
Matahari hampir naik ketika, Andrew dan Alex telah sampai di kantor sang papah. Mereka mematikan mesin mobil mereka. Mereka memutuskan untuk duduk duduk disebuah taman di sebuah kawasan perkantoran. Berharap dari tempatnya mereka berdiri mereka bisa melihat kegiatan atau paling tidak mereka bisa melihat sang papah yang akan keluar dari kantornya itu bersama sang sekretaris yang diduga adalah calon istri Sang papah.
" Drew, gimana ini? Memangnya kita bisa melihat apa, Om Damian keluar dari lobby depan dari jarak yang sejauh ini? Ya kalau dia lewat lobby depan, kalau langsung turun ke parkiran bagaimana? Percuma dong, kita disini aja seharian?" ujar Alex yang sudah layaknya detektif lengkap dengan topi dan jas panjangnya yang kerahnya dinaikan ke atas.
" Iya juga sih, terus enaknya gimana dong?" ujar Andrew yang juga merasakan tidak dapat memantau mereka dari jarak yang terlalu jauh seperti ini.
" Bagaimana kalau kita ke lobby dan bilang aja sedang menunggu client di depan?" tutur Alex kembali.
" Masa gue sih, yang harus ke lobby? Gila aja, Lo! Mereka kan rata-rata pernah lihat wajah gue,Lex! Pasti Taulah, kalau gue anaknya yang punya perusahan!" ujar Andrew kesal.
" Ini gue yang otaknya Oon atau elo, sih? Ya gue lah, dan gue akan memvideokan ketika gue disana gimana? Gue akan berpura-pura menelpon seseorang padahal gue lagi Video Call sama elo, biar Lo lihat suasana kantor, gimana?" saran Alex dengan wajah sumringah.
Andrew berpikir sejenak, sepertinya ini jalan satu-satunya. Agar bisa mengetahui siapa sebenarnya calon istri sang papah. Dan yang membuat bahkan Andrew heran sendiri adalah, mengapa dia menjadi sangat penasaran seperti ini, yah? Sepanjang hidupnya dia tidak pernah peduli apakah sang papah berjalan atau dekat dengan siapapun juga! Tidak pernah! Karena Andrew tidak ingin mencampuri urusan pribadi masing-masing! Bahkan mereka tidak sedekat itu!
Tapi satu hal yang bikin Andrew penasaran adalah, papanya berubah! Papa lebih banyak tersenyum dan tampak jauh lebih bahagia? Dan itu terjadi setelah dengan tiba-tiba papanya pernah memintanya pulang, dan mengurus bisnisnya karena sang papa memutuskan mau pensiun menikmati hidup katanya! What? Pensiun di usia ke 47 tahun? Yang benar saja, masih terlalu muda bukan? Hingga akhirnya terdengar kabar, bahwa sang papah akan memutuskan mengakhiri masa lajangnya! Dia mendengarnya tanpa sengaja dari orang kepercayaan sang papah yang keceplosan bilang papanya sedang tidak ditempat karena sedang menjemput sang calon istri di bandara? What? Calon istri? Kenapa dia tidak tahu? Dan kenapa dia harus tahu dari orang lain? Meski itu juga dari orang kepercayaan papanya sih…tapi, seharusnya sebagai anak satu-satunya dia berhak tahu, bukan?
Itulah alasan terbesarnya dia memutuskan kembali lebih cepat, bahkan tiba tanpa memberitahukan sang papa. Karena kebetulan ada pekerjaan juga di Jakarta. Jadi, hingga akhirnya dia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya, Vivi. Karena galau dia enggan kembali ke hotel dan memutuskan kembali ke rumah sang papa untuk menghilangkan pikirannya sejenak mengenai Vivi.
Eh, malah dia dibuat penasaran yang dimana malam itu dia melihat sang papa sangat bahagia dengan pakaian resminya! Apakah sang papa baru saja melamar pujaan hatinya? Karena tidak biasanya sang papa mengenakan pakaian berkesan seperti ada acara istimewa itu! Bukannya dia tidak pernah melihat sang papa mengenakan pakaian resmi, ya. Hanya saja ini beda! Pakaiannya terlihat lebih formil. Bukan seperti pakaian kantor! Menambah rasa penasaran dia saja! Dan disinilah mereka sekarang, memantau sang papa.
Alex telah masuk dan sesuai janjinya dia sekarang akan sedang menghubungi seseorang. Padahal dia sedang Video Call dengan Andrew sehingga Andrew melihat suasana lobby.
Semua tampak biasa saja, suasana lobby yang hiruk pikuk. Orang berlalu lalang di depan lobby kantor sang papa.
Hingga ketukan di bahu Alex mengagetkan bahkan membuatnya menoleh ke arah orang yang seakan membutuhkan perhatiannya itu. Dan Alex membelalak demikian pula dengan Andrew yang diseberang sana.
" Om! Om sedang apa? Om sedang cari Auntie juga,yah?" suara seorang anak kecil berwajah sangat mirip dengan Andrew.
" Andrew?" tanpa sengaja dia mencetuskan nama tersebut.
" Hihi…Namaku Avan Putra A, Om! Bukannya Andelu! Nama om siapa?" ujar anak kecil berusia kurang lebih tiga tahunan itu sambil menyodorkan tangan kecilnya.
" E-eh, Nama Om Alex! Nama kamu Avan yah? 'A' itu apa kepanjangannya?" tiba tiba Andrew merasa sangat penasaran dengan nama terakhir anak itu.
Anak itu menaikan bahunya, "Tidak tahu, Om! Katanya Bunda, suatu saat nanti, kalau aku sudah besar. Bunda akan kasih tahu! Gitu katanya." ujar Avan sambil tertawa kecil
" Oh…Terus kamu kesini ngapain anak manis? " ujar Alex gemas mencubit pipi anak itu.
" Nungguin Auntie..Om! Nah, kalau Om sendili? Ngapain? Kok pakai topi cama telepon kembali sih? Itu..ada gambal olang…" Alex buru-buru membekap mulut anak itu sambil berbisik.
" Anak pintar, kita main rahasia-rahasiaan yah? Itu teman Om..jadi dia lagi sembunyi, kalau kita berhasil menyembunyikannya, jadi kita menang! Bagaimana?" ujar Alex membujuk sang anak. Avan mengangguk dengan mata berbinar.
" Mau..Mau..Om! Tapi siapa, namanya?" Avan terlihat kebingungan.
" Namanya Om Andrew! Coba dadah sama Om Andrew!" ujar Alex kemudian.
" Lex! Lo gila yah? Ngapain Lo kasih tahu nama gue segala? Kalau orang tau gimana?" Terdengar suara di seberang disana.
" Tidak kenapa-kenapa, Drew! Justru dengan begini, orang ga akan curiga! Eh, Lo perhatiin deh! Ini anak mirip banget kan, sama elo? Kayaknya gue pernah lihat dia dimana dah..gitu…" ujar Alex sambil berpikir memegang dagunya.
" Ah! Lo gila,Lex!" ujar Andrew kesal.
" Om, kenapa malah-malah? Kata Bunda dan Auntie, kita tidak boleh malah-malah,loh Om! Dosa! Lebih baik dimaafkan saja kalau ada yang buat salah sama kita! Gitu kata Bunda dan Auntie,Om!" ujar Avan menyerobot pembicaraan mereka, sambil menggelengkan telunjuknya.
Alex menahan tawa, baru kali ini ada yang berani menasehati sahabatnya itu. Bahkan seorang anak kecil pula! " Tuh dengerin,Tuh! Tidak boleh, bukan begitu Avan?"
" Lo! Bener-bener! Cepat ke focus pekerjaan Lo!" kesal Andrew.
" Om, Ingat! Tidak boleh malah-malah!" ujar Avan kembali mengingatkan.
Andrew dari seberang menarik nafas panjang dan menghembuskannya. " Om tidak marah-marah, tapi Om Alex, itu nakal! Jadi Om kasih tahu! Gitu…"
Alex melonggo mendengarkan suara Andrew yang berubah lembut? Dan dengan senyum lebar.
" Hah? Yang benar saja…seorang Andrew ditaklukan seorang anak kecil?"
Andrew mendengar Alex berbisik pelan, " Lo ngomong apa,Lex?"
Alex tergagap, " Ah, nggak,kok, Drew! Cuma lagi mikir aja, ini anak siapa ya, kok lucu banget!" dengan gemas mencubit pipi Avan gemas.
" Hahah…iya memang lucu,sih! Tadi katanya dia mencari Auntie-nya disana? Coba tanya siapa nama Auntie-nya? Kok gue penasaran yah?" tanya Andrew kepada Alex.
" Ok! Pemikiran Lo, sama dengan gue,Drew! Entah kenapa gue juga penasaran!" ujar Alex pelan kearah ponselnya.
" Adek manis, kamu nungguin Auntie kamu ya? Memangnya nama Auntie kamu siapa? Barangkali Om kenal?" bujuk Alex sambil berjongkok.
" Nama Auntie aku…." ucapan Avan terputus ketika mendengarkan namanya dipanggil.
***""