Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 42 I Really Miss You Boy



3-4 Tahun Kemudian.


Vivianne menatap langit yang cerah, secerah hari ini. Hatinya sangat bahagia hari ini, karena dia akan menjemput Bunda yang akan berkunjung ke Jakarta guna menemuinya. Bukan hanya bunda tapi juga seorang pria yang sangat ingin ditemuinya.  Rasa rindu dan kangen telah memuncak didalam hatinya. Tidak bisa dia tahan seandainya bunda tidak datang dia pun berniat pergi ke Jogja ke Sleman tepatnya tempat sang bunda tinggal.


Tapi mengingat besok adalah hari dimana dia wisuda, sehingga bunda memutuskan yang datang berkunjung ke Jakarta.


Dengan perjuangan yang keras tanpa kenal lelah, akhirnya Vivianne dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat hanya tiga tahun kuliah yang ditempuhnya. Dia dapat meraih gelar sarjana di bidang Bisnis & Management. Dan dia berhasil meraihnya dengan prestasi Cumlaude dari kampusnya di Jakarta. 


Vivi merapikan sedikit pakaiannya, dia ingin tampil sempurna di hadapan sang bunda dan pria yang dinantinya. Dia ingin membuatnya bangga atas pencapaiannya kini.


Vivi sudah jauh berbeda saat ini, dia jauh terlihat lebih cantik, modis, lebih elegan dan dewasa di usianya yang baru mau menginjak 23 tahun itu.Jauh berbeda dari 3-4 tahun lalu.


Kehidupan Vivi di kota Jakarta tidak semerta-merta mudah,karena dia tidak menyelesaikan pendidikannya kuliahnya waktu itu otomatis ijazah yang dia pegang hanyalah ijazah SMA.


Betapa dia terseok-seok seorang diri bekerja apapun demi bisa bertahan hidup. Mulai dari menjadi penjaja kue keliling, cleaning service, hingga mengumpulkan botol bekas menjadi pemulung pun pernah dia lakoni. Untung saja dia tidak menyerah.Hingga nasib mempertemukannya dengan seorang yang baik hati. Seorang yang mengubah hidupnya seperti sekarang ini. Bahkan kini mimpinya akan segera terwujud. Meraih gelar sarjana dan bekerja di sebuah perusahaan besar.


Vivianne teringat kembali kenangan masa lalu akan kesakitannya dikala tiga -empat tahun lalu tiba-tiba muncul dalam ingatannya.


Flashback 3-4 tahun lalu.


Hari pertama ketika dia memberitahukan sang bunda bahwa dirinya sedang mengandung, Bunda yang sangat kecewa padanya, marah bahkan sempat mendiamkannya selama seminggu penuh. Bunda teramat kecewa padanya. 


Sejak saat itu Bunda tidak pernah berbicara dengan Vivi, bahkan Bunda hanya keluar dari kamarnya ketika ingin mandi atau sekedar minum. Makanan Pun terkadang terpaksa dibawa Maya sang adik ke kamar Bundanya. Bunda praktis mengabaikan Vivianne.Dia enggan menatap wajah Vivianne.


Selama seminggu itu pula Vivianne tidak pernah sehari pun tanpa mengetuk pintu kamar sang Bunda.


Tok!


Tok!


" Bun…Maafkan Vivianne Bun!" Vivianne terus meminta maaf tanpa kenal lelah.


Vivianne yang tidak sanggup melihat kekecewaan di mata sang Bunda sempat hendak mengakhiri hidupnya kala itu. 


" BUN! KELUAR,BUN! MBAK VIVI TERLUKA,BUN!" ujar Mata yang panik menemukan Vivianne di kamar mandi.


Vivianne menyayat kedua pergelangan tangannya dengan sebilah pisau dapur yang ditemukannya. Dan terkapar tidak sadarkan diri di kamar mandi.


Semua orang berlarian dengan panik, Bunda pun keluar dari kamarnya dan berhamburan ke arah kamar mandi.


Dia memeluk Vivi, sambil berteriak " Cepat, telepon Ambulance! Cepat!" teriaknya sambil terus menekan lukanya dengan kain agar tidak terlalu mengeluarkan banyak darah.


" Bertahanlah, Vi! Dasar anak bodoh! Apa yang kamu lakukan,Nak! Maafkan, maafkan Bunda yang terlalu egois!Maafkan,Nak!" sang Bunda mulai menangis dan terisak.


" Vivi, tidak mau hi-hidup,Bun! Vivi mengecewakan Bunda! Vivi lebih baik, pergi saja dari dunia ini,Bun! Bunda marahkan, sama VIvi,Bun? Maafkan Vivi,Bun!" ujar Vivianne mulai memejamkan matanya.


" Vi! Sadar Vi! Sadar! Bunda sudah memaafkan,kamu,Vi! Sadar,Please! Kasihan anakmu!" Bunda terus berusaha memberikan kesadaran kepada Vivi dengan menepuk pipinya.


Vivi pun dilarikan kerumah sakit dan dirawat disana selama seminggu. Untung saja, janin di kandungan ya baik-baik saja.


Sejak saat itu Bunda mulai melunak, bunda mulai bisa memaafkannya, sebenarnya bunda hanya kecewa dan menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal mendidik Vivianne.


 Bunda pulalah yang menyadarkannya bahwa ada seseorang yang harus diperjuangkan. Seseorang yang berhak hidup didalam rahimnya itu.


" Ingat! Kamu sudah akan menjadi Ibu, jangan menambah dosa dengan dosa lainnya yaitu menghilangkan nyawamu dan janin yang tidak berdosa!" Ucap bunda kala itu.


Bunda pulalah yang mendorongnya untuk  mengejar mimpi-mimpinya. 


Kala itu bunda merasa kasihan melihat Vivianne selalu termenung, murung, sejak kehadirannya. Setelah setahun di Vivi kembali ke Panti tempat asuhan itu.


Dengan berbekal tekad yang kuat dan doa dari sang Bunda Vivianne memberanikan diri pergi ke kota besar Jakarta untuk mencoba meraih kembali impiannya. Kuliah, bekerja ditempat yang bagus dan menjadi orang sukses.


Flashback off.


Vivianne menghapus air matanya. Dia tidak mau larut dalam kesedihan di masa lalu.


Vivianne yang memakai hak tinggi dengan setelan berwarna putih diatas lutut simple tampak manis dan terlihat mewah tanpa riasan seadanya, natural.


Vivianne yang mulai tidak sabaran menanti di Bandara Soekarno Hatta ditempat kedatangan penerbangan domestik. Mulai mondar mandir. Sehingga membuat sepatu hak tinggi yang dikenakannya sedikit terdengar.


" Mbak Anne!" seseorang memanggilnya.


Vivianne menoleh ke arah datangnya suara tersebut, dan dia tersenyum disana tampak Maya,Bunda, dan seorang pria kecil. Mereka berjalan bergandengan.


Vivi berlari ke arah mereka, dipeluknya sang Bunda, Maya, " Bunda Sehat? Maya? Adik-adik panti sehat? Bagaimana penerbangannya?" tanya Vivianne lembut.


" Semua Sehat,Vi! Kamu, Bagaimana? Bunda lihat, kamu sehat dan cantik,yah? Dan ini memang penerbangan pertama Bunda,Vi! Jadi apa yang kamu harapkan? Tentu saja Bunda ketakutan setengah mati!" ujar sang Bunda.


" Anne,Bun, Bukannya Vivi! Anne! Kan Sudah ane bilang bunda panggilnya Anne!" cemberut Vivi.


" Wes! Sama toh!" 


Vivi hanya menggelengkan kepalanya. Entah mengapa sangat sulit meminta Bundanya memanggilnya Anne. Viv kembali tersenyum kecil.


Tapi hal ini tidak mengurangi kebahagiaan yang bisa menerbangkan sang Bunda dengan pesawat komersil. Rasanya memberikan sedikit kebahagiaan kecil seperti ini untuk Bundanya sudah membuatnya bahagia.


" Tau tuh,Bunda! Kalo di Jakarta panggilan yah, Anne toh,mbak? Oh iya, Iya,Mbak! Bunda mah, wirid dan zikir terus di pesawat. Mana pucat lagi, mukanya. Ih, malu-maluin deh pokoknya!"cerita Maya dengan semangat.


" Hus! Jangan dibongkar,toh! May!" sambil memukul pelan Maya.


Vivianne kembali tersenyum, kemudian tatapannya beralih kepada pria kecil tampan yang mengenakan jaket Hoodie nya dengan celana jeans berwarna biru dan lengkap dengan sepatu kets nya.  


Vivi kemudian sedikit berjongkok, menatap pria mungil yang menggandeng lengan Bundanya.


" Hi! Boy! Apa Khabar? Do you Miss me?" ujarnya sambil menatap haru ke pria kecilnya itu.


" Hi,Aunty Cantik. Of course I Miss you." menampilkan senyuman lebarnya. 


Senyum itu, mengingatkannya kepada seseorang dimasa lalu yang sangat dibencinya hingga kini.


Dengan air mata yang mulai menetes, dia memeluk dan mencium diciumnya pria kecil tersebut. 


" Mommy really Miss you my boy!"


*****


Bagaimana Bab ini kasih komen yah....