Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 80 Aku Butuh Sebuah Penjelasan!



Vivianne berjalan menyusuri lobby dari perkantoran tempat dia makan malam. Air matanya terus mengalir sangat deras. Vivianne sudah sejak tadi menahannya agar tidak menangis di hadapan Andrew, dia tidak ingin merendahkan dirinya kembali. 


Dia bukanlah Vivianne empat tahun lalu yang masih lugu sehingga dengan mudahnya dipermainkan dan dilukai oleh Andrew.


Tapi ketika dia berjalan keluar tempat makan menuju lobby, dia tidak kuasa menahannya lebih lama air matanya bagaikan banjir yang tidak berhenti mengalir. Hatinya terluka sekali lagi, dan itu semua karena sekali lagi oleh Andrew. Seseorang yang pernah sangat dicintainya. Bahkan mungkin hingga kini.


Dia memberhentikan sebuah taksi yang melintas. Dengan sedikit menghapus air matanya. 


" Ke jalan Kenanga ya, pak! Apartemen Pakubuwono." seru Vivianne sambil masuk kedalam taksi.


" Baik,Mbak."


Setelahnya Vivianne menangis terisak di dalam taxi. Membuat sang supir sedikit melirik melalui sebuah kaca spion di dalam mobil.


" Maaf, mbak. Ini tisu, sepertinya mbak membutuhkannya." sang sopir menyerahkan sekotak tisu kebelakang.


Vivianne mengambilnya dengan tertunduk, " Terima kasih, Pak! Maafkan saya." seru Vivianne serak.


" Tidak masalah, Mbak. Saya paham. Pasti habis berantem atau diputusin pacarnya,yah,Mbak? Padahal mbaknya secantik ini,tapi tetap saja diputuskan yah? Dunia memang aneh,Mbak! Mbak yang sabar yah? Jangankan Mbak yang cuma pacaran, Mbak! Tuh, yang nikah saja, bisa diselingkuhin Mbak! Padahal sudah sama-sama punya pasangan yang cantik dan tampan! Itu loh, Mbak yang lagi ramai di Tivi. Artis,Mbak! Siapakah..namanya, duh, kok lupa yah? Semangka…atau apa yah, namanya? Dih, kalau saya jadi suaminya sih, ogah mbak mempertahankan istri yang ketahuan jelas-jelas selingkuh!" cerocos sopir taksi tanpa henti.


" Hah? Apa,Pak?" Vivianne yang semula sedih melongo mendengar ucapan absurd sang sopir.


" Itu yang lagi ramai,mbak! Masa mbak nggak tau,sih?" tanya sang sopir.


" Saya tidak tahu, Pak. Saya tidak pernah nonton acara gosip! Lagi pula, saya bukan sesama artis yang harus tahu kisah mereka!" seru Vivianne mulai kesal.


" Loh, saya pikir mbak artis juga! Abisnya mbak cantik banget, sih! Nggak usah jadi artis deh, Mbak! Godaannya besar! Lagian nih, mbaknya cocoknya jadi guru gitu loh! Pasti muridnya pada pinter-pinter nanti! Karena betah diajar perempuan cantik seperti Mbak!" seru sang sopir.


Vivianne mulai sedikit menarik senyumnya. Biasanya jika bukan dalam kondisi sedih seperti ini dia akan marah dan kesal dengan jenis sopir taksi seperti ini. Tapi entah kenapa hal ini menjadi seperti hiburan buatnya kali ini. " Bapak bisa saja. Saya bukan artis dan tidak ingin jadi artis juga,kok, Pak!" Vivianne sedikit tersenyum.


" Syukur Alhamdulillah,Mbak. Akhirnya mbak tersenyum. Mbaknya lebih cantik kalau tersenyum! Maafkan kalau saya lancang, yah, Mbak? Saya hanya bingung kalau melihat perempuan nangis, jadi inget anak perempuan saya, Mbak!" ujar sang sopir sedikit lega.


Vivianne terdiam dan menunduk malu, " Terima kasih, ya Pak? Bapak sudah mau menghibur, saya. Tapi saya tidak kenapa-kenapa kok, Pak! Saya cuma sedikit sedih, Pak!" 


" Sama-sama,Mbak! Saran saya, jika punya masalah curhatnya sama Tuhan,ya Mbak? Dan yakinlah, apapun masalahnya. Kita pasti kuat menjalaninya, kalau tidak, Allah tidak akan memberikan cobaan itu sama kita,Mbak! Berarti Allah tahu kita sanggup menjalaninya. Maaf kalau ucapan saya kurang berkenan." ujar pak sopir kembali.


Vivianne kembali tersenyum, " Tidak apa-apa,Pak. Terima kasih ya, Pak? Sudah mengingatkan saya. Menurut Bapak, begitu yah?" tanya Vivianne sedih.


" Sama-sama,Mbak. Yah, itu sih, kata pak ustad yang sering ceramah sih, Mbak. Katanya begitu!" ujar pak sopir polisi.


Vivianne kembali tersenyum, " Terima Kasih, sekali lagi. Bisa tolong bangunkan saya jika sudah hampir sampai, Pak? Saya sedikit lelah sekedar ingin memejamkan mata sebentar." 


" Oh, silahkan Mbak! Mbak tenang saja, saya akan bangunkan ketika hampir sampai, Mbak bisa percaya sama saya, saya orang baik-baik Mbak!" ucap sang sopir.


" Saya tahu, terima kasih sudah mencoba menghibur saya." Vivianne mencoba memejamkan matanya.


Pak sopir itu hanya mengangguk, dan pembicaraan terhenti. Pak sopir menarik nafas, dia lega melihat penumpangnya Aling tidak tidak terus-terusan menangis. Yang mengingatkannya kepada anaknya. Sepertinya usia mereka kurang lebih sama.


Perjalanan lanjut tanpa pembicaraan apapun kembali diantara keduanya.


Tidak beberapa lama setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, tiba -tiba pak sopir memberhentikan mobilnya dengan tiba-tiba.


Ciitttt!!!


Tentu saja hal ini membuat Vivianne yang tidak siap terdorong kedepan badannya dan hampir terjatuh.


" Pak! Apa yang terjadi? Kenapa berhenti mendadak sih?" ujar Vivianne yang masih terkaget.


" Maaf, Mbak. I-itu…ada mobil yang melintas didepan kita, menghadang kita!" seru pak sopir bingung.


Vivianne menajamkan pandangannya, seorang pria turun dari mobil didepannya. Dia berjalan dengan gagahnya. Dan wajahnya tertutup gelapnya malam, namun ketika hampir sampai di hadapan taxi yang ditumpangi Vivianne. Vivianne membeku.


" Pak! Jalan, Pak! Jalan! Saya bilang,Jalan! Buruan!" teriak Vivianne yang mulai panik.


" Ta-tapi bagaimana ,Mbak? Bagaimana saya bisa jalan, itu mobilnya di depan! Kalau saya menabraknya, wah! Saya sampai tua juga tidak akan bisa menggantinya,Mbak! Bagaimana kalau kita lapor polis,Mbak?" pak sopir mulai ponselnya, tapi kemudian seseorang mengetuk pintu kacanya.


" Buka! Buka kacanya, atau saya akan hancurkan kacanya!" teriak seseorang didepan kaca dekat penumpang sebelah sopir.


Pak sopir menatapnya dengan ketakutan dengan terpaksa, dia membukanya sedikit.


" Apa mau anda? Saya bisa lapor polisi yah, kalau anda macam-macam!" ujar pak sopir.


" Silahkan saja! Lapor polis dan lihat apa yang mereka katakan setelah tahu, bahwa penumpang yang dibelakang itu adalah istri saya!" ujar pria tersebut.


" Hah? I-istri? Mbak, benar itu suaminya?" tanya pak sopir penasaran dan kaget.


" Jangan dengarkan,Pak! Saya bukan istrinya! Lapor polis saja, Pak! Atau biar saya yang lapor!" ujar Vivianne kesal.


" Silahkan kalau bapak mau lapor polisi! Jika bapak tidak ingin dipermalukan! Buka pintu belakang. Dan perlu bapak tahu, ini urusan rumah tangga! Istri saya ngambek! Kami seharusnya makan malam romantis, tapi saya mengacaukan segalanya!" seru pria tersebut.


" Bohong,Pak! Dia bukan suami saya! Saya belum menikah! Saya akan lapor polis!" ujar Vivianne hendak mengambil ponselnya.


Tapi karena takut pak sopir akhirnya berkata, " Wah kalau urusan rumah tangga saya tidak bisa, ikut-ikut Mbak! Sebaiknya mbak menurut kata suaminya! Dengarkan penjelasannya,Mbak! Suaminya baik loh, sampai mengejar mbaknya kesini! Nurut sama suami,ya Mbak? Surga mbak ada di suami,loh,Mbak!"ujar pak sopir sambil membuka pintu belakang dan pria itu dengan cepat merebut ponsel Viviane dan menarik tangan Vivianne tapi Vivianne menolaknya dia meronta.


" Lepaskan! Kamu memang…bajing*n!" Vivianne memaki tapi tidak dihiraukan oleh pria tersebut.


Karena Vivianne enggan bergerak dengan tidak sabaran, pria itu membopong Vivianne. " Apa-apaan kamu! Turunkan,Nggak? Turunkan! Aku bilang turunkan aku!" 


" Tidak sebelum kita bicara!" ujarnya di telinga Vivianne.


" Tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi! Turunkan aku!" ujar Vivianne marah. 


" Wah, kalian romantis sekali.." pak sopir yang berdiri keluar dari taksinya itu.


" Terima kasih pak, dia memang sedikit galak! Kalau sedang marah." ujarnya kembali.


Dia menaruh Vivianne di mobilnya, dan memasak seatbelt dan mengunci mobilnya. Berjalan ke arah sopir dan menyerahkan sejumlah uang.


" Ini buat Bapak. Anggap saja sebagai bayaran taksinya,Pak!" ujarnya dan kemudian kembali ke belakang mengambil tas Vivienne yang tertinggal.


" Wah, terima kasih,Pak! Ini kebanyakan tapinya, saya tidak ada kembaliannya!" seru pak Sopir memandang tiga lembar berwarna merah di tangannya.


" Anggap saja, rezeki buat keluarga Bapak!" ujar pria tersebut berlalu.


" Wah, terima kasih,Mas! Semoga, bisa berbaikan kembali sama istrinya,ya,Mas!" seru pak sopir berteriak.


Pria tersebut melambaikan tangan, "Amin,Pak!


Pria tersebut mulai masuk kedalam mobilnya dan menjalankannya dengan cepat.


Sementara Vivianne yang berada di dalam mobil pria itu terus membuang wajahnya ke arah samping jendela dengan raut wajah masam dan marah. 


" Apa mau kamu?" seru Vivianne menatap pria di sampingnya dengan sorot mata menahan amarah setelah beberapa saat mereka hanya terdiam tanpa bicara.


" Sebuah penjelasan! Aku butuh sebuah penjelasan,Vi!"


*****