
Matahari mulai masuk dari sela-sela gorden yang tidak tertutup secara rapat. Seorang wanita yang tidak lain adalah Vivianne, menggeliat di tempat tidur yang cukup besar itu.
Mulutnya menguap sisa-sia kantuk yang masih belum lenyap secara sempurna. Perlahan-lahan dia membuka matanya sambil mengucek ya dengan tangannya. Namun dia merasakan sakit karena ternyata dia mengusapnya terlalu keras. Dan dia melupakan satu hal bahwa sebelah tangannya masih terbalut infus.
" Auw!" jeritnya ketika dia terlalu keras menarik tangannya yang masih ada jarum infus itu.
" Kamu sudah sadar? Kamu mau sarapan dulu atau mau bersih-bersih dulu,mungkin?" seseorang berujar sambil membawa nampan dimana terdapat makanan dan minuman berdiri tegak didepan pintu sebuah kamar.
Vivianne menoleh memicingkan matanya mengikuti datangnya arah suara yang dia kenal itu.
" Andrew?" tanyanya sambil mengumpulkan ingatannya, " Dimana kita?" dia menatap berkeliling, tempat ini asing buatnya. Seingat ya dia berada dirumah sakit, tapi ini? Seperti sebuah rumah? Rumah siapa?
Pria yang dipanggil ternyata Andrew itu hanya tersenyum dan berjalan dengan santai sambil menaruh nampan yang dibawanya di sebuah meja kecil disamping tempat tidur. Vivianne mengikuti semua gerakan Andrew yang terkesan sangat tenang dan santai itu.
" Aku ada dimana, Drew?" tanya Vivianne kembali.
Andrew menatapnya dengan kesal. " Kenapa kamu sekarang hanya memanggilku dengan nama saja,sih? Bagaimanapun juga aku lebih tua loh, dibandingkan dirimu! Dulu kamu suka memanggilku dengan sebutan kakak, kenapa sekarang hanya nama saja?"
Vivianne yang masih bingung dengan ko di sekelilingnya semakin pusing dengan tindakan Andrew.
" Apa? Maksudmu?" sebuah pertanyaan meluncur dari bibir manis Vivianne.
Andrew beranjak mendekati ranjang Vivianne berbaring.
" Aku bilang, kenapa kamu hanya memanggilku nama? Kenapa tidak memanggilku dengan sebutan untuk orang yang lebih tua seperti dulu? Kakak,Mas, Kanda, Honey mungkin apalah asalkan bukan nama!" dengan ucapan sarat kekesalan.
" Bukan itu yang kutanyakan, yang kutanyakan adalah, Apa maksudmu membahas hal tidak penting seperti itu sekarang? Justru pertanyaan penting yang kutanyakan malah tidak kamu jawab!" dengan nada tak kalah kesalnya.
" Siapa bilang tidak penting? Ini sangat penting buatku, mungkin tidak buatmu! Itu sebabnya aku bahas! Aku tidak mau kamu memanggilku dengan sebutan nama saja, aku ini bukan teman sepantaran dirimu,tau! Rasanya tidak sopan dan tidak enak didengar ditelinga saja!" ketus Andrew.
Vivianne menghembuskan nafas kasar, " Baiklah. Kak, aku tanya kita ada dimana sekarang? Kenapa aku tidak berada dirumah sakit? Karena seingat aku, aku berada dirumah sakit,bukan?"
" Nah, itu lebih baik. Kamu suka suasana disini? Oh ya sebentar, kamu harus lihat pemandangannya! Kamu pasti suka!" Andrew berbalik dan membuka gorden yang menutupi jendela besar dengan balkon di depannya.
Dan terpampang lah pemandangan yang begitu indah dengan hamparan pegunungan dan rumput yang sangat indah, dan ada juga berbagai tanaman pinus dan bunga-bunga yang bertebaran tidak jauh dari balkon tersebut ketika jendelanya dibuka dengan lebar.
Vivianne membuka mulutnya lebar, bukan karena tidak suka pemandangannya. Pemandangannya sangat indah. Vivianne menyukai pegunungan dan pantai. Tapi bukan itu permasalahannya. Permasalahannya adalah, mengapa dia bisa berada disini? Apa maksudnya semua ini? Apakah Andrew yang membawanya kesini? Untuk apa?
" Kamu suka? Dibawah kita bisa melihat ada kolam renang di bawah sana, tentu saja saat ini kamu belum bisa menggunakannya. Karena kakimu masih sakit. Jika kakimu sudah mendingan, kita bisa berenang bersama. Kamu bisa berenang bukan?" dengan antusias Andrew menjelaskan.
" Drew!" panggil Vivianne dengan raut wajah bertambah kesal. Andrew menoleh dengan raut wajah tidak sukanya. " Ok, maksudku,Kak! Apa-apaan semua ini? Kenapa aku ada berada disini? Kamu, menculik ku?"
" Hahaha….kamu terlalu kebanyakan nonton drakor, Vi! Masa aku mau menculik mu! Aku hanya ingat kata dokter kemarin, bahwa udara segar dan suasana baru bisa membantu proses penyembuhan kaki kamu. Itu sebabnya aku membawa kamu kesini" sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Vivianne.
" Hah? Apa? Kapan? Kenapa aku tidak sadar ketika kamu membawaku? Dan kenapa harus sekarang, maksudku bukankah aku masih harus dirawat dirumah sakit seharusnya,bukan? Terus, ini?" Vivianne menatap Andrew dengan pandangan tidak mengertinya.
Flash Back On
" Jadi apa yang Lo mau gue lakukan,Drew?" ucap lirih Alex sambil terduduk.
Andrew mendekatinya dan duduk disebelahnya.
" Gue butuh bantuan Lo mengalihkan perhatian papa! Sambil terus memantau pergerakan papa. Tapi ingat, jangan sampai papa gue curiga sama lo! Terus gue pinjem Villa lo yang berada di puncak untuk kita berdua! Paling tidak sampai kaki Vivianne sembuh!" ujar Andrew kembali.
" Wow! Wow! Wait, Man! This is too much! Jadi maksud,Lo…Lo mau menyembunyikan Vivianne sementara waktu ini dari papa,Lo?Gitu?" tanya Alex dengan raut wajah masamnya.
Andrew mengangguk cepat, " Bukan menyembunyikan sih, tapi lebih tepatnya..gue mau bawa Vivianne beristirahat dengan tenang, siapa tahu dengan begitu dia bisa berpikir jernih tentang…yah, you know lah..semuanya!" seru Andrew kembali.
Alex berdiri dengan gelisah dan mulai mondar-mandir, " Lo gila,Man! Kan Lo tau sendiri gimana Om Damian! Dia bakalan tau,Bro! Ini gila! Gila,Drew! Kenapa nggak Lo coba lupain dia aja, sih? Gue lihat papa Lo sangat sayang Lo, sama Vivi! Dia pasti nggak akan mundur,Drew!"
Andrew ikutan berdiri kemudian memegang tangan atas sahabatnya itu. " Gue hanya minta lo bantu gue memantau papa gue dan lihat pergerakannya. Dan laporkan semuanya sama gue! Lo cukup pura-pura kerumah gue mampir seakan-akan cari gue,Lex! Dan lihat situasi papa gue! Hanya itu! Sisanya, biar gue yang atur! Gue sudah bicara sama Dokter, dia memang melarang untuk membawanya sih,tapi gue sudah kasih pengertian alasan gue apa DNA dia bisa menerimanya. Dan si Dokter bersedia membantu mencarikan tetapi buat Vivianne dan akan ada Dokter yang akan cek kondisi Vivi. Gue hanya butuh berduaan sama Vivi,Lex! Please kali ini Lo support gue! Gue mau tahu apa yang terjadi sebenarnya, dan apakah Vivi masih mencintai gue! Ini penting buat gue,Lex! Please?" dengan menatap mata Alex penuh permohonan.
Alex membuang wajahnya dengan lesu, " Sepertinya Lo sudah pikirkan semuanya,yah? Nggak ada yang bisa gue lakukan untuk membuat Lo berubah pikiran, kan?"
Andrew tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan kemudian berujar. " Thanks, Lex! Lo memang sahabat gue!"
Alex menurunkan bahunya dengan ragu, " Entahlah, Drew! Gue nggak yakin apa rencana Lo akan berhasil atau tidak! Lo tau sendiri kan, orang suruhan bokap Lo banyak bener! Gue takut, bokap lo akan menemukan Lo cepat atau lambat,Drew! Tapi Lo ga usah kuatir, gue akan bantu sebisa gue buat sahabat gue ini!" sambil menepuk bahu sahabatnya itu ketika Andrew mengendurkan pegangannya di tangan atasnya.
" Gue tahu! Tapi gue rasa paling tidak gue punya cukup waktu untuk berbicara dengan Vivi dari hati ke hati! Thanks,Lex!" seru Andrew kembali.
" Sama-sama"
Flashback Off
" Kak?" suara Vivianne membuyarkan lamunannya mengenai kejadian kemarin.
" Ah, Ya kenapa?" Andrew sedikit gugup karena memikirkan rencana ya itu.
Vivianne menatap kesal. " Ada apa sebenarnya? Kenapa kita harus disini? Untuk apa?"
Andrew menghampiri Vivianne di tempat tidurnya dan menggenggam jemarinya.
" Bisakah kamu tidak bertanya dan nikmati saja apa yang ada,Vi? Please? Kali ini saja…beri aku kesempatan untuk menebus semuanya." ujar Andrew dengan tatapan bersungguh-sungguh.
Vivianne menatapnya bingung,tapi dia penasaran apa sebenarnya yang diinginkan oleh Andrew? Apa maksudnya dengan menebus semuanya? Mungkin kali ini dia akan mengalah, meski hatinya tidak tenang tapi saat ini dia tidak punya pilihan lain, bukan? Selain mengikuti keinginan Andrew.
Tapi ada yang membuatnya tidak tenang dan sedikit ketakutan, 'Bagaimana dengan Damian?Apakah Damian tahu? Jika tidak, apa yang akan dilakukan Damian jika tahu? Bahkan Vivi tidak sanggup untuk sekedar membayangkannya akan seperti apa reaksi Damian terhadap Andrew!'
****"