Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 65 Telepon Orang Dari Masa Lalu!



Di karenakan rasa penasaran Andrew akan calon Ibu tirinya dia berniat mengikuti kegiatan sang Daddy terutama di kantor. Karena desas-desus yang diketahui, sang calon Ibu tiri bekerja di kantor dan merupakan sekretaris sang Daddy.


Dengan senyum-bahagia dia turun ke bawah bermaksud sarapan bersama dengan sang Daddy tapi sayang hari itu dia bangun kesiangan karena sibuk menghubungi Alex menanyakan mengenai projek mereka sebentar, dan bergosip. Tentu saja gosip kali ini mengenai sang Daddy yang berencana untuk menikah kembali. 


Mereka sepakat untuk mencoba melakukan mencari tahu mengenai calon istri sang Daddy bersama sama. Saat Andrew dengan santai menyantap sarapannya, tiba-tiba orang yang dinantikan menampakkan batang hidungnya.


" Good morning,Drew! Wah lagi sarapan, nih! Kebetulan aku juga belum makan, numpang sarapan ah…" dengan santai Alex duduk dimeja makan memakai piring yang sepertinya tersedia diatas meja makan.


" Lo msh bukannya kebetulan, gue yakin banget kalau elo itu sengaja nggak makan dari rumah,kan? Pake bilang kebetulan lagi ! Sok basa gan basa-basi Lo! Udah buruan! Kita sudah telat! Bokap sudah jalan ke kantornya! Kita harus mantau ke kantor bokap! Dan Lo yang punya peranan penting disini! Tugas Lo berat nanti!" Andrew sambil terus menyantap makanannya tanpa menoleh.


" Ya, ampun,Drew! Kenapa Lo mesti bilang sekarang,sih? Kan gue jadi nggak mood nih, makannya! Memang tugas gue apaan sih? Lagian kenapa Lo tidak tanya aja sih, sama bokap Lo minta dikenalin gitu, sama calon ibu tiri Lo? Kenapa kita mesti sembunyi-sembunyi kayak gini sih?" Alex kesal namun herannya mengunyah makanannya dengan lahap!


" Heran, katanya tidak mood makan? Apaan? Nah yang lagi Lo makan apaan,dong? Beras gitu? Lo lalapin? Sudah, makan aja dulu. Nanti gue kasih tau! Makan yang banyak, karena kita akan seharian ini!" ujar Andrew sambil mendorong kesamping kepala sahabatnya itu.


" Duh! Lo tuh, ya! Main mendorong kepala gue aja! Di fitrah-in ini! Nanti kalau kepintaran gue menguap bagaimana? Kan, Lo juga yang susah,bukan? Nggak bisa bantuin!" ujar Alex sambil mengusap kepalanya yang tidak sakit itu.


" Ya, Lo pungut lagi lah! Kumpulin! Memangnya Lo punya otak,ya? Bukannya kabur sudah sejak lama ya?" ketus Andrew sambil mengejek sahabatnya itu.


" Sial*n! Adalah memangnya Lo sama Bryan doang apa yang pinter? Gue juga ada kali walau sedikit!" ujar Alex kembali tapi kemudian dia menyesalinya. Dia baru menyadari setelah melihat raut wajah sahabatnya itu, yang berubah. Dan kemudian memberhentikan makannya.


" Gue sudah kenyang! Kalau Lo mau makan, makan aja dulu. Biar gue mandi dan bersiap -siap, nanti tunggu di depan saja! Biar pake mobil Lo aja, biar tidak terlalu kelihatan. Lo bawa mobil kan?" seru Andrew berbalik sebelum ke arah kamarnya.


" Iya, bawa!" seru Alex kembali sambil menatap sahabatnya itu. Fixed, dia marah. Atau setidaknya kesal!


"Ok!" kemudian Andrew berjalan menjauh ke lantai atas ke kamarnya.


Alex mulai tidak mood lagi. Dia tahu telah menyebutkan sebuah nama yang tidak pernah lagi mereka bahas setelah 3 tahun lamanya. BRYAN.


Akhirnya Alex memberhentikan makannya dan minum, dia berjalan perlahan ke arah depan rumah Andrew. 


" Ini sudah tiga tahun berlalu,Drew! Mau sampai kapan kamu terus menghindarinya? Terus kenapa juga sih, Bryan tidak mau mengalah juga! Argh! Persahabatan mereka hancur seketika karena…karena seorang gadis yang kemarin ditemukan tanpa sengaja! Vivianne! Argh! Itu sebabnya gue sebel sama elo,Vi! Bukan karena pribadi Lo,tapi karena elo sudah membuat dua sahabat gue bagaikan perang dingin hingga saat ini! Bahkan kami kuliah ditempat yang berbeda! Walau Bryan sesekali masih menerima teleponnya, tapi tidak dengan telepon dari Andrew dan Andrew pun demikian. Mereka tidak ada yang bergerak satu sama lain! Diam ditempat!" Alex menjambak rambutnya kesal. Mengingat tingkah kedua sahabatnya. Dia terjepit di tengah-tengah.


" Kenapa jadi aku yang pusing sih, memikirkannya? Sementara mereka berdua cuek aja tuh! Aku terjepit diantara keduanya! Tapi aku tahu, Andrew menyayangi Bryan, dia seperti sedih ketika mendengar nama Bryan! Aku harus melakukan sesuatu! Tapi apa?" Alex berpikir sambil santai didepan rumah Andrew memandang dengan tatapan kosong kedepan.


Tiba-tiba suara ponselnya bergetar dan berbunyi, " Eh! Ponsel berbunyi! Duh, bikin kaget aja,siapa sih yang telepon?" 


Tanpa melihat nama di layar dia mengangkat teleponnya.


" Hallo! Siapa nih?" ujarnya kesal.


(" Wah, Lo lagi PMS yah? Lo nggak kangen apa, sama gue?")


Seru suara disebrang sana. Siapa nih, kok sok kenal! Alex menjauhkan teleponnya dari telinganya dan menatap ponselnya, " Bryan? Wah panjang umur tuh, anak! Baru dipikirin teleponnya muncul!"


("*Hahaha…sensi banget Lo! Kan yang penting gue pernah telpon Lo,kan? Oh, ya. Sini buruan ke rumah gue! Gue ada bawa oleh-oleh nih dari England buat Lo! Kalau perlu kita hangout, Ok?")


Terdengar* suara disebrang.


" Hah? Oleh-oleh? Hangout? Memangnya Lo lagi ada di Indonesia? Atau di Aussie? Eh, gue lagi di Indonesia yah…jadi kalau Lo di Aussie…kita ga.." ucapan Alex terputus.


("Iya, gue tahu! Lo ada di Indonesia,kan? Gue kan bilang gue di rumah gue! Emangnya gue punya rumah apa, di Aussie? Heran gue, itu otak masih kosong aja! Hahaha .." )


"Otak lagi! Otak lagi! Fixed mereka sama ini! Mah! Bahkan ngatain gue aja diwaktu yang hampir bersamaan! Ini mah, sehati mereka! Gue harus lakukan sesuatu!" batin Alex.


" Sial*n Lo kenapa Lo sama Andrew..bisa kompakan sih ngatain gue?" Kemudian Alex menyadari satu hal dia kembali keceplosan. Hingga hening tak ada suara apapun dari seberang sana. " Bry? Maaf..gue…" 


("Bagaimana kabarnya, dia,Lex? Kudengar kalian buat company IT di Aussie yah? Dan merambah ke Indonesia? Itu sebabnya kalian pulang,kan?" )


Alex kaget, dia tidak menyangka Bryan mengetahui sepak terjang dia dan Andrew! Ternyata itulah seorang sahabat! Seorang sahabat tetaplah seorang sahabat! Meskipun sedang berjauhan.


" Well,gitu deh! Lo sendiri kenapa pulang ke Indonesia? Bukannya Lo betah ya, di England?" ujarku mengalihkan perhatiannya.


(" Senyaman-nyamannya di negara orang, tetap lebih nyaman di negara sendiri,Bro! Hmm…bokap mau ada rencana pensiun,Lex! Gue diminta mengurus perusahaannya. Yah, anggap saja gue pulang kampung lah! Dan gue kangen sama Lo! Jadi kapan Lo bisa kerumah? Hari ini?" )


" Jangan hari ini, gue nggak bisa,Pak! Hmm, besok atau lusa, bagaimana? Nanti gue kabarin lagi,ya?" ujar Alex tidak enak dan dia tidak mungkin bilang karena Andrew meminta tolong padanya hari ini, kan?


"("Oh, ya sudah! Ok,gue tunggu,ya? Lo lagi ada urusan sama dia kan? Lo nggak perlu bohong sama gue,Lex! Lo pasti prioritaskan dia dibandingkan gue! Gue paham kok!" )


"Hah? Darimana dia tahu?" Alex hanya membatin.


(" Diam, artinya Iya! Ga masalah kok, Lex! Ya udah, gue tunggu kabar dari Lo yah? Bokap gue manggil! Gue tutup dulu yah? Bye,Lex! Assalamualaikum!")


Tut!


"Waalaikumsalam!" tanpa menunggu jawaban Alex telepon telah diputuskan dari sana.


Alex menatap ponselnya sedih, " Yah, padahal gue baru mau jelaskan .."


" Menjelaskan apa,Lex? Siapa yang telpon barusan?" Andrew muncul dihadapan Alex. Alex merasa dunianya akan tubuh! " Dia denger tidak yah? Ah, ngetes bohong aja deh! Maaf ya Allah..bohong lagi deh..nasip..nasip!" 


" Oh itu, temen gue! Di tertarik sama bisnis kita setelah gue jelasin sekilas tadi, tapi dia dipanggil meeting! Jadi, gue ga punya kesempatan jelasinnya lagi,deh!" dengan raut wajah dibuat sedih.


" Oh… nanti lagi kan, bisa kalau pas dianya ga sibuk! Chat aja dulu tanya kapan bisanya diajakin ngobrol santai! Kalau bisa diluar aja biar enak ngobrolnya daripada ngobrol di telepon? Gitu aja kok susah! Makanya kalau punya otak jangan cuma jadi pajangan! Yuk, ah! Keburu siang nih! Nanti kita kehilangan buruan kita nih!" Andrew melangkah menuju mobil Alex yang terparkir di depan.


Otak lagi! Kenapa Alex merasa dejavu yah?