Kenangan Bersama Andrew Part 2 (Jatuh Ke Jurang)



Terdengar ranting atau dahan patah, dan baik Andrew maupun Vivianne pun terjatuh sambil meneriaki nama masing-masing.


Andrew berusaha memeluk erat Vivianne agar Vivianne tidak terhempas dan terluka parah. Mereka berguling-guling cukup lama. Hingga tanpa sadar pelukan Andrew terlepas.


"KAK!!"


"VIVI!!"


Mereka bergulingan ke bawah di mana di bawah tersebut terdapat sebuah sungai yang mengalir. Di kegelapan malam, Andrew mencoba mencari pegangan untuk menahan bobot tubuhnya tetapi sia-sia karena tangannya terlalu licin karena hujan mulai turun perlahan. Mereka kembali berguling hingga akhirnya kebawah berhenti sesaat sebelum mencapai sungai. Dan mereka pingsan.


Entah berapa lama mereka tidak sadarkan diri. Tubuh mereka tidak hanya basah oleh air hujan tetapi juga kotor dengan lumpur atau tanah ketika mereka berguling tadi.


Tiba-tiba ada pergerakan dari salah satu dari mereka dan itu adalah Andrew. Andrew perlahan-lahan mulai tersadar dari pingsannya. Memegang kepalanya yang terasa berat dan sakit. Punggungnya bahkan seluruh tubuhnya juga sakit. Untunglah tadi dia memeluk erat Vivianne sehingga pergerakan mereka ketika jatuh tidak terlalu kencang, dan ini paling tidak memperingan luka yang akan mereka terima.


Andrew terus mencoba memegang kepalanya sambil mencoba bangkit untuk sekedar duduk. Tangannya kosong. "Di mana Vivianne? Bukankah aku tadi memeluknya sangat erat agar dia tidak terluka?"


Meski sedikit kesulitan karena guyuran air hujan, Andrew mencoba menajamkan pandangannya. Seketika dia bergetar ketika melihat Vivianne yang berada di bawahnya, di bibir sungai. Andrew mencoba bangkit tetapi tanah yang licin membuat dia malah merosot ke bawah dengan paksa. Punggungnya kembali sakit, namun dia tidak mempedulikan itu.


Dia tertatih mendekati Vivianne untuk melihat kondisinya. Andrew mencoba melihat ke atas tebing. Untunglah tebing sisi sebelah sini tidak terlalu curam, namun cukup membuat siapa saja yang terjun ke sini bisa saja meninggal dunia atau terluka parah jika tidak memiliki fisik yang cukup kuat.


Andrew melihat kondisi Vivianne. Dia terluka, salah satu celana jeans-nya yang dikenakan Vivianne terbuka dan dari sana muncullah darah segar sepertinya dia terkena sobekan sesuatu ketika jatuh tadi. Andrew membuka kaosnya sehingga bagian atasnya terbuka saat ini. Dia menyobek sebagian bajunya dan berlari ke arah sungai untuk sekedar merendam sebagian sobekan bajunya dengan air sungai. Dia membersihkan luka kaki sebelah kanan Vivianne dan membalutnya dengan potongan lainnya dengan kuat untuk mengurangi aliran darah yang terus mengalir.


Setelahnya, dia menghampiri Vivianne dan memeluknya sambil menepuk pipinya menyadarkannya.


"Vi! Vivi..Bangun, Vi!" seru Andrew dengan sedikit panik.


Tidak bergerak, kemudian Andrew tidak menyerah. Dicobanya kembali untuk membangunkannya. "Vi! Vivi…Bangun, sayang…Please bangun!" ujarnya dengan isakan melihat kondisi Vivianne yang menyedihkan lebih parah dibandingkan dirinya.


Tiba-tiba petir menyambar, beserta kilatan di langit yang kelam. Andrew mendongak, "Sepertinya hujan akan semakin deras, aku takut badai akan datang. Bagaimana ini? Apa aku coba gendong Vivi saja, ya? Tapi kemana? Kemana aku membawanya agar Vivi dapat berteduh? Kondisinya tidak baik jika terus seperti ini. Dia akan mengalami demam. Dan sial! Kenapa harus semakin dingin, ya?" Andrew terus merutuki keadaan mereka.


Hingga pandangannya melihat ke arah sebelah kanan ketika petir menyambar dan tampaklah seperti ada tebing yang menjorok lebih dalam, seperti sebuah goa. Jaraknya sekitar kurang dari satu meter dari tempatnya saat ini.


Andrew tampak bahagia, "Yah, disana! Tepat! Itu bisa ku jadikan untuk berteduh malam ini, semoga saja bantuan segera tiba. Semoga Alex dan Bryan membaca pesanku sebelum aku mencari Vivianne dan menyadari kami menghilang cukup lama dan mencari kami. Yah, semoga!"


Dengan sedikit kekuatan, Andrew mencoba membopong Vivianne tetapi tubuhnya juga terlalu lemah. Akhirnya, dia mencoba mengaitkan tangan Vivianne ke bahunya dan menyeret langkah mereka perlahan, selangkah demi selangkah terasa berat dan lama. Padahal jarak mereka tidak terlalu jauh, namun kondisi mereka yang terluka membuat jarak tempuh terasa sangat jauh.


Dengan kesabaran akhirnya, Vivianne dan Andrew sampai di tempat yang dituju. Andrew menaruh Vivianne di tempat terdalam agar dinginnya malam dan lereng tersebut tidak terlalu mengenai tubuhnya. Terlebih saat ini turun hujan deras, tentu saja membuat udara semakin dingin.


Andrew merebahkan dirinya sedikit terengah-engah. Di dalam goa, sejenak dia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.


Andrew memutar otaknya dan akhirnya memutuskan untuk keluar mencari sesuatu. Dia mengeluarkan tas ranselnya, untunglah dia berpikir untuk membawanya. Jika tidak, entah bagaimana nasib mereka saat ini. Dia mengeluarkan botol minuman dan melihatnya. "Ah, tinggal sedikit! Aku haus, Vivi pasti juga harus!" Akhirnya minum sebagian air tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Dinginnya malam tidak diindahkannya. Dia keluar mencari dahan ranting-ranting kecil, setelah cukup dia membawanya masuk kembali ke dalam goa tempat Vivianne berada.


Kembali, Andrew mengambil sesuatu dan dia merasa yakin menyimpan korek api untuknya merokok tadi. "Alhamdulillah! Aku menemukannya!"


Dia mencoba menyalakan api unggun yang dibuatnya tetapi gagal hingga percobaan beberapa kali akhirnya berhasil. Mungkin karena ranting sempat terkena air hujan jadi membuatnya basah dan sulit membuat api unggun. Setelah cukup menyala, dia memutuskan mendekatkan dirinya ke api unggun dan menaruh telapak tangannya disana.


Andrew mendekati Vivianne, "Vivi, kamu terbangun? Vivi?"


Vivianne masih memejamkan matanya, namun bibirnya berujar pelan. "A-air…"


"Kamu haus? Tunggu sebentar!" Kemudian Andrew menghampiri tasnya dan mengambil sebuah botol minuman.


"Apakah kamu cukup kuat untuk bangun?" tanya Andrew pada Vivianne yang mulai membuka mata dan menatap kosong.


Namun, Vivianne masih mendengarkan suara Andrew dan menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan membantu," ujar Andrew sambil memeluk tubuh belakang Vivianne.


"Auww!" teriak Vivianne lemah.


"Apa sakit? Maaf, aku akan memperlahankan gerakan," ujar Andrew khawatir.


Dengan perlahan, Andrew membuat Vivianne bersandar di bahunya dan duduk. Lalu, diberikannya sisa air yang hanya tersisa sedikit.


Vivianne meminumnya secara perlahan hingga air tersebut habis tak tersisa. "Apakah kamu masih haus? Lapar? Aku hanya punya sedikit biskuit, tapi cukup untuk mengganjal perut kita agar tidak terlalu lapar. Aku takut kamu masuk angin dan demam."


Vivianne hanya mengangguk. Andrew mengeluarkan dua buah biskuit dari dalam tasnya. Itu saja yang dia miliki dan memberikan satu untuk Vivianne. Kebiasaan Andrew adalah dia tidak terlalu suka ngemil, jadi kalaupun ada, itu hanya sebagai teman mengalihkan jika dia malas merokok.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu air!" Andrew menaruh Vivianne bersandar di dinding dan berlari keluar.


Andrew kembali menenteng botol minuman penuh air sungai. Sungai tersebut cukup jernih, jadi paling tidak cukup untuk menahan haus mereka sementara hingga esok pagi. Ini yang bisa dilakukan.


Andrew menyerahkan air kepada Vivianne, Vivianne menerimanya dan meminumnya. Andrew hendak memakan biskuit bagiannya tapi dia melihat Vivianne seperti menelan air liurnya. Akhirnya dia tersenyum.


"Ambillah!" Melihat Vivianne yang seperti masih lapar, Andrew memberikan bagiannya.


"Kakak, bagaimana?" tanya Vivianne.


"Tidak perlu khawatir, aku masih kenyang setelah makan malam tadi sebelum mencari kamu," bohong Andrew.


Vivianne mengangguk dan mengambil sisa biskuit tersebut. "Terima kasih."


"Sama-sama," ujar Andrew.


Vivianne menggelengkan kepalanya. "Bukan karena makanannya."


Andrew menatapnya bingung, "Lalu?"