
Dan disinilah Vivianne dirumah sakit menemani Bryan, yang sedang dirawat. Bryan sudah ditangani, lukanya memang tidak terlalu parah hanya saja mereka perlu melakukan MRI untuk luka di kepalanya dan hal tersebut baru dilakukan. Vivianne sedang menunggu hasilnya.
Vivianne tak tahu kapan Bryan akan siuman tapi yang pasti dia akan tetap menjaganya, Vivianne juga tidak tahu harus menghubungi siapa, karena bodohnya dia. Selama beberapa hari ditempat Andrew dia tak terpikir untuk meminta sekedar nomor pria tersebut yang merupakan juga sahabat dari Bryan. Akhirnya dia pasrah menunggu semoga polisi bisa melacak keluarga Bryan atau siapalah. Dia juga tidak tahu. Tapi yang pasti ada beberapa polisi berjaga di depan kamar rawat inap pria ini. Sebelumnya polisi telah bertanya-tanya kepada dirinya, dan dia telah memberikan informasi yang dia ketahui, bahkan informasi mengenai Andrew yang akan segera mereka lacak namun mereka tetap harus meminta keterangan dari Bryan. Itulah sebabnya mereka masih berjaga-jaga di depan.
Vivianne terus memegang tangan Bryan dengan perasaan kuatir, karena Bryan tak kunjung sadar juga. Padahal dokter bilang kemungkinan dia akan sadar sebentar lagi.
Ketika dia terus menatap wajah Bryan yang pucat tiba-tiba sebuah panggilan berdering. Dia mencoba mencari ponselnya tapi, ternyata tidak ada panggilan. Tak berapa lama ponsel kembali berdering, Vivianne mencari arah suara ternyata berasal dari atas nakas. Ternyata ponsel Bryan, dokter sempat memberikan kepadanya seketika hendak melakukan tindakan kepada Bryan dan dia taruh di atas nakas. Dia mencoba melihat panggilan tersebut karena layar ponsel Bryan sepertinya pecah sehingga kesulitan buat Vivianne mengetahui siapa yang menelponnya.
" Ha-halo?ponselnya Bryan. Siapa ini?" jawab Vivianne dengan gusar.
" Hey,gadis! Seharusnya aku yang bertanya kamu siapa? Lalu mana Bryan? Tolong kasih, ponselnya kepadanya!"ujar suara di sebrang.
" A-aku Vivi. Apakah kamu keluarganya Bryan? Jika benar, datanglah ke rumah sakit XXX, Bryan mengalami kecelakaan!" ujar Vivi kemudian.
" Apa?? Yang benar, kau! Jangan bercanda!! Dia tadi tidak kenapa-kenapa, kok! Jangan main-main yah!" ujar suara di seberang sana.
Vivianne yang kesal malah menanggapinya dengan kesal dan marah.
" Terserah kalau kau tidak percaya! Tidak ada untungnya juga buat aku! Tapi jangan menyesal jika kenapa-kenapa padanya!"ujar Vivianne sambil menutup teleponnya.
Tut!
" Dia pikir aku kurang kerjaan, apa bermain-main terkait hidup dan mati seseorang? Dasar!" Ujar Vivi dengan kesal.
Tak berapa lama telepon kembali berdering, dan kembali diangkat oleh Vivianne untung saja, Bryan tidak mengunci teleponnya selama ini, sehingga memudahkan Vivianne untuk menerimanya.
" Kenapa kau memutuskan teleponnya seenak jidatmu! Dikamar berapa dia dirawat? Apakah dia baik-baik saja?"tanya orang di seberang sepertinya orang yang sama menghubungi baru saja.
" Dikamar 205! Jika kau mau tahu keadaannya, maka cepatlah kemari, lihatlah sendiri! Ya sudah aku tunggu! Bye!" Kembali ditutupnya sambungan telepon tersebut oleh Vivianne.
Sementara di sana Alex mengumpat kesal karena perlakuan Vivianne yang kembali menutup ponselnya dua kali.
" Argh! Sial! Siapa sih, cewek ga sopan itu? Kok bisa dia bersama Bryan? Siapa tadi namanya? Vivi? Apakah Vivianne?Tidak mungkin! Mungkin hanya orang yang tak sengaja menolongnya atau hanya suster jaga!" Alex terus berkata sambil menggelengkan kepalanya.
Akhirnya dia memutuskan menghubungi Andrew, bagaimanapun juga mereka berteman baik, meskipun saat ini keduanya sedang bertengkar, tapi tak akan semudah itu menghilangkan ikatan mereka bertiga yang sudah layaknya keluarga itu.
Sambungan telepon tersambung.
" Bro! Kita kayaknya harus kerumah sakit XXX dech! Bryan kecelakaan!"ujar Alex dengan kuatir.
" WHAT?"teriak Andrew membuat kuping Alex sakit sehingga menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"See, apa kubilang, dia pasti lebih kuatir dari pada aku! Tapi kenapa juga mereka berantem hanya untuk hal kecil sih?" batin Alex.
" Bryan kecelakaan! Dia berada di rumah sakit XXX dan dikamar 205! Kalau kau mau kita ketemuan disana. Bagai.."
Tut!
Tut!
"Aish kenapa setiap orang yang ku hubungi hobi banget sih menutup telepon seenaknya! Tidak perempuan tadi, tidak Andrew, sama saja!" Alex menatap kesal ponselnya.
Tak berapa lama dia pun bersiap hendak ke rumah sakit.
****
Andrew yang dapat telepon dari Alex tanpa menunggu dia langsung menutup telepon dan bergegas ke rumah sakit yang dibilang oleh Alex. Meskipun lukanya belum sembuh benar akibat perkelahian mereka, tak mengurungkan niatnya untuk mendatangi sahabatnya itu. Sebenarnya diantara mereka Andrew dan Bryan lah yang lebih dulu saling mengenal mereka tumbuh dari kecil bersama sama. Karena dulu rumah mereka yang berdekatan. Sedangkan Alex baru muncul diantara mereka ketika mereka sama-sama sudah SMP sehingga ikatan Andrew dan Bryan sebenarnya lebih kuat. Tanpa diketahui sebenarnya Andrew selalu menjaga Bryan dengan caranya sendiri.
Termasuk menjaga Bryan dari Lisa. Dia tahu Lisa bukanlah cewek baik-baik dan Bryan terlalu polos untuk mengetahuinya. Oleh karenanya dia tidak ingin Bryan terluka kembali. Termasuk terluka karena Vivianne yang baru mereka kenal. Dia hanya tak ingin Bryan salah langkah kembali."Entahlah, alasan ini yang mendasarinya atau ada alasan lain yang coba ditutupi nya. Demi kebaikan hatinya, mungkin?"
Tap!
Tap!
" Maaf apakah ini ruang dimana Bryan Sebastian dirawat?" tanya Andrew kepada polisi yang berjaga dia kuatir salah masalahnya.
" Apakah anda keluarga korban kecelakaan?" tanya salah seorang polisi.
" Bisa dibilang begitu, saya sepupunya. Dan kami hanya bertiga dikota ini dengan salah seorang lainnya Bernama Alex. Apa boleh saya menjenguknya?" tanya Andrew kembali.
" Silahkan, tapi ada seorang gadis muda yang juga sedang menjaga dan merawatnya didalam. Katanya temannya atau pacarnya barangkali."ujar polis tersebut sambil sedikit senyum mengingat perhatian Vivianne yang menjaga Bryan.
" Gadis muda?Siapa?" tanya Andrew penasaran.
" Nona Vivianne. Yah, kalau tidak salah itu namanya. Apakah anda mengenalnya?" ujar seorang polisi lainnya.
Seketika muka Andrew memerah menahan emosi dan tiba-tiba rasa sakit dihatinya.
Tanpa ba-bi-bu dia buru-buru masuk kedalam ruangan dengan sedikit kasar. Dan yang sedang dilihat adalah saat ini Vivianne sedang mengelap wajah Bryan dengan waslap. Posisinya yang seakan menunduk di depan Bryan yang masih tak sadarkan diri, seakan akan seperti hendak memberikan ciuman atau dia habis mengecupnya? Entahlah pikiran Andrew tumpul seketika. Dia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.
Vivianne yang semula terkejut jadi tersenyum melihat Andrew yang juga salah seorang sahabat dari Bryan datang, "Syukur Alhamdulillah," ujarnya dalam hati. Dia tak perlu risau sendirian saat ini.
Tapi kemudian senyumnya hilang, ketika melihat pandangan dan sorot mata tajam Andrew yang menakutkan.
" Apa yang kau lakukan disini?" Ketus Andrew kesal karena setelah melihat pemandangan tersebut dan pertengkaran dia dengan Bryan karena gadis ini.
" Oh,syukurlah kamu datang. Aku sudah kebingungan harus menghubungi siapa, untungnya sepertinya temanmu Alex menghubungi ponsel Bryan. Jadi yah, aku senang kamu ada disini, sekarang" ujar Vivianne masih dengan senyuman.
" Aku tanya sekali lagi, sedang apa kau disini?" tanya Andrew menatap tajam kearah Vivianne dengan menakutkan yang bisa membunuh siapa saja. Sayangnya Vivianne memang sepolos dan lugu itu dia tak merasa bersalah, jadi dia tak takut terintimidasi sekalipun dengan tatapan Andrew.
" Diamlah! Jangan berisik! Suaramu bisa membangunkan dirinya, dia masih butuh istirahat!" ujar Vivianne malah terdengar kesal dan membela Bryan Dimata Andrew.
" Cih!Dasar perempuan kampung! Aku tahu taktik mu! Kau mungkin bisa menipu Bryan, tapi tidak dengan diriku!" ujar Andrew semakin marah.
" Hey! Pelan kan sedikit ucapanmu! Aku tak mau seisi rumah sakit ini mendengarkan mu! Okay, fine.Aku hanya menolongnya, aku tak sengaja menemukannya di jalan ketika pulang bekerja dan hendak berangkat bekerja!Puas? Jadi, motif atau taktik apalah yang kau maksud aku tak tahu!" ujar Vivianne yang menghampiri Andrew tanpa takut sedikitpun, dia tak ingin membangunkan Bryan lantas melihat mereka dan salah paham karenanya.
" Bohong!"ujar Andrew menatap Vivianne.
" Untuk apa aku bohong? Apa untungnya, buatku?" tantang Vivianne.
" Kalau begitu, katakan yang sebenarnya, kenapa kau begitu perhatian kepada Bryan?" Ada kilat cemburu kini dimata Andrew.
" Kenapa, memangnya? Apa salahnya dengan itu? Dan siapa kau berani bertanya seperti itu kepadaku?Kau bukan siapa-siapa aku!" ujar Vivianne yang ikutan emosi karena pertanyaan yang diajukan Andrew mulai menjurus ke sesuatu yang tidak benar kali ini.
" Kau bertanya kepadaku siapa aku?" Tanya Andrew mulai semakin tak terkendali.
" Yah, aku bertanya kepadamu! Siapa kau, apa hakmu bertanya seperti itu!" Vivianne bukanlah gadis penakut, hidupnya yang keras di panti asuhan tak pernah membuatnya minder,rendah diri, ataupun takut kecuali kepada bundanya.
Tanpa terduga Andrew mendorong Vivianne ke pojok tembok tak jauh dari tempat tidur Bryan dan dengan kesal dan penuh cemburu dia ******* bibir namun padat milik Vivianne.
Andrew memaksanya membuka mulutnya namun Vivianne malah memukul mukul dengan kedua tangannya ke dada Andrew. Namun tak sedikitpun dia merasakannya. Akhirnya Vivianne mulai menyerah dan mulai membuka mulutnya, dan Andrew menyeringai,penuh kemenangan.
Vivianne mulai menikmati kecupan Andrew dan mulai merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Dan ketika dia hendak mencari pegangan dia tak sengaja memegang bahu Andrew. Andrew yang menyadarinya makin menyeringai.
Dan ketika kecupan mereka mulai dalam, dengan tiba tiba Andrew melepaskan kecupan mereka dan menghapus lipstik Vivianne sambil menyeringai puas sekali lagi.
" Dasar! Perempuan binal! Murahan! Jauhi Bryan! Jika tidak, aku akan melakukan lebih dari ini!" ujar Andrew sambil berpaling dan keluar dari pintu kamar rawat inap tersebut.
Dan Vivianne luruh ke lantai, sambil mulai mengeluarkan air mata menyesali kebodohannya karena berhasil dipermainkan oleh Andrew.
"Bodoh! Bodoh! Kenapa harus dia sih, yang mencuri ciuman pertamaku?" sesal Vivianne yang tertunduk di lantai sambil menahan tangis.
*****