
Vivianne menatap tangan yang menadah kepadanya dengan kebingungan.
" Maaf, maksudnya apa yah,Dek? Kakak kurang paham.." seru Vivianne.
" Ck! Masa begitu saja tidak paham,sih,Kak! Kakak baru yah, disini?" ujarnya sedikit kesal tampaknya.
" Iya, sih…tapi beneran kakak tidak paham, maksudnya." ujar Vivianne kembali.
" Pantas, gampang di bohongi! Ok lah, kali ini saya kasih gratis! Hitung-hitung promosi dan salam perkenalan dari saya! Tapi lain kali…No! No! Saya akan minta bayaran karena sudah menolong Kakak! Nama aku Panji! Kakak siapa?" ujar anak tersebut sambil mengibaskan tangannya di bajunya sebelum menyodorkan tangan kecilnya untuk berkenalan.
Vivianne sedikit tersenyum melihat tingkahnya yang layaknya seorang pria dewasa itu. " Kakak namanya Anne. Salam kenal Panji! Kamu lucu sekali sih!" ujar Vivianne sambil mengacak-acak rambut anak tersebut.
" Hey! Jangan rusak tatanan rambutku,dong, Kak. Jadi tidak ganteng lagi ini! " kesalnya sambil merapikan tatanan rambutnya dengan tangannya.
Vivianne makin tersenyum, " Maaf. Tapi mau berantakan ataupun tidak, kamu tetap ganteng, kok!" ujar Vivianne sedikit memujinya.
Anak kecil tersebut tersipu malau dan tampaklah lesung pipi disebelah kirinya, " Ah, Kakak bisa saja. Kakak juga cantik, kok! Apalagi kalau tersenyum. Sangat cantik!"
Vivianne makin menggelengkan kepalanya dan tersenyum. " Kamu, tuh, ya. Kecil-kecil sudah bisa merayu. Oh, ya sekali lagi terima kasih yah, tadi sudah bantu kakak! Kamu kok cerdas sekali sih? Memangnya ada polisi tadi?"
" Beneran. Kakak beneran cantik,loh! Hmm.. Ada tuh diujung jalan sana, tapi biasanya mereka hanya lewat tidak sampai cek kesini sih…mereka saja yang tidak tahu. Jadi mudah aku kelabui. Tapi kakak tadi keren loh, berkelahinya! Ciat! Ciat!" seru Panji kembali.
Vivi kembali menahan tawanya dan mengulum senyumnya.
" Kamu disini sama…" belum Vivi menyelesaikan pertanyaannya seseorang datang dengan berlarian.
" Panji! Panji! Kamu tidak kenapa-kenapa kan, Dek? Tadi Kata si Toto ada perkelahian disini sama orang-orang dari preman pasar, benar? Yakin kamu tidak kenapa-kenapa?" seorang gadis remaja yang kira-kira usianya mungkin 15-16 tahun menghampiri meneliti keadaan sang adik.
" Aku tidak kenapa-kenapa kok, Kak! Tadi itu…yang berkelahi bukan aku, noh! Si Kakak itu! Dia hebat loh, Kakak dia bisa berkelahi mengalahkan empat orang preman pasar,loh! Ciat…ciat…seperti di film-film…" cerita Panji Panjang lebar.
Gadis tersebut menatap dengan ragu kearah Vivianne yang tampak terlihat lemah dan kurus itu. Vivianne yang risih ditatapnya secara otomatis menatap pula kearah tubuhnya. " Apa ada yang aneh yah, sama penampilan aku? Kok, dia menatapku seperti itu, ya?"
" Oh iya, Kak! Kenalkan ini Kakak aku namanya Kak Ratih. Kak kenalkan dia kakak…Anne! Dia penghuni baru sini, Kak!" ujar Panik mengenalkan kedua gadis yang saling berhadap-hadapan itu.
" Perkenalkan saya Anne. Salam kenal, Ratih!" Vivianne menyodorkan tangannya sebagai salam perkenalan.
Tapi tangannya hanya ditatap oleh Ratih kemudian berbalik menatap adiknya, " Sudah Kakak bilang berapa kali! Jangan berkenalan dengan orang asing! Kalau dia jahat, bagaimana? Kamu mau kita celaka lagi,Heh? Sudah kita lebih baik tidur, nih kakak sudah bawakan makanan buat kamu!"
" Tapi, Kaka…kakak ini…bukan orang ja…" ucap Panji mencoba menjelaskan tapi kemudian badannya malah dibalik oleh sang Kakak.
" Hey! Aku bukan orang jahat!" ujar Vivianne tapi ucapannya tidak diindahkan oleh Ratih dia menarik adiknya menjauh dari Vivianne. Panji menatapnya kebelakang sambil terus ditarik oleh sang Kakak, sepertinya dia merasa tidak enak atas tingkah laku sang Kakak.
Vivianne menatap uluran tangannya yang tidak terbalas, ditariknya kembali.
" Ya sudahlah! Mungkin memang seperti ini orang Jakarta, apa yah?" batin Vivianne mulai kebingungan.
Tanpa memikirkan kembali Vivianne mulai merapikan tempat yang akan ditidurinya malam ini setelah rapi dia menaruh tasnya di atas kepalanya.
Kemudian dia mulai membuka bungkusan nya dan terkejut, " Masya Allah, si Ibu baik sekali. Dia memberikan aku dua buah bungkus nasi lengkap dengan air minum! Alhamdulillah ya Allah…masih ada orang baik ternyata di Jakarta, semoga si Ibu dilancarkan rezekinya. Amin ya Allah."
Vivianne pun mulai makan dengan tenang, setelah sebelumnya mencuci tangannya dengan sedikit air. Untunglah si Ibu memberikan nasi +lauk lengkap dengan sendok plastik di dalamnya. Sehingga memudahkan Vivianne makan.
" Alhamdulillah…kenyang!" Vivianne berujar lirih.
Dia mengedarkan pandangannya dan melihat kedua kakak beradik tadi Ratih + Panik kedapatan memandang ke arahnya. Vivianne pun hanya tersenyum. Tapi Ratih buru-buru membuang pandangannya, sedangkan Panji ikutan tersenyum ceria. Vivianne sudah cukup senang karenanya.
" Ratih kenapa yah, seperti tidak suka kepadaku? Memang aku salah, apa? Bukankah kamu tidak saling mengenal? Aneh!" pikirnya tapi kemudian pikiran itu dibuang jauh-jauh olehnya. " Sudahlah, jangan dipikirkan lagi! Mungkin hanya perasaanku saja."
Vivianne pun mulai mengantuk dan merebahkan diri diatas sebuah kardus dengan tas sebagai bantalnya. " Aku harus tidur, aku harus mencari pekerjaan besok, jika tidak ingin kelaparan lagi!"
Akhirnya Vivianne pun terlelap dan melupakan kejadian buruk yang menimpanya dihari ini.
****
Matahari mulai menyingsing, sinarnya mengenai seluruh permukaan bumi. Mengajak agar setiap makhluk di bumi bergerak menyongsong masa depan atau semangat baru seiring hangatnya mentari pagi.
Vivianne terbangun mendengar suara bising-bising di sekitarnya.
" Hey!! Bangun-bangun! Kalian merusak pemandangan saja! Bangun!"seorang pria sepertinya pemilik toko mulai berdatangan.
Pria kecil itu kembali menghampiri Vivianne, Panji mengundang tangannya.
" Kak! Buruan bangun! Pemilik toko sudah mulai datang! Nanti kita pasti diusir kasar jika Kakak tidak segera bangun!" ujar Panji.
" Hah? I-iya ini Kakak juga bangun.Tunggu! Apa kamu tahu tempat dimana kita bisa mandi dan berganti pakaian?" tanya Vivianne menahan tangan Panji.
" Tuh! Disana ada Toilet umum Kak! Kakak bisa kesana, cukup bayar Rp 2.000 saja Kak! Sudah,ya Kak! Aku dan Kakakku harus pergi, nanti malam kita bertemu lagi disini,ya? Assalamualaikum!" ujar Panji sambil berlari menjauh.
" Waalaikumsalam!"
Vivianne bangkit dan menuju ke toilet yang dimaksud oleh Panji tapi sebelumnya dia mengecek kantong celananya. " Ah, Alhamdulillah, masih ada, cukuplah untuk mandi! Badanku sudah sangat lengket semua." keluh Vivianne.
Vivianne berjalan ke arah toilet memberikan uang dua ribuan kepada penjaga toilet yang ada di depan toilet. Di toilet ini terdapat empat buah toilet, dua untuk wanita dan dua untuk laki laki. Vivianne berjalan ke toilet paling ujung untuk wanita.
Setelah sedikit mandi dan mengganti pakaian bersih Vivianne tampah segar. Tidak terasa perutnya keroncongan. Sepertinya dia harus mencari tempat untuk dapat memakan makanannya. Dia masih punya satu buah nasi bungkus dari si ibu pemilik warung.
Vivianne menatap terus ke depan Tanpa memperhatikan orang yang terburu-buru ke arah toilet.
Akhirnya dia menabrak seorang pria paruh baya yang hampir membuatnya terjatuh.
" Maaf…maaf! Saya harus ke toilet segera. Maaf." ujarnya meminta maaf.
Vivianne hanya tersenyum, " Tidak apa-apa Pak, lain kali berhati hati yah?"
" Sekali lagi saya minta maaf!" kemudian pria itu masuk kedalam toilet tergesa gesa.
" Mungkin memang dia terburu-buru, panggilan alam sepertinya!" Vivianne tersenyum kecil.
Vivianne melangkah perlahan kedalam pasar, mencoba menawarkan jasanya lagi lagi gagal, peluh mulai membasahi dirinya. Akhirnya dia terduduk di sebuah kursi panjang besi dan membuka makanannya yang tersisa, " Aku lebih baik makan dulu, karena aku sepertinya harus berjuang lebih keras pagi ini agar mendapatkan pekerjaan."
Vivianne mulai membuka makanannya, dan makan secara perlahan. Saat dia tengah asik makan. Seorang kembali menabraknya dan menumpahkan makanannya yang masih banyak tersisa.
Vivianne yang terkejut mulai bangkit.
" Hey! Kalau jalan hati-hati dong! Ah! Jadi kotor kan bajuku. Mana makananku tumpah lagi!" Vivianne mulai bangkit dan terkejut mendapati seorang menatapnya dengan rasa bersalah.
" Bapak? Bapak lagi? Kenapa harus dua kali sih menabrak aku, Pak?" keluh Vivianne kesal.
" Maaf ,Mbak! Saya sedang mengejar seseorang itu! Dia mengambil dompet majikan saya,Mbak!" ujarnya panik.
" Hah? Pencuri Pak?" tanya Vivianne.
" I-iya…Mbak! Duh gimana ini yah…majikan saya pasti akan marah jika dompetnya tidak kembali…bukan masalah uangnya sih, tapi…" ujar Bapak atuh baya yang ditemui di depan toilet pasar modern itu.
" Ya sudah, kemana perginya,Pak?" tanya Vivianne kembali.
" Ke arah sana! Sana, mbak!" sang pria tua menunjuk ke arah lurus.
" Ya sudah, tolong Bapak pegang tas saya, dan tolong bapak panggil keamanan pula yah, saya akan coba menghadang mereka.
" Mbak, tapi, Mbak…" belum sang pria berujar, Vivianne sudah menyerahkan tas bawaannya yang berisi pakaian dan pergi mengejar pencuri yang dimaksud.
" Hey! Jangan lari!" Vivianne mengejarnya hingga keluar dari pasar modern tersebut di sebuah tempat seperti parkiran ruko-ruko.
" Mau lari kemana kalian? Kembalikan dompet yang kalian curi! Kenapa harus mencuri,sih? Kan pekerjaan lainnya masih banyak, loh!" ujar Vivianne kesal menatap seorang pria yang terpojok di sudut ruko yang dengan tembok tinggi.
" Cih! Ternyata hanya seorang cewek! Kenapa memangnya kalau aku tidak mau?" ujar sang pria menatapnya.
Vivianne kembali menggelungkan kemeja lengan panjangnya.
" Oh, tidak mau yah? Kalau begitu, maaf kamu sudah buat aku kesal! Gara-gara kamu aku tidak makan dengan tenang! Bahkan uangku juga hilang karena orang-orang seperti kalian! Dan aku harus tidur di emperan toko, itu juga gara-gara orang seperti kalian. Jadi kamu tanya aku mau apa? Yah memberi pelajaran lah dengan orang seperti kalian!" Vivianne menatap nanar dan menumpahkan kekesalannya yang dialaminya sejak kemarin terhadap orang tersebut. Meski mendapatkan pandangan aneh dari sang pencuri tersebut.
" Idih! Emang urusan gue,apa? Dasar cewek aneh! Sayang cantik-cantik aneh!" ujar sang pencuri tersebut.
" Kau…benar-benar..membuatku marah!"dengan emosi semakin berjalan ke hadapan sang pria.
Akhirnya perkelahian tidak dapat dielakkan kembali, tapi kali ini Vivianne di atas angin karena musuhnya sepertinya memang tidak memiliki ilmu bela diri dan hanya seorang pria.
Hingga tak lama dirobohkan oleh Vivianne dengan mudah, pria tersebut cukup bengkak-bengkak.
Tak berapa lama pria paruh baya tersebut datang dengan membawa satpam menghampiri Vivianne dari kejauhan.
" Mana dompetnya? Serahkan!" ujar Vivianne yang masih menginjak dan memiting sebelah tangan orang tersebut. Dengan pasrah orang tersebut menyerahkannya.
" Lain kali cari pekerjaan yang halal!" Vivianne pun berangsur dari tubuh pria tersebut dan tersenyum menatap pria yang hendak mendekatinya.
" Ini, Pak dicek dulu!" seru Vivianne yang masih sedikit kelelahan karena berkelahi.
Sang pria paruh baya, mengeceknya dan tersenyum, " Masih utuh Mbak! Terima Kasih….AWAS!"
Tanpa disadari dari arah belakang pria tersebut bangun dan menikam Vivianne dengan sebilah golong dari balik bajunya dan mengenai pinggang Vivianne sebelah kanan.
Vivianne berbalik dan menangkap lengannya dan memukulnya serta menendangnya. Dan pria pencuri tersebut luruh ke lantai dan kemudian ditangkap oleh satpam yang tidak jauh dari sana.
Vivianne menatap kesal, " Kurang ajar! Curang! Seperti perempuan! Bisanya menusuk dari belakang…!"
Pria paruh baya menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, " Mbak..Mbak..Mbaknya berdarah…!"
" Hah? Mana? Oh…loh, kepala saya kenapa pusing,ya…"
BUGH!
" MBAK!!!"
Vivianne pun jatuh ke tanah tidak sadarkan diri.
*****