
Sementara itu seseorang yang sedang diintai saat ini mengendarai mobilnya dengan santai.
Alex bersiul-siul sambil memutar lagu di mobilnya itu. Dia merasa sangat lega, karena ternyata rencananya berhasil.
'Ah, ternyata Om Damian, tidak sepintar dan mengerikan yang kukira. Buktinya, dia percaya dengan ucapanku! Kenapa Andrew sangat takut dan berhati-hati sekali dengan papanya,ya? Kalau tahu sedemikian mudahnya, kenapa tidak dari dulu saja dia menentangnya! Andrew, sepertinya kekuatiran kamu berlebihan,bro' Alex nyengir sambil membayangkan yang terjadi beberapa jam lalu ketika bertemu Damian.
Alex hendak menyampaikan kabar bahagia ini secara langsung ke Andrew dan dia melajukan mobilnya menuju ke Villanya yang didiami oleh Andrew.
Tapi karena rasa penasarannya akan reaksi Andrew atas berita yang hendak disampaikan, maka di tengah perjalanannya Alex menghubungi Andrew.
Alex menepikan mobilnya sebentar, dan mengambil ponselnya.
" Drew! Alex, nih! You know what, ternyata dugaan kita salah,selama ini! Papa Lo sepertinya bisa kita kelabui! Duh, tadinya gue deg-deg kan ini pas ketemu papa Lo, tapi lega gue sekarang! Hahah…ternyata…dia sudah tidak setajam dulu! Eh, gue mau kesana mau cerita detailnya! Seru lah!" seru Alex berapi-api ketika menghubungi Andrew.
(" Lo, dimana sekarang?")
Alex mengerutkan keningnya, suara Andrew terdengar sedikit berbeda. 'Kenapa? Bukankah seharusnya dia senang,bukan?' batin Alex.
" Gue lagi menuju ke Villa lah, nemuin Lo! Ini gue lagi di jalanan menuju kesana setelah dari rumah papa Lo! Kenapa,memangnya?" seru Alex masih dengan kebingungannya.
(" Putar balik! Lo jangan kesini malam ini! Lo balik aja, ke apartemen Lo!")
Suara Andrew terdengar sedikit gusar. Alex salah menduganya, dia mengira Andrew tidak menyukainya dia datang karena merasa terganggu dengan kehadirannya.
" Ya ampun,Drew! Lo masih cemburu aja, sama gue! Tenang, gue nggak akan ganggu, diri Lo,Kok! Maksud gue, gue nggak akan ganggu kemesraan kalian,gitu! Hehehe…" Alex terkekeh menyindir sahabatnya itu.
(" Tsk! Bukan karena itu! Pokoknya Lo jangan kesini malam ini!" )
Andrew terdengar seakan menghembuskan nafas kasarnya.
Alex mengerutkan keningnya mengantuk kepalanya.
" Memangnya kenapa, Drew? Kenapa gue ga boleh Dateng sih? Itu kan villa gue, Drew!" serunya kembali seakan tidak terima.
(" Lo, lihat kebelakang sekarang! Cepat! Pasti disana ada mobil yang mungkin mengikuti Lo!")
Alex tidak paham akan ucapan Andrew namun dia tetap menoleh kebelakang dan benar saja, dari jarak yang cukup jauh terlihat sebuah mobil ikutan menepi seperti dirinya. Alex menduga itu hanya kebetulan saja, 'Tapi bagaimana Andrew bisa tahu?'
" Iya,sih, ada. Tapi itu kebetulan aja kali, Drew! Ya kali ada yang ngikutin gue?" Alex ingin menertawakan Andrew tapi tak terdengar suara apapun di seberang sana.
Alex menjauhkan ponselnya, kuatir sambungan telepon mereka terputus, tapi ternyata masih tersambung.' Tetapi, kenapa tidak ada suara?'
" Drew? Lo masih disana,kan?" tanya Alex ragu.
Hening.
Alex kembali hendak menjauh kan ponselnya dari telinganya hingga terdengar suara Andrew.
(" Sekarang Lo coba jalan perlahan! Dan kalau Lo nggak percaya, itu mobil pasti mengikuti lo jalan juga!")
Alex menduga Andrew menggodanya, bercanda. Tapi terdengar suara Andrew kembali.
(" Gue nggak bercanda! Ikuti yang gue bilang!")
Suara Andrew tampak tegas. Tidak ada kesan bercanda sama sekali.
Alex yang penasaran mengikuti saran sahabatnya, menjalankan mobilnya perlahan.
Dan benar saja mobil hitam di belakangnya mengikutinya dari belakang dengan kecepatan yang sama-sama sedang dan seakan-akan tetap menjaga jarak aman. Alex yang melihat kebelakang dari kaca spion dalamnya menjadi gelisah.
(" Menurut,Lo, siapa lagi…?")
Alex menjadi kelu, dia menjadi susah menelan air liurnya.
" Ma-maksud lo, Papa lo, gitu? Nggak mungkin, Drew! Orang tadi kita bicara dia percaya,kok! Nggak..mungkin…"
(" Lo nggak kenal papa gue,Lex! Dia bisa melakukan apapun! Dia ga akan percaya begitu aja sama Lo! Apalagi dia tau Lo teman gue!")
Andrew terdengar menghembuskan nafasnya.
"Terus, apa yang harus gue lakuin? Ini gue sudah dijalan toll ini…" seru Alex mulai gelisah.
(" Ikuti saran gue, Lo sekarang keluar dari toll dan cari tempat makan! Kalau perlu..hmm..Lo janjian sama siapa kek untuk menemui lo, di salah satu tempat! Seakan-akan lonmemabg mau ketemuan dengan dia! Dan Lex, hmm..tetap tenang! Tapi jangan lengah! Kalau bisa Lo jangan kesini dulu selama seminggu! Lo kerja seperti biasa aja. Paham maksud gue?" )
Alex semakin gelisah, 'Siapa yang bisa dia minta ajak keluar dimalam seperti ini?'
" Drew! Tapi siapa yang gue minta tolong untuk keluar malam-malam begini? Iya kalau mau! Kalau nggak?"seru Alex dengan kuatir dan kebingungan.
(" Kalau itu urusan Lo! Lo hubungin siapa kek! Terserah! Bukan urusan gue!")
Alex yang sebelumnya ketakutan jadi emosi. " Sial,Lo Drew! Gue begini juga karena nolongin Lo,Man! Eh, Lo malah angkat tangan sekarang! Bantu mikir kek, siapa gitu!"
(" Yah, mana gue tahu,Lex! Lagi lo kenapa ga telepon gue pas keluar dari rumah papa gue,sih? Kalau langsung kan ga perlu begini keadaannya! Gue bisa langsung kasih saran sama Lo! Bagaimanapun juga dia papa gue, gue yang paling tahu bagaimana dia! Bukannya sok-sokan kasih surprise segala ke gue dengan datang malam-malam ke sini!")
Setu Andrew yang ikutan kesal dari seberang sana. Alex yang kebingungan semakin kesal dibuatnya. ' Kenapa jadi dia yang marah, sih? Kan seharusnya gue,bukan?'
(" Lex! Lo masih hidup kan?")
" Sialan,Drew! Lo mengharapkan gue mati, cepat,hah? Gue lagi mikir ini juga! Siapa yang harus gue hubungin ditengah malam begini!"
(" Susah bener sih! Lo hubungin siapa kek, kalau perlu cewek! Lo ancam kek! Terserah Lo! Ya sudah yah! Selamat bersenang-senang! Kalau perlu Lo hubungin Lo, si cewek sialan itu! Gue nggak peduli!")
Terdengar suara semakin kesal di seberang sana.
Alex tiba-tiba mendapatkan ide dan nyengir.
" Drew!"
(" Apaan?")
" Lo memang pinter, bro! Luar biasa! Nggak percuma gue punya temen sepintar Lo! Thanks,bro! Kalau begitu gue tutup sekarang! Bye!" Alex hendak mematikan sambungan telepon mereka tapi terdengar suara teriakan dari seberang sana.
(" Apa? Lex? Maksudnya d Lo apa? Jangan macam-macam! Lex? Hallo?")
Tapi Alex hanya mendengarkan saja tanpa memperdulikannya dia segera menutup ponselnya. Sambil mencoba tenang, dan melihat ke belakang mobil yang masih mengikutinya. Alex kembali mengambil ponselnya dengan sambil mengendarai mobilnya, kali ini dia mengenakan bluetooth di kupingnya agar dimudahkan berbicara dengan seseorang sambil mengendarai mobil.
Tersambung.
" Hallo..Dimana Lo? Cepet ketempat yang akan gue share loc ada hal yang penting yang harus kita bicarakan! Sekarang! Kalau Lo mau urusan dengan Andrew beres!"
Tanpa menunggu seseorang di seberang menyahut, Alex menutup ponselnya. Sambil senyum-senyum penuh makna.
" Beres!"
****