Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 68 Kegalauan Andrew! Dan Valery? Kok, Dia Tahu?



Alex tidak perduli dan tidak menjawab pertanyaan dari Andrew. Dia terus melajukan mobilnya menuju apartemen Andrew yang memang tidak terlalu jauh dari kantor sang Papah Damian yang berada di pusat kota Jakarta, di kawasan Sudirman tersebut.


Akhirnya Andrew yang kesal, karena pertanyaannya tidak kunjung dijawab Alex memilih mengistirahatkan matanya. Dan Andrew pun tertidur. Alex menoleh sebentar melihat Andrew yang tertidur, sedikit menarik ujung bibirnya ke atas.


" Ah, akhirnya bisa tidur juga dia! Sungguh melelahkan menghadapi pria yang tidak tahu diri! Sudah tahu hatinya akan patah jika melihat sang papah, masih saja dia sok dengan tegar menemui Papa, gitu? Huh! No way! Tidak akan kubiarkan itu terjadi! Aku tahu Drew Lo seperti apa! Yang ada berantakan semua! Asti Lo akan ngajak gelut, papa Lo itu. Hubungan kalian akan memburuk lagi! Dan semua karena gadis itu! Vivianne! Kenapa juga si Vivianne kerja disana dan kenal dengan Papanya Andrew, ya? Apa dia sengaja? Atau dia punya motif lain? Sengaja mendekati Papanya Andrew,mungkin? Setelah tahu Andrew adalah anaknya, dan tujuannya hanya satu ingin membalas dendam dengan Andrew? Apa iya? Apa iya, Vivianne sekejam itu? Tapi Vivianne yang kukenal dulu, dia tidak akan berbuat seperti itu! Meski…Gue tahu hatinya pasti sakit setelah kejadian itu! Argh!! Mikirin apa sih, gue ini? Kenapa hubungan kalian jadi ribet seperti benang kusut seperti ini, sih? Kalau sudah begini, tidak akan ada kesempatan Andrew meminta maaf atau kembali lagi, kan? Tapi, memang iya? Andrew ingin kembali? Kurasa tidak! Kalau iya, kenapa tidak sejak dulu dia lakukan? Mengapa dia sengaja menjauh terhalang benua yang berbeda! Atau, dia sengaja menyiksa dirinya sendiri setelah sekian tahun? Baru setelah tidak sanggup dia kembali? Ah! Cinta membuatku pusing! Makanya aku bilang juga apa, jangan jatuh cinta! Rusak urusannya! Sudahlah, memikirkan kalian bikin otakku yang berharga ini mau meledak!" Alex memaki, dan berpikir tanpa sengaja sepanjang perjalanan menuju ke apartemen Andrew.


Setelah sampai di kawasan apartemen selatan yang cukup elite, Alex memasuki parkirannya. Memarkirkan kendaraannya. Setelah mobilnya terparkir dengan benar dia mulai membangunkan Andrew.


" Drew! Turun,Drew! Kita sudah sampai! Lo mau tidur di parkiran apa?" Alex mencoba mengguncang kan bahu sahabatnya itu.


Andrew menggeliat sedikit kemudian membuka matanya perlahan. " Hah? Sudah sampai ya? Ke apartemen gue?" tanya Andrew yang masih dalam kondisi mengantuk  padahal ini masih belum malam. Andrew meregangkan otot tangannya dan lehernya sejenak sebelum memutuskan keluar dari mobil.


" Ya,iyalah! Kemana lagi gue membawa Lo? Ke-apartemen gue, apa? Ogah! Jauh lagi kan? Lo kira seneng apa gue nyetir sementara orang disebelah gue ngorok?" Alex yang kesal membuka seatbelt nya dan perlahan keluar. Diikuti oleh Andrew yang hanya tertawa kecil.


" Ya elo nya ga mau diajak ngobrol, lebih baik gue tidurlah!"seru Andrew masih tertawa.


" Ya, ya…Whatever! Ayo ah, laper nih gue! Di apartemen Lo ada makanan, kan? Masalahnya kita belum sempat makan siang Lo! Cacing diperut gue, mulai meronta-ronta ini!" Alex memegang perutnya sambil berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lobby apartemen sebelum ke unitnya Andrew.


Andrew menaikan bahunya, " Nggak tahu gue! Kan sudah lama gue nggak kesini! Lo delivery aja lah! Kalau Lo mau! Atau Lo cari makanan dibawah noh! Banyak kok resto sekitaran sini!" ujar Andrew tidak yakin.


" Paling nggak Indomie lah, Drew! Masa Lo nggak punya? Kan apartemen Lo sering dibersihkan mbak Lo kan? Maksud gue orang suruhan keluarga Lo, gitu." Alex sambil memohon.


" Kan gue bilang nggak tahu, Lex! Lagian tugasnya hanya membersihkan apartemen gue kali, bukannya untuk menyetok makanan! Yang ada expired kali, kan kita ga pernah balik ke Indo, baru kali ini! Mau Lo makan Indomie expired? Kenyang nggak lewat bisa Lo! Udah Lo pesan ajalah, atau Lo balik deh! Daripada ngerepotin gue melulu!" ujar Andrew tidak kalah kesal.


" Nggak Lah! Kita obati luka Lo dulu! Tadi gue cuma membalutnya sama sapu tangan gue tu! Kasihan banget nasib LV gue cuma buat pembalut luka!" Alex menatap sedih sapu tangannya yang dia balut luka Andrew tadi, tanpa dia sadari.


Andrew menatap tangan kanannya, dan benar ada sapu tangan Alex disana. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. " Kenapa gue bisa melakukan hal bodoh seperti tadi sih? Buat seorang Vivianne pula? Yang benar saja! Dia bahkan mencoba menghilangkan ingatan tentang dirinya selama ini! Kenapa ingatan itu kembali lagi,sih? Tidak cukup apa waktu empat tahun ini? Argh! Sial, kamu Vivi!" 


" Drew! Woy! Kenapa Lo bengong? Kita sudah sampai nih di depan lobi. Lo ga mau  keluar dan pindah ke lift menuju unit Lo?" ucap Alex sambil melangkahkan kakinya dan menghalangi pintunya dengan sebelah kakinya.


" E-eh, Iya! Thanks Lex!" Andrew pun keluar cepat dan melangkahkan kakinya menuju lift yang akan menuju unit.


" Mas, Andrew!" ujar seseorang salah satu penjaga lobby disana menghampiri Andrew.


Andrew menoleh ke arahnya, dia kembali mengerutkan dahinya. Sepertinya aku baru kembali lagi kesini setelah empat tahun. Tidak mungkin bukan, ada yang tahu dia sudah kembali lagi ke Indonesia kecuali keluarga dekat mereka.


" Eh, iya Pak? Kok bapak tahu nama saya, yah?" tanya Andrew penasaran meski namanya pasti tercantum di data pemilik apartemen ini, tapi ini dia baru kembali loh, setelah empat tahun! Dan tidak mungkin ada yang sengaja mencari datanya kan? Dan dia juga tidak memberi tahu bahwa dia kembali ke apartemennya karena ini pun tidak direncanakan.


Andrew mengerutkan dahinya, "Ada yang datang? Siapa?Tidak ada yang tahu dia kembali kesini,bukan? Maksudnya di apartemen dia dan hari ini! Benar-benar mencurigakan!"dengan membatin didalam hatinya.


" Drew! Siapa yang datang? Padahal kita kembali kesini kan tidak direncanakan, Lo kasih tahu seseorang yah?" dengan berbisik Alex mendekatkan dirinya ke arah Andrew.


Andrew mendorongnya, " Lo ngapain sih? Pake berbisik segala? Ngomong aja dari tempat Lo kenapa? Emangnya gue tuli, apa? Jijik tau gue dengernya! Sana, jauhkan! Lagian Lo gila yah? Masa gue kasih tahu orang gue disini? Yang ada gue curiga elo yang kasih tahu! Lo kasih tahu siapa,Hah?" dengan memicingkan matanya yang tidak seberapa lebar itu kearah Alex. Membuat Andrew semakin sipit saja.


" Idih! Ngapain? Kan Lo tahu kita dadakan tadi kesini! Lagian untungnya gue dimana? Nggak lah! Kan gue nyetir dari tadi Drew! Mana mungkin lah gue menghubungi seseorang! Ya kan?" Alex membela dirinya.


Andrew menatap jengah! " Kan Lo bisa aja pakai headset dodol! Siapa tahu,kan?" 


" Hehehe…Iya juga sih, tapi mana gue kepikiran, gue cuma mikir gimana caranya membawa lo yang sedang galau ini secepat mungkin! Gitu!" Alex menatapnya sewot.


" Siapa…Yang ga.." ucapan Andrew terputus.


" Mas, ini titipannya. Tadi yang datang seorang wanita cantik,**** Mas! Hehehe…Namanya kalau tidak salah…Val..Siapa, yah tadi?" Penjaga lobby itu bingung sendiri.


" Apa namanya Valery, Pak?" sambar Alex cepat.


" Nah, itu benar, Mas! Nah ini titipannya. Diterima yah Mas! Sama tadi pesannya, kalau sudah diterima…tolong menghubungi dia! Gitu katanya! Mas! Ya sudah saya kembali yah, Mas!" seru Pak penjaga apartemen kembali ke lobby resepsionis setelah berkata demikian.


" Gila, itu anak! Nggak ada matinya yah? Drew! Masih aja, mengejar-ngejar Lo setelah apa yang terjadi!" seru Alex menepuk bahu temannya itu.


Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, yang jadi perhatiannya adalah, " Dari mana dia tahu gue disini? Dan apartemen ini? Kok gue jadi curiga yah, sama itu anak?"


" Drew! Lumayan nih, makanan! Tahu aja kalau gue lagi lapar! Eh makanannya kita apakan ini?" tanya Alex membuyarkan pikiran Andrew.


" Buang saja!" 


" Hah? Dibuang? Ya kali dibuang, sayang kan? Kalau Lo nggak mau, buat gue aja yah? Yah?" tanya Alex kearah Andrew.


" Terserah!" Andrew dengan cuek, melangkahkan kakinya memasuki lift dan lift hampir tertutup ketika Alex mengejarnya.


" Drew! Kok gue ditinggal sih? Wait for me!!!" 


*****